Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Juna Turun Tangan-1


__ADS_3

Jenaka mengetuk pintu kamar Juna. "Jun! Aku masuk ya!"


Berbeda dengan Juna yang suka seenaknya sendiri masuk ke kamar Jenaka, Jenaka justru selalu mengetuk pintu dahulu. Takut Juna lagi nonton video panas seperti dulu dan Jenaka sampai teriak histeris.


"Masuk aja, Jen!" sahut Juna.


Jenaka masuk ke dalam kamar Juna dengan wajah ditekuk. Belum ngomong apa-apa Juna sudah komentar.


"Ada masalah lagi nih kayaknya! Ulu-ulu kakakku yang cantik kenapa? Sini... sini! Adik gantengmu siap nerima unek-unek dan segala kegalauanmu!" Juna berdiri dan memeluk Jenaka. Terbiasa berpelukan dari dalam perut, sudah dewasa pun mereka masih saling berpelukan saat ada masalah.


Jenaka bahkan menangis lama saat tau Juna akan ditempatkan di luar kota. Sempat jatuh sakit malah. Jenaka tak siap jauh dari saudara kembarnya. Lalu bagaimana kalau Ia harus tinggal di Amrik dan berpisah dari Juna?


"Huaaaaa... Kalau aku jauh dari kamu gimana, Jun?" Jenaka menangis sesegukan di pelukan Juna.


"Emangnya kamu mau pergi kemana sih? Aku enggak ada tugas luar kota, Jen. Tenang aja!" Juna pikir Jenaka sedih karena takut Ia akan ditugaskan ke luar kota. Ternyata bukan karena itu.


"Bukan itu Jun." Jenaka melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. "Panca bilang, kalau aku menikah dengannya nanti Ia mau membawaku tinggal di Amrik. Aku bakalan jauh dari kamu Jun huaaaa!"


"Serius? Kok bisa begitu? Bukannya Panca justru pulang ke Indonesia mau ngurusin bisnisnya? Lagi emosi kali dia, makanya ngancem kamu kayak gitu!"


"Ya sekalipun emosi jangan ngancem aku kayak gitu lah! Masa sih gara-gara aku enggak mau dibeliin sepeda dia ngambek dan ngancem begitu? Kak Mandala aja enggak pernah ngancem aku begitu! Dulu doang ngancemnya waktu awal nikah, itu pun cuma nakut-nakutin aku aja."


"Nah itu kamu sadar. Dia ngancem kamu padahal kalian belum menikah! Mau aku yang ngomong sama Panca langsung?" tanya Juna.


Jenaka mengangguk. "Iya. Bilangin ya! Aku enggak suka dia begitu!"


"Siap. Aku bikin janji dulu buat ketemu Panca!"


****


Juna menunggu di cafe tempat Ia janjian dengan Panca. Juna melihat seorang wanita yang berdandan layaknya seorang perempuan high class. Barang branded memenuhi sekujur tubuhnya.


Perempuan itu keluar sambil membawa es kopi dan terlihat tersenyum lebar. Juna terus mengamati karena tingkah laku perempuan itu terlalu menarik perhatiannya.

__ADS_1


Juna agak kaget saat melihat perempuan tersebut cipika cipiki dengan Panca yang baru datang. Terlihat sekali mereka berteman akrab. Panca yang melihat Juna memperhatikannya melambaikan tangan.


Dari gestur tubuhnya sepertinya Panca memperkenalkan Juna pada wanita high class tadi. Mereka lalu berpisah, si perempuan high class masuk ke dalam mobil sportnya sementara Panca masuk ke dalam cafe.


"Udah lama, Jun?" tanya Panca yang menyalaminya.


"Enggak kok. Belum lama." jawab Juna.


"Aku pesan dulu ya!" Panca lalu memesan minuman dan membawanya ke tempat yang Juna sudah tempati.


"Maaf lama, gue meeting tadi lebih lama dari biasanya. Ada masalah. Tumben banget lo ngajak gue ketemuan di luar! Ada apaan?" Panca dan Juna memang saling kenal namun tidak seakrab Jenaka dengan Panca. Juna beda sekolah dengan Jenaka, hanya kenal Panca saat Ia main ke rumah bersama Lulu dan Lily.


"Jujur aja, gue emang udah lama banget pengen ngobrol berdua sama lo, Ca. Sayangnya lo sibuk dan gue suka masuk malam. Susah ketemunya."


"Biar gue tebak, pasti tentang Jenaka?!" tebak Panca.


"Iyalah. Lo kan tau gue sama dia saudara kembar. Dua body, satu jiwa."


"Iya... iya. Kenapa dengan Jenaka?"


"Jadi Jena udah cerita sama lo?! Rencananya sih begitu Jun."


"Boleh tau apa alasannya?"


"Alasan? Ya wajar dong kalau Jena sebagai seorang istri akan mengikuti gue suaminya?"


"Iya sih, tapi gue ngerasanya lo kayak mau bawa kabur Jena. Bukan gue mau ikut campur, Ca. Jena tuh enggak bisa jauh dari gue. Kita berdua udah dari dalam perut biasa bareng. Waktu gue ditugasin di luar kota aja tuh anak nangisnya kayak apaan tau. Nelponin gue terus sampe Hp gue kena sita atasan gue! Ini lo mau bawa dia ke Amrik, jujur gue enggak tega. Dia aja kemarin udah galau. Udah melow sampe nyamperin ke kamar gue. Bisa enggak sih lo batalin niat lo?"


Panca menghela nafas, kesal dengan sikap manja Jenaka dan sebal karena sudah mengadukan permasalahan mereka pada Juna. "Gue punya alasan kenapa mau bawa Jena ke Amrik."


"Gue tau apa alasan lo. Pasti kita sepakat kalau alasannya adalah sang mantan bukan?" tebak Juna.


"Nah itu lo tau!"

__ADS_1


"Sekarang gue mau nanya sama lo, Ca. Apa selama ini Jenaka ngedeketin Mandala?"


"Entah. Gue enggak tau kalau mereka main belakang."


Juna dalam hati mengiyakan perkataan Panca, sikap Jena yang diam-diam jalan dengan Mandala adalah salah satu kategori main belakang. Tapi timbul rasa kesal, berarti Panca menganggap Jenaka tidak setia dong? Jenaka tetap setia pada Panca meski membohongi hatinya sendiri.


"Lalu apa Mandala ngedeketin Jena?"


"Iya. Saat kita sepedahan. Gue lihat Mandala pake alasan mau kasih tisu padahal mau ngajak Jena ngobrol. Lalu ternyata mereka ke tempat makan mie kayak udah direncanain. Jena sampai pura-pura ngambek lagi sama gue!"


"Tunggu sebentar! Jena cerita sama gue kalau dia bukan pura-pura ngambek, tapi beneran kesal sama sikap lo. Jena cuma ngobrol biasa sama Mandala. Toh mereka duduk juga enggak deketan. Aduh jadi gue yang bantuin Jena jelasin sama lo nih! Asli gue enggak mau ikut campur sama urusan kalian. Gue cuma mau kasih saran sama lo Ca. Kalau lo kayak gitu, Jena malah makin menjauh sama lo."


"Kayak gitu gimana? Gue enggak bisa diem aja liat calon istri gue ngobrol akrab sama laki-laki lain!"


"Kenapa sih lo enggak bisa percaya sedikit aja sama Jena? Lo tau, kalau Jena mau balikan sama Mandala, banyak caranya. Banyak yang membuat mereka bersatu, termasuk Kinara! Dia aja sadar bahkan sampai kasih warisan perhiasan segala sama Jena." tanpa sadar Juna malah keceplosan masalah warisan Kinara untuk Jenaka.


"Maksudnya gimana? Kinara merestui? Warisan perhiasan gimana?"


"Lupain aja. Gue salah. Itu cerita temen gue. Lupain, lupain!"


"Juna, cerita yang jujur! Ada apa dengan Kinara dan Jenaka?!" Panca sangat ingin tahu maksud perkataan Juna apa. Ia tahu tadi Juna keceplosan.


Juna menyesali kenapa dirinya bisa sampai keceplosan begitu. Apalagi alasannya berbohong semakin menguatkan kalau Ia keceplosan.


"Jun!" Panca memanggil Juna yang tak kunjung menjawab.


"Lo salah paham, Ca. Jena dan Mandala mengakhiri kisah mereka sendiri. Mereka berdua menyerah dengan keadaan. Meski pada akhirnya Kinara merestui di surat wasiat terakhirnya. Meski Kinara mewariskan perhiasan kesayangannya buat Jenaka. Mereka menyerah tak mau memperjuangkannya lagi. Posisi lo udah paling enak sekarang. Kalo lo emang sayang sama Jenaka, sayangi dia. Bukan memiliki dia seutuhnya,"


"Jena akan pergi dari sisi lo kalo lo terus memaksanya. Gue kenal Jena. Tuh anak kalau sudah memutuskan sesuatu, mau siapapun menggoyahkannya enggak akan mempan. Sebelum lo kehilangan Jena sebagai kekasih dan sahabatnya, lebih baik lo ubah cara lo mencintainya."


Panca pun terdiam. Seakan perkataan Juna telah menggamparnya. Menyadarkannya akan sikapnya yang terlalu over belakangan ini sama Jenaka.


Juna merasa percakapan mereka sudah selesai. Juna pun bangkit namun sebelum pergi Juna berkata, "Bagi gue, kebahagiaan Jena adalah yang utama. Mau siapapun yang di sampingnya. Siapapun yang paling bisa membahagiakan Jena, dialah yang akan gue dukung!"

__ADS_1


****


__ADS_2