
***
Hari ini langit begitu cerah dan sejuk, seakan-akan merestui kepulanganku hari ini. Hanya tinggal menunggu jemputan Kak Gafar beberapa saat lagi, aku akan kembali menulusuri jalan pulang ke rumah yang tidak terlalu kurindukan. Akhirnya setelah 18 tahun aku menunggu saat dimana aku akan bebas dari rumah yang bagiku sangat mengekang itu. Dua tahun lebih sudah aku berada di kota Banjarmasin ini, hanya sesekali pulang jika Ayah dan yang lainnya meminta. Aku tidak pernah berinisiatif untuk pulang, karena aku sangat malas untuk kembali ke rumah itu.
Sekarang umurku sudah 20 tahun, tapi entah kenapa aku masih membenci rumah itu. Setiap kali mengingat hari-hari yang pernah kulalui di rumah itu rasanya nggak ada senang-senangnya gitu. Mau bahagia apa kagak, yang jelas sangat-sangat monoton dan brengsek, sumpah dah aku membenci rumah dan kampung halaman ku sendiri.
Aku memain-mainkan ujung sepatuku mengais-ngais pasir yang ada di depan pagar kosan, karena bosan menunggu kak Gafar yang tak kunjung tiba. Hijab lebar warna biru navy yang kukenakan terkibas-kibas di sapu angin siang hari yang begitu sejuk. Entah kenapa matahari siang ini tidak terlalu menyengat kulit, padahal sangat terik begini. Biasanya kalo aku berada di bawah matahari terik gini selalu berdoa...
"Ya Allah... hamba ingin memiliki kulit secerah matahari mu..." gumamku sambil memandang langit yang cerah ini
Akhirnya jemputan yang di tunggu-tunggu datang juga, dengan motor butut namun bersejarahnya, kak Gafar nampak di ujung jalan dengan tampilan sangat modis. Dia hanya membawa tas ransel kecil yang mungkin tidak ada isinya sama sekali, sama saja denganku saat ini yang sedang menenteng tas ransel kecil, namun milikku ada isinya. Kak Gafar menghentikan motor di depanku dan memberikan helm yang mungkin di pinjamnya dari kawan-kawannya.
"Mau berapa hari pulang kali ini?" tanya kak Gafar sambil menyerahkan helm padaku
"Mungkin dua atau tiga hari!!" jawabku dengan pipi menggelembung sambil mikir
"Pulangnya nanti bareng lagi atau gimana?" tanya kak Gafar setelah aku duduk di jok belakang
"Enaknya sih bareng lagi! tapi kakak berapa hari niatnya pulang?" tanyaku setelah mesin motor di nyalakan
"Satu minggu! paling lama!!" katanya dan hanya membuatku mengangguk kan kepala sambil mikir
Sepanjang jalan aku tidak banyak bicara seperti biasanya, karena aku merasa jika kebanyakan ngomong itu buang-buang waktu dan tenaga. Aku tidak ada niatan memulai percakapan atau mencari topik bahasan, seperti kakak dan adik-adik ku yang lain, soalnya aku bisa di katakan pendiam. Seperti inilah aku saat bersama keluarga, aku hanya akan diam mendengarkan jika mereka berbicara dan juga mendiamkan jika mereka diam.
__ADS_1
Berbeda lagi jika aku bersama orang lain, saat bersama orang lain aku selalu terlihat paling aktif dan paling banyak omong. Rasanya seperti terbalik, seharusnya aku banyak bicara pada keluargaku dan menjaga lidah dan tingkah laku diriku pada orang lain. Tapi, bagiku percuma jika mengatakan apa yang ada di pikiranku pada keluarga, karena mereka hanya akan memberikan kritikan tanpa menyertakan penyelesaiannya. Sehingga membuatku membenci semua orang, termasuk keluargaku sendiri.
Aku hanya mencintai diriku dan diriku, itulah kenapa aku menjadi orang yang tidak berperasaan dan penuh kebohongan. Sampai kapanpun, sepertinya tidak akan ada yang bisa membuatku paham dengan perasaanku saat ini. Seandainya saja aku yang meninggal waktu itu dan bukannya kakakku, mungkin sekarang kehidupan keluargaku akan lebih manis dari sekarang.
"Kak! kalo mau makan atau belanja mampir aja dulu... nanti aku kasih uangnya, sekalian beli oleh-oleh buat orang rumah!!" kataku saat kami melewati pasar Martapura
"Emang kamu punya banyak duit!!" katanya terkekeh
"Lumayan lah! cukup buat beli oleh-oleh..." sahutku sambil menggelembungkan pipi
"Mau berhenti di pasar mana? Kandangan atau pasar Martapura?" tanyanya memelankan laju motor
"Emmm... belanjanya nanti banyak apa sedikit?" tanyaku balik
"Gimana kalo pasar Martapura aja! sekalian ngasih duat buat Ibrahim!" kataku memintanya berhenti di pasar yang kami lewati
"Okeh siap!!" katanya senang dan segera berbelok masuk pasar
Setelah memarkirkan kendaraan kami berdua segera menjelajahi pasar Martapura yang lumayan banyak orang. Saat di pertengahan jalan kak Gafar keliatan tertarik dengan pakaian yang di jual di sebuah lapak.
"Nih... beli aja apapun yang kakak mau! kita pisah jalan... aku nyari oleh-oleh dulu ke dalam! itu uang khusus buat kakak belanja! terserah mau beli apa!" kataku dan segera kembali jalan setelah menyelesaikan kalimat yang ingin kukatakan
"Tunggu... kamu dapet duit segini banyak dari mana?" selidik kak Gafar
__ADS_1
"Aku kerja jadi guru les... uangnya nggak kepake selama ini... jadinya kekumpul deh!" kataku dengan wajah senyum manis
"Berapa banyak duit yang udah kekumpul?" tanya kak Gafar kepo
"Lebih 5 juta lah..." kataku asal sebutkan
"Banyak amat... di gaji berapa?" tanya kak Gafar lagi
"Nggak banyak paling cuma 200 ribu satu kali pertemuan!!" kataku dan nyengir lebar
"Lumayan juga tuh..." kata kak Gafar dengan senyum mikir
"Juga... novel aku juga menghasilkan loh sekarang!!" kataku menatapnya dengan senyum mistis
"Emang ada yang baca... heheheh..." katanya terkekeh tidak percaya
"Namanya juga karya Ruka..." banggaku sombong
"Serah anda..." katanya dan pergi setelah menjitak jidatku
Kami berdua sekarang berpencar mencari barang-barang yang kami inginkan di pasar tradisional Martapura ini. Orang-orang di pasar ini ramah-ramah kepada semua pengunjung, termasuk aku yang baru dua kali mampir ke pasar ini. Setelah menemukan semua yang kuinginkan, aku segera kembali ke parkiran yang ternyata kak Gafar udah selesai belanja. Sekarang dia lagi nyantai berbicara dengan tukang ojek sambil ngerokok, emang kebiasaan tu anak, udah di bilangin juga jangan ngerokok lagi. Tapi masih aja bendel gitu, namun aku sih kagak peduli karena aku malas ikut campur dalam hidup orang lain, walaupun dia kakak kandungku.
Setelah dari pasar kami menuju pesantren Darussalam Martapura, untuk memberikan uang jajan untuk Ibrahim. Sekalian aku juga bayarin uang sekolahnya untuk dua bulan kedepan, biar nggak terlalu ngerepotin sodara lainnya bayar SPP sekolah Ibrahim. Setelah memberikan pesan-pesan dan sedikit wejangan, kami kembali melanjutkan perjalanan pulang. Langit mulai mengitam karena gumpalan awan yang hendak meruntuhkan air ke bumi ini. Semoga aja sampai rumah sebelum hujan, biar oleh-oleh yang kubeli kagak basah.
__ADS_1