
Seminggu kembali berlalu dengan cepat, hari-hari ku kembali berjalan normal setelah sakit beberapa hari lalu. Seperti seminggu yang lalu, Tian kembali menjadi dingin dan sangat cuek padaku, dan ini sudah berlangsung selama 3 hari lamanya. Membuatku kepikiran yang bukan-bukan tentangnya yang akhir-akhir ini juga lebih sering tidur di luar. Aku takut jika selingkuhannya hamil hingga membuatnya harus bertanggung jawab, tapi di sisi lain aku senang jika selingkuhannya benar-benar hamil.
"Tian! Aku mau bicara sama kamu!" Kataku datar menghampiri nya yang sibuk dengan ponsel di sofa kamar
"..." Dia hanya diam dan terus fokus pada ponselnya
"... Kamu punya kelainan... Oh bukan kelainan, tapi kepribadian ganda bukan sih?" Tanyaku kesal karena tidak dihiraukan oleh nya
"..." Dia menoleh kepadaku dengan mata melebar
"Aku nanya... Kamu punya kepribadian ganda bukan sih?" Aku benar-benar kesal di buatnya
"Kenapa kamu nanya gitu?" Katanya terlihat seperti sedang mengontrol kekagetan
"Berapa banyak kepribadian dalam diri kamu saat ini? Kamu hanya perlu jawab dan di larang nanya balik" aku benar-benar kesal hingga hendak memukulnya saat ini juga, entahlah karena apa
"Kata siapa? Kamu sakit lagi ya..." Katanya datar dan kembali menatap layar ponsel dengan dahi berkerut
"Tian! Aku serius nanya..." Kesal ku dan meraup wajahnya agar bertatapan dengan ku
"..." Tian hanya diam dan malah merona
"Tian... Kamu ih... Jangan diam aja dong! Jawab iya apa nggak, kalo kamu punya kepribadian ganda apa kagak!" Aku semakin kesal sehingga menekan pipinya kuat-kuat
"Aaaaa.... Sakit..." Rintihnya berusaha menepis tanganku
"Jawab iya apa nggak!" Kataku tajam meminta matanya menatap mataku balik
"..." Tian hanya diam diikuti dengan wajahnya yang semakin merah
"Kamu ih..." Aku benar-benar kesal dan menggigit hidungnya yang mancung
"Aawww..." Jeritnya kesakitan
Setelah puas menggigit batang hidungnya hingga berbekas aku yang masih kesal memilih untuk keluar kamar mengambil air buat minum. Saat menuruni tangga aku di kejutkan oleh keributan kecil yang di perbuat oleh salah satu wanita selingkuhan Tian, di depan pintu. Aku hanya bisa menggelengkan kepala, melihat tingkah konyol wanita itu yang sedang bertengkar dengan para pembantu rumah ini.
__ADS_1
"Sayang..." Panggil Tian dari lantai atas saat aku sedang asik menonton pertengkaran di depan pintu sambil minum
"..." Semua orang menoleh ke arah suara
"Sayang!! Aku kangen kamu... Minggir kalian!" Kata wanita itu berteriak membalas panggilan Tian dan mendorong Lia dan Sasa yang memeganginya
"Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Tian dengan nada mengerikan
"A...aku... Aku kagen kamu... Makanya aku ke sini!" Kata wanita itu setelah berhadapan dengan Tian
"Pengawal! Usir wanita ini dan jangan pernah ijinkan orang seperti dia masuk ke rumah ini lagi!" Marah Tian mendorong wanita itu hingga tersungkur jatuh
"Wow..." Aku kaget karena tidak biasanya Tian bertingkah semengerikan itu di depanku
"Sayang... Sayang kamu nggak bisa giniin aku... Biar bagaimanapun aku hamil anak kamu..." Berontak wanita itu menolak di usir keluar
"Puffttt..." Air yang ku minum menyembur keluar dari mulut saat mendengar teriakan wanita itu
"Kamu jangan berimajinasi terlalu tinggi... Aku tidak pernah menyentuhmu sedikitpun... Usir wanita ini sekarang juga! Jika dia membuat masalah lain... Singkirkan seluruh keluarganya dari muka bumi!" Kata Tian kejam membuatku merinding karena Tian mengatakan itu tepat di belakangku yang masih kaget
"Apakah! Wanita itu..."
"Aku tidak pernah menyentuh wanita itu... Dan semua yang dia katakan adalah omong kosong! Percayalah padaku..." Kata Tian tajam menatapku meminta kepercayaan
"Bukan itu maksudku... Apakah wanita itu... Ahhh... Sudahlah aku malas berurusan dengan hal tidak penting seperti itu..." Aku malas menayakan hal yang ingin kutanyakan pada Tian karena bisa menimbulkan keributan lainnya
"Sayang..." Tian menghentikan langkahku yang hendak kembali ke kamar
"Kenapa lagi?" Tanyaku malas karena masih kesal dengannya yang acuh denganku sesaat yang lalu
"Kita bicarakan di kamar..." Katanya dan menarikku ke atas
Sesampainya di kamar Tian hanya diam membelakangi ku yang menunggunya bicara. Tapi sampai kakiku pegal karena berdiri seperti ini pun dia masih belum mengatakan satu huruf pun dari mulutnya. Aku memilih untuk duduk sambil menunggunya berani mengatakan apa yang ingin di bicarakannya hingga membuatku menunggu selama ini. Jangan sampai sikapnya yang seperti ini membuatku bertambah kesal dan dongkol.
"Sebenarnya kamu mau ngomongin masalah apa sih? Jangan sampai aku tambah kesal..." Gusarku padanya yang sekarang menatapku dengan ekspresi wajah mikir
__ADS_1
"Sejak kapan kamu tau... Kalau aku punya kelainan di kepribadian?" Tanya Tian tiba-tiba
"Bukan tau sih... Aku hanya nebak aja... Soalnya sikap kamu suka berubah-ubah nggak jelas, sejak pertama nikah! Sangat aneh..." Aku menggaruk kepala yang tidak gatal karena bingung harus mengatakan apa
"..." Tian kembali terdiam menatapku datar
"Tebakan aku benar ya? Jadi yang mana sosok kepribadian yang waktu itu nikahin aku?" Tanyaku dan menghampirinya yang sedang berpikir
"..." Tian kaget karena aku tiba-tiba mendekat ke wajahnya
"Sayang aku yang mana? Aku mau bicara sama dia boleh?" Kataku semangat dan menyentuh tubuhnya hingga aku bisa merasakan debaran jantungnya yang berdetak kencang
"Akhhmm... Emang aku bukan sayang kamu?" Katanya tersipu malu dan memalingkan wajahnya
"Eh... Sejak kapan si cuek dingin kayak kamu jadi begini? Lagian kamu kan punya banyak sayang di luar sana..." Kataku melangkah mundur
"Ehhmmm... Lagian nggak ada yang aku suka dari mereka semua..." Gumam Tian lirih
"Kamu bilang apa tadi?" Tanyaku yang tidak terlalu mendengar suara lirihnya
"Bukan apa-apa... Sekarang aku yang nanya ke kamu!" Kata Tian menatapku tajam hingga membuat ku merasa tertekan
"Ukgghhh..." Rasanya atmosfer di ruangan ini tertekan oleh tatapan tajam Tian
"Kenapa sikap kamu beda saat aku yang muncul di permukaan?" Tanya Tian memintaku menatap matanya
"Bu...bukannya kamu sendiri yang duluan bersikap dingin ke aku... Aku kira kamu nggak suka sama aku..." Kataku menatapnya dengan tatapan merasa bersalah
"Ukgghhh... Istriku memang benar-benar imut!" Gumam Tian lirih sambil memegangi dadanya
"Ti... Tian! Kalian udah bertukar ya?" Tanyaku bingung yang melihat tatapan hangat dari bola matanya
"Ini masih aku!" Katanya membawa wajahku agar menatapnya
"Se...sejak kapan... Kamu... Jangan bilang selama ini mata aku nggak salah liat...?" Aku terkaget-kaget melihat tatapan hangatnya
__ADS_1
Tian tersenyum menggelikan hingga membuatku tidak bisa menahan tawa sedikitpun. Tian yang entah kenapa terlihat malu-malu seperti ini membuatku ingin memilikinya seutuhnya.