
Mandala sudah memerintahkan Pak Sahrul untuk menjemput kepulangan mereka di bandara. Tentu saja, Pak Sahrul harus membawa mobil Alphard milik Mandala agar mereka semua muat karena barang bawaan yang dibawa sangat banyak.
Jangan ditanya belanjaan Bunda seperti apa. Beliau membeli oleh-oleh untuk teman-teman satu arisan dan tetangga sekitar. Semua dicatat siapa aja yang akan dikasih. Bunda membeli aneka macam oleh-oleh seperti kalung, daster, mukena dan aneka macam makanan khas Bali lainnya.
Ayah juga tak mau kalah, membeli oleh-oleh untuk rekan-rekannya juga berbagai pakaian untuk beliau kenakan di rumah nanti. Mandala sudah mentransfer uang ke rekening Bunda agar Bunda bisa menikmati liburan tanpa memikirkan uang.
Mandala sebenarnya ingin langsung memboyong Jenaka ke rumah mereka. Apa daya, meskipun Mandala sudah menarik hati kedua mertuanya, tetap saja izin dari Ayah belum juga turun. Itu artinya Ia harus lebih lama lagi menahan diri dan bersabar menghadapi cobaan rumah tangganya.
"Pokoknya aku harus secepatnya ketemu sama Juna!" tekad Jenaka. "Aku yakin ada yang Ia sembunyikan!"
"Biarkan saja! Memangnya kenapa sih kalau ternyata itu Melisa? Selama dia baik dan Juna suka, biarkan saja!" Mandala berusaha menenangkan istrinya yang sejak tadi terlihat gelisah menanti kepulangan Juna.
"Enggak! Big no! Kalau Melisa, dia harus melewatiku dulu jika mau dengan Juna!" ancam Jenaka.
"Juna sudah dewasa, Sayang. Biarkan dia memilih sendiri wanita yang Ia suka!"
"Enggak! Juna masih anak kecil! Dia belum waktunya menikah. Apalagi sama Melisa! Aku enggak sudi punya ipar nyebelin kayak dia!"
"Lah kan kamu sama Juna sebaya? Kalau kamu saja sudah menikah, kenapa Juna belum boleh?"
"Ih! Kamu tuh ada di pihak aku apa enggak sih?" Jena mengeluarkan ancaman yang membuat Mandala tak berkutik. Berani Mandala mengatakan kalau Ia berada di pihak Juna, maka kestabilan negaranya akan terancam.
"Kamu dong! You're the best! Aku selalu dukung kamu! Selalu di pihak kamu!" Mandala lalu meninggalkan Jenaka yang sedang dalam mode sensitif. Tenyata kalau menyangkut Juna, Jenaka bisa jadi sosok yang sangat protect dan menyeramkan.
Jenaka bolak-balik di dalam rumah, menanti kepulangan Juna yang tak kunjung datang. Sampai Ia mendengar suara motor Juna datang. Jenaka bergegas ke luar dan membukakan pintu untuk kembarannya tersebut.
"Assalamualaikum! Eh udah pulang pengantin barunya!" sapa Juna dengan senyum lebar di wajahnya.
"Waalaikumsalam. Aku udah nungguin kamu dari tadi!" Jenaka melipat kedua tangannya di dada. Ia bagaikan seorang jaksa yang siap menuntut hukuman bersalah pada terdakwa.
Juna memasukkan motor miliknya ke dalam garasi lalu menghampiri Jenaka. "Kok pulang dari Bali malah putihan bukannya hitam karena habis berjemur? Pasti kebanyakan di kamar ya enggak sempat berjemur?" sindir Juna.
"Jangan mengalihkan perhatian deh, Jun. Kamu tau apa yang mau aku bicarakan."
Juna melewati Jenaka dan masuk ke dalam rumah. Sebelumnya Ia menaruh sepatu hitamnya di tempat sepatu terlebih dahulu.
"Assalamualaikum. Bun!" Juna salim pada Bundanya. "Ayah mana?"
"Waalaikumsalam. Ayah lagi bagi-bagi oleh-oleh sama teman-temannya di pos hansip. Bunda juga bawa oleh-oleh buat kamu, Pasti kamu akan suka deh!" Bunda begitu bersemangat menunjukkan oleh-oleh yang Ia beli untuk Juna dan teman-temannya.
__ADS_1
Jenaka terus saja berdiri di belakang Juna dengan wajah di tekuk. Ia tak mau mengatakan unek-uneknya di depan Bunda, tak mau Bunda jadi kepikiran nantinya.
Sampai akhirnya Juna pamit pergi ke kamarnya. Jenaka terus mengikuti Juna. Tak akan puas sebelum mendengar penjelasan dari Juna.
"Kenapa sih Jen?" tanya Juna seraya mencopot seragamnya dan hanya mengenakan celana boxer saja. Ditaruhnya pakaian kotor di dalam ember. Jenaka sudah biasa melihat Juna hanya memakai boxer saja di dalam rumah.
"Kamu sama siapa kemarin?"
"Kemarin kapan?" Juna pura-pura tak tahu.
"Kemarin sore! Saat di masjid."
"Oh... Ya sama semua jamaah yang mau sholat."
"Jangan muter-muter deh Jun! Kamu tau apa yang aku maksud. Kenapa bisa ada Melisa disana?" Jenaka yang tak sabaran langsung mengutarakan maksudnya.
"Melisa? Kamu kenal juga?" lagi-lagi Juna bertingkah seolah tak tahu apa-apa.
"Arjuna!" suara Jenaka terdengar penuh penekanan saat mengucapkan nama Juna dengan nama lengkapnya. "Ngapain kamu sama Melisa? Kamu tau enggak dia siapa?"
"Memangnya dia siapa? Aku cuma sholat aja enggak ngapa-ngapain kok!"
"Memangnya gimana?" pertanyaan Juna malah membuat Jenaka makin tambah kesal saja.
"Ya kita berbeda kasta dari dia! Bisa-bisa kamu dihina dan direndahkan sama dia! Aku enggak rela pokoknya!"
Juna sudah menduga reaksi Jenaka akan seperti ini. "Duduklah dahulu. Kita bicarakan baik-baik."
Jenaka menurut. Ia duduk di tempat tidur Juna.
"Memang benar yang kamu lihat adalah Melisa. Melisanya Panca. Aku kenal sama dia enggak sengaja, waktu lagi beli CD games di Mall aku menolong dia yang hendak dicopet. Panca juga tau. Yang terjadi selanjutnya adalah Melisa ngajak aku makan untuk berterima kasih. Aku sudah tolak namun Ia memaksa,"
"Lalu ternyata Panca minta tolong Melisa untuk mengantarkan CD games sama aku, makanya kemarin aku ketemu lagi sama Melisa. Hanya itu, aku sama dia baru mulai berteman. Anaknya baik, hanya saja karena dibesarkan dengan dipenuhi segala keinginannya Ia tumbuh menjadi anak yang agak sombong."
"Memang sombong!" celetuk Jenaka.
"Karena kesepian. Teman-temannya bukanlah teman-teman yang 'sebenarnya'. Kalau kamu saja bisa mengubah Mandala menjadi laki-laki yang mencintaimu, aku yakin Melisa bisa berubah jadi pribadi yang lebih baik. Semua orang bisa berubah Jen. Dan mengenai kasta, kamu lupa kalau Mandala berbeda kasta juga sama kita?"
"Kamu suka sama dia?" tebak Jenaka. Tak mau membahas lagi tentang kasta.
__ADS_1
Juna mengangkat kedua bahunya. "Saat ini belum. Namun aku tahu, dibalik sifat sombongnya terselip pribadi yang baik. Ia sudah mulai berkata sopan sekarang. Mengucapkan salam saat bertemu. Dan satu lagi, dia mau makan di pinggir jalan kok!"
Jenaka amat terkejut dibuatnya. "Yang bener? Seorang Melisa makan di pinggir jalan? Kamu pasti bohong!"
"Kamu yang paling tahu kapan aku berbohong, Jen. Kamu coba kenal dia dulu deh. Kalau dia jahat, mana mungkin Panca mau berteman dengannya?"
Jenaka memikirkan perkataan Juna. Ia akan bertanya langsung pada Panca. Semua menyangkut masa depan adik kembarnya tersayang. Tak boleh main-main.
Keesokan harinya Jenaka minta ijin pada Mandala hendak mengantarkan oleh-oleh pada teman-temannya. Mandala mengijinkan dengan syarat sore hari Jenaka sudah sampai di rumah.
"Hi, Ca!" sapa Jenaka saat bertemu Panca.
"Masuk Jen! Maaf ya aku sibuk banget tadi. Gimana honeymoonnya? Muka kamu yang happy menjawab pertanyaanku tanpa perlu kamu katakan loh!" goda Panca.
"Happy banget! Semua berkat kamu! Eh tapi kok kamu juga terliht happy. What happened? "
Panca tersenyum malu. "I have someone special now."
"Really? Siapa? Kok cepet banget?"
"Jelita."
"Jelita? Siapa itu Jelita?" tanya Jenaka penasaran.
"Pencuri hatiku. Kamu akan aku kenalkan nanti. Aku rencananya mau taaruf sama Jelita. Doakan saja ya!"
"What? Taaruf? Serius? Seyakin itu kamu?"
Panca mengangguk dengan yakin. "Tentu. Baru kali ini aku sangat yakin dengan keputusanku. "
Jenaka tersenyum senang. "I'm so happy with you. Aku yakin Jelita wanita hebat sampai kamu langsung merasa seyakin itu."
"Tentu! Dia lebih hebat dari kamu!"
"Oh gitu ya? Mentang-mentang udah move on!"
"Ha....ha...ha...."
****
__ADS_1
Hi Semua... Udah senin nih! Yuks vote, like yang banyak, komen dan add favorit ya buat bikin aku makin semangat nulisnya 😁😍😍🥰