
"Kak Mandala mau kenal langsung? Serius?" apakah Mandala serius atau basa-basi semata?
"Iya. Aku serius. Kapan aku pernah enggak serius?"
"Hmm... Kalau mau nyari sih gampang. Tinggal nyari taman di daerah Lenteng Agung. Namanya Bu Sri. Terkenal kok disana."
"Kamu kok bisa kenal sama Bu Sri?" Mandala membayar makan siang mereka dan tak lupa melebihkan kembaliannya agar penjual ayam bakar senang. Ini yang Jenaka suka dari Mandala, tidak pelit.
"Waktu aku lagi lari ke taman, aku ketemu sama Bu Sri. Ngobrol bareng dan curhat. Eh kok nyambung ya? Yaudah aku sering ketemu dan jadi punya guru spiritual baru deh."
"Baik orangnya?"
"Baik. Banget, Kak. Aku kayak punya kakak tempat aku berkeluh kesah."
"Kamu sering kesana?"
"Enggak juga. Baru beberapa kali. Seringnya sih kita teleponan."
Mandala membukakan pintu mobil untuk Jenaka. Ternyata mengobrol sambil jalan membuat perjalanan tidak terasa. Sudah sampai Indodesember ternyata.
Mandala berjalan ke pintu satu lagi dan duduk di samping Jenaka. Perut kenyang hati senang.
"Kalau begini terus, aku bisa gendut nih Jen!" ujar Mandala seraya menepuk perutnya.
"Memangnya kalo gendut kenapa?" tanya balik Jenaka.
"Ya jeleklah. Nanti kamu enggak suka lagi sama aku!"
Jenaka tersenyum. "Kalau mencintai seseorang hanya berdasarkan fisik semata, berarti level cinta aku tuh rendah banget Kak. Karena kalo patokannya fisik, suatu saat akan berubah. Apakah cintanya akan berubah juga saat fisiknya berubah? Bisa ditinggalin dong saat tua, keriput dan tak lagi menarik?"
"Memang level mencintai kamu semana?" tanya Mandala yang kini menatap ke arah Jenaka. Ucapan Jenaka barusan membuatnya tertarik. Tentang level cinta.
"Wah aku sih levelnya udah tinggi." jawab Jenaka dengan sombongnya.
"Tau darimana kamu levelnya tinggi?"
"Iyalah tinggi. Hanya wanita dengan level cinta tingkat tinggi yang mau menerima suaminya berbagi cinta dengan wanita lain. Saking tingginya tuh level, wanita itu dapet sebuah gelar."
"Apa gelarnya?"
__ADS_1
"Bucin tingkat dewa. Bodoh tak berujung. Atau lebih ngenesnya disebut pengemis cinta. Itu menurut aku loh ya, Kak. Enggak tau deh menurut orang lain."
Mandala agak ragu mau berbicara. Perkataan Jenaka barusan sangat menyindir dirinya, namun Mandala akhirnya mau bicara juga.
"Bukankah... Bukankah kalau ikhlas, poligami itu pahalanya besar?"
Jenaka kembali tersenyum sinis. "Sebelum mendapat pahala, ada sakit hati yang mendera. Sebelum mendapat pahala besar, ada perasaan tak adil yang dirasa. Sebelum mendapat surga, ada rasa tak ikhlas dan lebih memilih pahala yang sedikit saja."
Jlebb... lagi-lagi jawaban Jenaka membuat Mandala terdiam tanpa bisa membantah. Jenaka benar, Mandala memang semakin menyadari kesalahannya. Mandala semakin tau akibat dari poligaminya. Namun masihkah ada kesempatan untuk putar balik?
****
Panca menunggu Jenaka dan Mandala yang belum balik dari makan siang mereka. Genta yang kebetulan tidak makan siang dimintakan tolong oleh Mina untuk menemani Panca. Status Panca yang klien dengan tender besar, membuat Genta mau tak mau menemaninya menunggu Mandala.
"Jadi gimana Pak Panca? Konsep yang kami buat sudah bagus belum menurut Bapak?" Genta mengajak Panca mengobrol tentang kerjasama mereka namun Panca sepertinya tidak tertarik. Pikiran Panca sedang berkelana entah dimana.
Saat sedang di dalam lìft, Panca mendengar dua orang karyawan sedang mengobrol di dalam lift. Mereka membicarakan tentang Kinara.
"Lihat deh istrinya Pak Mandala. Cantik banget kan Kinara? Bodynya bagus banget. Mukanya juga cantik!" ujar karyawati yang memakai baju warna kuning.
"Ah sok tau lo! Tau darimana coba kalau Kinara tuh istrinya Pak Mandala?" balas temannya yang memakai baju hitam.
"Ih gue tau kok. Gue kan pernah diceritain sama salah satu OB yang bertugas bersihin ruangannya Pak Mandala. Katanya tuh di dekat monitornya Pak Mandala ada figura Kinara. Meski istrinya dirahasiakan, gue yakin kalo itu Kinara. Pasti karena karir Kinara yang kembali naik daun sejak kemarin sempat vakum."
Panca yang mendengarnya merasa semakin yakin kalau ada yang tak beres dengan pernikahan Jenaka. Tapi kini, sudah hampir sejam Ia menunggu Mandala dan Jenaka makan siang namun tak kunjung datang. Benarkah gosip yang beredar?
Panca membuka Hp miliknya, membuat Genta pamit undur diri karena dicuekkin Panca sejak tadi. Panca membuka portal berita online dan menemukan berita kalau Kinara sedang melakukan pemotretan di luar kota. Beberapa wartawan terlihat sedang mengerubunginya hanya untuk mendapatkan sebuah berita.
Wartawan: Kenapa Kinara mutusin break sejenak dari dunia model?
Kinara: Aku enggak mau jelasin lebih jauh, intinya karena masalah pribadi.
Wartawan: Apakah ini ada hubungannya dengan Mandala CEO dari Prabu Group?
Kinara: No comment!
Wartawan: Apakah benar berita yang mengabarkan kalau Kinara sudah menikah dengan Mandala? Kenapa pernikahannya di sembunyikan? Apakah Kinara tidak direstui oleh orangtua Mandala?
Kinara: Aku enggak mau kehidupan pribadiku dikonsumsi publik. Cukup kalian mengenalku karena karyaku saja.
__ADS_1
Wartawan: Apakah Kinara akan melakukan sesi pemotretan untuk majalah dewasa lagi? Bukankah itu yang melambungkan nama Kinara?
Kinara: Aku terkenal bukan hanya karena majalah dewasa saja. Silahkan dicek sendiri!
Kinara lalu meninggalkan wartawan dan masuk ke dalam mobilnya. Wajahnya terlihat kesal karena pertanyaan wartawan yang menyudutkannya, seakan-akan namanya tenar hanya karena majalah dewasa saja tanpa melihat prestasinya yang lain.
Panca menutup portal berita online dan mulai berpikir. Panca bisa menarik kesimpulan dari wawancara Kinara dengan wartawan yang Ia tonton sambil mengisi waktu senggangnya menunggu Mandala dan Jenaka. Jelas sekali, Kinara menyembunyikan hubungannya dengan Mandala. Ada sesuatu diantara mereka. Hubungan yang erat, entah sekedar berpacaran atau mungkin sebuah pernikahan?
Panca tau sejak dulu, lelaki idola Jenaka itu hanya menautkan hati pada satu wanita yakni Kinara. Lalu kenapa Jenaka sampai segitu bodohnya mau menikah dengan Mandala?
"Selamat siang Pak Panca! Sudah lama menunggu?" sapa Mandala yang baru kembali dari makan siangnya. Senyum di wajah Mandala menunjukkan suasana hatinya yang sedang baik. Apa karena makan siangnya dengan Jenaka?
"Siang Pak Mandala. Wah sepertinya Pak Mandala sibuk sekali ya?" sindir Panca yang membalas uluran tangan Mandala.
"Ha... ha... ha... Hanya makan siang biasa aja, Pak. Ada apa ini sampai Pak Panca datang langsung ke perusahaan saya? Kita bicarakan di ruangan saya saja ya Pak agar lebih tenang dan tak ada yang mengganggu!" Mandala mengajak Panca masuk ke dalam ruangannya. Justru ini yang Panca inginkan.
"Pak Panca mau minum apa? Kopi? Teh? Soda? Atau sirup?" Mandala beranjak ke lemari es miliknya.
"Air mineral saja cukup!" jawab Panca.
"Oke." Mandala pun mengambilkan dua botol air mineral dingin yang selalu sedia di lemari es miliknya.
Mata Panca menjelajah seisi ruangan Mandala. Ada satu figura di dekat monitor milik Mandala. Panca sangat penasaran dibuatnya. Posisi figura itu membelakanginya.
"Huft... Bagaimana cara melihat siapa yang ada di dalam figura tersebut ya?" batin Panca.
"Silahkan, Pak!" Mandala meletakkan botol air mineral di depan Panca.
"Hmm... Maaf Pak Mandala, boleh minta air mineral yang hangat? Saya rasa saya agak kurang enak badan!" ujar Panca.
"Oh tentu saja!" Mandala pun menekan ext Mina yang ternyata sedang sibuk mengobrol di telepon. "Sebentar ya, saya bilang sekretaris saya dulu!"
Mandala pun berjalan keluar dari ruangannya dan menghampiri Mina. Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Panca yang mengambil figura di depan monitor Mandala.
"Kinara? Kenapa bukan Jenaka?"
****
-
__ADS_1