
Hari ini Jenaka terlihat sangat cantik. Ia mengenakan dress bermotif garis-garis dengan rambut yang Ia biarkan tergerai dengan indah. Make up minimalis menambah level kecantikannya.
Di dalam perjalanan, Jenaka asyik bersenandung mengikuti irama musik dari radio. Sesekali pandangannya melihat ke arah jendela memperhatikan apa saja pemandangan di luar.
Jenaka tidak bertanya pada Panca mau diajak ke mana. Ia hanya duduk diam mengikuti arahan Panca. Hari Minggu ternyata lebih padat dibanding hari Sabtu kemarin. Jalanan terdapat banyak kemacetan di sana-sini karena semua orang banyak yang jalan-jalan menghabiskan libur mereka.
Apa mungkin karena rute kemarin dengan sekarang berbeda? Kalau kemarin, Mandala mengajak Jenaka ke pinggir kota Jakarta sedangkan kalau hari ini, Panca justru mengajak Jenaka ke pusat kota.
Mobil Panca berbelok ke arah sebuah hotel bintang 5. Hotel di mana Jenaka dulu pertama kali bertemu dengan Mandala. Panca mengajak Jenaka ke restoran yang penuh dengan kenangan di masa lalunya.
Andai saja Panca tahu kalau restoran tersebut adalah restoran dimana Jenaka dan Mandala dulu dijodohkan pertama kali, mungkin Panca akan mengurungkan niatnya mengajak Jenaka ke restoran tersebut. Panca yang tidak tahu kalau ada suatu sejarah di dalam restoran tersebut, dengan senyum di wajahnya mengajak Jenaka untuk masuk dan duduk di tempat yang sudah Ia pesan.
"Mau pesan apa, Jen?" tanya Panca.
"Apa aja, Ca. Aku ikut aja deh apa pesanan kamu." jawab Jenaka.
Panca lalu memilih menu makanan yang menurutnya sangat enak. Memberitahu kepada pelayan apa pesanannya lalu menunggu sampai pesanan mereka datang.
"Kamu suka enggak dengan restoran ini?"
"Sebenarnya restorannya bagus, berkelas. Tapi aku nggak suka suasananya." suasana yang dimaksud Jenaka adalah suasana saat Ia terkenang kejadian di masa lalu.
"Suasana? Oh pasti karena disini lagi ramai ya? Sulit sekali reservasi di hotel ini kalau weekend. Untung aja aku bisa dapat."
"Ca..."
"Iya kenapa?"
"Aku pertama kali dijodohkan dengan Kak Mandala di hotel ini."
"Lalu? Enggak masalah dong."
"Aku juga menikah di hotel ini, Ca." ujar Jenaka berterus terang.
Panca terdiam. "Jadi, aku salah pilih resto?"
Jenaka menggelengkan kepalanya. "Enggak salah. Enggak masalah juga. Semua kan hanya masa lalu."
"Jen, jujur aja aku enggak punya banyak pengalaman dalam berpacaran. Kalau di Amrik, kami pacaran bebas. Aku enggak menganut yang bebasnya. Cuma disana tuh pacaran bisa dilakukan meski tanpa perasaan."
__ADS_1
"Lalu?"
"Aku enggak mau kayak begitu." Panca merogoh sebuah kotak perhiasan di dalam sakunya. "Aku mau kita berpacaran setelah menikah,"
Deg... Acara makan berubah menjadi acara lamaran dalam sekejap.
"Apa kamu mau kita pacaran setelah menikah, Jen? Aku tahu siapa pemilik hati kamu. Aku tahu siapa yang selama ini menjadi idola kamu. Namun biarkan aku, yang selama ini mengidolakan kamu untuk jadi suami kamu Jen. Kamu mau menerima pinangan aku?" Panca membuka kotak perhiasan, didalamnya terdapat sebuah cincin berlian yang amat cantik. Terlihat berkilau terkena pantulan cahaya dari sorot lampu.
Jenaka terdiam. Dalam waktu dua hari, dua orang pria memberikannya perhiasan. Yang pertama memberikan perhiasan warisan dari almarhum istrinya. Yang kedua memberikan perhiasan dengan menawarkan pernikahan tanpa cinta. Mana yang harus Jenaka pilih.
"Ca, kamu bilang aku harus memberi kesempatan sama kamu. Kenapa kamu malah meminta lebih? Aku... Aku takut menyakiti hati kamu, Ca."
Panca tersenyum. "Aku tahu Jen. Kamu sayang banget sama aku. Saat banyak yang membully aku, kamu yang pasang badan membelaku. Kamu yang selalu setia berteman denganku. Kamu selalu menjaga perasaanku layaknya aku adalah sebuah keramik yang mudah pecah,"
"Kini, aku sudah berubah, Jen. Aku udah kuat. Aku udah mandiri. Aku bukan lagi sebuah keramik melainkan sebuah baja. Kamu tak perlu menjagaku lagi, biarkan aku yang menjaga kamu."
Jenaka kembali terdiam. Ini merupakan keputusan yang sangat sulit dalam hidupnya. Baginya, Panca hanya sahabat yang Ia sayang. Tak lebih dari itu.
Namun semuanya berubah. Panca mencintainya. Menginginkan lebih dari sekedar hubungan pacaran. Akankah Jenaka sanggup menjalani pernikahan tanpa cinta?
****
Sementara itu di tempat yang sama, Mandala dan Mami Nina datang ke restoran hotel yang juga sudah dibooking Mandala.
"Tentu dong, Mi. Kita kan udah lama banget enggak we time berdua. Sekali-kali Mami tuh jadi pacar sehari Mandala. Jangan nempel terus sama Papi. Tau enggak Mi, Papi tuh salah satu pengusaha yang enggak pernah selingkuh. Setia sama istrinya."
"Iyalah. Papi punya Mami yang cantik begini mana bisa melirik wanita lain?" balas Mami penuh percaya diri.
"Bukan karena itu juga sih, Mi. Karena Mami ngintilin Papi terus jadi Papi enggak bisa berkutik ha...ha...ha..."
"Rese nih anak! Mami cubit ya!" Mandala dan Mami Nina sedang tertawa saat datang ke dalam restoran.
Mandala merangkul bahu Mami Nina. Terlihat sekali betapa Mandala amat menyayangi Maminya tersebut. Mereka duduk agak di tengah.
Mandala sedang melihat menu dan berniat memilihkan salah satu menu yang enak untuk Maminya. Sementara itu, Mami Nina sedang melihat pemandangan sekeliling restoran. Matanya membulat mendapati siapa yang Ia lihat di dekat Jendela. Jenaka?
"Dala! Kamu lihat itu! Bukankah itu Jenaka?" tunjuk Mami Nina.
Mandala mengalihkan pandangan dari buku menu dan mengikuti arah yang Mami Nina tunjuk. Deg... Mami Nina benar. Itu memang Jenaka, dan.... Panca.
__ADS_1
"Dala! Itu siapanya Jenaka? Kok dia kayak megang kotak perhiasan sih? Jangan-jangan dia mau melamar Jenaka? Gimana ini Mandala?" ujar Mami Nina yang terlihat panik.
Mandala juga melihat kalau Panca memegang kotak perhiasan. Ia juga berpikiran sama seperti Mami Nina.
"Mam, sudahlah. Biarkan saja mereka!" ujar Mandala yang kini berbalik badan tak mau melihat Jenaka dan Panca lagi.
"Kok kamu nyerah gitu sih, Dala? Kamu harus perjuangin cinta kamu dong! Masa sih kamu diam saja melihat Jenaka diambil cowok lain?! Enggak bisa nih! Mami enggak mau menantu kesayangan Mami diambil sama yang lain!" Mami Nina terlihat emosi. Ia pun berdiri dan hendak menghampiri Jenaka.
"Mam, jangan dong! Udah biarin aja!" Mandala mencegah Maminya namun Mami Nina tetap keukeuh dengan pendiriannya.
"Kamu diam saja disini! Biar Mami yang turun tangan! Pokoknya Mami enggak rela Jenaka direbut lelaki lain!" Mami Nina benar-benar melaksanakan apa yang Ia inginkan.
Mami Nina menghampiri meja Jenaka dan menyapanya. "Jenaka?"
Jenaka sangat terkejut bertemu dengan mantan mertuanya tersebut. "Mami? Sama siapa, Mi?" Jenaka bangun dari duduknya dan bercipika-cipiki dengan Mami Nina.
Panca pun dengan sopan bersalaman dengan Mami Nina yang menatapnya dengan ketidaksukaan yang tidak dapat Mami Nina sembunyikan.
"Mami sama siapa?" tanya ulang Jenaka karena Mami Nina tak kunjung menjawabnya, hanya melihat Panca dengan tatapan sebal.
Mami Nina menunjuk ke mejanya. Disana Mandala sedang tersenyum saat dirinya ditunjuk Mami.
Kini Jenaka merasa tak enak hati. Ia tahu Mami Nina menghampirinya saat Panca sedang melamarnya. Ia tahu apa tujuan Mami Nina.
"Mam, aku belum kenalin. Ini Panca."
Mami Nina melirik dengan tatapan sinis pada lelaki yang akan merebut Jenaka dari anaknya.
"Oh... Siapa kamu dia Jen?"
"Panca... Dia... Calon suamiku, Mi." jawab Jenaka. Ucapannya membuat Panca dan Mami Nina terkejut.
"Calon suami?"
****
Hi semua... Ayo mampir di karyaku yang lain ya
__ADS_1
aku juga mau promosiin karya sesama author nih. mampir juga ya...