Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Canggung


__ADS_3

"Ehem..." Mandala bahkan sampai berdehem untuk mengusir kecanggungan diantara mereka. "Kamu habis ngapain ke Mall?" pertanyaan receh akhirnya Mandala tanyakan untuk mengusir kecanggungan diantara keduanya.


"Aku? Kamu sendiri habis apa?" Jenaka tak mau jujur duluan. Ia memilih mengembalikan pertanyaan pada pemiliknya kembali.


"Aku habis nonton."


"Sendirian?" tanya Jenaka.


Mandala mengangguk. "Iya. Aku biasa nonton sendirian. Dulu pernah ada, teman nonton dan kita membuat janji untuk menonton bareng. Entah dia ingat atau lupa." sindir Mandala.


Jenaka mengeluarkan potongan tiket miliknya. "Kayaknya dia ingat deh." Jenaka menaruh potongan tiketnya di atas meja.


Mata Mandala membulat. Ia pun mengeluarkan potongan tiket yang masih Ia simpan di saku jaketnya yang tersampir di sofa. "Jadi kamu yang tadi duduk di pojok?" Mandala juga menaruh potongan tiketnya diatas meja.


"Hah? Beneran?" Jenaka memeriksa dua tiket yang Mandala keluarkan. "Kita beneran sebelahan loh! Kok aku enggak tau ya?"


Mandala tersenyum dengan takdir yang seakan mempermainkan mereka. "Aku juga enggak tau. Aku datang telat tadi. Aku cuma lihat ada cewek berjilbab duduk di pojokan. Aku takut bukan manusia makanya aku enggak tegur."


"Enggak manusia maksudnya apa nih? Setan?"


Mandala tertawa lepas, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang terawat baik. Ia menertawakan Jenaka yang tak terima dibilang bukan manusia. "Bukan dong! Kamu tuh... Malaikat tanpa sayap!"


"Dih gombal! Udah lama berguru sama Pat Kay makanya jadi jago ngegombal?" cibir Jenaka.


"Enggaklah. Gombal itu hal natural bagi seorang laki-laki! Mungkin kamu harus lebih mengenal aku biar kamu tahu kalau aku jago ngegombal. Lebih jago dari kamu yang suka merayu dan menggoda aku dulu!" sindir Mandala.


Jenaka menunduk malu. Wajahnya bersemu merah saat kepingan ingatan saat Ia menggoda Mandala dulu mulai melintas. Rasanya amat memalukan. "Udah ah enggak usah dibahas!"


Mandala kembali tersenyum. Ia yakin Jenaka pasti teringat masa lalu mereka. Teringat saat dulu Jenaka begitu agresif untuk mendekatinya.


"Kenapa? Orang bilang, kenangan manis itu harus diingat loh!"


"Itu bukan kenangan manis, tapi kenangan memalukan! Makanya harus dihapus dan tak perlu dibahas lagi!"


"Kata siapa memalukan? Bagi orang lain justru itu bukan memalukan, tapi kenangan indah yang tak mau dihapus."


Kembali keheningan melanda keduanya. Rupanya rasa canggung masih saja mendera. Sulit untuk menghapus dinding pemisah yang sempat terbangun diantara mereka berdua.


"Mm... Jen. Kamu bekerja dimana sekarang?" Mandala kembali memulai percakapan tak mau keheningan terus menerus melanda keduanya.


"Aku kerja di Reel Group." jawab Jenaka jujur.

__ADS_1


"Oh... Ikut Panca ya? Bagaimana dia memperlakukan kamu?"


"Baik. Panca amat baik padaku."


"Lalu... Ayah dan Bunda bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah Ayah dan Bunda juga baik. Juna enggak kamu tanya? Masih dendam karena kamu kena tonjok?" sindir Jenaka.


Mandala tertawa. "Satu-satu dong, Jen. Biar lama ngobrol sama kamunya ha...ha...ha... Aku sih enggak dendaman orangnya. Biasa aja kena tampol juga. Waktu latihan taekwondo kena tampol, tendang juga biasa."


"Ish... Sombongnya masih tetap sama ya!" cibir Jenaka.


Drrt....drrt....drrt...


Kembali Hp Mandala bergetar. "Nih anak rese banget sih!"


"Rese? Siapa?" Jenaka penasaran juga dibuatnya.


"Ya Genta lah, Jen. Siapa lagi makhluk paling rese? Aku jawab dulu telepon dari dia!" Mandala pun mengangkat teleponnya.


"Kenapa lagi, Ta?" tanya Mandala.


"Lo dimana? Beneran enggak dateng lo? Ah gila nih orang!" umpat Genta.


"Lo gila ya? Lo ketemuan sama Jenaka? Lo tau enggak dia siapa?"


"Ya.... Jenaka. Memangnya siapa?" Mandala melirik ke arah Jenaka yang ingin tahu karena namanya disebut sejak tadi. Apa yang dibicarakan dua orang sepupu ini tentang dirinya?


"Jenaka tuh calon istrinya Panca, Man. Mau nikah mereka! Wah parah lo! Jangan gangguin dan deketin calon istri orang deh! Suka nyari penyakit lo!" omel Genta.


"Kata siapa lo?" Mandala tak percaya dengan apa yang dikatakan Genta.


"Gue denger sendiri! Lo kan tau, kemarin waktu meeting di Reel Group, gue ketemu Jenaka. Dia kerja disana jadi sekretarisnya Panca-"


"Kenapa lo enggak bilang?" potong Mandala.


"Lo enggak nanya! Terus Panca bilang apapun demi calon istrinya. Jenaka juga enggak menyanggah, berarti bener dong klo mereka tuh calon suami istri. Udah lo kesini aja! Jangan gangguin calon orang!" bujuk Genta.


"Justru karena itu, gue masih ada kesempatan. Pokoknya gue enggak mau pergi! Lo yang ngerencanain tanpa sepengetahuan gue! Lo aja yang handle. Udah ah jangan gangguin gue!" Mandala pun mematikan sambungan teleponnya. Bahkan Mandala mematikan Hpnya agar tidak diganggu Genta.


"Ngomong apa Kak Genta? Kok bawa-bawa nama aku?" tanya Jenaka penuh curiga.

__ADS_1


"Genta cerita katanya kemarin ketemu kamu pas lagi meeting di tempat Reel Group. Sisanya tetap maksa aku buat dateng ke tempatnya sekarang."


"Oh iya. Kemarin kita berdua malah makan siang bareng. Kak Genta ngajak kamu kemana?" tanya Jenaka.


"Kepo ya?" goda Mandala.


"Ih kata siapa? Enggak kok. Ini namanya sopan santun. Kan Kak Mandala sendiri yang bilang katanya maksa Kak Mandala buat dateng ke tempatnya, ya aku basa-basi nanya. Enggak sopan kalo aku cuek bebek. Kalaupun enggak dijawab sama Kak Mandala, aku sih enggak masalah." kilah Jenaka.


"Iya... Iya... Kamu kepo juga aku senang kok, Jen. Genta maksa aku buat ikut blind date gitu. Aku enggak mau. Sekarang dia dikeroyok sama teman-teman blind datenya, kenapa aku enggak dateng?"


"Terus kenapa Kak Mandala enggak dateng? Siapa tau disana ceweknya cantik-cantik?" Jenaka pun terpancing untuk bertanya.


"Enggaklah. Dari awal aku udah enggak mau. Aku kan janji mau nonton film. Janji sama kamu! Lagi juga menurut aku enggak ada yang lebih cantik dari kamu!" goda Mandala.


"Iyuuuhhh... Sejak kapan Kak Mandala jadi gombal kayak gitu?"


"Lupa? Kan kamu yang ngajarin? Sejak itu aku jadi jago ngegombal. Sayangnya, enggak ada yang aku gombalin. Yaudah ilmu gombalnya aku simpan dalam hati dan baru kali ini aku keluarin."


"Wuidih... Gombalannya makin maut ha...ha...ha..." Jenaka menertawai lucunya saat Mandala ngegombal. "Padahal dulu kayak kanebo kering ha....ha...ha..."


"Garing dong? Ha...ha...ha..." Mandala dan Jenaka tertawa bersama. Lupa akan derita dan tangis air mata saat perpisahan mereka dulu.


"Tapi suka kan kalau aku gombalin?" goda Mandala lagi.


"Kata siapa? Biasa aja!" elak Jenaka.


Kembali keheningan melingkupi keduanya. Mungkin karena selama ini mereka sudah lama tidak berkomunikasi makanya susah memulai obrolan baru tanpa rasa canggung.


"Udah sore, Kak. Aku mau pulang dulu ya." pamit Jenaka.


"Yah... Kok mau pulang sih? Kan kita belum ngobrol banyak? Gimana kalau kita makan dulu? Kamu belum makan kan? Atau kita kelilingin Mall dulu? Kamu enggak ada niat buat mencari sesuatu dulu gitu? Aku temenin!" Mandala tak rela kalau waktunya hanya sebentar saja dengan Jenaka. Ia mau lebih lama lagi.


Jenaka tersenyum. "Aku udah lakuin semuanya sebelum nonton, Kak. Aku kesini karena mau menepati janjiku sama Kak Mandala dua tahun silam. Karena sudah aku tepati yaudah aku bisa pulang dengan lega kan?"


"Tak maukah kamu meluangkan waktumu untukku lagi Jen?" tanya Mandala penuh harap.


****


Hi semua...


aku mau promosiin salah satu novel author nih. jangan lupa mampir juga ya. #apaansihthoriklaninnovelorangterus gpp ya saling bantu 😉

__ADS_1



__ADS_2