JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Penyesalan


__ADS_3

Saat membuka mata aku mendapati diriku yang tengah di infus di salah satu kamar pasien, kulihat gadis, maksudku adiknya dari Ain sedang tidur di tempat tidur pasien satunya. Setelah ingatakaku pulih tentang kepergian Ain yang terjadi secara tiba-tiba membuatku kembali merasa kesal dan entah mengapa aku malah kembali menangis terisak. Aku menutup wajah dengan kedua tanganku, saat ini aku tidak ingin melihat dunia ini untuk sementara waktu.


Aku marah dengan diriku sendiri, karena tidak tahu apa-apa tentang penyakit yang di derita Ain. Dan sialnya selama ini aku banyak makan keringat dan semangat Ain dalam mencari uang, yang di gunakannya untuk menghibur hari-hariku. Seharusnya aku tidak bertemu saja dengan Ain sejak awal, agar semua ini tidak terjadi dalam hidupku yang nantinya akan penuh penyesalan.


"Sayang..." panggil sebuah suara yang sangat kukenal dengan hangat


"..." aku tercengang saat membuka tangan dari wajahku


"Ini bukan salah kamu! Semuanya memang salah ku sejak awal... sebelum bertemu kamu, aku udah mengidap penyakit ini... jadi ku mohon jangan salahkan diri kamu sendiri..." kata Ain hangat di telinga


"Aku... kenapa aku harus berhalusinasi tentang kamu gini sih.." kekehku kesal


"Hei.. sayang... aku minta maaf! Karena nggak bisa menuhin janji ke kamu... sebagai tebusannya... aku telah bertemu dengan Tuhan dan meminta agar kamu segera di jodohkan dengan laki-laki yang lebih baik dari aku... di saat yang kamu inginkan!" Kata Ain menempelkan wajahnya dengan wajahku


"Semoga saja... di dunia ini aku memang memiliki jodoh!" Kataku menepis tangannya yang menyentuh wajahku lembut


"Aku minta maaf sekali lagi..." katanya dan mulai lenyap dari hadapanku


***

__ADS_1


"Ain..." panggilku lirih dan terbangun dari mimpi aneh itu


"Mbak! Mah... Mbak Ruka udah bangun!" Kata Dina adik Ain pada ibunya yang sedang duduk di kursi dengan tangan menutupi wajahnya


"Sayang... kamu udah sadar!" Kata beliau segera menghampiriku


"Mbak tenang dulu.... kata dokter harus banyak istirahat!" Cegah Dina saat aku hendak turun dari ranjang


"Ain dimana?" Tanyaku dan membuat keduanya tersenyum pilu


"Kamu harus istirahat dengan tenang! Biar besok bisa ikut mengantar Ain ke peristirahatan terakhirnya..." kata sang ibunda berusaha tegar


"Mbak! Mas Ain udah teman di sana... ikhlasin ya mbak!" Kata Dina memelukku sembari terus menguatkanku


"Tan! Aku minta maaf... karena seharusnya aku yang kuatin tante dan bukannya aku yang harus di kuatin kayak gini!" Kataku menggenggam tangan beliau dengan senyum


"..." beliau balas tersenyum dan kembali meneteskan air mata


"Din! Tan! Aku minta maaf, karena udah nyusahin..."

__ADS_1


"Kamu nggak nyusahin kok... harusnya tante yang berterimakasih sama kamu... karena berkat kamu Ain jadi lebih baik akhir-akhir ini!" Kata beliau dan memelukku


"Makasih banyak ya mbak! Karena udah bikin mas Ain tertawa dan tersenyum bahagia!" Kata Dina dan ikut memelukku


Aku tersenyum pilu mengingat bayangan Ain yang tertawa dan tersenyum saat kami bersama, ada banyak kenangan konyol dan membahagiakan dengannya. Tapi aku bingung, kenapa aku bisa begitu tidak berperasaan dengan membiarkan cintanya selama ini hanya bertepuk sebelah tangan. Seharusnya aku menyampaikan perasaanku padanya sejak awal, jika selama ini aku tidak mencintainya sama sekali, agar dia bisa hidup lebih bahagia lagi. Tanpa perasaan dan hubungan yang penuh dengan tipuan ini, meski berat mengakuinya tapi aku memang harus mengatakannya beberapa waktu yang lalu padanya.


Hidup dengan sebuah pilihan, tapi hatiku bukan sebuah pilihan yang tepat, karena hatiku memang tidak bisa menerima perasaan tulus , karena aku tidak siap untuk terluka, walaupun akhirnya terluka seperti ini bukan karena cinta. Mungkin nanti aku akan merindukan senyum dan setiap tingkah kontrolnya padaku, aku sadar jika selama ini dia hanya bersikap konyol di depanku seorang. Entah kenapa semesta malah mengirimkan dirimu disaat dan tempat yang sangat salah seperti ini.


Sempat terpikir dalam kepalaku untuk mengakhiri hubungan kami saat itu, karena aku lelah menipu perasaanku dan keyakinan Ain yang percaya jika aku juga mencintainya. Tapi aku juga takut untuk mengatakan yang sebenarnya pada Ain, aku takut ia akan menjadi pribadi yang kembali menarik diri dari kehidupan luar seperti waktu pertama kali kami berjumpa. Maaf karena aku tidak sempat membalas perasaanmu Ain, aku benar-benar minta maaf dan terimakasih atas semua kebahagian dan kenangan hangat yang telah engkau berikan.


Semoga engkau tenang di sana, aku disini akan terus mendoakan yang terbaik untukmu, agar engkau mendapatkan kebahagian yang lebih lagi di sana. Tapi saat mengingat janji yang tidak akan pernah di tepatnya malah membuatku kesal dengan dirinya, walaupun aku tahu jika dia bersungguh-sungguh saat mengatakan ingin melamar ku secara resmi. Kini kami tidak lagi berada di dunia yang sama, kuharap kami tidak saling menyakiti lagi kedepannya, dan kuharap sosok baru yang memiliki kepribadian seperti dirinya tidak datang kehidupan lagi. Jika hanya berujung pergi dan datang hanya untuk saling menyakiti seperti kali ini.


Sejak pertama aku menjalin kisah cinta, tidak akan ada yang bisa merubah kisah kita dalam pikiranku, walaupun keyakinan kita berdua berbeda. Tapi siapa sangka, titik perpisahan kita bukan ada pada keyakinan ataupun restu orang tua kita, melainkan ada pada napas yang setiap detik menemani kehidupan mu. Dan mengapa kita yang harus terjatuh terlalu dalam dalam hubungan ini, aku memang salah kerena tidak menyadari kepiluan yang akan menghampiri kita suatu hari nanti.


Dalam harapku, suatu saat nanti kita akan selalu bergandingan tangan setiap saat dalam jalinan cinta yang suci. Tapi apa yang terjadi sekarang sangatlah tidak terpikirkan dalam hidupku, pemisah kita ternyata adalah sebuah kematian bukan rintangan hidup yang akan menjadi bumbu dalam kehidupan kita. Kalimat indah pada waktunya, seakan lenyap seketika dalam kamus hidupku yang menjadi bahan tertawaan siapa saja yang ingin.


Aku pernah bermimpi agar suatu hari nanti, saat aku membuka mata di pagi hari akan melihat wajah Ain dan saat hendak menutup mata di malam hari aku juga akan memandang wajah Ain dengan senyum. Memasak masakan kesukaan Ain di setiap wktu makan, saling mengasihi di setiap kesakitan, dan merawat anak bersama hingga menua bersama seperti orang-orang. Kematian memang tidak ada obatnya, sekarang aku bingung apakah harus menyalahkan Tuhan atas kepergian Ain, laki-laki yang kuharapkan sebagai jodohku.


Aku lelah harus menjalani kehidupan yang penuh persaingan ini sendirian, ingin rasanya segera menikah dengan laki-laki yang mencintaiku dengan tulus seperti Ain. Tapi saat ini sepertinya Tuhan sedang menjadikan jodohku sebagai teka-teki yang harus kucari dengan teliti diantara tumpukan umat-Nya yang sangat banyak ini. Entah di bagian belahan dunia mana Tuhan menyembunyikan jodohku yang sebenarnya, hingga hati ini menjadi semakin kebal dengan nama cinta dan perasaan suka.

__ADS_1


__ADS_2