
Perkataan Bunda memang benar adanya. Menikahi Juna harus siap segala situasi dan kondisinya. Juna adalah abdi negara yang dituntut untuk mengabdikan dirinya untuk negara dan rakyat.
Jika ada temannya yang tak membalas pesan apalagi sampai menonaktifkan Hp tentu Melisa akan marah, namun dengan Juna mana bisa?
Melisa dituntut kesabarannya, benar yang Bunda bilang Ia harus siap karena Juna kadang tak bisa dihubungi.
"Mungkin Juna sedang sangat sibuk sampai tak sempat mencharger ponselnya. Bisa juga komunikasi disana sulit sinyalnya, namanya juga di tempat bencana. Wajar kan kalau komunikasi terganggu karena masih dalam perbaikan?" kata Bunda.
"Disinilah kesabaran Melisa diuji. Kenapa sejak kemarin Juna selalu menghindari Melisa dan tak mau mengajak Melisa berhubungan lebih serius. Pekerjaannya menuntut dirinya siap sedia setiap saat. Juna hanya takut Melisa menjadi sosok yang cengeng dan terlalu posesif. Terlalu bergantung pada Juna yang tak bisa setiap saat bersama Melisa. Namun Bunda percaya, Melisa adalah perempuan yang kuat mentalnya. Melisa pasti bisa kok! Lihat saja Jenaka, dulu nangis terus dia tak bisa menghubungi kembarannya. Sekarang Jenaka santai saja. Nanti Juna akan menghubungi kok kalau Ia sempat. Sabar ya Nak."
Melisa mengangguk, perkataan Bunda membuat Melisa mengerti posisinya sekarang. Namun ada sebuah kegalauan. Pasti Daddy tak tahu kalau proses menikah dengan abdi negara seperti Juna membutuhkan proses yang panjang. Kenapa Juna kemarin tidak mengatakannya pada Melisa? Apa memang Juna sengaja mengulur waktu?
Melisa tau karena Ia membantu Juna mengurus semua prosesnya. Meski dibantu oleh temannya Daddy, tetap saja prosesnya panjang. Melisa tak yakin mereka bisa menikah bulan depan.
Apa Juna memang sengaja mengulur waktu? Kenapa?
Melisa tak menikmati pesta pernikahan Panca. Tak ada Jenaka dan Mandala juga yang menemani. Hanya teman-teman sepedahannya yang sekarang menurut Melisa tak lagi mengasyikkan karena terlalu banyak pamer.
Melisa jadi menyadari kenapa Jenaka dulu tidak menyukainya. Tanpa sadar Melisa sering berkata sombong dan memamerkan kekayaan yang Daddy miliki. Padahal semua itu toh tak dibawa mati, apa yang mau Ia banggakan?
Melisa pamit dan pulang bersama Ayah dan Bunda. Melisa menawarkan untuk mengantarkan kedua calon mertuanya. Tadi mereka bersama Jenaka saat berangkat, dan kini tugas Melisa yang mengantarkan mereka.
"Melisa masih memikirkan kenapa Juna tidak bisa dihubungi?" tanya Bunda yang sejak tadi memperhatikan Melisa hanya diam dan terlihat murung.
Melisa menggelengkan kepalanya. "Melisa baru dikabari oleh temannya Daddy kalau proses pernikahan kami lumayan lama. Banyak yang harus diurus, sementara Juna akan berangkat ke daerah konflik sebulan lagi."
"Lalu?" Bunda tau Melisa belum menyelesaikan perkataannya.
"Apa Juna... Juna sengaja mengulur waktunya?"
Ayah diam saja di bangku belakang. Biar Bunda yang berbicara dengan Melisa.
"Pasti Juna punya rencana dibalik itu semua. Juna berbeda dengan Jenaka. Juna tuh jauh lebih tertutup. Ada masalah juga disembunyikan sendiri." ujar Bunda.
"Sama Bun. Juna dan Jenaka sama. Kalau ada masalah disembunyikan sendiri. Bunda lupa, Jenaka menyembunyikan pernikahannya yang di ujung tanduk dan tau-tau pulang ke rumah dalam keadaan sudah bercerai. Juna pun sama. Kemarin saat dia iya-iya saja, Ayah sudah duga kalau ada yang Ia sembunyikan." akhirnya Ayah mengeluarkan pendapatnya.
"Apa ya Yah yang Juna tutupi?" tanya Melisa.
"Entah. Ayah belum sempat bertanya sama dia. Biar nanti saja dia pulang kita tanya bersama."
"Iya, Yah."
****
Jenaka mendapat perhatian ekstra dari Mandala. Tak boleh melakukan apapun yang membuat Ia kecapekan.
__ADS_1
"Mau makan apa?" tanya Mandala.
"Udah makan tadi. Aku kenyang." jawab Jenaka.
"Enggak ada yang kamu mau makan? Karedok lagi mau?"
"Enggak. Bosen."
"Mangga muda?" tawar Mandala.
"Enggak mau. Asem!" tolak Jenaka lagi.
"Loh bukannya ibu hamil sukanya makan yang asem-asem?"
"Ibu hamil lain mungkin. Aku sih enggak."
"Kalau bakso mau?"
"Enggak. Aku kenyang Sayang. Bunda hari ini masak banyak buat acara arisan, aku makan masakan Bunda saja."
Hari ini Mandala sudah beberapa kali menanyainya mau makan apa. Jenaka yang memang tidak ngidam jadi bingung menawab mau makan apa.
"Jangan kecapekan ya!" pesan Mandala lagi.
"Love you!"
"Love you too!"
Bunda yang sedang menghidangkan kue-kue kecil diatas piring hanya tersenyum melihat menantunya begitu memperhatikan anaknya yang sedang hamil.
Bunda kini lebih santai, sudah ada asisten rumah tangga yang Mandala pekerjakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Bukan hanya Jenaka yang istirahat, Bunda juga jadi lebih santai.
Bunda bahkan membuat sendiri aneka kue kecil untuk acara arisan hari ini.
"Mau kue yang mana kamu?" tanya Bunda.
"Enggak, Bun. Jena kenyang. Bunda sama Kak Mandala sama aja nih. Nyuruh Jena makan terus!" gerutu Jenaka.
"Ya orang hamil kan memang harus mencukupi gizi untuk dua orang. Kalau lebih sering lapar kan wajar saja."
"Nanti Jena ambil sendiri kalau Jena mau."
"Jen, Juna sudah menghubungi kamu belum?" tanya Bunda.
Jenaka menggelengkan kepalanya. "Waktu itu cuma kirim pesan aja sih. Katanya dia lagi ke pelosok daerah. Susah sinyal dan masih padam listriknya. Bakalan susah dihubungi."
__ADS_1
"Anak itu ya! Bukan menghubungi Melisa eh malah kamu saja yang dihubungi! Kasihan kan Melisa menunggu kabar darinya!" omel Bunda.
"Melisa nanti akan terbiasa kayak aku. Biarkan saja dia lagi bucin tingkat dewa hi...hi...hi..."
"Hush jangan begitu. Kamu dulu aja sampai nangis Jen. Kasihan dia. Mau nikah malah ditinggal pergi terus!" keluh Bunda.
"Iya sih. Biarlah Bun. Ini urusan mereka. Kita jangan terlalu ikut campur!"
"Tapi Bunda tuh merasa kalau Juna ada yang disembunyikan loh Jen!"
"Nyembunyiin apa? Biasa aja Bun. Jangan terlalu dipikirin. Anak itu paling ngumpetin CD games baru!"
****
Beberapa hari berlalu. Juna yang diharapkan dan ditunggu akhirnya pulang.
Juna terlihat lebih kurus dari biasanya. Kulitnya pun terlihat lebih gelap dan lebih kusam.
"Berat banget kerjaannya?" tanya Jenaka yang mengambilkan air minum untuk kembarannya yang baru saja mandi dan sedang tiduran di tempat tidurnya.
"Banget. Lokasinya jauh, aksesnya terputus dan listrik padam. Lengkap sudah tak ada listrik, air bersih susah dan makanan juga stoknya menipis." cerita Juna.
"Kasihan! Kamu hebat, Jun! Aku mah bangga sama kamu! Calon keponakan kamu juga bangga sama Om-nya!" Jenaka mengusap lembut perutnya yang masih rata tersebut.
Juna duduk tegak. "Calon keponakan? Kamu hamil, Jen?"
Jenaka mengangguk sambil tersenyum. "Iya, aku hamil. Kamu akan punya keponakan sebentar lagi."
Juna tersenyum lebar. "Wah selamat ya! Dijagain yang bener. Jangan petakilan jadi orang. Kamu udah mau jadi orang tua sekarang!" nasehat Juna.
"Iya Om bawel!"
Juna kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Wajahnya terlihat lelah sekali.
"Melisa nanyain aku terus ya?" tanya Juna pada akhirnya.
"Iya. Dia khawatir banget sama kamu. Kenapa sih kamu bukannya kirim pesan ke dia kalau akan susah dihubungi? Kenapa malah kirim ke aku? Kasihan loh Melisa sampai khawatir gitu?!" omel Jenaka.
"Aku juga butuh waktu untuk berpikir Jen."
"Berpikir untuk apa?"
"Semuanya. Masa depan aku. Tentang Melisa dan semuanya."
***
__ADS_1