
Jenaka secepatnya dibawa ke rumah sakit terdekat. Untung saja Mandala sudah menyediakan perlengkapan bersalin di dalam mobilnya. Jadi, kapanpun Jenaka mau melahirkan sudah siap.
Jenaka memang sudah sulit tidur. Hamil anak kembar membuat tubuhnya naik drastis. Ia harus menghidupi dua nyawa manusia dalam perutnya.
Jenaka berharap kalau Ia bisa menghadiri pernikahan Juna dan Melisa yang selama ini Ia sudah tunggu. HPL atau hari perkiraan lahir masih seminggu lagi, namun dokter mewanti-wanti kalau bisa saja Ia melahirkan lebih cepat dari waktu yang diperkirakan.
Mandala sejak tadi mondar-mandir di depan kamar operasi. Hatinya tak tenang manakala Ia harus menandatangani tindakan operasi. Ketuban Jenaka sudah pecah dan tak bisa menunggu lama, Ia harus melahirkan dengan operasi caesar.
"Duduklah Nak Mandala! Tenangkan dirimu, Jenaka pasti akan baik-baik saja." ujar Bunda yang sejak tadi terus berdzikir mendoakan keselamatan anaknya.
"Iya, Bun." Mandala pun duduk, namun Ia masih gelisah.
"Ini. Peganglah! Lebih baik kamu dzikiran daripada gelisah seperti itu!" Bunda menyerahkan tasbih yang Ia pegang.
Mandala pun menurut. Ia kini terus berdzikir, mendoakan istri dan anak-anaknya yang sedang berjuang di kamar operasi.
Setengah jam kemudian dokter yang mengoperasi Jenaka keluar dan membawa berita bahagia. Jenaka melahirkan bayi kembar laki-laki dan perempuan. Baik Ibu dan anaknya semua dalam keadaaan sehat walafiat.
Mandala menangis haru saat harus mengadzani kedua buah hatinya. Papi dan Maminya secepat mungkin datang demi melihat cucu pertama mereka.
"Yang perempuan aku namai Azkia dan yang laki-laki kunamai Azka. Bagaimana menurut kamu?" tanya Mandala saat Jenaka sudah diperbolehkan kembali ke kamar rawat.
Jenaka mengangguk setuju. Senyum di wajahnya sejak tadi terus mengembang. Rasa sakit selepas melahirkan tak lagi Ia rasa. Bisa melihat kedua buah hatinya sudah menjadi hal yang utama.
Sehabis acara, Juna dan Melisa pun datang ke rumah sakit. Mereka sudah mandi dan berganti baju, tak mungkin datang ke acara dengan penampilan bak raja dan ratu. Bisa menarik perhatian.
Melisa terus menggenggam tangan Juna. Tak melepaskannya walau sejenak.
"Gimana keadaan Jenaka, Kak?" tanya Juna pada Mandala. Jenaka sedang tertidur pulas. Obat tidur yang diberikan agar Jenaka cukup beristirahat baru bereaksi.
"Alhamdulillah, Jun. Jena baik-baik saja." jawab Mandala. "Maaf ya Jun sudah membuat pesta pernikahan kalian jadi berantakan. Aku beneran panik tadi."
Juna menepuk bahu Mandala. "Santai saja, Kak. Yang terpenting adalah keselamatan Jenaka. Alhamdulillah pestanya berlangsung dengan lancar dan banyak tamu undangan yang hadir. Oh iya, maka keponakanku?"
"Masih di ruang bayi. Jena butuh istirahat. Kedua bayi kami masih diobservasi. Tapi tenang aja, tak ada masalah kok."
"Syukurlah. Padahal aku kesini mau melihat anak kalian juga!" ujar Melisa.
"Nanti kalian bisa kesini lagi, kalian nikmati saja malam pengantin kalian hari ini. Pulanglah. Jenaka baik-baik saja." ujar Mandala.
"Baiklah. Kami pulang dulu." jawab Melisa cepat. "Kami kesini lagi setelah urusan kami selesai." Melisa tersenyum penuh arti.
"Kita kan baru sampai. Kita tunggu saja sampai Jenaka bangun baru pulang." tolak Juna.
"Enggak usah! Besok kita kesini lagi!" Melisa menarik tangan Juna. "Kita berdua pulang dulu ya. Salam ya buat Jenaka. "
Mandala tersenyum melihat ulah pengantin baru di depannya. "Iya. Have fun ya kalian berdua!"
****
"Kamu mau kita kemana dulu? Jalan-jalan atau mungkin makan?" tanya Juna.
Melisa menggelengkan kepalanya. "Mau peluk kamu sampai puas. Di kamar!"
Juna tersenyum melihat keagresifan istrinya. "Boleh. Kalau sambil main PS boleh enggak?"
Juna menyalakan mesin mobilnya menuju rumah miliknya dan Melisa. Juna kini sudah bisa membeli rumah sendiri. Daddy Melisa begitu mempercayai Juna yang ternyata punya bakat terpendam memimpin perusahaan. Wajar saja kalau aset yang dimiliki Juna makin banyak.
"No! Malam ini enggak ada PS. Adanya aku, kamu dan kita berdua!"
"Memangnya aku, kamu dan kita berdua mau ngapain?" goda Juna lagi.
"Kamu nanya? Serius kamu enggak tau?" Melisa menanggapi pertanyaan Juna dengan serius.
__ADS_1
Juna mengangguk. Ia ingin mengerjai Melisa dahulu. Rasanya menggemaskan melihat istrinya seperti itu.
"Huft... Gimana kasih taunya ya?" Melisa memikirkan cara memberitahu Juna. Ia juga tak pernah melakukannya, hanya pernah memergoki temannya saja yang bercinta di rumahnya saat party dulu.
Juna menahan tawanya. Seru sekali mengerjai istrinya. Melisa bahkan sibuk browsing di internet bagaimana cara memberitahu Juna bagaimana melakukan malam pertama.
Tanpa Melisa sadari, mereka sudah sampai di rumah mereka. Juna membukakan pintu untuk Melisa yang masih fokus membaca tips and trik di internet.
Juna sekuat mungkin menahan tawanya. Melisa benar-benar menganggap Juna adalah laki-laki lugu yang masih polos. Melisa tak tahu kalau teman-teman Juna banyak yang begajulan juga.
Maka saat mereka sampai kamar, Juna pun mendekati Melisa dan mengambil Hp yang dipegang Melisa.
"Kamu lagi browsing untuk ngajarin aku tentang malam pertama?" tanya Juna.
Melisa mengangguk dengan polosnya.
"Aku langsung praktek aja ya!"
"Praktek?"
Juna merengkuh Melisa dalam pelukannya dan menciumnya dengan penuh gairah. Melisa sangat terkejut, tak menyangka kalau Juna ternyata tak sepolos yang Ia kira.
Malam itu menjadi saksi penyatuan cinta Juna dan Melisa. Bukan hanya malam itu saja, sejak saat itu Juna dan Melisa sering melakukan penyatuan cinta.
Maka jangan terkejut saat bulan kedua pernikahan mereka Melisa sudah hamil. Semua berkat Melisa yang selalu menggoda Juna, membuat pertahanan diri Juna sirna sudah.
****
Lima Tahun Kemudian....
"Azkia dan Azka! Ayo kita masuk ke dalam kelas!" ujar Jenaka.
Kedua anak kembarnya pun menurut. Mereka memegang tangan kanan dan kiri Mommynya dengan penuh kasih sayang.
"Nanti di kelas jangan nakal ya! Kalian harus jadi anak yang nurut dengan guru kalian! Oh iya, kalian akan sekelas dengan Aya, anaknya Om Panca dan Tante Jelita. Kalian harus akur ya!" nasehat Jenaka sambil berjalan menuju ruang kelas anak-anaknya.
Jenaka mengantar kedua anaknya sampai depan kelas. Sudah ada ibu-ibu muda lain yang mengantar anak-anaknya namun tak diperbolehkan mendekat.
"Kelas Matahari juga Mom?" tanya seorang wanita cantik yang memakai kacamata sunglass.
"Iya. Mom juga?" tanya balik Jenaka.
"Iya. Aku Mamanya Radit." wanita cantik itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan. "Delima. Panggil aja Adel."
"Aku Mamanya si kembar Azka dan Azkia." Jenaka menyambut uluran tangan Adel. "Jenaka. Panggil aja Jena."
"Kayaknya anak-anak kita udah langsung deket ya Mom. Tuh liat Radit sejak tadi nyolek-nyolek Azkia aja! Maklum dia mirip banget sama Papanya." ujar Adel.
"Kalau Azkia itu anaknya agak kalem, Mom. Mirip Papanya. Meski kalem tapi... luarrr biasa ha...ha...ha..." Jenaka dan Adel tertawa bersama.
"Kita ke cafe dekat sini aja yuk Mom! Nunggu anak-anak pulang masih lama!" ajak Adel.
"Boleh. Ayo!"
Jenaka dan Adel sama seperti anak-anak mereka yang mudah sekali akrab. Mereka mengobrol dan tertawa bersama layaknya teman lama.
"Aku telepon adik ipar sekaligus sahabat aku dulu ya. Anaknya sekolah disini juga tapi udah SD. Biar ikut gabung sama kita disini." Adel menelepon Maya dan meminta Maya untuk datang.
"Kenalin, ini Jenaka dan ini Maya." Adel mengenalkan keduanya. Jenaka dan Maya saling berjabat tangan.
"Maya."
"Jenaka."
__ADS_1
"Wah.... Nama yang bagus." puji Maya.
Tak lama telepon Adel berbunyi. "May, Bu Sri telepon!"
Jenaka mengernyitkan keningnya. "Tak mungkin Bu Sri yang sama dengan yang aku pikirin!" batin Jenaka.
"Video call aja, Del!" pinta Maya yang terlihat agak ribet dengan anak bayi yang Ia gendong.
"Oke." Adel menuruti permintaan Maya.
"Assalamualaikum!" sapa Bu Sri.
"Waalaikumsalam." jawab Adel dan Maya kompak.
"Kalian lagi dimana? Kita ngerujak yuk! Saya hari ini lagi buat gudeg nih! Nanti kita makan sama-sama dengan Bu Jojo!" ujar Bu Sri.
"Bu Sri? Ini Bu Sri yang di Lenteng Agung?" tanya Jenaka penasaran. Suara perempuan tersebut terdengar tak asing di telinganya.
"Loh kamu kenal juga Jen?" tanya Maya.
"Jen siapa? Jenaka?" Bu Sri ikut menimpali. "Coba lihat mukanya!"
Kamera Hp pun diarahkan ke Jenaka. "Ya Allah bener, Jena! Kalian bertiga kok bisa bersama sih?"
"Bu Sri kenal Jena juga?" tanya Adel tak percaya.
"Kenal dong! Tentu saja kenal. Kalian kan anak murid saya semua!" kata Bu Sri dengan penuh rasa bangga.
"Ya Allah... Dunia sempit ya!" sahut Maya.
"Pokoknya kalian hari ini harus ke rumah saya ya! Saya masak banyak nih! Mau selametan anniversary saya sama Mas Bojo!"
"Siap, Bu!" jawab ketiganya kompak. Setelah telepon ditutup ketiganya tertawa bersama. Tak sangka kalau ada campur tangan Bu Sri dalam hidup mereka.
****
Jenaka tersenyum menatap foto yang baru saja dikirimkan oleh Adel. Dalam foto itu Jenaka, Adel dan Maya berfoto bersama Bu Sri dan Bu Jojo saat mereka datang ke rumah Bu Sri untuk makan gudeg.
Jenaka memajang foto tersebut bersama foto yang lain di rumahnya. Ini adalah kenangan manis. Kalau tak ada Bu Sri, mungkin Ia sudah kehilangan Mandala untuk selamanya.
Kini, Jenaka bisa hidup berbahagia dengan Azka dan Azkia. Mandala yang sangat mencintainya dan keluarga yang selalu menyayanginya.
Meski Jenaka kini sudah tinggal di rumah sendiri, namun Jenaka tetap sering mengunjungi Ayah dan Bunda. Membawa anak mereka menemui nenek dan kakeknya.
Mandala memeluk Jenaka dari belakang. Memperhatikan foto yang baru saja Jenaka taruh lalu menaruhnya kembali.
"Aku mau bobo siang nih, Mommy! Boboin Daddy ya Mommy!"
"Sayang.... Kalau ada anak-anak gimana?"
"Bilang aja Mommy dan Daddy lagi meeting. Yuk ah kita meeting!"
... Tamat...
*****
Hi Semua...
Makasih sudah membaca Jejak Cinta Jenaka sampai selesai. Udah 150 bab lebih. Panjang ya. Maaf aku enggak menceritakan lebih panjang lagi karena lebih suka novel yang enggak muter-muter.
Kalian bisa menikmati karyaku yang lain tinggal klik profil aku aja. Atau langsung cuss ke novel Duda Nackal aku ya.
Duda Nackal bercerita tentang Agas yang disakiti dan dikhianati Tara istrinya. Agas yang sakit hati karena dihina sebagai pria yang lemah ingin membuktikan pada Tara kalau Ia adalah lelaki hebat dengan segudang pesona. Sampai Agas bertemu Tari, gadis polos yang meminta tolong padanya. Mampukah Tari mengembalikan Agas ke jalur yang benar?
__ADS_1
Karena sesungguhnya Duda Nackal adalah pemuda baik yang tersakiti.