Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Dua Sisi


__ADS_3

Mandala duduk di kursi bakso dengan risih. Matanya terus memandang keadaan sekitar, melihat para pembeli bakso makan dengan lahap di ruangan yang dilengkapi dengan dua kipas angin di dinding.


Udara panas. Bakso pedas. Teh botol dingin. Keringat mengucur di kening dan di hidung, sesekali menyeka dengan tisu gulung yang biasa Mandala gunakan di toilet.


Mandala memperhatikan ibu-ibu yang menuang banyak sambal di mangkok baksonya. Kuah baksonya berwarna merah dan kental karena perpaduan saos dan sambal di dalamnya. Tanpa sadar Mandala mengusap perutnya. Membayangkan efek yang nanti ditimbulkan karena mengkonsumsi sambal sebanyak itu.


Mandala kembali memperhatikan saat penjual membuat es campur. Menyerut es batu berbentuk balok yang belum tentu dibuat dari air matang.


"Bagaimana kalau bikin sakit perut nanti?" batin Mandala.


Sementara itu, Jenaka yang diam-diam memperhatikan suaminya yang sedang mengedarkan pandangan dengan tatapan setengah jijik hanya bisa menahan tawa. Meski Mandala tadi bilang pernah susah, kalau belum pernah membaur makan di pasar atau jajanan kaki lima belum masuk kategori susah menurut Jenaka.


Bakso yang mereka pesan pun datang. Jenaka dengan sengaja memesan seporsi es campur dan Teh Botol untuk Mandala. Biarlah Mandala makin bergidik ngeri dibuatnya ha...ha... ha....


Mandala masih terdiam melihat mangkuk baksonya yang beraroma menggoda tersebut. Jenaka cuek saja, tidak menawari Mandala makan dan sibuk menuangkan saos dan sambal ke dalam mangkoknya sendiri.


Jenaka makan dengan lahap. Pulang kerja, makan bakso adalah makanan paling enak menurutnya. Rasa pedas menjalari lidahnya, membuatnya makin ketagihan lagi dan lagi.


Mau tak mau Mandala mengikuti apa yang Jenaka lakukan. Menuang sedikit saos yang warnanya orange, bukan merah seperti saos botolan pada umumnya. Batinnya bertanya, terbuat dari apakah saos ini? Mandala menambahkan sedikit sambal dan mencicipi rasanya.


"Hmm... Enak!" puji Mandala dalam hati.


Mandala pun makan dengan lahap diiringi lirikan Jenaka yang terus menahan senyumnya. Seporsi bakso pun tandas Mandala makan.


Mandala melirik bakso milik Jenaka yang masih tersisa. Jenaka penganut safe the best for the last, makan yang enaknya belakangan. Tanpa dosa Mandala mengambil garpu dan menusuk bakso milik Jenaka lalu memakannya dengan lahap.


"Ih! Kakak! Itu punya aku tau!" protes Jenaka.


"Siapa suruh enggak kamu makan?!" balas Mandala dengan mulut penuh bakso.


"Bukan enggak dimakan, Kak. Belum dimakan. Aku tuh prinsipnya bersusah-susah dahulu baru bersenang-senang kemudian. Makanya aku makan sayuran dan mienya dahulu baru makan baksonya."


"Ah ribet! Justru makan yang enak dulu biar enggak diambil orang. Ujung-ujungnya punya kamu diambil aku kan? Karena apa? Karena kamu enggak ngawasin!"


"Bukan! Tapi karena aku sengaja kasih ke Kak Mandala. Aku lihat Kak Mandala makannya lahap banget makanya aku sisain dikit. Kayak aku yang menyisakan sedikit hatiku untuk disakiti Kakak. Sisanya hatiku kuberikan untuk yang mencintaiku sepenuhnya." sindir Jenaka yang kini asyik menikmati es campur miliknya.


Melihat Jenaka makan es campur dengan lahap, Mandala ingin memakannya juga. Udah kadung makan bakso, kenapa enggak sekalian es campurnya sekalian?


Kini Mandala mengambil sendok dan mencicipi es campur berwarna pink itu. Rasa manis perpaduan susu dengan sirup bercampur jadi satu. Enak.


Mandala pun ketagihan. Mandala dan Jenaka saling berebut menghabiskan satu mangkok es campur. Tak mau kalah, Mandala mengambil sedotan dan menghabiskan kuah es campur sampai tandas.


"Ha...ha...ha... aku menang! Aku yang habisin!" tawa Mandala penuh kemenangan.

__ADS_1


"Ih! Curang! Pake sedotan lagi! Pake sendok biar adil!" gerutu Jenaka.


"Bodo amat! Yang penting aku menang!"


"Udah ah ayo pulang! Aku bayar dulu. Aku traktir Kak Mandala pake uang aku!"


"Wah aku tersanjung. Baru kali ini aku ditraktir selain sama Kinara. Biasanya malah aku yang traktir orang."


Meski agak sebal mendengar nama madunya disebut, Jenaka terlihat menahannya. Ia bangkit dan membayar pesanan mereka.


"Lain kali, kalo pesen makanan dan minuman di pasar atau tempat-tempat yang aku belum pernah coba kamu samain aja kayak pesanan kamu! Coba tadi aku dipesenin es campur juga! Enggak usah semangkuk berdua jadinya!" Mandala terlihat masih kurang makan es campur. Ia masih mengeluh.


"Iya... iya... Nanti aku pesenin! Ayo kita pulang!"


Mandala terlihat menyukai berjalan-jalan di pasar. Semakin malam, semakin ramai saja para pedagang menjajakan jualannya.


"Nanti dulu, Jen. Itu tukang apa?" Mandala menunjuk tukang kue yang sedang menggoreng di penggorengan kecil.


"Itu kue cucur, Kak."


"Kue apaan tuh? Aku baru denger!"


Jenaka geleng-geleng kepala dibuatnya. "Masa sih kue cucur aja belum pernah denger?"


"Yaudah aku beliin! Tunggu sebentar!" Jenaka pun membelikan kue cucur yang masih hangat, baru saja diangkat dari penggorengan. "Makannya di mobil aja ya, Kak!"


Di dalam mobil Mandala langsung membuka plastik kue dan memakannya. "Kok minyaknya banyak banget sih Jen? Sehat enggak sih?"


"Jangan dimakan, Kak! Itu mengandung formalin, borax, antibiotik dan narkoba!" kata Jenaka dengan kesal.


"Ih ngambek!" ledek Mandala.


"Tadi makan bakso ragu karena bau tempatnya, sekarang makan kue cucur juga ragu karena banyak minyaknya." Jenaka mengambil kotak tisu dan memberikannya pada Mandala. "Nih! Tirisin minyaknya pake tisu!"


"Ih makin ngambek!" ledek Mandala lagi. "Aku suapin nih! Enak loh!"


"Enggak mau!"


"Ha...ha...ha... Lucu banget ngambeknya! Masa sih ngambek gara-gara kue cucur?" Mandala tertawa meledek Jenaka.


Jenaka tak kuat untuk tidak ikut tertawa. "Ih rese! Awas ya nanti aku enggak bikinin cemilan enak ala Chef Jena!"


Tawa Mandala terhenti, seperti di rem mendadak. "Cemilan apa? Kamu bisa bikin cemilan juga?"

__ADS_1


"Bisa dong! Pokoknya cemilan Jena paling enak deh! Dibikinnya pake cinta. Jena kan kayak Sailormoon. Dengan kekuatan cinta, akan menghukummu!" Jenaka mengayunkan tangannya seperti sedang memegang tongkat lalu mengarahkannya pada Mandala.


"Ah... Aku nyerah! Tolong Sailormoon jangan hukum aku!" Mandala mengangkat kedua tangannya ke atas sambil tertawa.


"Sailormoon akan membebaskanmu, dengan syarat beliin Sailormoon sesuatu!" pinta Jenaka.


"Apa? Sailormoon mau apa?"


"Hmm... Apa ya? Belum kepikiran ha...ha....ha.... Nanti aja Sailormoon mintanya. Janji ya harus dikabulin!"


"Iya. Aku janji akan ngabulin permintaan Sailormoon!" Mandala memberikan jari kelingkingnya yang disambut Jenaka dengan menautkan jari kelingking miliknya juga.


Mobil yang Jenaka tumpangi akhirnya sampai di rumah Mandala. Jenaka turun dari mobil namun Mandala turun belakangan. Teleponnya berdering.


"Iya. Aku baru aja sampai rumah. Kamu gimana disana? Nginep di hotel mana?"


Jenaka yang tadinya mau minta tolong Mandala untuk bawakan barang belanjaannya pun urung dilakukan demi melihat Mandala yang sedang berbicara di telepon, dengan Kinara tentunya.


"Pak, tolong bawain belanjaan. Minta tolong Mala dirapihkan sekalian belanjaannya!" pinta Jenaka pada Pak Sahrul.


"Baik, Bu!"


Jenaka masih mendengar percakapan Mandala yang kini keluar dari mobil sambil berbicara di telepon.


"Aku? Aku kangen banget sama kamu! Jangan nakal ya kamu disana. Janji?"


Nyes...


🎶Bun, hidup berjalan seperti ba jing an


Seperti landak yang tak punya teman


Dia menggonggong bak suara hujan


Dan kau pangeranku, mengambil peran🎶


(Bertaut, Nadin Amizah)


Ya, Jenaka serasa hidup dengan seorang ba jing an. Baru saja tertawa bersamanya kini malah sayang-sayangan dengan pemilik hati yang sebenarnya.


Jenaka masuk ke dalam kamarnya. Mengunci pintu kamarnya rapat-rapat lalu mengurung diri dalam kesepian dan air mata yang semakin lama semakin mengering.


***

__ADS_1


__ADS_2