
Jenaka masuk ke kamarnya setelah acara memasak selesai. Ia sebal melihat Melisa yang berusaha mencari muka di depan Bunda.
Jenaka menyalakan kran air dan mengguyur kepalanya yang panas karena emosi dengan air dingin. Berharap dinginnya air dapat meredam kemarahannya.
Sepertinya Melisa sangat serius mendekati Juna. Segitu cintanya kah Melisa pada Juna? Kalau Melisa terus menerus berbuat seperti ini, bukan tidak mungkin Juna akan cepat luluh.
Jenaka mengeringkan rambutnya yang basah. Suara ketukan di pintu mengagetkan Jenaka.
"Jen! Bunda masuk ya!"
"Iya, Bun. Masuk aja!" jawab Jenaka.
Bunda masuk ke dalam kamar Jenaka dan duduk di atas tempat tidurnya.
"Bunda mau nanya, kenapa Melisa kamu acuhkan sejak tadi? Kamu marah sama dia?" tanya Bunda.
"Bukan marah, Bun. Melisa tuh datang kesini bukan untuk menemui Jena." jawab Jenaka tanpa menyembunyikan kekesalan dalam nada suaranya.
"Loh bukannya tadi kasih kamu hadiah pernikahan? Tentu mau ketemu kamu dong?" tanya balik Bunda.
"Bukan! Dia mau ketemu Juna! Melisa enggak akrab sama Jena, Bun. Melisa tuh temannya Panca. Bukan teman Jena. Melisa yang udah ngubah gaya hidup Panca. Nyebelin deh pokoknya!"
"Hush! Enggak boleh begitu. Panca berubah kan karena lingkungan memaksanya berubah, tanggung-jawab juga yang membuatnya berubah. Kenapa kamu harus kesal, toh hubungan kamu dan Panca sudah kandas kan? Kalau Nak Mandala dengar bisa salah paham loh! Kesannya kamu masih cinta sama Panca! Lalu apa hubungannya sama kembaran kamu?"
"Melisa naksir Juna, Bun. Makanya dia sok akrab sama Jena, biar kesannya kita teman dekat padahal ketemu juga baru beberapa kali!"
Bunda manggut-manggut mengerti. Ia paham kenapa Jenaka terlihat tak akrab dengan Melisa. Karena mereka memang belum berteman akrab sebelumnya.
"Kalau ternyata Melisa anak yang baik dan Juna suka, kenapa enggak?"
Jenaka sebal, Mandala, Panca dan Bunda kini memihak Melisa. Tak adakah yang memihaknya? Ya, Ayah! Ayah harus berada di pihaknya.
Bunda menemani Melisa di depan, sementara Jenaka mengurung diri di dalam kamar. Beberapa kali Bunda memanggil namun Jenaka tetap tak mau keluar kamar.
Bunda sudah menjanjikan akan makan malam bersama, makanya terus menemani Melisa. Sampai anggota keluarga mulai pulang ke rumah. Ayah yang pertama.
Bunda meninggalkan Melisa sebentar untuk melayani suaminya. Melisa sendirian di ruang tamu.
Juna yang pulang kedua, agak terkejut mendapati Melisa berada di rumahnya.
__ADS_1
"Kamu? Kenapa ada disini?" tanya Juna bingung.
"Aku tadi main, mau ngucapin selamat sama Jena dan diajarin masak sama Bunda." jawab Melisa jujur.
Bisa melihat Juna sudah membuatnya senang meski Jenaka terus bersikap jutek, tak menghalangi niatnya bertemu sang pujaan hati.
"Jena udah ketemu kamu?" tanya Juna.
Melisa mengangguk. "Udah."
"Terus mana orangnya?"
Melisa menunjuk kamar Jenaka dan Mandala.
"Tunggu sebentar ya! Nanti aku kesini lagi!" Juna lalu masuk ke dalam kamar Jenaka. Nampak kembarannya sedang asyik main hp sambil telengkup di kasur.
"Jen, kok kamu disini? Enggak nemenin Melisa di depan?" tanya Juna.
"Untuk apa? Dia kan sebenarnya nyari kamu Jun. Bukan nyari aku!" ketus Jenaka.
"Masa sih? Bukannya dia mau kasih kamu kado pernikahan?" sindir Juna.
Juna tersenyum. " Kenapa sih kamu segitu enggak sukanya Jen? Manusia tuh bisa saja berubah. Lihat saja sekarang. Melisa berhijab. Terlihat cantik dengan pakaiannya yang tertutup. Itu bukti kalau dia mau berubah."
"Ah paling itu kerdus alias kerudung dusta!"
"Jen! Aku enggak suka ya kamu ngomong kayak gitu! Kamu enggak suka bukan berarti kamu menutup mata atas semua usahanya! Kamu juga dulu berusaha mengejar cinta Kak Mandala bukan? Apa bedanya kamu dengan dia? Karena dia terlalu mirip dengan kamu makanya kamu sebal? Jangan begitu Jen, kasih kesempatan dia buat berubah. Temani, jangan malah dijauhkan dan membesarkan rasa curiga dalam hati kamu terus. Dosa loh Jen!"
Jenaka membenarkan posisi duduknya. "Iya... Iya... Aku temani!" jawab Jenaka dengan wajah masih ditekuk.
"Tolong temani dia dulu ya sebentar, aku mau mandi dulu. Dia tamu loh Jen. Wajib hukumnya bersikap baik pada tamu yang datang!"
"Iya... iya... Udah sana mandi! Bau tau!" omel Jenaka.
"Ah... Aku bau aja ada yang nungguin tuh di depan, apalagi kalau aku wangi?" Juna tersenyum sombong.
"Preeeettttt ah!"
****
__ADS_1
Jenaka kembali duduk di ruang tamu menemani Melisa. Meski kadang Jenaka sambil bermain Hp, tetap saja Ia menemani Melisa.
"Jen, kapan-kapan kita jalan-jalan yuk! Ajak Bunda juga. Women time. Kita bisa luluran, creambath dan makan bareng. Pasti seru deh. Gimana? Mau ya?" Melisa rupanya sejak tadi memikirkan akan mengajak ngobrol Jenaka apa. Ide ini terlintas tiba-tiba saat mencium harum tubuh Jenaka sehabis mandi.
"Hah? Women time? Enggak ah! Nanti salon kamu yang mahal punya. Makan siangnya juga pasti yang porsinya sedikit yang penting quality bukan quantiti. Kalau kayak aku yang biasa makan nasi campur mie goreng sih nyerah deh!" Jenaka tak bisa tidak bersikap ketus menghadapi Melisa. Rasanya masih ada perasaan dongkol dalam hatinya yang sulit hilang begitu saja.
"Hm... Kalau tempatnya kamu yang tentuin gimana? Aku ikut aja. Yang penting kita bisa jalan bertiga!" Melisa menurunkan egonya. Ia lakukan apapun agar Jenaka luluh dan melihat usahanya.
"Yakin? Salon langgananku tempatnya enggak banget loh! Beda sama salon di Mall. Enggak ada AC nya. Masih pakai kipas angin. Nah kalo luluran aku biasanya manggil orang, kayak tukang urut gitu buat lulurin aku sama Bunda. Disini, di rumah aja." Jenaka masih saja menjegal segala niat Melisa.
"Wah! Malah makin seru, Jen. Kita luluran disini aja kalau gitu! Nanti aku yang bawa lulurnya. Aku punya yang wangi banget."
Kini Jenaka menatap Melisa dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Yakin? Ini di rumah orang loh! Kamu mau gitu membuka pakaian di rumah orang buat luluran?!"
"Ya cuma kita bertiga doang, Jen. Enggak dibuka di ruang publik juga. Ayo Jen. Pasti seru deh!" rengek Melisa sambil menggoyang-goyangkan tangan Jenaka.
"Apaan sih yang seru? Sampai aku pulang aja enggak disambut?" Mandala sudah berdiri di depan rumah. "Assalamualaikum, Cinta!"
Jenaka langsung tersenyum lebar. "Waalaikumsalam, Pujaan Hatiku Sayang!" Jenaka melepaskan tangan Melisa lalu menghambur ke pelukan Mandala. Mencium tangannya lalu mendaratkankan ciuman singkat sarat cinta untuk suaminya.
"Eh ada Melisa. Tumben!" Mandala melihat Melisa yang duduk di ruang tamu. Tangannya melingkar di pinggang Jenaka dengan mesranya. "Lagi ngobrol seru sama Jenaka apa sih? Aku sampai enggak disambut loh!"
"Maaf! Melisa lagi ngajakkin aku dan Bunda untuk women day, luluran dan hang out gitu." jawab Jenaka. Melisa hanya tersenyum dan menyambut uluran tangan Mandala untuk bersalaman.
"Bagus dong! Pasti akan seru! Apalagi kamu sekarang kan full ada di rumah. Daripada bosan, kenapa enggak?" Mandala memberikan dukungan pada Melisa.
Jenaka memutar bola matanya dengan sebal. "Aku enggak tau Bunda mau apa enggak?!"
"Mau apa?" Bunda tiba-tiba keluar. "Kalau yang asyik-asyik, Bunda pasti mau."
Huft... Jenaka sebal. Kenapa tak ada yang mendukungnya sama sekali?!
"Kita mau women day, Bun. Luluran, nyalon dan makan bareng. Bunda mau ikut?" Melisa maju melihat kesempatan emas tak Ia sia-siakan.
"Mau dong?! Kapan? Besok?"
****
Kalau Jenaka enggak ada yang dukung, aku ada kalian yang dukung kan? Yuk vote Jenaka dan like yang banyak ya, komen juga boleh kok. Yuk bantu Jenaka biar makin bersinar 😁😁
__ADS_1