
Warning: 21+ Mohon bijak menyikapinya.
****
Mandala merasa malu diketawai dua orang di depannya. Mereka seakan mau pamer tentang kehebatan mereka berpetulang di dunia percintaan.
Wajar aja sih, Richard memang mantan cassanova dan Genta playboy cap tauco. Mereka kombinasi yang pas untuk menertawai Mandala yang hanya pernah bercinta dengan Kinara seorang.
"Coba gue tebak, lo langsung menyerang ke target ya? Enggak pemanasan dulu?" tanya Genta.
"Enggak dong! Udah pemanasan sebelumnya." Mandala tidak bodoh, Ia tahu bagaimana membuat wanita merasakan kenikmatan. Ia juga punya pengalaman dengan permainan yang Ia miliki sebelumnya. Kalau dengan Jenaka, jangankan menunjukkan permainan, melihat adik kecilnya saja udah ketakutan.
"Coba sekarang gue yang nebak, lo nyalahin lampu kamarnya dan lo enggak buat dia rileks makanya ketakutan?" tebak Richard.
"Hmm... Iya sih. Gue habis pemanasan langsung serang tanpa matiin lampu dulu." jawab Mandala terus terang.
"Nah disitu letak permasalahannya. Lo tuh kurang menciptakan suasana. Perempuan tuh enggak kayak kita kaum laki-laki yang main serang aja. Mereka perlu dibuat on fire dulu dan dibuat rileks tentunya. Coba putar musik romantis lalu pasang lilin aromatherapy. Jangan lupa, lampunya dimatikan atau pakai lampu tidur agar redup."
"Di kamar Jenaka mana ada lampu tidur, ada juga lampu yang diatas." keluh Mandala lagi.
"Ya nanti lo prakteknya saat bulan madu. Lo pasti udah berhasil bobol gawang dia deh, nanti pas pulang mau terang atau gelap dia udah mulai tau kehebatan adik lo itu." jawab Genta.
"Wah kita jadi ngomongin masalah ranjang nih bukan ngomongin bisnis. Makasih banyak nih Pak Richard atas sarannya. Bermanfaat banget. Kita lanjut ngomongin bisnis aja ya!"
****
Mandala melajukan mobilnya sambil tersenyum senang. Ia sudah menyiapkan peralatan untuk besok. Tekadnya, harus berhasil memiliki Jenaka seutuhnya!
Mandala tersenyum menatap lilin aromatherapy yang Ia beli di salah satu toko di mall. Wanginya pasti bisa membuat Jenaka rileks dan akan membuat suasana lebih romantis lagi bila dinyalahkan.
Tiket pesawat dan hotel untuk mertuanya sudah disiapkan oleh Mina. Mandala sengaja menaruh kamar mertuanya beda lantai agar tidak mengganggunya lagi kali ini.
Jenaka sudah menyiapkan koper berisi pakaian yang akan dibawa. Termasuk baju tidur seksi yang dulu Ia beli bersama Mandala saat masih berumah tangga. Jenaka masih menyimpannya dengan rapi. Sayang jika diberikan pada orang lain.
Pagi- pagi Mandala, Jenaka dan kedua orang tuanya sudah siap dan berangkat ke bandara. Langit begitu cerah hari ini, perjalanan mereka berlangsung tanpa kendala.
Jenaka begitu mengagumi hotel yang dipesankan oleh Panca untuk honeymoonnya. Hotel bintang lima dengan pemandangan pantai pasir putih dan air laut yang membentang indah.
Kamar yang dipesan juga sangat sesuai untuk pengantin baru. Ada dua buah angsa yang dibuat dari handuk mandi berada di tengah tempat tidur. Bunga mawar pun ditebar membentuk gambar hati.
__ADS_1
Jenaka tersenyum puas. Baru kali ini Ia menginap di hotel dengan kualitas bintang lima seperti ini. Mandala meminta porter membawakan barang bawaan mereka. Ada dua buah tas sepeda dan koper besar berisi pakaian untuk Mandala dan Jenaka.
"Kita makan siang dulu ya. Ayah sudah aku kirimin pesan untuk ketemu di restoran hotel saja." ujar Mandala yang sudah merapihkan koper sepeda. Jenaka membantu merapihkan koper pakaian.
"Iya." Mandala dan Jenaka pun makan siang di restoran. Sesekali Jenaka memfoto kedua orang tuanya dan mengajak Mandala untuk selfi.
"Kirimin foto kita ke Hp aku ya. Aku mau menyimpan semua foto kita mulai sekarang." salah satu penyesalan Mandala saat mereka bercerai dulu adalah Ia tak memiliki foto kebersamaan mereka selain foto pernikahan. Karena itu Ia mencetak foto pernikahan dengan ukuran besar dan menaruhnya di kamar agar selalu terkenang Jenaka.
"Tentu. Nanti aku kirim semuanya. Kita akan sering foto bersama mulai sekarang, sampai memori kamu akan full karerna aku akan terus mengirimkan kamu foto kita." jawab Jenaka.
Mandala tersenyum. "Pintar!"
Ayah dan Bunda sejak tadi melihat interaksi Jenaka dan Mandala. Melihat Mandala yang menatap Jenaka penuh cinta dan pandangan memuja.
Mereka sadar, kehadiran mereka di honeymoon Mandala dan Jenaka dianggap pengganggu. Maka dari itu mereka tak mau mengganggu lagi waktu Mandala dan Jenaka.
"Habis ini kita pisah acara ya. Ayah dan Bunda akan menikmati liburan kita berdua. Kalian juga. Nanti saja kita ketemu lagi sebelum pulang. Biar Ayah dan Bunda bisa puas liburan tanpa kalian ganggu." ucapan Ayah membuat senyum di wajah Mandala mengembang dengan lebar.
Ini yang Mandala tunggu. Honeymoon tanpa ada yang ganggu. Sehabis makan siang, Mandala mengajak Jenaka kembali ke kamar mereka.
"Aku akan mandi dulu. Kamu mau ikut mandi bareng atau sendiri saja?" goda Mandala.
"Sendiri aja!" jawab cepat Jenaka.
Sehabis Mandala mandi, gantian Jenaka yang mandi. Cepat-cepat Mandala memakai baju dan mempersiapkan rencananya.
Lilin aromatherapy yang Ia bawa pun Ia susun berbentuk love. Harum lilin yang dinyalakan pun menyerebak dalam ruangan.
Mandala menyalakan musik. Musik klasik yang Ia pilih. Mengalun lembut menambah suasana romantis.
Jenaka yang berada di dalam kamar mandi mendengar suara musik dinyalakan. Ia sadar kalau inilah waktunya Ia menyerahkan dirinya seutuhnya pada Mandala.
Lingerie leopard pun Jenaka kenakan, tak lupa menyeprotkan parfum di tubuhnya. Ia harus siap dan tak boleh takut lagi.
Malu-malu Jenaka keluar kamar. Mandala sudah menutup tirai kamar, membuat kamar lebih gelap dan hanya cahaya lampu dari lilin aromatherapy yang terpancar.
Wow... Jenaka tak menyangka melihat Mandala menyiapkan semua untuknya.
Mandala pun begitu terpukau dengan Jenaka yang mengenakan lingerie leopard yang sangat seksi. Mandala menebak, Jenaka tak mengenakan bra dibalik lingerie miliknya.
__ADS_1
Mandala berjalan mendekati Jenaka. Ia menarik pinggang Jenaka dan kini tubuh mereka berdekatan.
"Kamu cantik sekali." puji Mandala. Mandala membelai lembut rambut Jenaka. Menyisipkan anak rambut ke belakang telinganya.
Jenaka tersenyum malu-malu.
Tangan Mandala mengangkat dagu Jenaka dan mulai mencium lembut bibirnya. Jenaka membalas ciuman Mandala. Mereka saling berpagutan.
Mandala menuntut lebih. Ia mulai memainkan li dahnya, membuat ciuman mereka semakin panas.
Musik klasik membuat Jenaka lebih rileks, Ia bahkan tak sadar kalau Mandala sudah membawanya ke tempat tidur.
Ciuman Mandala pun turun ke lehernya. Memberikan sedikit tanda kepemilikan lalu mulai turun menuju chocochip super lezat.
Mandala bermain-main sebentar sebelum membuka lingerie dan melihat chocochip yang begitu menantangnya. Mandala pun mulai menikmati chocochip, membuat Jenaka kembali merasakan sensasi nikmat tiada tara.
"Mm... Kak..."
"You like it?"
Jenaka mengangguk.
Mandala tersenyum, ciumannya pun turun sampai akhirnya Ia sampai ke bagian inti Jenaka.
"Oww... Kak... Mm..."
Li dahnya mulai menelusuri bagian inti Jenaka. Membuat Jenaka sampai mencengkram rambutnya.
"Oh...." Jenaka mulai mende sah. Mandala tau inilah saatnya.
Tanpa sepengetahuan Jenaka, Ia pun mengarahkan miliknya yang sudah siap ke bagian inti Jenaka.
Pelan... pelan... begitu lembut.
"Aww, Kak!" Jenaka mulai merasakan perih. Mandala harus membuat Jenaka rileks lagi. Ia mencium bibir Jenaka dan tangannya memainkan chocochip milik Jenaka.
"Kamu masih bisa tahan?" Mandala tak mau memaksakan keinginannya. Wajah Jenaka memancarkan rasa enak dan sakit bersamaan.
Jenaka menjawab dengan anggukan, bersiap merasakan rasa perih yang melenakkan kembali datang.
__ADS_1
Mandala mulai membuat penyatuan. Pelan namun mampu menerobos gawang Jenaka. Membuat Jenaka bisa mende sah penuh kenikmatan.
Sampai akhirnya Mandala menyelesaikan hasratnya selama ini. Ia mengecup kening Jenaka, seraya berucap: "Terimakasih, Sayang!"