
Mandala tersenyum. Senyumnya semakin mengembang karena mendengar gombalan Jenaka. Seperti mengenang kisah masa lalu mereka.
Ah... Mandala begitu merindukan suasana seperti ini. Tangannya saja sudah gatal hendak memeluk Jenaka. Bibirnya saja harus Ia tahan agar tidak nyosor Jenaka yang begitu menggemaskan.
Ternyata digoda Jenaka adalah hal paling membahagiakan dalam hidup Mandala. Pantas rasanya ada yang hilang setelah bercerai dengan Jenaka.
"Sebelum kita memikirkan rencana ke depan, kamu makan dulu ya lalu minum obat. Nanti Juna akan datang kesini buat jemput kamu. Aku suruh Mala bawain kamu makan dulu ya."
Jenaka mengangguk saja. Mengikuti setiap perintah Mandala. Setelah Mandala pergi, Jenaka kembali memperhatikan kamarnya yang dulu Ia tempati.
Kamarnya masih sama seperti dahulu. Hanya ada penambahan satu figura besar, foto saat Ia dan Mandala menikah dulu. Senyum di wajah Jenaka begitu mengembang dalam foto tersebut. Terlihat sekali kegembiraan saat menikahi Mandala.
Berbeda dengan Jenaka, senyum di wajah Mandala terkesan dipaksakan. Tidak terlihat tulus, namun tak mengurangi ketampanan pada wajahnya.
Kamar ini masih tetap terawat. Jenaka memeluk guling dan tercium aroma parfum yang biasa Mandala pakai. Tunggu, apakah sekarang ini jadi kamar pribadi Mandala?
Jenaka melihat meja rias dan benar saja ada beberapa skincare milik Mandala disana. Apa Mandala tak mau menempati kamarnya yang dahulu karena masih terkenang akan Kinara?
Tok...tok...tok...
"Permisi, Bu!" Mala datang membawakan bubur yang Ia buat khusus untuk Jenaka.
"Masuk, Mal!" ujar Jenaka sambil tersenyum. "Mala apa kabar?" sapa Jenaka dengan ramah.
"Ba-baik, Bu. Buburnya langsung dimakan ya, Bu. Mumpung masih hangat." Mala terdengar agak gugup dan bicara dengan terbata.
"Iya. Nanti aku makan. Terima kasih ya, Mal. Pak Sahrul gimana kabarnya?"
Mala menaruh bubur beserta meja untuk makan di depan Jenaka. "Baik juga Bu, alhamdulillah."
"Saya turut berduka atas meninggalnya Kinara. Pasti kamu merasa kehilangan banget ya, Mal. Oh iya, semua pesan yang diamanatkan oleh Kinara aku sudah terima. Terima kasih banyak ya Mal. Kamu udah menjaga amanah dengan baik! Top!" Jenaka mengacungkan kedua jempolnya seraya memuji Mala.
Mala menunduk malu. Dulu Ia begitu jahat pada Jenaka, eh Jenaka malah masih berbaik hati padanya.
"Bu, dimakan dulu buburnya. Obatnya juga diminum. Bapak lagi sholat subuh dulu katanya."
"Oh iya sholat subuh! Aku belum sholat, Mal!" Jenaka menepuk keningnya. Semalam pasti Ia kelewatan sholat isya juga.
"Biar Mala bantu wudhu, Bu. Takut Ibu masih pusing. Nanti sholatnya di tempat tidur saja." Mala membantu Jenaka bangun untuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Jenaka melaksanakan sholat di atas tempat tidur. Ia mengenakan mukena miliknya yang menjadi mahar penikahan mereka. Sengaja Jenaka tinggal, Jenaka dulu begitu marah sampai tak mengakui mahar pernikahannya saat tahu kalau dirinya dimanfaatkan. Mukena itu masih tertata rapi dan terbungkus kotaknya. Belum dibuka sama sekali oleh Jenaka. Ada baju dan beberapa seserahan lain yang sengaja Jenaka tinggal. Dulu Ia enggan memakainya, hanya menjadi luka saat Ia melihat seserahan tersebut.
Kini, barang seserahan miliknya sangat berguna. Mukena bisa dipakainya sholat. Baju nanti akan Ia pakai sebagai baju ganti. Enggak ada yang sia-sia.
Jenaka tersenyum melihat kotak seserahan miliknya. Ia pun melaksanakan sholat subuhnya dengan khusyuk. Mala meninggalkan Jenaka saat Mandala sudah kembali setelah sholat dan mandi.
Mandala terlihat begitu segar dan wangi tentunya. Ia mandi di kamarnya dahulu yang sudah Ia ubah menjadi lemari closet tempat koleksi baju, sepatu dan jam tangan miliknya.
Mandala terdiam memperhatikan bidadarinya yang terlihat begitu cantik saat sedang sholat. Mandala melihat sekeliling Jenaka seperti ada sinar yang membuatnya semakin berkilau.
"Ngeliatin aja!" celetuk Jenaka setelah selesai sholat.
"Kamu cantik banget soalnya." puji Jenaka.
"Bisa aja!"
Mandala lalu duduk di samping tempat tidur. "Buburnya dimakan dong! Aku suapin ya!"
"Iya. Aku tadi mau sholat dulu. Nih mau makan."
"Yaudah sini, aku suapin! Biar kayak di film-film. Pas ceweknya sakit cowoknya suapin. Biar romantis gitu!" goda Mandala.
"Enggak usah ih, malu! Nanti Mala masuk!"
Mandala mengambil mangkok bubur dan mulai menyuapi Jenaka. Sesekali menggoda Jenaka seperti menyuapi anak kecil sambil bermain pesawat-pesawatan.
"Ih jahil banget!"
Mandala tertawa melihat ekspresi Jenaka. Dalam hati keduanya berharap semoga kebahagiaan ini tak lekas hilang dan bertahan selamanya.
"Hp kamu sejak semalam berbunyi terus. Aku udah silent agar enggak ganggu kamu!" Mandala menunjuk Hp Jenaka yang berada di atas nakas. Kini Hp Jenaka kembali nyala karena ada panggilan masuk. "Panca telepon lagi."
"Huft... Aku sebenarnya malas menjawabnya. Tapi aku harus menjawabnya sebelum Ia melaporkanku pada Ayah dan Bunda. Bahkan Ia bisa saja membuat laporan ke kepolisian nanti!" Mandala mengambilkan Hp dan memberikannya pada Jenaka.
"Angkat saja. Juna udah tau kok kamu ada di rumah aku." ujar Mandala.
Jenaka pun mengangkat teleponnya. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Kamu dimana, Jen? Kamu baik-baik aja kan? Aku nunggu kabar kamu tapi enggak ada. Aku ke rumah kamu tapi enggak ada orang. Aku telepon Juna namun cuma dijawab kamu baik-baik saja. Enggak dikasih tau kamu ada dimana. Kamu dimana sih Jen? Aku khawatir banget sama kamu!" Panca memberondong Jenaka dengan banyak pertanyaan.
__ADS_1
"Ya seperti yang Juna katakan. Aku baik-baik saja." jawab Jenaka singkat.
"Kamu dimana? Aku jemput ya sekarang!"
"Enggak usah, Ca. Juna akan jemput aku. Kamu enggak usah khawatir. Aku akan bicara sama kamu secepatnya tentang hubungan kita."
"Hubungan kita baik-baik aja, Jen. Kita cuma beda pendapat aja dan itu wajar menurutku. Enggak ada masalah dengan hubungan kita." elak Panca.
"Ca, nanti kita bicarakan lagi, oke?"
"Jen, kamu dimana? Biar aku ke tempat kamu. Pokoknya kamu jangan mikir macem-macem. Hubungan kita baik-baik saja."
"Aku tutup dulu ya, Ca. Assalamualaikum!"
"Jen! Jena! Tunggu Jen- " tut...tut....tut....
Jena sudah terlanjur mematikan teleponnya.
Mandala menggenggam tangan Jenaka. Tatapannya meyakinkan Jenaka kalau keputusan yang Jenaka ambil adalah keputusan yang tepat.
"Mau jalan-jalan keliling rumah? Mungkin kamu bosen di kamar terus?" tanya Mandala.
"Ah aku ingat, aku mau nanya kenapa ada foto itu?" Jenaka menunjuk figura besar bergambar dirinya.
"Ya memang itu foto pernikahan kita. Aku mau memajangnya agar aku selalu teringat senyum bahagia kamu saat kita menikah dulu." ujar Mandala.
"Hmm... Ini sekarang kamar kamu?" tanya Jenaka.
"Iya. Aku kalau di kamar ini baru bisa tertidur lelap. Serasa masih ada kamu di rumah ini. Yaudah aku mutusin tidur disini aja deh sekarang."
Jenaka tersenyum. "Bukan karena kamu takut tidur di kamar kamu?" ledek Jenaka.
"Enggak dong. Aku mah pemberani orangnya! Beneran deh, kalo tidur disini tuh langsung pulas. Ya sambil bayangin kamu ada disini juga sih. Lagi ngelus-ngelus kamu sambil.... Ah udah. Nanti aku ngebayangin yang enak-enak lagi! Ayo kita hirup udara segar!" Mandala membantu Jenaka untuk bangun, tetap memeganginya sampai ke belakang rumah.
"Ah... kolam renang. Udah lama aku enggak renang!" Jenaka terlihat begitu senang hanya karena melihat kolam renang saja.
"Begini aja, weekend besok kamu kesini untuk berenang. Gimana?" usul Mandala.
"Boleh emangnya?"
__ADS_1
"Ya bolehlah. Rumah ini kan calon rumah kamu. Tentu saja kamu boleh renang kapanpun!" Mandala memegang tangan Jenaka. "Kamu bisa sabar sebentar kan? Sebulan lagi! Kita sembunyikan hubungan kita selama sebulan. Aku mau menyelesaikan semua urusanku dahulu. Kamu mau kan?"
****