
Saat pintu ruang meeting dibukakan oleh sekretaris Mandala, semua mata tertuju pada tamu kehormatan yang datang. Seorang pria berpenampilan necis melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan.
Pria itu berjalan tegap penuh dengan kepercayaan diri. Aura seorang pemimpin terpancar dari gestur tubuhnya. Ia mengenakan setelan jas berwarna abu-abu yang senada dengan celana panjang dan dasi yang Ia kenakan.
Tatapan pria itu terlihat tegas tak terbantahkan. Tidak jauh beda dari Mandala. Ia menyalami Mandala dengan hanya menyunggingkan seulas senyum, itu pun sangat samar. Semua menerka-nerka, sikap dinginnya akankah berpengaruh pada tender besar ini nantinya?
Laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan terpaku pada Jenaka yang tersenyum penuh grogi. Jari Jenaka bertaut dengan senyum yang dipaksakan terlalu lebar.
"Silahkan, Pak!" ujar Mandala mempersilahkan calon rekan bisnisnya duduk.
Laki-laki itu duduk di tempat yang disediakan, diikuti sekretarisnya yang berwajah tegas mengikuti raut wajah atasannya tersebut.
"Selamat pagi dan selamat datang kami ucapkan pada pimpinan Reel Group yang telah hadir. Perkenalkan, saya Genta mewakili perusahaan Prabu Group." Genta bersikap sangat serius, tak ada sikap becanda seperti yang biasa Ia lakukan.
"Untuk presentasi lebih jelas, saya persilahkan kepada rekan saya Jenaka yang akan mempresentasikannya." Genta memberi kode pada Jenaka untuk mengambil alih tugasnya.
"Selamat pagi, perkenalkan nama saya Jenaka. Saya akan mempresentasikan tentang Prabu Group, khususnya bidang f&b (food and beverage). Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Prabu Group sudah lama berkecimpung di bidang f&b,"
Genta mendukung presentasi Jenaka dengan menampilkan gambar berisi foto outlet f&b milik Prabu Group di layar putih yang sudah disediakan.
"Prabu Group sudah membuka banyak cabang untuk toko kue dan roti yang tersebar di seluruh Indonesia. Kue kami bahkan memiliki taste yang dengan sekali mencoba pasti sudah tau kalau ini milik perusahaan kami. Banyak perusahaan cake yang membuat kue dengan rasa yang sama dengan yang lain. Tak ada ciri khasnya. Ini menjadi salah satu nilai lebih yang kami miliki...."
Jenaka menjelaskan presentasinya dengan lugas dan bahasa yang mudah dimengerti. Beberapa kali pimpinan dari Reel Group mengangguk mengerti dan terlihat sangat tertarik dengan presentasi yang Jenaka sampaikan.
Kesepakatan pun dibuat. Reel Group mau menandatangani kerjasama yang nilainya fantastis. Salah satu tender yang terbesar yang dimiliki selama Mandala menjabat, semua tak lepas dari usaha Jenaka tentunya. Mulai dari membujuk Papi Prabu sampai presentasi langsung pada klien.
"Saya mau mengajukan syarat. Dalam kerjasama ini, saya minta Jenaka ikut andil." syarat dari pimpinan Reel Group.
"Tentu saja. Jenaka akan diikutsertakan dalam proyek ini!" ujar Mandala tanpa pikir panjang. Bayangan memiliki proyek besar sudah di depan mata. Jenaka akan ditempatkan dimana itu urusan belakangan.
__ADS_1
Sampai tiba saatnya pimpinan Reel Group akan pamit, bersalaman dengan Mandala yang diabadikan dengan foto oleh Mina, sekretaris Mandala.
Genta juga ikut menyalami, mau tak mau Jenaka pun melakukan hal yang sama. Jenaka mengulurkan tangannya.
Pimpinan Reel Group tersenyum dan memamerkan deretan gigi putih dan rapi miliknya. Bukannya menyambut uluran tangan Jenaka tapi malah menarik Jenaka lalu memeluknya.
Semua yang ada disana terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Pimpinan Reel Group tersebut. Mandala yang paling terkejut. Emosi mulai menguasainya melihat istri tercintanya dipeluk oleh laki-laki lain.
"P-Pak... maaf!" Jenaka berusaha melepaskan diri. Mandala pun mulai tersulut emosi, namun Genta menahannya. Memintanya tetap tenang dalam bahasa isyarat.
"Lo lupa sama gue Jen?" pimpinan Reel Group mengatakan sesuatu yang membuat semuanya terkejut.
Ia melepaskan pelukannya, menahan tawa melihat Jenaka yang terkejut setengah mati. Ekspresi bingung Jenaka sungguh membuatnya ingin tertawa. "Beneran lupa?"
Jenaka mengucek matanya. Masih ragu apakah benar apa yang dipikirkannya. Jenaka menunjuk wajah pimpinan Reel Group seperti tengah mengenali siapa, namun suaranya tercekat di tenggorokan tak ada suara yang keluar.
"Iya. Bener!" Pimpinan Reel Group mengangguk. "Gue Panca, sahabat lo!"
"Kenapa? Ganteng? Rugi kan lo enggak jadi pacar gue?" ledek Panca.
"Ah! Tau kalo itu lo mah tadi gue ajak ngopi aja sambil ngobrol! Enggak usah presentasi yang bikin gue grogi kayak tadi! Gue nyiapin presentasi ini sampai begadang tau!" Jenaka bahkan berani menepuk bahu Panca dengan santainya.
Tinggallah Mandala dan Genta yang melongo dibuatnya. Saat suasana tegang, berubah emosi dan berakhir dengan terkejut karena fakta yang baru saja mereka ketahui. Mau marah, enggak ada alasan marah. Mau ikut tertawa, mereka enggak diajak. Jadilah Mandala dan Genta saling melempar kode.
"Yaudah, kita ngopi sekarang!" Panca melihat jam tangannya. "Jam 11. Hampir setengah 12. Udah mau masuk jam istirahat."
Panca lalu meminta ijin pada Mandala. "Maaf Pak, saya pinjam dulu ya Jenaka-nya!"
Tanpa menunggu jawaban Mandala, Panca menarik tangan Jenaka dan membawanya pergi. Jenaka juga tak peduli pendapat Mandala. Ia ikut pergi bersama Panca dengan senang hati.
__ADS_1
"Woy! Bini lo dibawa pergi tuh!" bisik Genta di telinga Mandala. Menyadarkan Mandala dengan apa yang baru saja terjadi.
"Ta, kok bisa? Kok bisa Pak Panca itu temannya Jenaka? Kok bisa dia kenal Jenaka?" tanya Mandala bertubi-tubi.
"Mana gue tau, Man! Udah ah gue mau balik ke ruangan. Kerjaan gue banyak!" Genta pun meninggalkan Mandala yang kini duduk di kursi dengan wajah bingung. "Mina, jagain bos lo! Ayam tetangga gue mati soalnya habis bengong! Kalo kejang-kejang, lo setrum aja biar sadar!"
Genta puas menertawakan Mandala disaat orangnya tak berdaya. Dengan tanpa dosa, Genta meninggalkan Mandala. Mina sedang merapihkan ruangan sehabis meeting, tak mau mengganggu bosnya yang terlihat seperti habis melihat hantu tersebut.
"Panca? Kenapa rasanya pernah dengar ya?" batin Mandala.
Mandala lalu teringat foto laki-laki yang bersama Jenaka. Laki-laki berkacamata berbingkai hitam dengan potongan rambut yang membuatnya terlihat sangat culun.
Mandala kembali teringat apa yang Jenaka katakan padanya dulu. "Itu sahabatku, Kak. Panca namanya. Sayangnya aku enggak tau kabarnya dia sekarang. Lulus SMA, Panca seperti hilang ditelan bumi. Dihubungin juga enggak bisa."
Deg...
"Panca sahabatnya Jenaka? Namun kenapa sorot matanya melihat Jenaka terlihat beda? Apalagi saat Ia mengatakan kalau Jenaka rugi tak mau jadi pacarnya? Benarkah Ia hanya menganggap Jenaka sahabat? Atau memang Ia menyukai Jenaka sejak awal?" berjuta pertanyaan kini ada di kepala Mandala.
Kini Mandala tak ada semangat dan raut bahagia saat menandatangani kontrak bernilai besar lagi. Ia malah khawatir. Ia merasa resah. Ia sendiri tak tau kenapa Ia merasa seperti ini.
Perasaan tak enak hinggap dalam diri Mandala. "Bagaimana kalau Panca berniat mengambil Jenaka? Bagaimana kalau seandainya Jenaka juga menyukai Panca?"
Kembali perkataan Jenaka terlintas di memorinya. "Aku enggak tau sampai kapan aku kuat mengejar Kakak. Mungkin saat Kakak terlalu jauh untuk kukejar maka aku akan berhenti berlari. Mungkin aku akan menumpang mobil cowok lain dan tak lagi berlari mengejar cinta Kakak? Siapa yang tahu?!"
Dan perasaan takut pun mulai menghinggapi Mandala.
🎶Bukannya aku takut akan kehilangan dirimu, tapi aku takut kehilangan cintamu...
Mungkin saja saat itu kau mempermainkan aku, seakan kau bisa membalas cintaku.... 🎶
__ADS_1
(Bukannya aku takut, mulan jameela)