
Di karena kan atasanku yang angkuh ini menghadiri rapat yang biasanya tidak pernah di hadirnya, hampir seluruh orang yang ada di ruangan ini menoleh ke arahku. Dia yang jarang ikut rapat kenapa malah aku yang mereka tatap dengan pandangan penuh tanya, jika ingin bertanya silahkan tanyakan kepada orang yang bersangkutan. Aku hanya bisa tersenyum menanggapi pandangan semua orang yang meminta penjelasan, karena si tuan muda angkuh untuk pertama kalinya menghadiri rapat.
Sejak masuk ke dalam ruangan Tian hanya diam membuatku sedikit takut jika dia berulah, tapi sampai akhir rapat, dia hanya diam. Entah kenapa malah membuatku merinding melihatnya yang santai namun terkesan membingungkan itu. Setiap kali Tian berdehem karena tenggorokan nya terasa lengket sehabis minum kopi, semua orang malah terdiam membuat suasana menjadi tegang. Bahkan pak Presdir pun tidak melepaskan sedetik pun tatapannya dari Tian yang terlihat mendengarkan jalannya rapat.
"Tunggu dulu... kenapa perusahaan sebesar ini harus ikut campur ke dalam masalah kecil seperti itu?" Kata Tian memotong penjelasan pembicara di depan
"Ya... itu... itu karena..." pembicara itu bingung hendak menjawab pertanyaan mendadak Tian
Tian menanyakan pertanyaan umum tapi orang itu tidak bisa menjawabnya, apakah pertanyaan mendadak Tian terlalu sulit di jawab atau karena orang yang bertanya terlalu mengerikan. Semuanya terdiam, hanya ada suara membalik halaman dari kursi presdir serta suara mesin yang memenuhi ruangan. Setelah bertanya Tian tidak angkat bicara lagi, karena dia hanya memiliki satu pertanyaan hingga membuat suasana semakin menegang.
"Sepertinya bapak yang harus menjelaskan kenapa sampai menanyakan hal itu? Kepada semua orang!" Aku melangkah maju membisikkan kalimat tersebut di telinganya
"Apakah harus?" Dia balik nanya dan menatapku, saat ini aku ingin menepuk jidatku sendiri
"Jika bapak tidak menjelaskannya... mungkin suasana ini akan terus berlanjut!" Kataku lagi membisikkan padanya
"Akhmmm... maksud saya! Kenapa kita membicarakan masalah kecil di rapat sebesar ini? Bukankah masalah itu cukup di serahkan pada bagian departemen perhubungan untuk menyelesaikannya... saya pikir rapat ini akan membahas tentang masalah besar yang mengancam keamanan dan ketenangan perusahaan!" Kata Tian membuatku kembali bernafas lega
"Saya setuju dengan pendapat pak CEO... lain kali saya hanya akan menerima masalah besar di rapat seperti ini... silahkan bubar, rapat selesai!" Kata presdir membubarkan rapat
"Baik pak..." sahut semuanya sebelum berdiri dari kursi masing-masing
__ADS_1
"Tunggu... CEO dan sekretarisnya tetap di tempat!" Kata pak Presdir membuatku kembali ke tempat semula
Setelah semuanya keluar dan hanya menyisakan kami bertiga di ruangan ini, malah membuatku sedikit takut. Soalnya kedua orang yang ada di ruangan ini pangkatnya tinggi sekali, sedangkan aku hanya sekretaris kontrak. Lama keduanya hanya saling diam, dan tatap-tatapan, udah kayak liat sinetron yang bertajuk pada cinta sesama jenis. Eits, mereka berdua adalah kakek dengan cucu, kenapa aku malah mikir nya begitu.
"Ekhhmm... Nak Ruka silahkan duduk!" Kata presdir padaku
"Baik pak!" Aku sempat kaget tapi akhirnya memilih duduk berjarak satu kursi dari pak CEO
"Anda membuang-buang waktu kami..." kesal Tian saat pak Presdir tidak mengatakan apa-apa lagi
"Baiklah... karena waktu kalian sangat penting kakek tidak akan bertele-tele lagi... kakek ingin kalian berdua menikah!" Kata beliau terdengar seperti permohonan
"Kakek harap kalian bisa memenuhi permintaan dari pak tua ini... penerus perusahaan ini hanya tersisa kamu satu-satunya... Sebelum kakek pergi... kakek berharap kamu menikah dengan wanita yang baik seperti nak Ruka!" Kata beliau menatap Tian pilu
"Tapi saya bukan wanita yang baik pak! Saya hanya mencintai uang... jika saya menjadi istri pak Tian, mungkin saya hanya akan membuatnya sengsara... karena saya tidak bisa masak, malas mencuci pakaian, tidak becus beres-beres rumah, tidak mencintai dan bukan orang yang di cintai pak Tian... saya buruk dalam segala hal!" Kataku mencari alasan untuk menolak
"Apakah anda bercanda?" Kata Tian menatap tajam ke pada pak Presdir
"Kakek tidak bercanda... harapan ayahku untuk hidup sangat tipis! Dan hanya ada kamu penerus satu-satunya dari keluarga ini!" Kata pak Presdir memelas
"Bukankah masih ada para tikus tanah yang selalu bersama kakek!" Kata Tian terkekeh geli
__ADS_1
"Para paman mu itu hanya akan menghancurkan perusahaan ini... mereka terlalu rakus untuk mendapatkan perusahaan sebesar ini... dan hanya kamu yang bisa menjalankan perusahaan sesuai harapan kami... tentu saja di dampingi oleh wanita yang tepat!" Kata pak Presdir menatapku
"Tapi saya benar-benar tidak bisa menerima hal ini pak... saya minta maaf! Permisi pak!" Kataku segera keluar ruangan dengan kesal
Biarkan kakek dan cucu itu berbincang dan berdebat, jika bisa sampai saling cakar dan bunuh juga tidak masalah bagiku. Apa-apaan ini, kenapa ceritanya jadi seperti ini, permintaan pak Presdir barusan seperti impianku selama ini. Setiap kali aku membaca novel romance tentang CEO, aku juga memimpikan menikah dengan seorang penerus perusahaan keluarganya. Tapi aku tidak menyangka jika keinginanku yang bisa di bilang bercanda menjadi kenyataan seperti ini. Lagi pula aku baru tiga hari bekerja di siang pak CEO, tapi kenapa pak Presdir sangat percaya jika aku adalah calon cucu mantunya.
Hal ini benar-benar diluar akal sehat, aku tidak masalah menikah dengan siapapun, asalkan jangan dengan orang yang pernah membuatku muak. Sejak awal bertemu Tian dua hari yang lalu aku bukannya muak padanya, tapi hanya merasa jijik dengan pergaulannya yang terlalu bebas. Sepertinya Tuhan ingin bermain-main dengan hidup ku lagi, kita lihat sampai mana permainan kali ini akan berlanjut.
"Ru! Tunggu dulu!" Teriak Tian memanggil namaku saat masuk lift
"..." Aku mengabaikannya, dan memencet tombol sembarangan yang entah membawaku kemana
Aku bengong sendirian di dalam lift, sumpah aku benar-benar kaget dengan permintaan pak Presdir. Walaupun aku menerima permintaan beliau dan menikah dengan Tian, pasti kisah hidupku bakal memilukan seperti novel-novel yang pernah ku baca. Setiap malam kedinginan di rumah mewah menunggu kepulangan suami yang suka main cewek dan mabuk-mabukan. Di tambah dengan anggota keluarga yang tidak setuju dengan pernikahan yang telah terjadi, membuatku hidup seperti gadis novel.
Pintu lift terbuka di lantai kantor CEO, tidak tahu mengapa malah sampai disini, aku melangkah keluar. Lebih baik mengalihkan pikiran konyol ini dengan bekerja dan bekerja.
"Mbak Ruka! Makasih kopinya!" Sapa salah satu karyawan yang melihatku lewat
"Eh... sama-sama!" Kataku dengan senyum ramah
Akhirnya semua karyawan di lantai ini berterimakasih padaku karena kopi yang ku belikan untuk mereka sebagai hukuman dari pak CEO. Aku senang jika mereka menikmati kopi pemberian ku, hingga membuat pikiranku kembali berpikiran normal. Sekarang aku melangkah menuju meja kerja, aku harus menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin agar hari ini bisa pulang lebih awal.
__ADS_1