
Sebelum lanjut nontonin pasangan ribut, lebih baik beli es cendol dulu, sama kakek pedagang cendol yang sedang berteduh di kejauhan sana. Sebelum menuju kakek penjual aku memeriksa dulu duit di kantong ada apa kagak, tapi untungnya di kantong celana ada uang sebesar 10 ribu. Kakek itu terlihat lesu dan kecapekan karena harus keliling kota menjajakan dagangannya.
"Kek! beli es cendolnya!" kataku setelah dekat si kakek
"Iya neng! kakak buatin dulu ya!" kata beliau semangat
"Setia menanti kek!" kataku sambil memberi hormat dan membuat beliau tertawa renyah
Dengan telaten beliau mencampurkan bahan-bahannya, walaupun tangan beliau getar-getir karena usia. Setelah selesai di buatin, beliau segera memberikannya padaku dengan ramah.
"Monggo di cicipin!" kata beliau sambil menutup termos es kembali
"Enak, gurih, segar! berapa kek?" kataku sambil menyeruput es cendol
"Harga spesial 5 ribu aja!" kata beliau tersenyum menunjukkan giginya yang telah copot
"Biar pas 10 ribu! lagi satu ya kek!" aku menyerahkan uang kepada beliau dengan kembali memesan
"Alhamdulillah... siap laksanakan!" kata beliau penuh syukur dan memberi hormat padaku
Aku tertawa menanggapi beliau yang terlihat bersemangat walaupun getar-getit. jadi keingat orang tua di kampung, Ibu sama bapak apa kabar disana?.
"Ini neng!" beliau memberikan secangkir cendol lagi
"Makasih kek!" sambutku
"sama-sama... kakek juga makasih udah mau di beli jualannya!" kata beliau menatapku
"Terimakasih kembali kek!! aku doa in biar dagangannya laku dan laris manis tiap harinya..." kataku di selangi menyeruput es cendol
"Amiinnn Ya Allah..." sambut beliau
__ADS_1
Setelah selesai membeli cendol aku kembali ke tempat duduk di bawah pohon beringin rimbun, sambil nonton pasangan tadi. Di tempat ini sedikit sepi dari tempat lainnya, jadi pasangan ini saling muas-muasin diri saling memaki dan membuatku ingin meledakkan tawa.
"Lo itu dasar cowok brengsek!!" kata si cewek yang kalah debat dan pergi meninggalkan si cowok
"Dasar cewek matre! jalang gila!!" umpat si cowok kesal
"Dasar pasangan aneh!!" gumamku dan terkekeh geli
Udah lebih 20 .enit aku duduk disini tapi ketiga makhluk itu belum juga nampak batang hidungnya. Mereka benar-benar membuatku geram dan kesal, singgah kemana dulu mereka bertiga tanpa diriku yang malang ini. Tiba-tiba si cowok itu terduduk begitu saja di tempat nya berdiri sambil megangin kepala. Awalnya aku mah bodi amat! tapi setelah si cowok makin aneh, akhirnya atas dasar jiwa kemanusiaan aku menghampirinya.
"Mas! masnya kenapa?" tanyaku ikut jongkok di sampingnya
"..." Dia menoleh ke arahku sambil menyipitkan matanya
"Masnya berteduh dulu di sana! kalo lagi sakit kepala nggak enak di bawah matahari terik gini!" kataku menyeramkan tempat yang lebih teduh
"Bantuin..." katanya mengulurkan tangan padaku, dia minta bantuan di bawa ke tempat teduh guys
"nyesel gue nyaranin tempat teduh, kalo akhirnya gue juga yang bantuin dia ngesot kesana! mending tadi kagak usah gue sapa... sabar... sabar...." gumamku pelan sekali
"Hahaha... bukan apa-apa!" kataku dan segera membantunya berdiri
Aku mendudukkan dirinya di kursi sebelah tempatku duduk, setelah dia melepaskan pegangannya di tanganku, aku segera kembali duduk di posisi awal sambil nyeruput es cendol tanpa mengindahkan keberadaan cowok di sebelah.
"Hei! boleh minta es cendol nya kagak? gue aus nih!" katanya sambil melirik-lirik cendolku satunya
"..." aku mengabaikannya
"Makasih..." katanya dan mengambil cendolku satunya
Lah dia malah main ambil aja cendol milikku, padahal aku nggak ngasih ijin, tapi biarlah, udah dia seruput juga, ikhlasin aja. Aku masih menunggu kedatangan trio lambat, berharap mereka segera sampai di sini. Aku mengalihkan pandangan ke segala arah, dan kulihat si kakek penjual cendol sedang sibuk melayani pembeli. Sepertinya dagangan beliau kembali mulai larias.
__ADS_1
Aku tersenyum melihat kesibukan si kakek yang telaten melayani pembeli. Angin Selatan mulai bertiup dengan sejuk di tengah-tengah terik seperti ini, menambah nuansa tenang jiwaku.
"Hei... boleh tau namanya siapa?" tanya cowok yang kuabaikan barusan
"Perusak ketenangan orang aja!" gumamku kesal
"Hah siapa?" katanya memastikan namaku
"Gue kagak ngenalin diri bego!" kataku kesal
"Siapa bego?" tanyanya pura-pura nego apa emang iya bego
"Maaf ya mas saya nggak ngenalin diri dari tadi! tapi lagi mengumpat seseorang yang kagak tau diri!" kataku padanya dengan senyum kecut
"Siapa? mantan pacarnya ya?" Aku nepuk jidat
"Hmmm... iya..." kataku dengan wajah kesal
"Yang sabar ya mbak! mungkin dia bukan cowok yang baik buat mbak! makanya Tuhan misahin!" katanya menyemangati ku
"..." aku tersenyum (harusnya gue yang ngomong gitu ke kamu mas) rintihku dalam hati
"Mbak liat sendiri kan tadi, saya baru aja putus sama pacar saya yang udah berhubungan setahun lebih... hanya karena saya miskin dan nggak bisa menuhin setiap permintaan dia..."
"..." aku masih senyum (lah ni orang malah curhat) geramku sebenarnya
"Nasib kita sama mbak... sama-sama di sakitin sama orang yang kita cintai!" katanya lanjut
"Guys! gue disini!" Aku berdiri setelah melihat ketiga orang yang kutunggu-tunggu datang
"Temannya ya mbak?" tanya si cowok ikut berdiri
__ADS_1
"Gue tinggal dulu kalo gitu..." kataku dan segera berlari menghampiri mereka sebelum tu cowok ngomong lagi
Dengan secepat kilat aku melangkahkan kaki menuju rombongan trio lambat yang udah nambah orang. 1 2 3 4... mereka jadi bertujuh, padahal tadi berangkat cuma bertiga. Yaudahlah nggak usah di ambil pusing, yang penting gue lepas dari cowok aneh itu.