
Mommy dan Daddy Melisa sedang memperhatikan rumah Juna yang sederhana namun terkesan hangat. Foto keluarga besar di ruang tamu membuat perhatian mereka teralihkan.
"Itu Juna?" tebak Mommy.
Melisa mengangguk. "Tampan ya, Mi! Mirip Jenaka tapi versi cowoknya." puji Melisa dengan mata berbinar-binar.
Mommy mengangguk setuju. "Iya. Terlihat tampan dan gagah. Cocok sekali pekerjaan itu untuknya. Dulu Mommy pernah bermimpi akan punya anak laki-laki yang bisa sekolah di militer. Biar bisa menjaga keluarga kita dan menjadi kebanggaan keluarga. Apa daya, rahim Mommy harus diangkat sehabis melahirkan kamu. Cita-cita Mommy kandas, tapi ternyata Allah punya cara lain mengabulkan cita-cita Mommy."
"Mi, jangan berharap dulu. Semua belum benar-benar terjadi sampai benar terjadi. Kita belum tau nanti akan seperti apa." Melisa terdengar tanpa semangat.
"Jangan begitu, Sayang! Daddy yakin kamu akan bahagia hari ini." ujar Daddy optimis.
"Thanks, Dad!" Melisa menyandarkan kepalanya di bahu Daddy seraya merangkulkan tangannya di lengan Daddy yang kekar dan selalu melindunginya.
Bunda akhirnya keluar dari kamar, Jena menemani sebentar sebelum pergi ke dapur untuk membuatkan minuman dan menghidangkan cemilan. Untung saja tadi Kak Mandala membawa kue Bika Ambon yang diberikan oleh mitra bisnisnya.
Jenaka membuatkan teh manis sekalian untuk Juna, Ayah dan Mandala. Ia yakin semuanya akan berkumpul untuk membicarakan tentang Melisa dan Juna. Jena yakin itu.
"Assalamualaikum!" sapa Bunda.
"Waalaikumsalam, Bunda. Ini kedua orang tua Melisa." Melisa memperkenalkan kedua orangtuanya pada Bunda.
"Saya Bundanya Jenaka dan Juna." Bunda berjabat tangan bergantian dengan Daddy dan Mommy. "Silahkan duduk dulu. Suami, anak dan menantu saya sedang sholat berjamaah di masjid. Biasanya mereka pulang setelah sholat isya. Sebentar lagi mungkin akan pulang."
"Maaf kedatangan kami jadi mengganggu waktu istirahat keluarga Ibu." ujar Mommy berbasa-basi.
"Oh tidak apa-apa. Melisa juga sudah beberapa kali main kesini sama Jenaka dan Juna. Mereka terlihat akrab, mungkin karena masih seumuran. Malah kemarin katanya mau buka butik bareng." cerita Bunda.
"Kami kesini karena penasaran pengen lihat langsung. Maklum, Melisa sering banget cerita tentang Juna. Kita berdua sebagai orangtuanya sangat penasaran, seperti apa sih idolanya Melisa?" tanya Mommy Melisa sambil tersenyum malu.
__ADS_1
"Juna lagi sholat berjamaah sama Ayah dan suaminya Jena. Sebentar lagi mereka pasti pulang. Mereka memang biasa sholat berjamaah, cuma Juna kan kadang tugas ya jadi kalau lagi di rumah aja ikutan sholat berjamaah. Memangnya Melisa cerita apa saja tentang Juna? Aduh saya merasa tersanjung nih anak saya diidolakan oleh Melisa?!" Bunda tersenyum namun tak bisa menyembunyikan rasa bangga dalam dirinya mendengar anak lelakinya begitu dielukan orang lain.
"Rajin ya. Jarang loh anak muda jaman sekarang yang masih mau meramaikan masjid. Biasanya sholat saja lalai, sekalinya sholat ya di rumah saja. Ini sholatnya tepat waktu dan di masjid lagi. Masya Allah, idaman sekali." puji Mommynya Melisa lagi.
Bunda tersenyum bangga.
"Disini memang harus ke masjid, Tante. Kalau enggak mau ke masjid, Ayah ngomel! Bisa dipelototin! Makanya suami aku takut ha....ha...ha..." Jenaka merusak kebanggaan milik Bunda dengan kata-katanya.
"Ha... ha... ha... bagus dong. Berarti Ayah Jena orangnya disiplin. Mau anak lelakinya rajin ke masjid." Mommy Melisa masih saja memuji, membuat rasa bangga dalam diri Bunda bertambah. Tadi anaknya yang dipuji, sekarang suaminya. Makin besar kepala deh Bunda.
"Silahkan diminum dulu! Jadi lupa nawarin saking asyiknya mengobrol. Silahkan dicicipi cemilannya, tadi suaminya Jena bawa kue. Maaf seadanya, kalau tau Melisa dan orangtuanya mau datang, saya masakkin deh. Besan saya suka sekali makan nasi liwetan, bisa saya buatkan kalau tadi diberitahu dulu." Bunda mempersilahkan tamunya mencicipi minuman dan cemilan.
Jenaka menatap Bunda dengan heran. Sejak kapan Bunda jadi lancar berbasa-basi seperti ini? Biasanya juga jarang bicara. Apa ini bukti kalau Bunda sudah mendukung Melisa 100%?
Melisa dan kedua orangtuanya meminum teh manis yang Jenaka buatkan.
"Wah nasi liwet, kalau di Amrik makanan lokal seperti itu yang kami kangeni." Daddy Melisa yang sejak tadi diam saat membicarakan tentang makanan ikut berkomentar.
Jenaka sejak tadi begitu terpukau dengan kemampuan Bunda. Biasanya kalem tapi bisa mudah akrab dengan orang asing dalam waktu sekejap merupakan nilai plus.
Suara Ayah, Juna dan Mandala yang mengobrol sambil berjalan pulang mulai terdengar. Mereka sedang membicarakan pertandingan bola, tentu saja terdengar sangat seru.
Semua yang berada di ruang tamu kini menengok ke luar. Menunggu yang sejak tadi ditunggu.
"Assalamualaikum." ujar Ayah, Juna dan Mandala kompak.
"Waalaikumsalam." jawab yang di dalam rumah lebih kompak lagi.
Mereka yang baru datang terlihat terkejut mendapati sudah ada tamu di dalam rumah, lebih terkejut lagi saat tau siapa yang datang.
__ADS_1
Bunda berdiri dan menghampiri Ayah, salim dengan suami tercinta sambil membisikkan sesuatu agar Ayah dan Juna dengar. "Melisa datang sama kedua orangtuanya. Bagaimana ini?"
Ayah memasang senyum ramah, tak mau sampai ketahuan kalau sedang membicarakan tamu mereka. Tak sopan rasanya.
Ayah yang pertama masuk ke dalam rumah. Dengan senyum ramah, Ayah menyalami tamu di rumahnya.
"Sudah lama Pak? Bu?" sapa Ayah.
Juna, Bunda dan Mandala mengikuti dari belakang.
Jenaka mengikuti apa yang Bunda lakukan, salim dengan suaminya tersayang. Mereka semua lalu duduk di ruang tamu. Jenaka sampai mengambil kursi makan karena sofa ruang tamu sudah penuh.
"Belum lama, Pak." jawab Daddy Melisa. "Oh iya, perkenalkan saya Daddynya Melisa dan ini Mommynya Melisa."
"Saya Ayahnya Jenaka dan Arjuna. Mereka kembar. Dan ini... Juna." Ayah menunjuk Juna yang berada di sampingnya. "Kalau itu menantu saya, Mandala. Suaminya Jenaka."
Mandala dan Juna pun menyalami kedua orang tua Melisa bergantian.
"Maaf keluarga kami malam-malam berkunjung. Jadi mengganggu waktu beristirahat Bapak." kata Daddy Melisa basa-basi.
"Oh tidak apa-apa. tenang saja. Kita biasanya jam segini baru pulang dari masjid, sholat maghrib dan nunggu sholat isya biar sekalian berjamaah. Kadang ada pengajiannya juga, untuk menambah ilmu." Ayah kini mengajak orang tua Melisa mengobrol agar suasana tegang berubah menjadi mencair.
Dalam hati Jenaka mengacungi jempol sikap kedua orangtuanya. Tetap tenang meski hati deg-degan.
"Saya jadi tersindir nih, saya sudah lama sekali tidak mengaji karena sibuk bekerja. Nanti kapan-kapan saya bergabung dengan Bapak untuk mengaji disini." ujar Daddy Melisa.
"Oh silahkan.... Silahkan." kini Ayah mulai masuk ke topik pembicaraan penting yang sejak tadi diulur oleh Bunda. "Maaf boleh tau, ada keperluan apa ya kedua orang tua Melisa datang berkunjung? Nak Melisa sih sudah beberapa kali datang kesini. Agak heran aja karena mengajak kedua orangtuanya."
Semua orang kini seperti menahan nafas, menunggu jawaban Daddynya Melisa.
__ADS_1
"Jadi begini, kedatangan kami kesini sejujurnya ingin menanyakan kepada Nak Juna apakah bersedia berhubungan dengan serius dengan putri kami?"
*****