
Tau bagaimana rasanya luka yang terasa perih?
Tau bagaimana rasanya berjalan dengan luka perih yang masih terasa?
Rasanya sangat nikmat, sampai ke ubun-ubun ha...ha...ha... tapi bohong!
Jika bukan karena panggilan alam yang mengharuskan Jenaka ke toilet, maka Ia mungkin akan di tempat tidur saja. Tak mau menggerakkan tubuhnya dan membuat bagian intinya terasa perih.
Di sampingnya nampak Mandala yang tersenyum puas. Tertidur dengan lelap sehabis menjebol gawang yang selama ini Jenaka jaga.
Jenaka menatap baju lingerie miliknya yang sudah koyak. Kapan Mandala merobeknya? Sepertinya tadi saat mereka bercinta tidak seganas itu? Sudahlah biarkan saja, toh bajunya memang tipis sekali. Tak mungkin memakainya di rumah Bunda.
Jenaka hendak menyiramkan air untuk membersihkan area intinya, namun rasa perih menguasainya. Membuatnya mengaduh kesakitan.
"Aww! Perih sekali! Kenapa banyak orang mau melakukan hal ini sih? Ya, nikmat sih tapi perihnya enggak tahan, kayaknya ada yang robek deh." batin Jenaka.
Jenaka teringat ada bercak darah di seprai. Pertanda kesuciannya telah terenggut dengan sukarela.
Sudah jam 4 sore. Sudah masuk waktu ashar. Sebaiknya Ia mandi dahulu. Dinyalakannya kran air sampai memenuhi bath up. Ia menuangkan sabun yang Ia bawa lalu memastikan kalau airnya hangat.
Jenaka lalu masuk ke dalam bath up. Rasa perihnya sedikit berkurang, dirinya merasa lebih segar sekarang.
"Kamu disini rupanya?" Mandala masuk ke dalam kamar mandi yang lupa Jenaka kunci. "Aku pikir kamu kemana."
"Mau pergi kemana dengan keadaan kayak gini?" Jenaka membuang pandangannya. Masih tak siap melihat Mandala tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Adiknya memang sedang tertidur lemas, namun bukan berarti tak bisa terbangun dan tumbuh menjadi besar lagi kan?
"Masih sakit?" Mandala berjalan mendekat hendak memeriksa keadaan Jenaka.
"Udah sedikit baikkan." jawab Jenaka dengan jujurnya. Sayang, ternyata Ia memberikan jawaban yang salah.
"Oh ya? Boleh aku periksa?" Mandala tersenyum penuh arti.
"Eng... Kayaknya enggak usah deh."
Mandala tak mendengarkan penolakan Jenaka. Ia pun ikut bergabung dan masuk ke dalam bath up.
"Mana yang masih sakit? Ini?" Mandala menunjuk chocochip milik Jenaka dan memainkannya. Membuat Jenaka kembali merasakan kenikmatan.
"Biar aku obatin." Mandala mendekatkan dirinya dan kembali menikmati chocochip milik Jenaka.
__ADS_1
Jenaka kembali mele nguh. "Mmm...."
"Mau cepat sembuh?" tanya Mandala dengan nada menggoda.
Jenaka mengangguk, tak bisa banyak berkata kalau tangan Mandala sedang memainkan chocochipnya.
"Harus sering mencoba, nanti akan terasa nikmatnya dan tidak sakit lagi deh." Mandala mendekat dan mencium bibir Jenaka. Melu matnya habis seakan tak mau menyisakan sedikitpun.
Jenaka menahan tubuh Mandala. "Udah masuk waktu ashar. Aku belum sholat."
Mandala tersenyum menggoda. "Ya udah habis ini kita mandi dan sholat berjamaah. Biar sekalian mandinya."
Jenaka mana bisa menolak saat Mandala kembali menyentuh area sensitifnya. Permainan Mandala masih lembut, menyeimbangkan Jenaka yang masih merasakan perih di area intinya.
Seperti ajaran Richard, Mandala kembali membuat Jenaka rileks. Menyentuh area yang sensitif, yang membuat Jenaka meremang dan mele nguh kenikmatan.
Saat Jenaka lengah barulah adik kecil Mandala beraksi. Adiknya siap untuk proses penyatuan mereka. Memaksa masuk dan akhirnya menemukan tempat yang melenakkan.
Jenaka memeluk Mandala dengan erat. Sesekali tangannya menjambak rambut Mandala jika terasa perih melanda.
Yang lebih sering sih mencakar. Mandala merasakan perih di punggungnya, Ia tak menggubrisnya. Pasti lebih perih yang Jenaka rasakan dibanding dirinya.
"Jenaka cintaku...." lalu Jenaka merasakan semburat hangat pertanda Mandala sudah selesai menunaikan hasratnya. Belum 4 jam dan Mandala sudah dua kali melakukan penyatuan dengannya. Bagaimana dengan nanti malam?
Jenaka bergidik ngeri. Kapan perihnya akan hilang. Ini saja Ia sudah berjalan seperti bebek. Benar yang Juna ledekkin, Ia beneran berjalan seperti bebek. Kalau Juna lihat pasti akan menertawainya nanti.
Jenaka melihat punggung Mandala yang terdapat luka bekas cakarannya. "Pasti perih. Biar aku obati sehabis sholat nanti."
Jenaka meminta Mandala mengantarnya ke mini market depan untuk membeli obat anti septik. Mengoleskannya di punggung Mandala yang Ia cakar.
"Maaf. Karena aku Kak Mandala kena cakar kayak gini!" sesal Jenaka.
Mandala tersenyum, Ia mendekat dan mengecup kening Jenaka. "Apa yang aku rasakan tak sesakit dengan apa yang kamu rasakan. Anggap saja ini bayaran buatku karena sudah mengambil mahkota kamu yang paling berharga. Terima kasih Sayang, kamu sudah membuat aku menjadi laki-laki yang paling beruntung di dunia ini."
Mandala mengecup lagi kening Jenaka. "Nanti malam lagi ya?"
Senyum di wajah Jenaka pun menghilang. "Lagi? Enggak libur dulu? Kita kan besok mau sepedahan! Aku jalan saja sakit, bagaimana sepedahan?"
"Yaudah nanti malam libur dulu. Next time aja. Kita sholat maghrib lalu lanjut jalan-jalan, mau?"
__ADS_1
Jenaka mengangguk dengan penuh semangat. "Mau!"
Sehabis makan malam, Mandala menyewa mobil hotel dan mengajak Jenaka ke salah satu cafe. Semakin malam semakin ramai pengunjungnya.
Banyak turis asing yang menikmati malam sambil mendengarkan alunan musik. Mandala mengajak Jenaka masuk ke dalam cafe yang ternyata merangkap diskotek.
Suasana malam semakin ramai, cafe yang merangkap diskotek tersebut menampilkan penari striptis. Jenaka tak nyaman melihatnya.
Mandala terlihat biasa saja, namun Jenaka yang sesama perempuan melihat perempuan lain dengan pakaian minim meliuk-liuk di tiang mulai resah. Apa suaminya suka yang seperti itu?
"Kak, kita pindah tempat aja yuk! Aku enggak suka disini!" ajak Jenaka.
"Tentu, Sayang. Aku juga enggak suka." Mereka pun keluar cafe dan kembali menyusuri jalan yang ramai, seakan kota ini tak memiliki perbedaan siang dan malam. Ramai terus.
Mandala kini memberhentikan mobilnya ke restoran yang ramai pengunjung. Membukakan pintu mobil untuk istrinya tercinta lalu menggandengnya memasuki restoran yang terlihat mewah tersebut.
Untung saja Jenaka memakai tunik panjang dengan jilbab warna senada, melangkah manis dengan flat shoes, tidak terlalu memalukan saat masuk ke dalam restoran yang sudah pasti isinya kalangan menengah ke atas semua. Coba kalau pakai kaos lengan panjang dan celana jeans? pasti enggak pantes deh masuk ke restoran kayak gini.
Masakan yang disajikan bervariasi, mulai dari hidangan pembuka, makanan inti hingga hidangan penutup. Semua lezat, khas chef kelas atas.
"Bagaimana? Enak hidangannya?" tanya Mandala. Sebenarnya tanpa perlu Mandala tanya sudah bisa dilihat. Jenaka makan dengan lahapnya seakan tak rela dibagi dengan orang lain.
"Enak. Pake banget. Makasih ya Kak udah ngajak aku kesini. Enak banget ini makanannya. Asli. Pokoknya kalau kita ke Bali lagi, harus mampir ke restoran ini."
"Kalau ke Bali? Mau honeymoon lagi gitu? Aku sih mau aja. Makin sering honeymoon makin suka." Mandala tersenyum menggoda.
"Bukan itu maksud aku. Next time. Kita harus ke restoran ini lagi ya!"
Semangat Jenaka untuk kembali ke restoran ini memudar saat Ia mengintip bill yang harus Mandala bayar.
"Enggak salah? Makan berdua habis segini? Gila ini sih!" protes Jenaka. "Kita jangan kesini lagi deh, mahal!" bisik Jenaka.
"No problem, Baby. Aku masih mampu kok. Yang penting kamu suka. Masalah uang biar aku saja yang pikirin. Aku kerja cari uang buat kamu, jadi aku mau nikmatin sama kamu juga."
"Ih...So sweet... Kita kemana lagi nih habis ini?" tanya Jenaka.
"Hmm... Ke kasur lagi boleh?" Mandala mengerling jahil.
"Aku aja deh yang mutusin. Kita jalan-jalan aja lagi! Ayo!" Jenaka tau arti kasur setelah menikah. Tempat yang masih mengerikan untuknya, walau Ia tahu akan enak nantinya.
__ADS_1
***