
Waktu benar-benar berlalu dengan cepat sesuai harapanku, semenjak sejam yang lalu aku udah stand by di bandar untuk menjemput mama dan abah yang datang hari ini ke Jakarta. Jantungku rasanya mau copot menunggu kedatangan mereka, yang entah kenapa terasa sangat lambat. Atau aku yang terlalu cepat datangnya ke bandara ya, maka dari itu menunggu mereka terasa sangat panjang. Bahkan aku takut untuk buang air kecil, jika tiba-tiba pesawat mendarat, padahal an harus melewati beberapa prosedur dulu sebelum keluar bandara.
Aku memang sangat aneh hanya karena menunggu kedatangan yang sudah pasti ini, pagi-pagi sekali aku udah bangun, dan bersiap-siap hendak menjemput mereka berdua. Aku mengucap syukur alhamdulillah saat pengumuman jika pesawat dari kalimantan selatan telah mendarat dengan aman di lintasan pesawat. Aku segera bergegas berdiri di depan pintu kedatangan di barisan depan, seakan-akan ingin menyaksikan kedua orang tuaku keluar dari sana.
"Mama! Abah!" Teriakku kegirangan saat orang yang di tunggu-tunggu keluar dari pintu kedatangan
"Ru!" Kata mama memelukku hangat
"Anak abah!" Kata abah saat kami berpelukan
"Tadi di pesawat nggak mabuk kan mah! Bah?" Tanyaku segera menarik koper mereka berdua menuju taksi yang sudah ku pesan dari satu jam yang lalu
"Alhamdulillah... cuma sedikit pusing!" Kata Abah sambil membantu pak supir memasukkan koper ke dalam bagasi
"Mama tadi tidur terus, jadi nggak mabuk perjalanan!" Kata mama masuk ke dalam mobil
"Alhamdulillah kalo semuanya baik-baik aja!" Kataku kesenangan
Aku duduk di kursi depan di samping pak supir, sedangkan mama dan abah duduk di kursi tengah untuk melepas lelah perjalanan udara. Sepanjang jalan menuju apartemen mama dan abah ketiduran, hingga membuatku sangat lega dengan kehadiran mereka. Aku mengirimkan pesan di grup chat keluarga, mengatakan jika kedua pahlawan ini telah mendarat dengan selamat di Jakarta.
Sesampainya di depan gedung apartemen aku meminta pak supir untuk diam lebih lama membiarkan keduanya tidur dulu. Tapi abah terbangun saat mobil berhenti begitupun dengan mama, ternyata mereka dari tadi tidak tidur, hanya memejamkan matanya saja. Setelah memberikan bonus kepada pak supir, aku segera membawa keduanya menuju apartemen ku yang ada di lantai 5 gedung 7 lantai ini.
"Ada lift nya juga ternyata!" Kata mama saat masuk ke dalam lift
__ADS_1
"Jadi ini apartemen yang kamu beli itu?" Tanya abah saat kami di dalam lift
"Iya bah! Walaupun sedikit angker, tapi semua fasilitas nya bagus kok!" Kataku dengan wajah semangat
"Pantesan kamu betah tinggal sendirian di kota orang!" Kata abah terkekeh
"Kamu makan dengan teratur kan?" Tanya mama menyentuh pergelangan tanganku yang kurus akibat sakit beberapa hari lalu
"Kadang-kadang mah!" Aku nyengir kuda
"Kebiasaan!" Kata mama memukul kepalaku pelan
"Hehehe..." kekehku sambil mengelus kepala
"Kayaknya udah sampai!" Kata abah saat lift terasa berhenti
"Assalamualaikum... pak! Bu!" Kami berpapasan dengan Aji di depan lift
"Wa'aikumsalam..." sahut kami bertiga bersamaan
"Mah! Bah! Ini Aji tetangga sebelah dan juga anak atasan Ruka!" Kataku memperkenalkan Aji kepada meraka
"Salam kenal pak! Bu! Saya Aji temen anak bapak sama ibu... apartemen saya di pojok sana, jika bapak sama ibu berkenan untuk berkunjung, pintu saya selalu terbuka menyambut bapak sama ibu!" Katanya mencari muka dengan sopan
__ADS_1
"Insyaallah... kalo ada waktu ya!" Kata abah membalas keramahan Aji
"Kalo gitu kita duluan ya a!" Kataku segera mengajak kedua orangtuaku masuk ke dalam
"Silahkan..." katanya ramah membuat mama sedikit kepincut diliat dari tampang beliau sekarang
"Hmmm..." gumam mama saat aku membuka kunci apartemen
"Mama sama abah nanti tidur di kamar! Ruka tidur di ruang tengah... kalo abah sama mama istirahat aja dulu, kalo udah kembali segar baru kita jalan-jalan!" Kataku sambil meletakkan koper di kamar tapi saat menoleh ke belakang abah sama mama sedang tercengang di ruang tengah
"Kok nggak ada kompor nya! Kamu masak dimana biasanya?" Tanya mama yang udah masuk ke dapur
"Mama kan pernah bilang mau kompor listrik! Nah ini dia kompor listrik nya!" Kataku menunjukkan kompor yang langsung menempel ke meja
"Semalam berapa kamu beli apartemen ini?" Tanya abah yang juga menghampiri ke dapur
"Kebetualan saat Ruka ngeredit no apartemen penghuninya belum banyak dan juga lagi ada diskon besar-besaran, jadi nggak terlalu mahal kok bah... cuma 50 jutaan aja kok!" Mengatakan harga yang di tawarkan saat itu kepadaku
"Murah banget!" Kaget mama
"Saat itu kan apartemen ini nggak banyak penghuninya dan pemiliknya juga bangkrut saat menawarkan apartemen ini... makanya apartemen sebagus ini dijual murah ke Ruka! Kalo sekarang sih harga jual apartemen ini udah melambung tinggi!" Kataku menjelaskan dari mana aku mendapatkan harga semurah itu
Setelah puas bertanya-tanya mama dan abah segera istirahat setelah membersihkan diri, mama sempat kaget melihat lemari pakaianku yang tertawa rapi serta pakaian kantor yang modis dan tren berjejer rapi. Bahkan mama terkagum-kagum karena televisi di apartemen ini ada dua, yaitu di ruang tengah dan kamar. Masalah uang listrik dan air aku selalu membayar tepat waktu saat gajian tiba, so semuanya tenang aja kalo udah sampai ke mari.
__ADS_1
Setelah di pikir-pikir, kalo apartemen ini ku jual bakal untung banyak dong, kan harga jual apartemen di bangunan ini udah melambung tinggi. Tapi kalo aku masih ingin hidup di apartemen ini, lebih baik mengajukan kontrak kerja lagi deh, buat bayar uang listrik dan air. Mama dan abah sepertinya kelelahan sekali, setelah perjalanan panjang dari Kalimantan-Jakarta, bahkan ke ruang tdur dengan suara ngorok yang khas.
Sebelum keduanya bangun aku menyiapkan makanan untuk nanti mengganjal perut keduanya saat bangun tidur. Perasaan udah jarang masak banyak seperti hari ini, setiap harinya aku cuma masak sekali dan itupun porsinya sangat sedikit, walaupun sedikit sering nggak habis. Semoga masakanku akan sesui dengan selera keduanya, mudahan rasanya tidak mengecewakan perut mereka nantinya.