
Weekend pun tiba. Hari dimana Jenaka harus menunaikan janjinya, nonton session 2 di bioskop yang sama dan waktu yang sama pula.
"Mau kemana Jen? Udah rapi begitu?" tanya Juna yang baru pulang kerja.
"Mau jalan-jalan." jawab Jenaka jujur.
"Panca mana? Kok belum jemput?" Juna mengambil tempe bacem buatan Bunda di meja makan lalu memakannya.
"Pake nasi, Jun! Nanti lauknya Bunda habis sama kamu doang!" omel Jenaka. "Aku enggak pergi sama Panca. Pergi sendirian aja."
"Enggak boleh! Aku temenin aja!" tolak Juna. Sekarang Juna sama seperti Panca. Overprotected.
"Jangan lebay deh, Jun. Aku mau beli buku di toko buku. Sebentar doang. Emangnya aku anak kecil yang harus selalu ditemani kemanapun aku pergi?" balas Jenaka.
"Ya kamu kan-" belum selesai Juna berbicara sudah Jenaka potong.
"Aku kan janda kembang, banyak kumbang yang akan tertarik kalau tahu aku janda kembang cantik yang masih harum. Aku ngerti tapi kasih aku kebebasan untuk menikmati me time. Aku udah dewasa, Jun. Kita seumuran, malah tuaan aku 10 menit. Jadi, aku mau pergi dan jangan kamu ikutin!" ujar Jenaka dengan tegas.
Rupanya ada satu kebiasaan Mandala yang mulai tertular pada Jenaka. Kebiasaan memotong ucapan orang lain. Bukan karena Jenaka berlaku tidak sopan, namun orang yang Jenaka potong perkataannya biasanya mengatakan hal tersebut sudah berkali-kali. Bosan rasanya diceramahi terus.
"Baiklah! Ingat, jaga diri baik-baik! Kalau ada apa-apa, telepon aku!" ujar Juna. Ia akhirnya mengalah. Jenaka benar, Ia sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri.
"Nah gitu dong! Aku pergi dulu ya. Bilangin sama Ayah dan Bunda kalau mereka udah pulang. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam."
Jenaka pun melajukan mobilnya menuju Mall tempat dulu Ia nonton bioskop bersama Mandala. Sebelum menukar tiket online terlebih dahulu Ia memutuskan berjalan-jalan di sekitar Mall.
Banyak sepatu dan tas sedang diskon, namun karena tak mau ribet dengan barang belanjaan, Jenaka memutuskan tak jadi berbelanja. Tanpa sengaja saat Jenaka sedang memilih baju, Ia melihat siluet Panca.
"Panca? Mau apa dia disini? Apa Panca mengikutiku sejak tadi?" batin Jenaka. "Enggak boleh. Panca enggak boleh tau aku akan kemana."
Jenaka lalu mengambil sebuah cardigan panjang dan sebuah pashmina jilbab. Tak lupa bros juga Jenaka beli. Ia lalu membayar semua di kasir.
Jenaka melihat jam di Hp miliknya. Sebentar lagi filmnya akan diputar. Jenaka celingukan mencari toilet wanita.
Jenaka tahu Panca masih mengikutinya. Jenaka pun berbelok ke arah toilet wanita. Benar saja, Panca pun ikut berbelok dan masuk ke toilet pria.
__ADS_1
Cepat-cepat Jenaka merubah pakaiannya. Memakai cardigan yang Ia beli lalu memakai jilbab dari pashmina. Tak lupa sebagian wajahnya Ia tutup dengan pashmina agar Panca tak mengenalinya.
Jenaka keluar dari dalam kamar mandi sambil menunduk, terlihat Panca menunggunya di luar. Jenaka terus berjalan menghindari Panca dan naik ke lantai atas tempat bioskop berada.
Ia menukar tiket onlinenya dan masuk ke dalam studio setelah membeli cemilan dan minuman. Kebetulan sekali Jenaka mendapat tempat duduk paling pojok. Ia menaruh minuman dan cemilan di tempat yang disediakan.
Jenaka menoleh ke sebelahnya, kursi sebelahnya kosong. Jenaka sengaja membeli satu tiket tambahan. Andai yang duduk di sampingnya Mandala, maka janji masa lalu mereka telah ditunaikan.
Lampu bioskop pun dimatikan. Layar bioskop mulai menampilkan iklan sebelum film diputar.
****
"Gue sibuk! Lo dateng aja sendiri, Ta!" Mandala menutup teleponnya dan mempercepat langkahnya menuju bioskop.
"Sialan nih Genta, malah nyuruh gue kencan buta! Siapa juga yang mau ikut kencan buta? Jadi telat kan gue?!" rutuk Mandala dalam hati.
Mandala memakai hodie jaket yang Ia kenakan. Ia terlihat semakin tampan saja. Dewasa namun makin macho.
Banyak cewek yang melirik ke arahnya. Mereka suka berkasak-kusuk tentang dirinya yang mantan suami model terkenal. Karena itulah Mandala suka memakai jaket berhodie dan memakai kacamata hitam agar tak ada yang mengenalinya.
Mandala menukar tiket onlinenya dan membeli cemilan lalu masuk ke dalam studio yang sudah gelap. Iklan sudah diputar.
Mandala menempati tempat duduknya. Dua tempat duduk diantara dirinya dan perempuan berjilbab di pojok sana kosong. Mandala memang sengaja mengosongkan tempatnya, menganggap kalau Jenaka yang sedang nonton bersamanya.
Film pun diputar. Mandala asyik menonton tanpa melihat ke sekelilingnya. Film ini adalah salah satu film kesukaan Mandala. Ia selalu menontonnya. Biasanya sendiri, namun sejak mengajak Jenaka menonton Ia merasakan lagi serunya menonton bersama teman.
"Andai aku nonton film ini bersama Jenaka seperti janji kita dulu...." batin Mandala.
Tak jauh berbeda. Gadis berjilbab yang duduk di paling pojok juga merasakan hal yang sama.
"Andai aku nontonnya sama Kak Mandala seperti dulu...." batin Jenaka.
Film terus diputar. Adegan demi adegan semakin membuat film yang ditonton semakin seru saja.
Sampai...
Drrt...drrt...drrt...
__ADS_1
Hp milik Mandala yang bergetar. "Siapa yang menelepon sih?" Mandala sengaja tak melihatnya. Tanggung. Filmnya mau habis.
Drrt....drrt...drrt...
Kembali hp miliknya berbunyi. Dengan kesal Mandala meninggalkan studio, bersamaan dengan film yang sudah selesai. Untunglah Ia masih melihatnya meski sambil berjalan keluar studio.
Tak lama lampu studio dinyalakan. Jenaka tak langsung berdiri dan pergi. Ia ingat pesan Mandala, tunggu sampai credit title selesai untuk melihat extra scene atau spoiler film berikutnya.
Mandala berjalan keluar dan duduk di kursi yang disediakan. Ia pun mengangkat Hp yang sejak tadi bergetar.
"Kenapa lagi sih Ta?" Mandala kesal. Sejak tadi Genta terus menerus menghubunginya.
"Man, ini semua cewek ngambek sama gue! Mereka maunya tuh kencan butanya sama lo! Kesini dong, Man! Selametin gue! Enggak inget apa selama ini gue selalu selametin lo?"
Mandala mendengar keluhan Genta dengan malas. Yang kecentilan siapa, yang kena getahnya siapa? Huft....
Bioskop mulai ramai. Penonton dari dalam studio tempat Mandala menonton mulai keluar, pertanda film telah selesai.
"Gue males, Ta. Lo kan tau gue cuma tertarik sama satu nama aja. Dan dia... dia ada disini, Ta! Gue tutup dulu!"
Mandala berdiri setelah menutup teleponnya. Ia yakin kalau baru saja Ia melihat Jenaka. Ia tak mungkin salah melihat.
Memang benar, saat Mandala menelepon Jenaka melintas di depannya. Jenaka juga tak tahu kalau laki-laki berhodie yang Ia lewati adalah Mandala yang tadi duduk di dekatnya.
Mandala menembus keramaian orang yang hendak keluar dari bioskop. Rupanya dua studio keluar berbarengan. Membuat bioskop ramai dengan orang yang selesai menonton.
Mandala mencari yang sesuai dengan ciri-ciri Jenaka, namun nihil. Beberapa kali Ia salah orang.
"Tunggu... Tadi yang kulihat bukan Jenaka yang biasa aku lihat. Tapi Jenaka si gadis berjilbab dengan lesung pipi paling cantik. Aku harus mencari gadis berjilbab!" batin Mandala.
Ia pun kembali mencari di kerumunan orang. Maklumlah, Mall sangat ramai saat weekend.
Mandala menuruni tangga Mall matanya masih celingukan mencari dimana Jenaka. Lalu Ia melihatnya. Ia melihat wanita paling cantik dimatanya sejak dulu, jauh sebelum Ia memutuskan mencintai Kinara.
****
Hi Semua...
__ADS_1
Udah hari senin nih. Yuk jangan lupa vote Jenaka ya.. Maacih... Luv u all 🥰🥰🥰