Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Pesta Pernikahan Jumel


__ADS_3

Juna menatap langit yang terlihat sangat cerah. Mungkin ini sudah jalan hidupnya. Bayangan akan menggapai mimpi yang selama ini Ia bayangkan seperti sebuah semangat baru dalam hidupnya.


Melisa mendukungnya, kini tinggal keluarganya. Ayah yang utama. Entah bagaimana kecewanya Ayah kelak, Juna tetap yakin dengan keputusannya.


Malam itu sehabis pulang dari sholat isya berjamaah di masjid, Juna mengumpulkan seluruh keluarganya. Ayah, Bunda dan Jenaka begitu penasaran dengan apa yang akan Juna bicarakan. Mandala sih tenang saja, Ia tahu apa yang Juna akan katakan pasti menyangkut masa depannya.


"Maaf kalau keputusan Juna nanti akan mengecewakan semuanya, terutama Ayah." Juna memulai percakapan diantara sunyinya suasana.


"Ayah kecewa? Kecewa kenapa?" tanya Ayah dengan wajah penuh kekhawatiran. Keputusan apa yang akan anak laki-lakinya buat kali ini.


"Yah, selama ini Juna punya impian. Bukan hanya sekedar hobby bermain games tapi Juna juga bermimpi suatu hari nanti akan membuat sebuah perusahaan games. Juna berada dalam posisi dimana Juna ada di persimpangan antara impian dan rasa bakti,"


"Juna masuk militer demi membahagiakan Ayah dan wujud bakti Juna terhadap orang tua. Namun, saat Juna bertanya pada Jenaka apa impiannya Juna bisa melihat rasa bahagia dan mata yang berbinar-binar di dalam diri Jenaka. Impian Jenaka untuk menikah dengan Kak Mandala berhasil terwujud dan Ayah lihat sekarang, mereka bahagia menyambut anak pertama mereka,"


"Juna juga melihat impian Jelita yang ingin punya butik dan merancang busananya sendiri. Juna melihat Jelita begitu bahagia mimpinya bisa terwujud. Lalu Juna sadar, selama ini Juna hidup tanpa punya mimpi,"


"Yah, Bunda bilang kalau Juna boleh bermimpi. Juna boleh menggapai mimpi Juna. Melisa pun juga mendukung Juna. Bolehkah Juna melepaskan cita-cita Ayah dan menggapai mimpi Juna membangun perusahaan games?"


Semua yang mendengar perkataan Juna kini sangat terkejut. Jenaka yang pertama kali bersuara.


"Kamu mau berhenti dari pekerjaan kamu sekarang Jun? Setelah semua yang kamu lewati? Setelah pengorbanan kamu selama ini?!" tanya Jenaka.


Juna mengangguk dengan penuh keyakinan. "Iya. Aku mau mengejar impianku sekarang."


Juna kini menatap Ayah dengan perasaan takut. Takut mengecewakan, takut membuat Ayah sedih dan takut menjadi anak yang durhaka.


"Bagaimana menurut Ayah?" tanya Juna.


Ayah terdiam, ekspresi wajahnya sulit terbaca.


Bunda mengambil tangan Ayah dan menepuknya dengan penuh kelembutan. Bunda tersenyum, meski tanpa kata meyakinkan Ayah kalau ini demi kebaikan putra mereka.


Ayah kembali terdiam membuat semuanya menunggu jawaban Ayah dengan cemas.


"Kalau... Itu memang keputusan kamu, lakukanlah. Raih impian kamu. Jangan menggantungkan impian kamu hanya karena ingin membahagiakan Ayah. Raihlah kebahagiaan kamu! Ayah akan mendukung semua keputusan yang kamu buat!"


Senyum dan air mata mengalir di wajah Juna. Ia memeluk Ayah seraya tak henti mengucap terima kasih.


"Makasih Yah. Juna akan tetap membuat Ayah bangga! Makasih...."


Jenaka memeluk Mandala dan menangis dipelukan suaminya. Tangis haru dan bahagia untuk kembarannya tersayang.

__ADS_1


****


"Aku yang akan nganterin kamu periksa di rumah sakit, Jen! Mandala tadi titip pesan, katanya meeting dengan perusahaan Kusumadewa berlangsung lebih lama dari yang seharusnya. Bisnis mereka mengalami kemajuan pesat, akan banyak pembicaraan tentang bisnis lainnya. Jadi, daripada kamu menunggu lama, lebih baik aku aja yang nganterin kamu!" ujar Melisa.


"Padahal aku pikir Kak Mandala bisa nganterin aku loh! Sekarang makin sibuk aja dia. Aku udah mau melahirkan tapi makin enggak perhatian!" keluh Jenaka.


"Jangan berpikir jelek dulu! Justru kamu seharusnya bersyukur. Perusahaan Mandala akhirnya bisa berkembang pesat. Rejeki buat kamu dan anak kamu juga kan?" nasehat Melisa.


"Iya. Aduh aku jadi kufur nikmat nih! Makasih ya Mel udah diingatkan! Kamu tadi lagi dimana? Kerja?" Jenaka masuk ke dalam mobil Melisa.


"Aku lagi ikut pengajian. Tadi pengajiannya dari subuh, pas aku selesai eh Mandala telepon minta tolong aku untuk antar kamu periksa." Melisa mulai menjalankan mobilnya menuju rumah sakit tempat biasa Jenaka check up.


"Makasih ya Mel. Aku jadi ngerepotin kamu. Lalu kabar pernikahan kamu gimana? Kenapa terus diundur sih? Kalian mau nikah apa enggak sebenarnya? Jelita saja sudah isi sama kayak aku!"


Melisa tersenyum, "Banyak urusan yang harus kami urus. In sha Allah bulan depan kami menikah."


"Syukurlah! Aku senang mendengarnya. Semoga aku bisa hadir dan menyaksikan pernikahan kalian ya!"


"AAmiin."


****


Games yang Juna luncurkan sebelumnya juga sukses di pasaran. Pengunduh games miliknya sangat banyak dan masuk top aplikasi games yang harus dimiliki.


Juna benar-benar mewujudkan mimpinya memiliki perusahaan games. Ia juga tak melupakan kekasih hatinya Melisa.


Persiapan pernikahannya sudah rampung. Melisa mengurus semuanya, tentunya ada campur tangan Juna juga di dalamnya.


Undangan sudah disebar dan persiapan juga sudah 100%. Mereka menikah di sebuah hotel bintang lima dengan konsep yang mewah.


Juna mengucapkan ijab kabul dengan mantap tanpa ada kesalahan sekalipun. Ia lalu menyematkan cincin berlian yang Ia beli dengan hasil kerjanya sendiri.


Juna tersenyum penuh cinta ke arah Melisa. Wanita cantik berhijab itu kini menjadi istrinya.


"Aku sayang sama kamu, Mel." ucap Juna saat mencium kening Melisa.


"Aku sayang banget sama kamu juga, Jun!" jawab Melisa.


Melisa mencium tangan Juna yang kini menjadi imamnya. Menatapnya dengan penuh cinta saat semua pasang mata melihat dengan iri.


Senyum di wajah keduanya tak pernah hilang saat mereka sedang menjadi ratu dan raja sehari. Tamu undangan yang hadir menjadi saksi bahwa dua orang yang berbeda bisa disatukan dengan cinta.

__ADS_1


"Juna bahagia banget ya Jen?" ujar Mandala yang selalu berada di sisi istrinya yang tengah hamil tua.


"Iya. Aku selalu berharap Juna bisa tersenyum lepas seperti sekarang. Dan ternyata, Melisa-lah yang membawa kebahagiaan dalam hidup Juna. Siapa yang menyangka kalau wanita yang aku benci dulu akan menjadi adik iparku kelak?"


Mandala memeluk istrinya dan mencium keningnya. "Kamu hebat. Kamu juga punya jasa menyatukan mereka. Kamu juga salah seorang yang membuat Juna mau menggapai mimpi yang selama ini Ia kubur tanpa berani menggapainya. Impian sederhana kamu malah jadi motivasi besarnya untuk bisa sesukses sekarang dalam waktu yang singkat. Juna memang hebat!"


Jenaka tersenyum. Namun senyum di wajahnya pudar manakala Ia merasakan perutnya sakit.


"Aww!"


"Kenapa?" Mandala mulai panik melihat istrinya kesakitan. "Kamu sakit? Apanya yang sakit?"


Jenaka mengusap perutnya dan wajahnya mulai keluar keringat sebesar bulir jagung.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu mau melahirkan sekarang?"


Jenaka tak mampu menjawab, rasa mules yang semakin sakit membuatnya menjawab dengan anggukan lemah.


"Ya Allah, Jen!" Mandala kini mulai panik. "Tolong! Jena akan melahirkan!" teriaknya.


Suasana pesta pernikahan yang semula penuh tawa bahagia berubah menjadi kepanikan dalam waktu sekejap. Mandala tak kuat menggendong Jenaka yang kini sedang hamil kembar. Panca membantu Mandala menggendong Jenaka dan membawanya ke mobil.


Ayah yang sedang menyambut tamu di pelaminan pun sampai turun. "Ya Allah Jenaka anakku!"


Bunda juga ikut menyusul dan meninggalkan tempatnya.


"Jun! Kamu jangan ikut-ikutan! Kamu pengantinnya hari ini!" larang Melisa. "Sudah ada Panca dan kedua orang tua kamu yang mendampingi Mandala!"


"Tapi Jena..."


"Please Jun, jangan tinggalin aku kali ini aja!" pinta Melisa.


Juna pun tak jadi meninggalkan pelaminan. "Ya Allah Jen... Kenapa di pernikahanku pun kamu pingsan? Dulu di pernikahan Panca. Semoga kamu baik-baik saja ya Jen!"


****


Hi Semua!!


Siang ini novel baru aku terbit. Novel yang beda dari karyaku yang lain. Jangan lupa mampir ya!


__ADS_1


__ADS_2