Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Mami dan Papi


__ADS_3

Bisa dibilang, Mandala dikasih hati minta jantung. Merasa Ayah memberi lampu hijau, Ia setiap hari datang ke rumah Jenaka.


Ada saja alasan yang Ia buat, numpang sarapan, mau main games sama Juna, sudah janjian main catur dengan teman-teman Ayah di pos hansip bahkan sampai beralasan mau ikut Jenaka dan Bunda ke pasar.


"Ngapain kamu setiap hari kesini terus?" tanya Ayah dengan juteknya.


"Oh... Mau antar Bunda sama Jena ke pasar, Yah. Rencananya mau bikin barbeque nanti malam." jawab Mandala dengan cueknya. Disingkirkannya rasa malu dan tak tahu diri hanya demi bisa menemui Jenaka setiap harinya dan meluluhkan hati Ayah.


"Enggak harus setiap hari kan kamu kesini? Memangnya kamu enggak punya kehidupan lain apa?" ketus Ayah.


"Tentu punya dong, Yah. Senin sampai jumat kerja di kantor. Nah kalau weekend ya main sama teman. Berhubung aku temannya enggak banyak, maka lebih baik kesini. Main sama Jenaka, Juna dan Bunda. Bosan di rumah terus. Nongkrong dengan teman yang lain membosankan. Kebanyakan pamer dan ngomongin hal yang enggak penting. Lebih enak di pos hansip, main catur mengasah otak. Obrolan teman-teman Ayah juga asyik-asyik."


"Asyik dari mana? Mereka tuh centil. Mau ikutan kamu kayak mereka? Biar bisa poligamiin Jenaka lagi?"


"Aamiin."


"Loh kok aamiin? Kamu beneran mau poligamiin Jenaka lagi?" Ayah sangat terkejut dengan Mandala yang mengamini perkataannya, bukannya mengelak.


"Kalau poligamiin kan berarti aku sudah menikah lagi dengan Jenaka, itu yang aku aminin, Yah. Artinya Ayah kembali merestui hubunganku dengan Jenaka. Harus aku aminkan itu. Sisanya aku amit-amit, Yah." pintar sekali Mandala menjawabnya, membuat Ayah makin sebal karena tak mampu membantah perkataannya.


"Mandala, ayo antar Bunda dan Jena!" panggil Bunda.


Bunda menenteng tas jerami besar yang biasa Ia bawa kalau mau ke pasar. Di sampingnya Jenaka mengikuti. Jenaka hanya memakai celana training panjang dan kaos tangan pendek. Terlihat begitu santai dengan rambut yang dikuncir keatas.


"Ayo, Kak!"


Mereka bertiga pergi ke pasar setelah berpamitan pada Ayah.


"Jadi beneran nanti malam Prabu dan Nina akan datang ke rumah Bunda?" tanya Bunda saat mereka sudah di dalam mobil.


"Beneran dong, Bunda. Papi dan Mami sudah beberapa kali mewanti-wanti agar Ayah jangan diberitahu dulu. Kalau tau Papi dan Mami datang, mungkin Ayah akan pergi menghindar ke pos hansip. Enggak lucu kan kalau acaranya pindah ke pos hansip?" jawab Mandala.


"Yaudah, ayo kita belanja." Bunda jalan lebih dulu sementara Jenaka dan Mandala mengikuti dari belakang. Sesekali Mandala dan Jenaka saling lirik dan tersenyum malu-malu.


Kondisi pasar untung saja tidak terlalu becek. Matahari mulai terasa terik. Bunda masih sibuk tawar menawar, sementara Jenaka bak bunga di antara pedagang pasar. Terlihat begitu mempesona.


Beberapa kali Ia disiulin oleh kaum Adam. Mandala sudah menatap tajam pada yang menyiuli Jenaka namun tak membuat siulan mereda.


"Gandeng tangan aku aja! Aku enggak suka liat kamu digodain kayak gitu!" Mandala menggandeng tangan Jenaka sambil matanya terus menatap sekeliling dengan tajam. Siapa yang berani jika penjaganya seseram itu?


Setelah mengantarkan Bunda dan Jenaka sampai rumah, Mandala pun pamit pulang. Ia masih punya sopan santun, tidak main seharian di rumah orang. Nanti kalau dirinya sudah menikah dengan Jenaka, menginap pun tak jadi soal.

__ADS_1


Status Jenaka yang seorang janda, rentan kena fitnah. Mandala tak pernah dibiarkan oleh Ayah berduaan saja dengan Jenaka. Biasanya Juna menemani sambil main games.


"Yah, Mandala pamit pulang dulu ya Yah. Nanti malam Mandala kesini lagi." Mandala tetap mengulurkan tangannya untuk salim, meski Ayah tak pernah menyambut uluran tangannya sama sekali.


Benar saja, Ayah tak menyambut uluran tangan Mandala, membuat Mandala akhirnya menarik tangannya kembali.


"Enggak datang lagi juga enggak masalah!" ketus Ayah.


"Assalamualaikum." Mandala pun pamit tanpa membalas perkataan ketus Ayah.


"Waalaikumsalam." jawab Ayah.


Mandala tersenyum. Setidaknya Ayah masih menjawab salamnya.


****


Sesuai janji, selepas sholat maghrib Mandala datang ke rumah Jenaka. Kali ini Ia tidak sendiri, melainkan bersama Papi Prabu dan Mami Nina.


Mandala membutuhkan bantuan orangtuanya. Usaha sendiri sudah, semoga setelah dibantu Papi dan Mami usahanya berjalan mulus.


Ayah terkejut mendapati Prabu dan Nina masuk ke dalam rumah. Mandala berjalan di belakang, bersembunyi di balik orangtuanya.


"Prabu? Nina? Kalian enggak bilang-bilang kalau mau main kesini!" Ayah memeluk Prabu sahabatnya dan menjabat tangan Nina sambil tersenyum.


"Boleh. Tentu saja boleh. Ayo masuk dulu. Istriku udah masak banyak." Ayah merangkul Papi Prabu dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. "Ayo Nina! Istriku di dapur. Temuilah!"


Papi Prabu dengan Ayah. Mami Nina dengan Bunda. Lalu Mandala dengan siapa dong?


Jenaka sibuk membantu Bunda, tak bisa diganggu. Ah, Juna!


Mandala meminta ijin untuk ke kamar Juna. Rupanya Juna masih tertidur. Ia baru pulang jam 2 siang. Rasa lelah membuatnya tertidur lelap.


Mandala bingung mau membangunkan tapi tak tega. Akhirnya Mandala pergi ke dapur, berniat membantu Jenaka saja.


"Mandala, tolong bantu Bunda siapkan arangnya. Lalu kamu bakarin juga ya! Bunda sama Mami kamu mau nyiapin sambal dan rapihin rumah biar enak makan sambil duduk di bawah." pinta Bunda.


"Iya, Bun!" Mandala membawa panggangan dan mulai membuat bara api. Jenaka datang membawakan ayam ungkep racikan Bunda. Bumbunya meresap sampai ke dalam. Rasanya jangan diragukan lagi tentunya.


"Ayo kita bakar!" Jenaka menyusun ayam bakar dalam capitan, sementara Mandala mengatur kipas angin agar bara api merata. Tak perlu dikipasi. Pakai kipas angin saja beres.


"Kamu tau enggak Jen bedanya ayam bakar sama ayam goreng?" tanya Mandala.

__ADS_1


"Ya beda dong. Satu dibakar dan satu digoreng." jawab Jenaka.


"Salah!"


"Kok salah? Bener dong! Bedanya kan di proses pembuatannya!" Jenaka tak mau kalah.


"Aku enggak nanya prosesnya. Aku nanya bedanya."


"Yaudah apa bedanya?"


"Bedanya, ayam bakar dan ayam goreng ya tulisannya. Beda kan?"


Jenaka menatap Mandala sebal. "Garing! Garing! Garing! Tebakan macam apa itu?" Jenaka memukul lengan Mandala dengan gemas.


Mandala tertawa puas menertawai Jenaka yang kesal. Lucu sekali mengerjai Jenaka ha...ha....ha...


"Yaudah sekarang gantian! Aku yang nanya, apa bedanya bara dengan arang?" tanya balik Jenaka.


"Ya beda dong! Arang sebelum dibakar. Bara setelah dibakar ada baranya." jawab Mandala.


"Salah!"


"Tulisannya!"


"Salah juga!"


"Aku nyerah! Apa bedanya?"


"Bedanya arang dan bara, kalau arang dingin kayak kamu. Pertama kali kita ketemu kamu tuh keras dan dingin kayak arang. "


"Kalau bara?"


"Kalau bara ya arang yang dibakar! Masa gitu aja enggak tau sih?!"


"Rese ya! Bales aku ya! Itu bukan nyari perbedaan namanya! Sini aku kasih hukuman!" Jenaka meledek Mandala dan menghindar saat Mandala mau menghukumnya dengan cara dijewer.


Hukuman pun batal. Mereka malah kejar-kejaran sampai masuk ke dalam rumah, meninggalkan ayam bakar tanpa ada yang jaga.


"Kamu lihat? Bukankah itu senyum bahagia?" tanya Papi Prabu pada Ayah. Ayah diam dan hanya melihat Jenaka dan Mandala dari ruang tamu.


"Apa kamu tega memisahkan dua orang yang saling mencintai?" sindir Papi Prabu. Ayah tak menjawab. Ia memilih diam seribu bahasa.

__ADS_1


***


__ADS_2