Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Akhir Liburan


__ADS_3

Juna mengedarkan kameranya mengelilingi masjid. Tanpa Ia sadari kalau Melisa sedang berjalan mendekat ke arahnya dan hendak duduk di samping Juna.


Juna tak berbohong, Ia memang sedang berada di masjid. Setelah makan angkringan, Juna mengajak Melisa melaksanakan sholat maghrib di masjid.


Waktu maghrib yang berdekatan dengan waktu isya membuat Juna berniat sholat isya berjamaah sekalian.


Sayangnya Juna yang tak menyimpan nomor Hp Melisa tak tahu bagaimana memberitahu Melisa. Takut Melisa mencarinya nanti.


Juna pun memutuskan menunggu Melisa di tempat yang bisa Melisa lihat. Lalu Jenaka meneleponnya dan memaksa ingin video call. Tak nyaman rasanya melakukan video call meski Ia berada di teras masjid.


Jenaka yang kadang suka mengadu pada Ayah dan Bunda kalau Ia tak menuruti permintaannya pun mulai mengeluarkan ancaman. Setelah menghela nafas berat, Ia pun menyalakan kamera dan mengedarkan kamera ke sekeliling masjid agar Jenaka percaya.


Lalu kejadian yang tak terduga terjadi. Kamera menyorot Melisa yang berjalan mendekat dan duduk di samping Juna. Membuat Jenaka membelalakkan matanya tak percaya.


"Tunggu, kok di belakang kamu ada yang aku kenal ya?" tanya Jenaka dengan penuh selidik.


Adzan isya pun menggema, seakan menolong Juna dengan memberikan alasan yang jujur. "Udah adzan, aku sholat dulu!"


Ditutupnya sambungan telepon seraya menghela nafas lega. "Huft... Hampir saja."


"Siapa? Jenaka? Kok kamu kayak takut kalau Jenaka tau kamu sama aku?" selidik Melisa.


Juna kembali menghela nafas, lolos dari Jenaka eh malah diinterview sama Melisa. "Udah adzan, aku mau sholat dulu!" alasan yang sama Juna katakan.


"Eh tapi jawab dulu pertanyaan aku!" Melisa harus menelan kekecewaan karena Juna masuk ke tempat wudhu tanpa memberikan jawaban apapun.


****


"Aku yakin kalau aku ngeliat Melisa disana! Tapi aku ragu sih, kok Melisa pakai hijab ya? Biasanya bajunya seksoy melehoy." gerutu Jenaka.


"Melisa? Sohib Panca? Yang satu geng di komunitas sepeda?" tanya Mandala.


"Iya. Tapi pakai hijab. Mungkin enggak sih? Kok aku makin curiga ya? Kenapa Juna kayak menyembunyikan sesuatu sama aku? Dari kecil kita enggak pernah ada yang saling disembunyikan loh! Apa jangan-jangan Juna jalan sama Melisa? Eh mungkin enggak sih? Mereka kan enggak saling kenal!" Jenaka berbicara sendiri tanpa menyadari Mandala sudah menggendongnya ala bridal shower.


"Eh... eh... kok aku digendong? Mau kemana?" Jenaka baru sadar saat tubuhnya melayang di udara.

__ADS_1


"Biar kamu enggak kebanyakan pikiran. Aku mau ngajakkin kamu bolak balik di toilet. Sekalian mandi besar biar bisa sholat isya berjamaah." Mandala tersenyum penuh maksud.


"Tapi kan tadi udah di kasur!" protes Jenaka.


"Di bath up belum kan?"


"Serius?" tanpa menjawab pertanyaan Jenaka, Mandala melakukan aksinya. Tak bosan-bosan Ia mengajak Jenaka beribadah yang menyenangkan.


Honeymoon memang kado terindah dari Panca. Nanti saat di rumah Jenaka, akan ada banyak pengganggu. Dalam hati Mandala berjanji akan menolong Panca suatu hari nanti sebagai balas jasa atas segala bantuannya.


Hari ini adalah malam terakhir mereka di Bali. Honeymoon mereka akan berakhir besok siang. Pesawat mereka jam 1 siang, masih sempat sekali lagi bermesraan di pagi hari. Malam ini sudah cukup hanya di kasur dan bath up saja.


Mandala tertidur pulas di samping Jenaka. Sehabis sholat isya dan makan malam, Ia langsung tertidur pulas. Semua tenaganya seakan sudah tersedot habis. Puas meski harus sering memesan susu hangat campur madu untuk menambah staminanya.


Jenaka masih terjaga. Ia memikirkan tentang perempuan yang tadi berjalan di belakang Juna lalu duduk di sampingnya. Siapakah wanita itu? Kenapa begitu mirip dengan Melisa, wanita yang amat Ia sebal.


Lama kelamaan rasa kantuk mulai menghinggapi Jenaka. Ia pun tertidur lelap. Tangan Mandala yang melingkari perutnya membuat Ia tertidur dengan cantik tanpa ada guling dan selimut yang Ia tendang sampai jatuh.


Pagi pun menjelang, Jenaka membangunkan Mandala dan mengajaknya sholat subuh berjamaah. Tanpa banyak protes, Mandala bangun dan memimpin sholat.


"Kita jalan-jalan pagi yuk! Mumpung masih di Bali!" ajak Jenaka setelah mencium tangan Mandala untuk salim.


Mandala tersenyum.


"Wah... Kalau udah senyum kayak gini aku suka merinding nih!" tebak Jenaka.


"Tuh kamu tau! Aku mau membuat kamu lebih merinding lagi. Merinding tapi enak. Mumpung kita masih di Bali, kamu bisa mendesah dengan kencang. Aku bisa mengikuti ******* kamu dengan kencang juga. Kalau masalah oleh-oleh tenang saja, nanti aku suruh Mina pesankan biar dikirim saja dari anak buahku yang tinggal disini."


"Bukan oleh-oleh, tapi jalan-jalan! Masa kita di kamar terus!" protes Jenaka.


"Ya mau bagaimana lagi? Kamu udah buat aku ketagihan!"


"Tapi enggak setiap saat juga kali!" protes Jenaka.


Jika dilanjutkan pasti mereka akan bertengkar dan Mandala tak mau itu. "Oke, kita jalan-jalan."

__ADS_1


"Nah gitu dong!" Jenaka berseru senang.


"Tapi mandi dulu! Biar wangi. Ayo aku mandiin. Baik kan aku?"


Jenaka pun pasrah. Menolak dosa, yaudah jalanin aja deh.


Mandala mewujudkan permintaan Jenaka setelah permintaannya juga dituruti Jenaka. Mengajak Jenaka berkeliling sambil berbelanja oleh-oleh.


Jenaka membeli souvenir agak banyak untuk Panca. Ia berencana akan mengantarkannya ke kantor Panca langsung, tentunya dengan ijin suaminya terlebih dahulu.


Jenaka membeli oleh-oleh untuk Juna, kembarannya. Baju dan celana santai salah satu brand terkenal di Bali yang harganya lumayan mahal. Apapun demi kembarannya tersayang.


Jenaka tak lupa membelikan untuk Mala dan Pak Sahrul, Lulu dan Lily lalu untuk seseorang paling spesial, Bu Sri.


Mandala sudah menenteng oleh-oleh di kedua tangannya. Jenaka rasanya tak pernah lelah berjalan dari satu toko ke toko lain. Berbeda dengan Mandala yang sudah mulai lelah. Tadi pagi bertempur dengan kekuatan penuh, sekarang siang hanya sisa tenaga yang tersedia.


"Udah ya Sayang. Nanti kita ketinggalan pesawat!" akhirnya alasan pun Mandala keluarkan.


"Yaudah ayo!" Jenaka menurut, Mandala bisa tersenyum. Istrinya memang sangat penurut. Itu yang membuat Mandala sangat bangga bisa memperistri Jenaka. Membuatnya semakin dihargai sebagai seorang suami.


Sekembalinya ke kamar, Jenaka dan Mandala bersiap-siap untuk check out. Merapikan koper dan oleh-oleh yang dibeli lalu menunggu Ayah dan Bunda di lobby hotel.


Wajah Ayah dan Bunda begitu segar saat mereka bertemu. Ayah terlihat lebih awet muda dan Bunda terlihat berseri bahagia. Rupanya bukan hanya Jenaka dan Mandala yang menikmati honeymoon kali ini, mereka pun juga.


"Wah Ayah dan Bunda kelihatan bahagia banget?" ujar Jenaka.


"Iya dong! Honeymoon ke Bali dengan fasilitas nomor satu yang diberikan oleh Nak Mandala benar-benar membuat Bunda dan Ayah menikmati liburan kali ini. Sudah lama Ayah dan Bunda mau kayak gini, uangnya habis buat biaya sekolah kalian." jawab Bunda.


"Tenang saja, Bun. Bunda tinggal bilang mau honeymoon kemana lagi nanti Mandala sediain." Mandala tak melewatkan kesempatan ini untuk mengambil hati mertuanya.


"Ah jangan ngomong aja kamu! Buktiin dong!" sindir Ayah.


"Ayah mau kemana? Mandala langsung telepon sekretaris Mandala nih buat pesen paket liburan!" Mandala begitu menggebu ditantang mertuanya. Pikirannya cuma satu, mertuanya tak mengganggu aktivitasnya saat di rumah nanti.


"Nanti saja. Pinggang Ayah encok! Kalau sudah sembuh baru Ayah pikirin lagi!"

__ADS_1


****


__ADS_2