JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Survei Lapangan


__ADS_3

Pak Darmawan masuk ke dalam ruangan, tanpa suara sedikitpun hingga membuatku kaget melihat sosok beliau yang sedang berdiri memperhatikan kinerja.


"... bapak kapan masuk?" Tanyaku yang kembali tenang setelah kekagetan mendadak


"Barusan! Kamu lagi ngerjain masalah yang mana?" Tanya pak Darmawan membaca tulisan di latar komputer ku


"Itu pak, masalah pembangunan di kota cirebon! Katanya kerusuhan yang terjadi menimbulkan beberapa korban luka!" Kataku menjelaskan masalah yang sedang ku baca


"Menurut kamu! Tindakan seperti apa yang harus kita ambil dalam masalah ini?" Tanya beliau seakan-akan menguji ketanggapanku


"Menurut saya! Lebih baik kita terjun ke lapangan secara langsung, memastikan apakah kondisi di sana benar ada nya seperti itu... dan kita harus melihat dan memastikan langsung apa yang menjadi penyebab kerusuhan ini!" Kataku mengeluarkan pendapat yang entah masuk akal ataupun tidak


"Kamu benar! Kalau begitu bersiap-siaplah, sebentar lagi kita akan berangkat ke sana!" Kata pak Darmawan menatapku dengan tatapan memerintah


"Baik pak!" Aku mengiyakan tugas keluar kota yang mendadak ini


Mbak Rani masuk ke ruangan dengan wajah riang saat aku bersiap-siap hendak pergi terjun langsung kelapangan bersama pak Darmawan. Sepertinya dia banyak mendapatkan pujian atas berkas yang telah kritik di beberapa bagian itu, karena dulu kukira berkas itu tidak akan terlalu di perhatikan. Makanya berkas itu kucuret dengan kritikan yang ada di kepalaku saat membaca dan memahami berkas itu.


Mbak Rani menatap kepergian kami dengan wajah penuh tanya karena pak Darmawan tidak mengatakan apapun padanya. Dengan mengendarai mobil sedan beliau kami segera meluncur ke kota cirebon, yang berjarak 217,6 km dan perjalanan selama 3 jam 40 menit. Selama di dalam mobil kami merencanakan penyamaran untuk mendekati para warga di kota cirebon. Karena pemikiran kami memiliki tujuan yang sama, yaitu mencari akar dari permasalahan ang terjadi.


Awalnya pembangunan di kota cirebon baik-baik saja, bahkan para warga setuju untuk diadakan pembangunan perusahaan di daerah sana. Tapi entah kenapa sebulan setelah pembangunan berlangsung, para warga malah mengadakan unjuk rasa dan terjadilah beberapa kerusuhan. Entah salahnya ada di mana? Yang jelas kami harus memeriksa keadaan di lapangan terlebih dahulu sebelum bertindak.


Sesampainya di kota Cirebon, pak Darmawan mengajakku singgah kerumah keluarganya terlebih dahulu, untuk bertanya kondisi keadaan di lapangan. Keluarga pak Darmawan menyambutku sangat ramah dan sopan, bahkan istri pak Darmawan menyambutku secara berlebihan. Setelah pak Darmawan menjelaskan jika istrinya sedang salah paham tentang diriku yang dikira istri pak Darmawan sebagai calon mentunya, barulah aku mengerti kondisi dan situasi.

__ADS_1


"Ibu kira, kamu calon mantu yang bapak bawa dari kota!" Kata beliau sedikit kecewa


"Maaf ya bu! Karena sudah bikin ibu kecewa!" Kataku berusaha mengembalikan senyum beliau yang ramah


"Iya... lagian bukan salah kamu! Siapa tau nanti kamu beneran jadi mantu ibu, kan nggak ada yang tau!" Canda bu Darmawan kembali menyungging kan senyumnya


"Ibu ada-ada aja!" Kataku menanggapi candaan beliau


"Anak ibu ganteng loh, selain ganteng dia juga baik dan sholeh! Lulusan pesantren di Kairo... biar ibu panggilan siapa tau kamu suka! Aji... Aji sayang keluar bentar nak!" Panggil beliau tanpa sempat dicegah


"Ada apa bu?" Seorang laki-laki berwajah cerah serta suara merdu muncul dari balik tirai pembatas ruang tengah yang otomatis membuatku menunduk malu


"Ini, kenalin nak Ruka! Bawahan ayah kamu di perusahaan... dia kesini mau melihat kondisi pembangunan yang ada di sebelah selatan sama ayah kamu!" Kata beliau memperkenalkanku pada anaknya


"Nah, nak Ruka! Ini anak ibu... panggil aja Aji!" Kata beliau kepadaku yang masih malu


"Eh... iya bu!" Sahutku dengan senyum berusaha agar tidak menatap Aji


"Kalian ngobrol aja dulu... Ibu mau ketemu ayah! Nak Ruka! Nggak usah malu, anggap aja rumah sendiri!" Kata beliau sebelum beranjak pergi


"Iya... makasih teh nya enak bu!" Kataku berusaha tidak terlihat tegang


"Emmm... namanya tadi Ruka ya?" Tanya Aji memecah keheningan

__ADS_1


"Iya... kak! Mas!... Aji..." kataku gelagapan mendengar suara mertuanya menyebut namaku


"Panggil aja a'a Aji! Seperti yang lain!" Katanya ramah


"Iya A! Maaf aku agak grogi..." kataku mengatakan masalahnya yang gelagapan


"Santai aja! Kan ibu udah bilang... anggap aja rumah sendiri... btw jam berapa mau berangkat survei lapangan?" Tanya Aji masih berusaha mencairkan suasana


"Mau nya berangkat sekarang, tapi masih menunggu perintah atasan!" Kataku ramah mengarah kepada perintah pak Darmawan


"Ohh... mau di temenin? Lagian aku nggak ada kerjaan juga di rumah!" Katanya mengajukan diri menggantikan sang ayah survei


"Kalo a'a nggak keberatan boleh-boleh aja! Tapi minta persetujuan pak kepala dulu!" Kataku sedikit lebih relaks


Setelah meminta ijin dari pak Darmawan yang tentu saja mengijinkan kami pergi, kami berangkat ke lokasi dengan jalan kaki. Karena aku ingin lebih mengenal kawasan kota ini, sepanjang jalan Aji mengajakku berbincang mengenai pendapatnya tentang masalah pembangunan yang mengakibatkan kerusuhan ini. Anak sama bapak sama-sama nyambung berbicara demganku, maka dari itu kami cepat akrab.


Setelah sampai di lokasi kerusuhan aku meneliti keadaan dengan seksama sebelum ikut terjun ke lapangan. Di depan sana sedang terjadi bentrok antara para tukang dengan para warga yang protes akan pembangunan. Selama dalam pengawasan ku hanya ada bentrok mulut di antara dua kubu ini, setelah masalah semakin genting aku segera berniat terjun ke lapangan. Tapi sebelum itu aku harus melepaskan jas formal yang ku pakai agar terlihat netral, takutnya para warga malah menyerang jika melihat jas perusahaan yang ku pakai.


"Kok di lepas?" Tanya Aji yang menyadari aku melepaskan jas perusahaan


"Aku nggak mau, kena omel emak-emak di depan!" Kataku memperlihatkan lambang di jas yang sama dengan lambang di depan pintu gedung yang baru kerangka


Aku mendekati kerumunan warga yang sedang ricuh dan ikut-ikutan meneriaki para karyawan perusahaan di depan. Aku benar-benar berusaha membaur dengan warga di tempat kerusuhan agar mendapatkan informasi yang tidak ku ketahui. Setelah keadaan kembali kondusif, aku dan Aji mulai mendekati satu-persatu warga sambil membagikan air mineral dan bertanya ini itu.

__ADS_1


Aku benar-benar kaget mendengar pernyataan warga, yang tanahnya di beli perusahaan. Kata para warga perusahaan ini terlalu banyak memanfaatkan warga, karena tanah yang perusahaan beli tidak sesuai dengan perjanjian awal. Uang yang di berikan perusahaan lebih sedikit dari yang seharusnya, hingga mau tak mau warga mengadakan protes. Sepertinya masalah ini benar-benar merujuk pada kasus korupsi yang akhir-akhir ini marak terjadi di setiap perusahaan.


__ADS_2