
Mandala membeli makanan dan minuman untuk cemilan menonton mereka. Pas sekali saat mereka datang pintu theater baru saja dibuka.
Mandala memesan studio yang sangat nyaman. Sofanya lebih nyaman dari yang biasa Jenaka duduki saat menonton. Jelas saja, harga tidak bisa membohongi. Jenaka biasa beli tiket nonton di bioskop Mall kelas menengah ke bawah. Beda dengan bioskop ini yang harga tiketnya beberapa kali lipat tentunya.
"Kak!" panggil Jenaka setelah keduanya duduk di kursinya masing-masing.
"Kenapa?"
"Kalau disini enggak boleh pangku-pangkuan ya? Aku enggak boleh duduk di pangkuan Kakak gitu?" goda Jenaka lagi.
Mandala menatap Jenaka dengan tatapan mengancam. "Jangan macam-macam kamu Jen! Ini tempat umum! Awas aja kalau kamu duduk di pangkuanku!"
Jenaka tertawa melihat Mandala berpikir mesum. "Ih siapa yang mau duduk di pangkuan Kakak? Aku juga tau adab kali, Kak. Aku mah mau dipangku Kakak di rumah aja. Aku kan lagi nanya, kalau anak kecil sama orangtuanya. Boleh enggak anaknya dipangku? Atau beli tiket sendiri gitu! Ih Kakak mah mikirnya kejauhan ha...ha...ha..." puas sekali Jenaka menertawakan Mandala.
"Enggak tuh! Biasa aja!" elak Mandala menyembunyikan malunya. "Udah jangan berisik! Udah mulai tuh filmnya!"
Jenaka tersenyum sambil menonton. Ruang bioskop sudah gelap, semua fokus menonton film yang mendapat rating bagus oleh para pengamat film tersebut.
Udara dalam bioskop mulai dingin. Jenaka yang mengenakan blouse tangan pendek yang dipadukan dengan celana jeans mulai kedinginan. Ia mendekatkan diri dengan Mandala dan melingkarkan tangannya di lengan Mandala.
"Kenapa lagi?" bisik Mandala.
"Dingin."
"Huft..." Mandala melepaskan jaket bomber yang Ia pakai lalu menyelimuti Jenaka.
Sikap Mandala yang penuh perhatian tersebut membuat Jenaka amat bahagia. Sayangnya kebahagiaannya hanya tinggal beberapa jam lagi. Besok Mandala akan pulang ke rumah madunya, Kinara.
Mandala dan Jenaka menikmati tontonan mereka. Sesekali mereka saling menebak jalan ceritanya dan ikut kecewa kala tebakan mereka salah. Mandala tersenyum melihat Jenaka yang penuh semangat.
Pantas saja Jenaka banyak yang sukai. Jenaka anaknya ceria dan asyik. Diajak nonton film dan ngobrol juga nyambung. Mau tak mau Mandala membandingkan dengan Kinara.
Kalau mereka ke Mall, Kinara maunya keliling toko untuk belanja. Meski kaki pegal, Mandala tetap mengikuti kemana Kinara pergi.
Kinara kurang suka nonton bioskop. Jika Mandala mengajak nonton, Kinara lebih memilih untuk perawatan di salon. Jadilah Mandala seorang diri menonton.
__ADS_1
Kini ada Jenaka yang menemaninya nonton. Mandala seperti menemukan teman baru yang sudah lama hilang.
Dulu Mandala punya banyak teman saat SMA. Saat Ia menjabat sebagai CEO, satu persatu temannya mulai datang dan memanfaatkan statusnya dengan dalih 'teman'. Minjem uang, ngajak kerjasama dan tak jarang yang menipu.
Mandala mulai menjauhkan diri dari pergaulannya dan mulai selektif. Acara reuni pun Ia tak pernah datang. Buat apa? Hanya akan dikelilingi orang-orang yang suka menjilatnya. Merasa sok kenal saat kita senang, dan acuh saat kita susah.
Ternyata menikahi Jenaka ada sisi positifnya. Ia bisa menikmati menonton film kesukaan dengan temannya. Tidak sendiri lagi.
"Nanti saat dibuat session 2, kita harus nonton lagi ya!" pinta Mandala saat mereka sudah selesai dan sedang berjalan keluar gedung bioskop.
"Masih lama itu. Bisa 2 atau 3 tahun lagi!"
"Enggak masalah dong! Kalo perlu kita di kursi dan studio yang sama, gimana?" Mandala begitu bersemangat. Rasanya Jenaka tak mau menghancurkan semangatnya.
"Baiklah!"
"Janji ya!"
"Iya. In sha Allah!"
"Semoga saja saat itu tiba, aku masih istri Kakak. Semoga saja saat itu tiba, Kakak sudah mencintaiku sepenuh jiwa raga Kakak. Aku enggak yakin apakah jika saat itu tiba aku masih Kakak butuhkan untuk berada di sisi Kakak." lirih Jenaka.
"Kita makan dulu, Jen! Aku lapar!" pinta Mandala. 3 jam berada di dalam bioskop dan sebelumnya jalan-jalan di Mall membuat perutnya keroncongan.
"Ayo, Kak. Jena juga lapar nih! Kita makan apa ya yang enak?" Jenaka mencari tempat makan yang menurutnya enak.
Mandala bukannya menjawab malah terdiam. Ia kembali membandingkan saat dirinya jalan dengan Kinara dan Jenaka.
Saat dengan Kinara, Mandala tak pernah mengutarakan hendak makan apa. Ia mengikuti saja apa yang mau Kinara makan. Biasanya restoran yang menyediakan salad atau menu rendah kalori yang cocok dengan diet Kinara.
Berbeda dengan Jenaka, justru Jenaka menanyakan apa yang mau Mandala makan. Berdiskusi dulu sebelum akhirnya sepakat mau makan di food court.
"Aku saranin Kakak makan nasi padang disini. Enak pake banget, meski harganya agak mahal dibanding restoran lain namun rasa tak menipu!" Jenaka promosi layaknya sales yang dibayar restoran Padang tersebut.
"Kalo makan nasi padang enggak pakai tangan mana enak, Jen? Di Mall masa sih kita makan pake tangan?"
__ADS_1
"Loh memangnya kenapa? Aku temenin, Kak! Mau enggak?" lagi-lagi Jenaka menanyakan pendapatnya dulu sebelum membuat keputusan.
"Yaudah ayo!"
Mereka berdua pun menuju restoran padang dan memesan menu kesukaan masing-masing.
"Aku mau rendang dan kentang udang balado!" request Jenaka.
"Samain aja!" Mandala mengikuti pesanan Jenaka.
"Tambah nasi satu lagi ya!" pinta Jenaka yang membuat Mandala mengernyitkan keningnya. Banyak banget makannya Jena.
Jenaka sudah menduga kalau harga makanan disini pasti diatas rata-rata. Namun bagi Mandala, harga bukan masalah. Baginya harga segini tak ada apa-apanya jika Kinara mengajak makan di restoran mewah.
"Tuh kan bener, Kak! Nasinya aja enak!" ujar Jenaka yang makan dengan lahapnya.
Melihat cara makan Jenaka yang tanpa sungkan dan terlihat menikmati sekali membuat Mandala juga terbawa dan makan tanpa sungkan.
"Iya. Enak banget makan kayak gini! Jadi mau nambah lagi deh nasinya!" aku Mandala.
Jenaka menyodorkan nasi putih tambahan yang Ia pesan. "Buat Kakak. Aku memang sengaja lebihin. Aku tau porsi makan cowok kalo makan kayak gini pasti nambah. Juna suka begitu soalnya. Makanlah!"
Mandala salah duga rupanya, justru Jenaka memesankan nasi tambahan untuknya. Perhatian sekali.
"Aku makan ya!" Mandala kembali menikmati makannya sampai perutnya kekenyangan. Makan siang ternikmat bersama pasangan menurutnya.
"Adik kamu Juna kerja dimana sih? Kok enggak bisa pulang?" tanya Mandala setelah mereka mencuci tangan dan kini menikmati es kopyor yang Jenaka pesan sebagai pencuci mulut.
"Juna kerja sebagai aparat negara, Kak. Tau sendiri kan kalau ditugaskan ke daerah lama pulangnya? Beberapa bulan lagi masa tugasnya habis. Bisa pulang lagi deh."
"Kalian akrab sekali ya? Jadi iri. Ayah dan Bunda juga sayang banget sama kamu. Beda sama aku." tanpa sadar Mandala mengeluarkan keluh kesahnya.
"Memangnya Papi dan Mami enggak sayang sama Kak Mandala? Kalian juga kelihatannya deket kok."
"Terkadang apa yang kamu lihat enggak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. Papi dan Mami adalah dua orang super sibuk yang hanya mikirin perusahaan tapi enggak mikirin anaknya. Jarang pulang. Jarang habisin waktu bersama keluarga. Beda sama Ayah dan Bunda kamu,"
__ADS_1
"Aku suka iri melihat orang tua yang setiap hari pulang ke rumahnya. Papi dan Mami selalu bepergian keluar kota bahkan luar negeri. Ninggalin aku bersama Mbok Jun, pengasuhku yang sekarang udah meninggal dunia. Melihat Ayah dan Bunda yang makan bersama kamu membuat aku iri. Jarang sekali Papi dan Mami menghabiskan waktunya di rumah."
Mandala mulai nyaman menceritakan kisah hidupnya dengan Jenaka. Akankah Ia juga membagi hatinya dengan Jenaka kelak?