Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Rencana Yang Sulit


__ADS_3

Desas desus kedekatan Jenaka dan Mandala sudah mereda. Alasan Jenaka mengemban tugas karena proyek tender besar membuat gosip menghilang dengan cepat.


Genta yang ketiban sial karena anak buahnya terancam dipotong gaji dua ratus ribu, dengan terpaksa harus memohon kebaikan hati Mandala untuk memaafkan anak buah dan teman-temannya tersebut. Genta sabar sekali menghadapi Mandala. Dari awalnya dicuekkin sampai akhirnya Mandala luluh dan melupakan hukuman yang Ia berikan dengan syarat jangan ada lagi yang menggoda Jenaka di kantor.


Sejak kejadian kemeja Jenaka yang dirobek Mandala, suasana masih canggung. Mandala masih menatap Jenaka dengan pandangan tajam dan terlihat sangat galak. Jenaka jadi takut dibuatnya.


"Kamu jangan masakkin Mandala untuk sementara waktu, Jen! Biar dia semakin kesal dan ujung-ujungnya menghampiri kamu sendiri!" pesan Bu Sri saat Jenaka mengadukan kalau Mandala masih marah padanya. "Satu lagi, ingat rencana didalam rencana kita!"


Huft... Rencana macam apa ini? Jenaka merasa aneh sendiri, enggak suka tapi tetap harus Ia lakukan. Waktu semakin singkat. Sudah seminggu Kinara pergi, berarti waktu Jenaka berdua dengan Mandala hanya tinggal seminggu lagi.


Sejak kemarin Jenaka tidak memasak apapun untuk Mandala. Mala menghidangkan roti bakar yang dimakan Mandala dengan wajah cemberut. Pulang kerja pun Mandala memilih tidak makan saat tahu Mala yang masak dan bukan Jenaka.


Mandala mau meminta Jenaka memasakkan sesuatu untuknya, namun rasa gensi yang besar menahannya. Ia masih marah dengan Jenaka.


Kini Ia sudah tak tahan lagi. Gencatan senjata harus disudahi. Ia lapar dan tak mau makan jika bukan masakan Jenaka.


Dengan menurunkan egonya, Mandala mengetuk pintu kamar Jenaka.


Tok... tok... tok....


Agak lama sampai akhirnya Jenaka membukakan pintu kamarnya. "Kenapa, Kak?" tanya Jenaka dengan santainya.


Berbeda dengan Jenaka, Mandala yang kini dihinggapi perasaan resah. Penampilan Jenaka benar-benar diluar ekspektasinya. Ia membayangkan Jenaka memakai daster motif Hello Kitty seperti biasanya. Tapi....


Jenaka terlihat begitu menggoda. Ia mengenakan setelan baju tidur bertali satu dengan bahan satin berwarna abu-abu muda. Celana pendek setengah paha yang Ia kenakan mempertontonkan kaki dan pahanya yang putih mulus bak porselen.


Mandala mencoba mengalihkan matanya namun pandangannya tak kuasa Ia alihkan dari chocochip yang menonjol dari dua gundukan sintal milik Jenaka. Ya, Jenaka tidak memakai bra. Misi yang disuruh oleh Bu Sri.


Mandala menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana mungkin Ia tidak tergoda? Jiwa lelakinya terbangunkan. Pemandangan didepannya begitu menggoda iman. Begitu indah untuk dilewatkan begitu saja, toh dilihat juga enggak dosa kan?


Mata Mandala sudah berusaha Ia alihkan, namun mata tersebut selalu kembali melihat chocochip yang begitu menantang tersebut. Keinginan untuk makan masakan Jenaka berubah menjadi keinginan untuk memakan Jenaka. Merasakan chocochip milik Jenaka yang begitu menggodanya.


"Kenapa, Kak?" pertanyaan Jenaka membuatnya terkejut. Dengan malas Mandala mengangkat pandangannya dari pemandangan indah di depannya.


"A... Aku... Aku lapar!" Mandala berhasil menguasai dirinya.

__ADS_1


"Memangnya Mala enggak masak?" tanya Jenaka. "Aku lagi nyiapin presentasi buat klien kita."


Mandala melongok ke belakang Jenaka. Benar yang Ia katakan, Jenaka memang sedang bekerja. Terlihat laptopnya menyala dan banyak berkas berantakan diatas tempat tidurnya.


"Mala masak tapi aku enggak mau makan masakan Mala. Aku... Mau makan Mie instan!"


"Memangnya Mala enggak ada, Kak?" Jenaka yang sedang fokus bekerja merasa malas ke dapur kalau hanya untuk membuat mie instan, Mala bisa melakukannya. Kenapa harus Jenaka? Kerjaannya menumpuk karena presentasi di depan klien akan berlangsung tak lama lagi.


"Mala pergi sama Pak Sahrul. Ijin mau ke rumah orangtuanya Pak Sahrul yang sakit."


"Kenapa enggak makan masakan Mala aja sih Kak?" Jenaka yang masih kesal dengan sikap Mandala beberapa hari lalu merasa malas melaksanakan perintah suaminya tersebut.


"Buatkan sekarang!" perintah Mandala, tak terbantahkan seperti biasanya.


"Iya... iya..."


Jenaka menutup pintu kamarnya dan berjalan ke dapur diiringi Mandala yang mengikutinya dari belakang. Mandala melihat kulit mulus Jenaka di balik rambutnya yang dikuncir kuda. Lehernya yang jenjang membuat Mandala ingin menghirup aromanya dan berlama-lama menyusurinya.


Mandala menggelengkan kepalanya. Pikirannya semakin berkelana kemana-mana. Seminggu berpuasa karena Kinara sedang di luar kota membuat Ia tak bisa menyalurkan hasrat lelakinya.


Kini ikan di depannya seakan sedang bersolek menggodanya. Membuat rasa lapar akan sentuhan terus menerus menderanya.


Mandala menghirup nafas dalam-dalam. Memenuhi paru-parunya dengan udara segar. Berharap bayangan ikan yang menggoda di depannya segera hilang.


Sayangnya, sang ikan masih terus menggoda sang kucing. Jenaka kini mengambil panci untuk membuat mie yang berada di rak kitchen set bawah.


Jenaka pun membungkuk, membuat baju tidurnya terangkat. Terlihat jelas punggungnya yang putih mulus. Godaan semakin berat menggelayut mata Mandala. Dilihat bikin pengen, enggak dilihat rugi!


Beberapa kali Mandala terlihat membuang nafas kesal. Sudah di ubun-ubun dan tinggal eksekusi tapi...


"Kak, mau pakai telor enggak?" pertanyaan Jenaka membuyarkan kembali lamunan liarnya.


"Pake."


"Oke!"

__ADS_1


Jenaka menyalahkan air dari washtafel dan mengisi panci untuk merebus mie. Ia terlonjak kaget ketika mendapati tangan Mandala yang melingkar di perutnya.


"Kak Mandala!"


Mandala acuh, Ia malah membenamkan dirinya di leher jenjang Jenaka. "K-Kak!"


Mandala sudah tak peduli. Ia mulai menikmati aroma Jenaka yang memabukkan. Tangannya semakin erat memeluk Jenaka.


Jenaka meremang menahan rasa geli juga sensasi nagih yang menderanya kini. Hidung mancung Mandala menggelitik lehernya. Membuatnya menahan diri sekuat mungkin untuk tidak mengeluarkan suara apapun.


Air dari washtafel terus memenuhi panci yang Jenaka pegang sampai penuh. Bak orang yang sangat ahli, Mandala mematikan keran air dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang lain tetap memeluk Jenaka.


Setelah mematika kran air, tangan Mandala tak lagi memeluk Jenaka melainkan menyentuh chocochip Jenaka yang sejak tadi begitu menggodanya. Membuat Jenaka menahan nafas.


Sentuhan Mandala begitu lembut, begitu membuai, begitu memabukkan. Jenaka menikmati setiap sentuhan Mandala sampai tak sadar tangannya menjatuhkan panci yang Ia pegang di washtafel.


Mandala dengan cepat membalikkan tubuh Jenaka dan menciumnya. Kembali merasakan ciuman Jenaka yang membuatnya ketagihan.


Mandala mencium dengan lihai. Memancing Jenaka untuk membalas ciumannya. Belum puas. Mandala mau lebih.


Mandala mengangkat tubuh Jenaka dan mendudukkannya diatas kitchen set. Bibirnya tak lepas terus mencium Jenaka.


Kini, apa yang Mandala inginkan sejak kemarin ada di depan matanya. Hanya tinggal sedikit saja dan Ia akan mendapatkanya.


Kembali Mandala meraba dua benda sintal milik Jenaka. Membuat Jenaka mengeluarkan suara de sah an. Suara dering telepon menyadarkan Jenaka dari kenikmatan surgawi.


Jenaka gundah. Beberapa saat lagi Ia akan menjadi milik Mandala seutuhnya. Mandala sudah menurunkan tali baju tidurnya, membuat aset miliknya terlihat begitu menggoda.


Tanpa ragu Mandala menangkupkan tangannya. Melepaskan pagutan di bibir Jenaka dan pindah ke aset milik Jenaka.


Rasa panas menjalari tubuh Jenaka. Ia juga dialiri listrik dari Mandala yang menyetrumnya. Ini pengalaman pertamanya.


Kembali Hp milik Jenaka berbunyi. Hanya beberapa kali lalu mati. Kesadaran Jenaka pulih. Cukup bermain-mainnya.


Jenaka menjauhkan dirinya. Membuat Mandala yang sedang menikmati aset miliknya melepaskan dengan penuh tanya.

__ADS_1


"Maaf Kak. Aku enggak bisa melanjutkannya lagi!"


****


__ADS_2