
"Ah sampai lupa!" Jenaka menepuk keningnya. "Aku kesini mau menanyakan sesuatu sama kamu!"
"Nanya apa?" tanya Panca.
"Tentang Melisa."
"Melisa? Kenapa dengan Melisa?" tanya Panca balik.
"Melisa dekat dengan Juna. Kamu pasti tau kan?"
Panca mengangguk. " Aku tahu. Mereka awalnya kenal karena Melisa kecopetan lalu ternyata Melisa suka sama Juna."
"Tuh kan! Aku sudah duga kalau Melisa suka sama Juna!"
"Loh memangnya kenapa Jen? Tak masalah dong! Mereka sama-sama single!"
"Ya... Iya sih. Memang tak masalah. Tapi... Aku enggak sreg aja!" aku Jenaka.
"Jen, Melisa tuh baik. Percaya sama aku! Aku enggak akan mau berteman sama dia kalau dia jahat. Kamu tau aku kan pernah jadi korban bullying. Melisa meski agak pemilih tapi dia baik. Dia banyak nolong aku waktu di Amrik. Banyak kasih tau aku mana yang baik dan enggak,"
"Kamu tau kan pergaulan disana kayak gimana? Apalagi aku yang baru pindah ke sana. Melisa yang mengajarkan aku, ini begini loh. Itu begitu loh. Kita orang timur tak perlu ikut-ikutan budaya barat. Dan ya, itu yang membuat aku dan teman-teman bisa tetap jadi orang timur yang hidup di barat, meski ada beberapa kebiasaan yang kami adaptasi juga kayak cipika-cipiki. Kamu ngerti kan maksud aku?"
"Aku ngerti. Tapi... Serius Melisa suka sama Juna?"
"Kamu akan lihat betapa Juna bisa merubah Melisa. Coba lihat dari sisi baiknya, jangan dari sisi buruknya saja. Setiap orang punya sisi baik yang mungkin sudah tertutup karena kita hanya terpaku pada sisi buruknya yang pertama kita lihat."
****
Sejujurnya, Jenaka tak semudah itu menerima kalau Melisa menyukai Juna dan mungkin akan mendekati Juna dalam waktu dekat ini. Meski Panca sudah memberinya penjelasan namun hanya sedikit yang merubah pikiran Jenaka.
Untuk menghilangkan mumet, Jenaka pun berniat mengantarkan oleh-oleh ke rumah Bu Sri. Ia memarkirkan mobilnya di depan warung Pak Husin lalu berjalan ke rumah Bu Sri.
"Assalamualaikum!" ucap Jenaka.
Jenaka menunggu sampai seorang ibu-ibu membalas salamnya dan keluar dengan senyum ramah.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Jenaka? Wah ada pengantin baru nih! Ayo masuk!" Bu Sri dan Jenaka pun cipika-cipiki. Jenaka lalu masuk ke dalam rumah Bu Sri yang adem.
Mata Jenaka terpaku pada sebuah layar di laptop milik Bu Sri. "Ibu main saham?"
Bu Sri tersenyum. "Iya. Masih belajar."
"Wah gokil! Jarang loh ada ibu-ibu yang masih mau belajar apalagi main saham begini." puji Jenaka.
Bu Sri membuatkan minuman untuk Jenaka dan menyuguhkannya kue bolu yang Ia buat sendiri. "Ini saya buat sendiri. Kamu cobain ya!"
"Tentu. Pasti Jena cobain. Oh iya, sampai lupa." Jenaka mengeluarkan paper bag berisi oleh-oleh untuk Bu Sri. "Buat Ibu. Saya inget belum kasih Ibu sesuatu untuk membalas jasa Ibu selama ini sama saya."
"Apa ini?" Bu Sri melihat isi paper bag yang lumayan besar. "Wow! Pake ngerepotin segala. Saya mah ikhlas bantu kamu Jen. Udah lama saya tidak mengeluarkan kemampuan saya. Kangen rasanya. "
"Kemampuan gimana maksud Ibu? Nyuruh Jena minum obat pencahar lagi? Ya ampun kalau Jena ingat, mau ketawa terus Bu. Andai waktu itu Kak Mandala langsung meniduri Jenaka gimana ya Bu? Ya Allah, sakit pisan Bu."
"Ha...ha...ha... Sakit tapi enak kan?" goda Bu Sri. "Saya sih sudah perkirakan kalau Mandala enggak akan sampai menyentuh kamu makanya waktu itu saya suruh kamu menggoda dia terus."
"Dan kita berhasil. Meski harus melalui cobaan panjang, tapi aku dan Kak Mandala kembali bersatu."
Jenaka menunggu dengan sabar. Ia semakin penasaran dengan sosok Bu Sri. Darimana Ia punya uang untuk membeli saham?
Jujur saja Jenaka sempat melirik sekilas dan melihat kalau modal yang ditanamkan oleh Bu Sri lumayan besar.
"Ibu sudah lama main saham?" akhirnya Jenaka tak kuasa menahan rasa ingin tahunya.
"Hmm... Baru beberapa tahun. Pasti kamu penasaran saya punya uang dari mana?" tebak Bu Sri.
Jenaka mengangguk.
"Dari uang mengupas bawang, jualan cemilan anak-anak dan dari uang arisan. Semuanya saya kumpulin sedikit demi sedikit dan mulai investasi saham. Kamu tahu kan kalau Mas Bejo hanyalah seorang karyawan biasa, mana mungkin punya uang banyak? Kami masih ngontrak karena uangnya dipakai untuk biaya menyekolahkan anak kami di pesantren. Kalau saya tidak puter otak, enggak akan punya rumah selamanya,"
"Kamu lihat rumah di depan rumah Bu Jojo yang di pinggir jalan?" tanya Bu Sri lagi.
Jenaka mengangguk lagi. "Yang sebelumnya ada tulisan dijual? Sekarang udah laku memangnya?"
__ADS_1
"Saya sudah membelinya." jawab Bu Sri dengan bangganya. "Cash!"
"Woooooooowwww! Serius Bu? Ibu beli rumahnya cash? Asli keren pake banget Ibu tuh! Aku aja yang gajinya gede, mobil saja nyicil." aku Jenaka.
"Tapi suami kamu kaya. Kamu sudah punya semuanya. Ada orang-orang yang harus susah payah dahulu untuk membeli sesuatu. Kamu termasuk sangat beruntung dan harus banyak bersyukur." ceramah Bu Sri. Kini Ia menutup laptopnya. Jam 11:30, sesi pertama telah ditutup. "Alhamdulillah uangnya bisa buat ngecat."
"Ya Allah Bu, keren banget sih!" puji Jenaka untuk kesekian kalinya.
"Itulah hidup. Jangan menggantungkan mimpi kamu sama orang lain, bahkan suamimu sekalipun. Capai apa yang menjadi mimpi kamu, usaha sendiri dan kamu akan menikmati hasilnya nanti."
"Ibu enggak percaya kalau suami Ibu tak bisa mewujudkan mimpi Ibu?" tanya Jenaka.
"Bukan tidak percaya. Mas Bejo dari awal tak pernah berjanji akan mewujudkan mimpi saya. Dia hanya berjanji akan membahagiakan saya. Itu saja sudah cukup. Saya yang ingin mewujudkan mimpi saya dan Mas Bejo mendukung apapun yang saya ingin capai. Termasuk dengan bermain saham ini. Dia bilang, asalkan saya bahagia dan bisa mengembangkan bakat yang saya miliki maka saya bebas asal bertanggung jawab,"
"Kamu juga nanti begitu ya Jen. Jadi istri dan ibu rumah tangga namun jangan pendam mimpi kamu. Karena itu yang membuat kamu tetap waras menghadapi dunia yang semakin menggila. Harus tetap punya mimpi yang bisa kamu capai, tak perlu ketinggian. Cukup mimpi yang membuat kamu semangat menjalani hidup ini!"
Setelah lama berbincang-bincang, Jenaka pun pamit. Bu Sri kembali menekuni deretan grafik di depannya.
Dalam hati Jenaka berkata, "Siapa Bu Sri? Kenapa begitu banyak yang Ia bisa dan begitu banyak pengetahuan yang Ia miliki? Namun aku belajar satu hal, bahkan setelah menikah sekalipun aku tak boleh berhenti bermimpi. Aku tak boleh berhenti menggapai mimpiku, karena menjadi ibu rumah tangga bukan berarti tak boleh bermimpi."
Sesampainya di rumah, Jenaka dikejutkan dengan kedatangan seorang tamu. Perempuan muda yang mengenakan tunik dan hijab berwarna senada dengan tunik yang dikenakan.
"Assalamualaikum." Jenaka mengucapkan salam saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam. Akhirnya kamu pulang juga, Jen." sambut Bunda dengan senyukm hangatnya seperti biasa. "Ada teman kamu yang menunggu sejak tadi."
Awalnya Jenaka tak mengenali, jujur saja begitu pangling melihatnya mengenakan pakaian yang biasanya seksi kini menutupi auratnya juga ada jilbab yang membingkai wajah cantiknya.
"Hi Jen!" sapa Melisa dengan senyum mengembang,
"Hi Mel. Ada apa kesini? Oh iya, silahkan duduk dahulu!" Jenaka mempersilahkan Melisa kembali duduk.
"Aku mau ngucapin selamat atas pernikahan kamu." ujar Melisa dengan tulus.
****
__ADS_1