
"Mami masih enggak percaya, Dala. Pokoknya Mami enggak percaya kalo laki-laki itu adalah calon suami Jenaka!" Mami Nina sejak kembali dari menyapa Jenaka terus menerus menggerutu.
"Mam, Panca itu... Memang calon suami Jenaka. Mandala juga sudah tau." aku Mandala.
"Kamu tau dan kamu hanya diam aja, Dala?" tanya Mami Nina sebal.
"Bukan Dala diam aja, Mi. Dala enggak mau menyakiti hati Jenaka lagi. Kalau memang Panca adalah jodohnya Jenaka, Dala ikhlas. Panca adalah laki-laki yang baik. Jauh lebih baik dari Dala yang selalu menyakiti Jenaka."
Mami Nina tak bisa lagi membalas perkataan Mandala. Kesalahan Mandala memang sangat banyak. Terlalu banyak sampai melukai hati Jenaka. Masih untung Jenaka tidak membalaskan dendamnya dan masih bersikap baik pada keluarganya.
"Mami tau, hati kamu pasti sakit kan?" tebak Mami Nina.
"Mandala lebih mementingkan kebahagiaan Jenaka daripada rasa sakit hati Mandala. Jika memang Panca lebih bisa membahagiakan Jenaka, Mandala tentu harus mengalah."
****
Panca memakan makanannya dalam diam. Jujur saja tadi Ia sangat terkejut karena Jenaka tiba-tiba memperkenalkannya sebagai calon suami di depan Maminya Mandala.
Apa tujuan Jenaka?
Apakah hendak memanas-manasi Maminya Mandala saja?
Ataukah itu memang jawaban sesungguhnya Jenaka?
"Jen... Aku enggak mau memaksa kamu. Kalau aku memaksa kamu dan berakhir dengan menyakiti hati kamu, apa bedanya aku dengan Mandala?" tanya balik Panca.
"Aku tidak merasa kalau aku dipaksa sama kamu, Ca. Kisah aku dan Kak Mandala sudah usai. Seperti yang Juna katakan, alasan aku meminta Kak Mandala menceraikan aku adalah karena aku adalah orang yang egois. Aku terlalu takut terluka, makanya aku memilih pergi. Aku enggak mungkin meneruskan kisah cinta penuh luka lagi, Ca. Aku memilih membuka lembaran baru dalam hidupku, yakni... kamu."
"Jadi kamu setuju menikah denganku?" tanya Panca untuk meyakinkan lagi.
Jenaka mengangguk. "Bismillah, aku setuju."
Panca tersenyum. Ia lalu memakaikan cincin di jari manis Jenaka. "Aku akan mengajak kedua orangtuaku ke rumah kamu secepatnya."
****
Sehabis makan siang di restoran hotel, Panca mengajak Jenaka berkeliling di pameran lukisan yang diselenggarakan oleh salah seorang koleganya. Pameran tersebut dihadiri oleh kebanyakan dari kalangan atas.
__ADS_1
Jenaka memperhatikan penampilannya yang dinilai terlalu sederhana untuk tampil di acara kelas atas. Baju yang Ia kenakan hanyalah baju diskonan di Mall. Sepatu sandalnya beli di departemen store, itu pun diskon 50%.
Lalu tas yang Jenaka kenakan, produk lokal yang Ia beli di Instagram. Tak ada perhiasan yang Ia kenakan selain anting emas pemberian Bunda. Perhiasan dari Kinara Ia simpan rapi, tak ada niat sama sekali untuk memakainya.
Panca terlihat begitu akrab dengan pemilik pameran. Sesekali beberapa pengunjung menyapa Panca dan terlihat begitu akrab.
Jenaka hanya memperhatikan bagaimana pergaulan Panca sekarang. Sangat berbeda jauh dengan Panca yang dulunya hanya cowok culun berkacamata yang sering menjadi korban bullying.
Panca bagai anak ayam yang sudah menetas dan keluar dari cangkang telur yang selama ini melindunginya. Ia amat berbeda. Caranya bersosialisasi dengan kelas atas membuat Jenaka ragu apakah Panca di depannya adalah sahabatnya dulu.
3 tahun lebih tidak bertemu Panca yang tinggal di Amrik membuat Panca berbeda. Jenaka makin menyadarinya saat bekerja di samping Panca.
Sebagai sekretarisnya, Jenaka biasa menyiapkan meeting di hotel berbintang lima dan restoran kelas atas. Jauh sekali dengan saat Ia bekerja di Prabu Group yang meeting saja hanya di ruang meeting Prabu Group dan jarang disuguhi makanan. Hanya air mineral saja agar tidak haus.
"Pacarnya Mas Panca?" tanya seorang perempuan cantik yang berpakaian bak barang branded berjalan.
Jenaka mengangguk sambil menyunggingkan seulas senyum. "Iya."
"Oh... Udah lama? Soalnya selama ini Mas Panca enggak pernah membawa gandengan kalau menghadiri pameran kayak gini."
Belum sempat Jenaka menjawab, Panca sudah menghampiri dan menyambut perempuan cantik tersebut dengan cipika cipiki. "Apa kabar Mel?"
"Baik dong! Kamu gimana? Tambah handsome aja!"
"Bisa aja. Oh iya kenalin Mel. Ini Jenaka. Jenaka ini Melisa. Melisa dulu satu kampus denganku saat di Amrik. Jenaka ini calon istriku, Mel." Panca mengenalkan Jenaka dan Melisa.
Jenaka hendak menjabat tangan Melisa, namun Melisa hanya mengangguk saja. Membuat Jenaka menarik tangannya kembali.
"Serius? Calon istri? Kok enggak cerita saat pameran kemarin sih?" Melisa terlihat meragukan hubungan Panca dan Jenaka.
Panca tersenyum. "Biar surprise, makanya diumpetin dulu. Sekarang baru aku kenalin sama yang lain."
"Yah... Jadi hari patah hati sedunia dong?"
Panca tersenyum. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Jenaka dan menarik Jenaka lebih dekat dengannya. "Masa sih? Seharusnya kalian senang dong, aku kan udah menemukan the one?"
"Ah... Makin patah hati deh..."
__ADS_1
Jenaka bak patung yang sesekali harus memasang senyum kecil di wajahnya. Pembicaraan mereka berdua hanya seputar circle mereka sendiri.
Jenaka lalu diajak Panca berkenalan dengan teman kelas atasnya yang lain. Kembali Jenaka hanya jadi pendengar sambil sesekali memasang senyum di wajah. Topik pembicaraan mereka tidak Ia mengerti. Ngomongin lukisan abstraklah, karya pelukis terkenal yang sudah meninggal dan bahkan membahas makna sebuah lukisan.
Wajah Jenaka sampai pegal harus terus memasang senyum di wajahnya. Topik pembicaraan pun beralih. Kini membahas tentang mobil sport terbaru dan siapa saja yang memiliki seri limited edition.
Jenaka tiba-tiba teringat perkataan Mandala tentang mobil adalah tentang fungsi bukan tentang gaya semata.
"Jenaka pakainya mobil apa?" tanya Melisa. Entah pertanyaannya hendak merendahkan Jenaka atau memang murni mau bertanya.
"Oh... Aku pakai mobil sedan biasa." jawab Jenaka dengan jujur.
"Wah Panca gimana sih? Kasihlah mobil sport kamu buat Jenaka!" celetuk Melisa.
"Tenang. Besok aku beliin yang baru. Biar bisa couplean sama aku gitu!" sumpah Jenaka baru kali ini melihat Panca yang seakan ingin memamerkan harta benda miliknya. Mau membantah pun tak ada guna. Lagi-lagi Jenaka harus memasang senyum palsu di wajahnya.
Topik pembicaraan beralih lagi. Kini membicarakan tentang olahraga.
"Jenaka olahraga apa?" kembali Melisa bertanya padanya. Jenaka sudah memperkirakan akan dibawa kemana pertanyaan ini. Kalau bukan untuk merendahkan dirinya pasti mau pamer.
"Aku biasa lari keliling komplek. Kalau dulu kadang sepedahan." Itu pun sepedahan cuma sekali sama Mandala sebelum prahara rumah tangga menderanya. Sisanya naik sepeda milik Juna kalau disuruh Bunda beli garam di warung.
"Ikut komunitas Bromptot juga?" tanya Melisa lagi.
Jenaka menggelengkan kepalanya. Yang punya sepeda mahal kan Mandala. Masa sih Jenaka ikut komunitas sedang sepedanya saja minjem.
"Nanti gabung ya. Kita sepedahan bareng." Melisa lalu berkata dengan manja pada Panca. "Ajak dong, Ca. Biar gabung sama anak-anak dari komunitas Bromptot juga."
"Gampang. Bisa diatur itu!" lagi-lagi Panca mengiyakan setiap ajakan Melisa. Padahal Panca tahu, di rumah Jenaka hanya ada satu sepeda lipat. Itu pun merek Uniteed saja. Masa sih Jenaka gabung pakai sepeda selain merk Bromptot?
Pembicaraan kembali bergulir, masih seputar olahraga. Kini membahas tentang golf. Jenaka kembali ditanya dong sama Melisa, apakah Jenaka suka bermain golf.
"Nanti ajak Jenaka main golf juga ya, Ca!" pinta Melisa lagi.
Golf? Tadi sepedahan terus mobil sport. Gila ini circle pergaulannya enggak ada nongkrong di angkringan gitu sambil makan sate usus?
"Mateee aja aku kalau disuruh main golf!" rutuk Jenaka dalam hati.
__ADS_1
****