
Kedatangan Melisa dan kedua orangtuanya tentu saja mengejutkan Juna. Ia tak menyangka kalau maksud perkataan Melisa bahwa Ia akan terus maju dan tak menyerah adalah dengan datang ke rumahnya, bersama kedua orangtuanya pula.
Memang sih ada beberapa tradisi dimana wanita melamar laki-laki. Juna yang pernah ditempatkan di beberapa daerah sempat melihat adanya tradisi tersebut.
Juna hanya tak menyangka kalau itu akan terjadi dalam hidupnya. Ia memang selama ini agak dingin dengan para cewek. Bukan karena Ia tak suka, melainkan Ia lebih menyukai bermain games dibanding berpacaran yang justru lebih banyak dosanya dibanding manfaatnya.
Melisa di mata Juna adalah perempuan hebat yang bisa memimpin perusahaan di usianya yang masih muda. Apa karena Ia anak perempuan satu-satunya yang sengaja dididik untuk meneruskan bisnis keluarganya?
Ternyata keberanian Melisa dalam berbisnis juga diaplikasikan dalam hubungan percintaan. Ia seakan menunjukkan pada Juna kalau Ia serius dengan perkataannya dan tak akan mundur jika dirinya sudah yakin akan sesuatu.
"Jadi begini, kedatangan kami kesini sejujurnya ingin menanyakan kepada Nak Juna apakah bersedia berhubungan dengan serius dengan putri kami?" Daddy Melisa memang berkata dengan tenang, namun penuh penekanan dalam setiap kata yang terucap.
Juna terdiam. Ia tak tahu harus berbuat apa. Tak semua pria bisa mendapat kesempatan dilamar oleh seorang wanita. Dia salah satu pria yang beruntung!
Juna menatap ke arah Ayah yang tersenyum dan bersikap tenang. Membuat Juna lebih bisa menguasai dirinya. Rasanya menghadapi massa lebih baik daripada disidang seperti ini.
"Jujur saja, saya sebagai orangtuanya Juna merasa amat beruntung karena Nak Melisa begitu menyukai anak saya. Namun semua keputusan saya kembalikan lagi sama anak saya. Ia dan Nak Melisa yang akan menjalaninya, saya tak berhak ikut campur. Namun tentu saja setiap keputusan ada konsekuensinya. Nak Melisa tentu tau seperti apa Juna. Bagaimana pekerjaannya. Pasti sudah dipertimbangkan bukan sebelumnya? Jangan nanti di kemudian hari timbul masalah yang akan menyakiti kedua belah pihak." ujar Ayah dengan bijak.
Melisa mengangguk. "Saya siap menerima Juna apa adanya." jawab Melisa yakin.
Ayah kembali tersenyum. Dalam hati Ayah merasa salut dengan keberanian yang Melisa miliki. Jarang ada perempuan yang berani seperti Melisa. Biasanya cewek yang tergila-gila dengan seorang pria rela melakukan apa saja termasuk memberikan kehormatannya.
Melisa berbeda. Ia mengejar cintanya dengan jalan yang benar. Melalui jalan pernikahan yang diikat dengan ikatan yang sakral.
"Tinggal jawaban dari anak saya berarti." Ayah menepuk bahu Juna. Jujur saja, Ayah bangga sekali dengan Juna. Ada wanita yang begitu mencintainya berarti Ia sudah mendidik anaknya dengan baik sampai Ia mendapat banyak cinta. "Bagaimana jawaban kamu, Jun?"
Juna mengangkat wajahnya, melihat Melisa yang kini menundukkan wajahnya seraya berdoa dalam hati agar usahanya berhasil. Juna menatap Bunda yang tersenyum dengan teduh. Lalu Juna menatap Jenaka, kembarannya.
Jenaka mengangguk. Ya, Jenaka yang awalnya menolak keras Melisa saja sampai mendukungnya. Apa itu artinya memang Melisa baik untuknya?
__ADS_1
Juna menghirup nafas banyak-banyak. Jawabannya kini ditunggu banyak orang. Jawabannya menentukan masa depannya dan Melisa kelak.
"Bismillah. Saya... Mau melanjutkan hubungan yang lebih serius dengan Melisa." semua orang yang mendengarnya kini menghela nafas lega. "Asalkan Melisa bisa menerima saya apa adanya."
"Tentu! Aku akan terima kamu apa adanya, Jun!" ujar Melisa dengan senyum penuh kelegaan.
"Alhamdulillah Juna sudah bersedia menerima anak saya. Jujur saja, sejak awal saya begitu penasaran dengan Nak Juna ini. Anak saya tiba-tiba berubah. Ia memutuskan untuk berhijab. Saya dan istri saya sampai kaget dibuatnya. Belum selesai kekagetan saya, Melisa sudah mulai kembali mempelajari tentang sholat dan meminta dipanggilkan guru ngaji. Membuat saya dan istri saya yang jujur saja sudah lama meninggalkan kewajiban kami jadi merasa tersentil," ujar Daddy Melisa.
"Juna bukan hanya sudah merubah Melisa, Ia juga merubah kami kedua orang tuanya yang sudah lama lalai menjadi diingatkan kembali akan kewajiban kami sebagai seorang muslim. Begitu cepat perubahan Melisa dan drastis. Sampai Melisa meminta kami mendatangi rumah Juna untuk meminta Juna berhubungan serius. Kini setelah Juna setuju, bukankah sebaiknya kita membicarakan kapan akan dilaksanakan pernikahan diantara mereka?"
Juna menelan salivanya. Pernikahan. Secepat itukah?
"Juna mau kapan menikahi Melisa?" tanya Ayah.
Juna bingung mau berkata apa? Menikah? Menikah kan butuh biaya. Uang dari mana? Tabungan Juna juga tak banyak, paling hanya dua puluh juta. Kalau menikahi anak orang kaya setidaknya harus memberi uang yang besar juga.
Seakan tahu mengenai kesulitan yang Juna hadapi, Daddy Melisa pun berkata, "Jangan memikirkan masalah biaya. Jujur saja, saya akan mengadakan pesta besar. Semata karena saya punya banyak kerabat dan rekan bisnis yang pasti menunggu kapan putri satu-satunya saya akan dinikahkan? Kalau mengenai akad nikah dan Juna maunya sederhana tak masalah. Kita saling berembuk saja demi kebaikan kedua belah pihak."
Daddy Melisa tersenyum. "Pantas Melisa begitu menyukai kamu. Sikap tegas kamu dan apa adanya yang membuat Melisa jatuh cinta kayaknya ha...ha...ha..."
Semua orang ikut tertawa. Melisa saja yang hanya tersenyum sambil menunduk malu.
"Tak masalah kalau kamu mau akad nikahnya sederhana. Seperti yang saya bilang, lakukan saja jika itu memang keputusan kamu. Jadi kapan kita akan melaksanakan pernikahan kalian?"
Juna kembali menelan salivanya. Seakan menjawab akan menikahi Melisa saja belum cukup, kini Ia diminta kapan tanggal pernikahannya.
"Saya dalam waktu dekat akan ditugaskan ke dua tempat. Pertama lokasi bencana banjir dan satu lagi ke daerah konflik." Juna menyampaikan tugas yang tadi diberikan untuknya oleh atasannya.
Melisa terlihat menahan nafas. Cobaannya ternyata belum berakhir.
__ADS_1
"Ke lokasi bencana kapan?" tanya Daddy Melisa.
"Besok pagi. Disana butuh tambahan personil karena banyaknya korban dan lokasi bencana sulit dijangkau oleh alat berat." jawab Juna.
"Hmm... Kalau ke daerah konflik kapan?" tanya Daddy Melisa lagi.
"Sebulan lagi."
Daddy Melisa terlihat sedang berpikir. "Bagaimana kalau sepulang dari lokasi bencana dan sebelum pergi ke daerah konflik?"
Kembali semua pasang mata melihat ke arah Juna. Menunggu keputusan yang akan Juna ambil.
"In sha Allah saya siap." jawab Juna dengan mantap.
"Alhamdulillah." Bunda tersenyum ke arah Juna. Bangga dengan keputusan yang anaknya buat.
"Mari silahkan dicicipi cemilannya. Kita tinggal tunggu Juna pulang dari tugasnya saja ya." ujar Ayah.
Melisa melirik ke arah Juna. Tatapan keduanya pun saling bertemu. Sedetik, dua detik dan akhirnya mereka berdua membuang pandangan karena malu.
Melisa tersenyum, begitupun dengan Juna. Jenaka yang sejak tadi memperhatikan berbisik ke telinga Mandala.
"Aku rasa nanti mereka akan seperti kita setelah menikah. Aku berani bertaruh!" Jenaka tersenyum jahil
"Hush! Jangan begitu ah. Kamu enggak lihat apa kalau mereka berdua sama-sam tersenyum malu? Berarti mereka sebenarnya saling suka. Jangan ngajarin yang enggak-enggak ya!" ancam Mandala.
"Hmm... Enggak janji ya! Aku akan mengajarkan ilmu saktiku jika situasi dan kondisi memungkinkan!"
Mandala hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan istrinya. Akankah nasib Juna akan seperti nasibnya kelak?
__ADS_1
****