
"Siang, Cantik!" sapa Mandala setelah turun dari mobil.
Jenaka sedang asyik menikmati es krim yang Ia beli di Indojanuari. Mandala datang lebih lama dari waktu yang mereka sepakati. Daripada menunggu di dalam mobil, Jenaka memutuskan masuk ke dalam Indojanuari saja.
"Lama banget sih!" gerutu Jenaka.
"Maaf. Aku habis meeting sama Richard Kusumadewa!" Mandala memakan es krim milik Jenaka tanpa ijin. "Sekarang aku minta secara enggak langsung es krimnya! Nanti klo udah halal aku minta dari bibir kamu ya!"
"Ih mesum banget sih siang-siang!" Jenaka menyuapi kembali Mandala es krim miliknya. "Mau aku beliin lagi?"
"Enggak usah. Aku lapar! Ayo kita makan ayam bakar yang super dueper enak!"
"Ayo!"
Mandala menggandeng tangan Jenaka. Tangan satunya lagi menyuapi es krim yang kini Ia pegang. Rasa es krim yang manis terasa lebih manis lagi saat dinikmati berdua begini.
"Wah ada Nak Mandala lagi! Loh kok gandengan tangan? Katanya cuma temen?" ledek Ibu penjual ayam bakar.
"Doain aja enggak jadi temen lagi, Bu. Lagi berjuang nih bersama-sama!" jawab Mandala.
"Yang bener? Wah doa mah jangan ditanya. Dari pertama dateng juga udah Ibu doain kalian berjodoh! Ayo masuk-masuk! Ibu buatin pesanan kalian dulu!" ujar Ibu penjual ayam bakar dengan ramah.
Mandala mengajak Jenaka masuk dan mereka duduk di tempat yang sama seperti saat pertama kali mereka datang dulu.
"Gimana meeting dengan Richard Kusumadewa? Dia berkharisma banget kan orangnya. Kelihatan aura Kusumadewanya lebih keluar dibanding adiknya. Yang lebih hebatnya nih, katanya Richard melepas kepemimpinan Kusumadewa dan membuat perusahaan sendiri. Aku selama ini cuma denger doang saat para sekretaris ngumpul, pas lihat langsung ya Allah beneran!" cerocos Jenaka panjang lebar.
Mandala menatap Jenaka tak suka. "Ngapain muji-muji cowok lain di depan aku? Memangnya aku kurang berkharisma apa? Aku ganteng! Banyak yang mengidolakan aku juga! Ngapain malah idolain cowok lain?"
"Ya ampun kamu cemburu? Enggak begitulah, Sayangku. Aku memujinya hanya sebatas kagum karena dia pebisnis hebat. Enggak lebih."
"Coba ulangi lagi!" pinta Mandala.
"Apanya? Ngomongnya? Ya ampun kamu cemburu? Enggak begitulah, Sayangku-"
"Stop! Itu enak banget nyebut Sayangku kayak gitu! Sering-sering aja pokoknya!" Mandala menyuruh Jenaka mengulang ucapannya hanya karena mau dipanggil Sayangku? Ada-ada aja!
"Ish! Ya pokoknya kamu jangan cemburu. Richard sih enggak ada apa-apanya sama kamu! Jauuuuuh berbeda! Kamu kan orangnya super peka. Aku sakit aja kamu tau. Aku laper kamu tau. Cuma satu yang kamu enggak tau."
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Mandala penasaran.
"Aku udah ngajuin resign!"
Mandala terkejut dengan pemberitahuan Jenaka. "Beneran? Terus di acc enggak sama Panca?"
Jenaka mengangkat kedua bahunya. "Entah. Aku juga udah kirim ke HRD. Masa sih orang mau resign ditahan?"
Mandala bertepuk tangan untuk Jenaka. "Keren kamu ih! Pemberani! Aku juga akan lebih berani lagi pastinya buat perjuangin cinta kita!"
"Iya. Tapi status aku sebulan lagi tuh cuma janda pengangguran. Enggak keren banget tau!"
"Enggak masalah. Nanti kamu jadi ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak kita. Aku mau tiap dua tahun sekali kamu ngelahirin. Aku mau punya anak minimal 4. Biar enggak kesepian kayak aku nantinya."
"Ih Kak Mandala khayalannya udah kejauhan! Sampai mikirin anak segala! Mikirin Ayah tuh! Cara dapetin restunya gimana?" Jenaka menghancurkan khayalan indah Mandala.
"Memang kenapa sih Jen kalau aku bermimpi punya anak banyak dari kamu! Aku juga lagi mikirin strategi menghadapi Ayah kamu nih! Sama sulitnya dengan ngadepin Panca. Ah... Kamu tuh susah banget dimilikin! Nyesel aku ngelepas kamu dulu!"
Obrolan Mandala dan Jenaka terputus saat makanan mereka datang. Tak perlu waktu lama, mereka pun mulai menikmati ayam bakar super lezat.
"Ya... Marah. Berdebat juga. Biarin aja! Toh aku mau resign. Aku enggak pikirin. Aku mau fokus nyari kerjaan aja!"
"Kenapa sih harus mikir nyari kerja lagi? Habis dapet restu juga aku langsung nikahin! Black card kamu nanti aku isi 3 kali lipat dari gaji di perusahaan Panca."
"Buat bayar tagihan! Janda butuh uang, Bos! Tagihan banyak! Belum buat beli gincu!"
"Tagihan apa? Aku yang bayar! Pokoknya mulai sekarang biaya hidup kamu aku yang tanggung!"
"Nanti aja kalau udah halal. Sekarang mah aku mau usaha dulu! Ayo cepetan makan. Aku mau balik ke kantor lagi!"
****
Di kantor Mandala ternyata Papi Prabu sudah menunggu kedatangan anaknya. Ia memeriksa laporan perkembangan perusahaan milik Mandala. Genta yang membawakan laporannya. Genta ternyata masih belum dipercaya karena terakhir ketahuan Papinya sedang party-party. Hukumannya diperpanjang.
"Kemana Mandala jam segini masih belum balik? Bukankah meetingnya dari jam 10 pagi? Sudah jam 2 lewat belum balik juga loh! Kelayapan terus! Jangan-jangan kebanyakan tebar pesona dia mentang-mentang udah jadi duda!" omel Papi Prabu.
"Kurang tau, Om. Tapi kayaknya Mandala enggak tebar pesona deh, Om. Kemarin aja Genta ajak kopi darat sama cewek dia enggak datang. Dia malah kayak udah enggak mikirin pasangan lagi deh, Om. Otaknya cuma kerja, kerja dan kerja!" bela Genta.
__ADS_1
"Terus kamu percaya gitu? Bini aja sampai punya dua. Pas jadi duda kesempatan dia nyari bini baru lagi!"
"Jangan suudzon dulu jadi orang tua!" Mandala yang baru datang menghampiri Papi Prabu dan mencium tangannya. Hal yang Ia mulai lakukan sejak menikahi Jenaka. Dulu mana pernah?
"Darimana aja kamu? Jam segini baru balik!" omel Papi Prabu.
"Habis makan siang sama pacar. Mami mana Pi?" tak ada keberadaan Mami yang setia ngintilin Papi Prabu kemanapun Papi Prabu berada.
"Di rumah. Lagi pusing katanya. Mau makan oncom dipedesin pake leunca buatan Jena tapi malu mintanya."
"Yaudah Mandala yang mintain. Weekend besok aja ya, Pi. Sekalian Jena mau berenang di rumah." Mandala mengeluarkan Hp miliknya dan mulai men-dial nomor Hp Jenaka.
"Kamu mimpi, Man? Jangan kebanyakan berharap deh! Papi dengar Jena udah mau nikah sama Panca, rekan bisnis kita?"
Bukannya menanggapi perkataan Papinya, Mandala lebih memilih berbicara dengan Jenaka di telepon.
"Assalamualaikum, Sayang. Papi bilang kalau Mami mau makan oncom dipedesin buatan kamu. Weekend bisa kamu masakkin?" tanya Mandala. Papi Prabu sampai bengong melihatnya.
"Kamu beneran teleponan sama Jenaka? Coba Papi lihat!" Papi Prabu mengambil Hp Mandala dengan paksa dan mendengarkan suara Jenaka di telepon. "Loh ini beneran Jena?"
"Papi? Assalamualaikum, Pi. Apa kabar?" Jenaka menyapa Papi Prabu. Ia tak tahu ada Papi Prabu di dekat Mandala. Agak terkejut saat tau teleponnya diambil oleh Papi Prabu.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah Papi sehat, Jen. Kamu beneran teleponan sama Mandala, Jen?"
"Beneran dong, Pi. Nanti ya Jena masakkin kalo ke rumah Kak Mandala. Papi sama Mami masih di Jakarta kan?"
"Masih, Jen. Kamu datang ya! Mami kamu tuh enggak nafsu makan. Katanya mau masakan buatan kamu. Papi sampai pusing dibuatnya!" Papi Prabu pun mencurahkan isi hatinya.
"Tenang aja, Pi. Tanyain Mami, mau dimasakkin apa aja nanti Jena buatin!"
"Nanti Papi tanya. Aduh Papi senang sekali melihat kamu kembali akrab dengan Mandala, Nak. Kita bicarain semua saat ketemu ya, Jen!"
Papi Prabu menyerahkan kembali Hp milik Mandala pada pemiliknya. Ia tersenyum senang.
"Papi akan dukung kamu!"
***
__ADS_1