
Mandala sudah menunggu Jenaka sejak tadi di kedai kopi. Ia bahkan hampir menghabiskan secangkir kopi yang Ia pesan namun Jenaka tak kunjung datang.
Timbul rasa cemas dalam diri Mandala. Jenaka akan datang atau tidak? Ataukah Jenaka membatalkan janjinya?
Mandala sudah meminta bantuan Mami Nina untuk memintakan ijin pada Bunda dan Ayah agar Jenaka boleh menemui Mami Nina yang beralasan sedang berada di Jakarta. Semua hanya agar Mandala bisa jalan dengan Jenaka. Ijinnya susah sekali. Harus dengan cara berbohong dahulu.
Mandala melihat jam di tangannya. Jam 9 pagi, padahal mereka janjian jam 8. Mandala bahkan sudah di kedai kopi sejak jam setengah 8 pagi.
Sehabis sholat subuh, Mandala lanjut lari di treadmill dan mandi. Biasanya tiap weekend Ia kembali tidur, kali ini berbeda. Weekendnya penuh semangat. Ya, Ia akan jalan berdua dengan Jenaka.
Dua tahun sudah. Sudah lama sekali rasanya. Mandala sangat merindukan saat-saat kebersamaannya bersama Jenaka dulu. Nonton, jalan, makan bareng. Mendiskusikan film yang ditonton bersama, memiliki teman lagi disaat semua temannya hanya ingin memanfaatkannya saja.
Sebuah mobil sedan terlihat memasuki parkiran mobil. Mandala mengenali mobil baru milik Jenaka. Ia pun memesankan es kopi kesukaan Jenaka.
"Assalamualaikum!" sapa Jenaka yang kali ini mengenakan coat panjang warna cokelat dengan celana panjang warna hitam dan blouse hitam di dalamnya. Rambutnya dikuncir cepol ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang dulu begitu menggoda keimanan Mandala.
Loh kok dulu? Memangnya sekarang tidak?
Tentu saja Mandala juga tergoda. Sangat tergoda malah. Namun Mandala bertekad untuk menahan dirinya. Tak mau Jenaka malah lebih menjauhinya.
"Waalaikumsalam Cinta!" jawab Mandala dengan senyuman lebar.
"Ih lebay!" Jenaka pun duduk di depan Mandala. "Ini punyaku kan?" tanpa menunggu jawaban Mandala, Jenaka menyeruput minuman kesukaannya.
"Kalau aku kasih racun gimana? Main minum aja!" celetuk Mandala. "Tapi aku kasihnya racun cinta sih, enggak bikin mati cuma jadi klepek-klepek aja!" goda Mandala.
"Beuh... Udah mulai gombal dia. Aku yakin enggak diracun dong. Nanti siapa yang Kak Mandala uber-uber selain aku? Enggak ada kan?"
Mandala tertawa mendengar Jenaka yang sangat pintar membalikkan kata-katanya. "Makin pintar kamu Jen. Gemas aku sama kemampuan kamu bersilat lidah. Sini aku cium! Maju dikit!"
"Iyuhhh... Memangnya aku perempuan apaan? Aku tuh centil cuma sama suami aku doang lah ya! Sama cowok lain mah enggak!"
"Aduh... so sweet banget. Jadi pengen buru-buru nikahin kamu lagi deh!"
__ADS_1
"Mulai deh topiknya kesana lagi. Mau kemana nih? Apa mau nongkrong disini aja?" tanya Jenaka. Kembali Ia menyeruput kopinya.
"Enggaklah! Kita mau pakai mobil siapa nih? Aku atau kamu?" tanya Mandala.
"Ya mobil Kak Mandala lah yang mahal!" jawab Jenaka seenaknya.
"Siap. Ayo! Bawa aja minuman kamu!" Jenaka pun mengikuti Mandala menuju mobil Range Rover yang terparkir di dekat mobilnya.
Mandala membukakan pintu untuk Jenaka lalu berjalan ke sisi satu lagi. "Aku tahu kamu kenapa milih mobil aku? Soalnya kacanya agak gelap kan? Jadi kalau kita ngapa-ngapain enggak kelihatan kan?"
"Dih! Pemikiran macam apa itu? Dibanding mobil aku kan lebih enakkan mobil Kak Mandala. Oh iya, Kak Mandala kenapa enggak pakai mobil sport sih? Enggak punya duit ya buat belinya? Kalah dong sama Panca, mobilnya keren-keren!" pancing Jenaka.
Mandala menjalankan mobilnya keluar dari parkiran kedai kopi. Tak lupa memberikan tips pada penjaga parkir yang tersenyum melihat Mandala mengangsurkan uang seratus ribu. "Titip mobil pacar saya ya, Pak!"
"Siap, Bos!" langsung dipanggil Bos hanya karena kasih seratus ribu dong. Orang kaya mah bebas euy...
"Jangan ngomongin duit sama aku, Jen. Aku udah bukan Mandala yang kere kayak dulu. Tender besar udah banyak yang aku dapetin, enggak pernah bergantung sama Papi lagi. Aku enggak suka pamer, Jen. Mobil bagi aku tuh yang nyaman dan mencover kebutuhan aku. Bisa dibawa ke luar kota dan mesinnya oke. Kalo mobil sport kan dibawa ke luar kota apalagi pelosok malah nyusahin. Aku lebih suka mobil Jeep. Kalo lagi ada kerjaan di tempat yang areanya sulit gak ada masalah."
Jenaka mengangguk angguk mendengar penjelasan Mandala. Masuk akal menurutnya. Mobil bukan tentang kerennya tapi tentang fungsinya.
"Kata siapa? Kak Mandala juga tukang pamer. Kemarin aja Kak Mandala ngirimin buket bunga banyak banget. Mau pamer kan sama yang lain?"
Mandala kembali tersenyum. "Kalau kamu hitung, jumlah tangkai bunga yang aku kirim ada 730. Setara dengan dua tahun aku enggak kasih kamu bunga. Anggap aja untuk menebus dua tahun aku enggak ada di sisi kamu."
Jenaka terdiam. Ia memang tidak menghitungnya. Jadi ada maksud dari banyaknya buket bunga yang Mandala kirim. "Maaf aku enggak ngitung." sesal Jenaka.
"Enggak apa-apa. Sebenarnya aku enggak mau bilang. Itu bukti aja kalau mau menebus waktu dua tahun aku." Mandala membelokkan mobilnya ke area pemakaman.
"Loh? Kok kesini?" tanya Jenaka heran.
"Memangnya kamu pikir aku bakalan ngajak kamu kemana? Mall? Hotel berbintang? Restoran mewah?" Mandala memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Ia membuka pintu belakang dan mengeluarkan sebuah buket bunga yang sudah Ia siapkan sebelumnya.
"Kinara?" tebak Jenaka yang sudah keluar dari mobil.
__ADS_1
Mandala mengangguk. "Iya. Ayo!"
"Tapi aku-" Jenaka tak membawa kerudung. Menyesal tadi Ia pergi tak memakai jilbab.
Mandala tahu apa permasalahan Jenaka. Ia kembali membuka pintu belakang mobilnya. Mengeluarkan sebuah pashmina dari dalam plastik dan sebuah bros.
Mandala menghampiri Jenaka. "Tolong pegangin!" Mandala memberikan bucket bunga pada Jenaka.
Jenaka menurut saja. Mandala lalu memakaikan pashmina menutupi rambut Jenaka. Untunglah rambutnya dikuncir cepol. Dengan lihai Mandala memakaikan Jenaka jilbab dengan menyematkan bros agar pashminanya rapi. "Udah cantik sekarang." puji Mandala.
Jenaka menunduk malu.
"Ayo!" Mandala meraih tangan Jenaka dan menggandengnya memasuki area pemakaman namun Jenaka melepaskan pegangan tangan Mandala dan memilih berjalan sendiri.
Jenaka baru tahu kalau Kinara dimakamkan di Indonesia. Jenaka pikir Kinara dimakamkan di Singapura.
Mereka melewati beberapa makam dan berhenti di tiga undukan tanah yang letaknya berdekatan.
"Assalamualaikum Nara!" sapa Mandala. Jenaka mengikuti Mandala yang berjongkok di samping makam. Ia mengaminkan setiap doa yang Mandala panjatkan.
Mata Jenaka membaca tulisan di atas batu nisan. Jenaka yakin kalau kedua orang yang berada di sebelah nisan milik Kinara adalah kedua orang tuanya.
"Jadi Kinara adalah anak yatim piatu?" batin Jenaka.
"Nara, aku datang membawa Jenaka. Maaf aku baru bisa membawa Jenaka sekarang. Kamu pasti senang kan Jenaka bisa datang? Maaf kalau aku lama menunaikan janjiku. Semoga kamu bisa tenang ya disana." Mandala menaruh buket bunga di atas makam Kinara.
"Sini, Jen!" Mandala mengajak Jenaka mendekat. Jenaka pun menurut. "Say hi sama Kinara."
"Hi Nara. Aku datang! Maaf baru datang sekarang. Aku udah baca surat dari kamu. Semoga kamu bisa tenang disana. Maaf kalau aku banyak menyakiti hati kamu selama ini." ujar Jenaka. Ia menghapus setitik air mata yang berhasil lolos dari pelupuk matanya.
"Nara, aku berikan amanat kamu ya ke Jenaka." Jenaka menatap Mandala yang merogoh saku jaketnya. Mandala mengeluarkan sebuah kotak. Kotak perhiasan.
"Ini titipan Kinara buat kamu, Jen." Mandala menyerahkan kotak perhiasan yang Ia pegang pada Jenaka. "Terimalah! Kinara mewariskan seluruh perhiasannya buat kamu."
__ADS_1
Jenaka terkejut mendengar apa yang Mandala katakan. "Ini murni pemberian Kinara. Terimalah."
****