JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
LOVE YOU TOO


__ADS_3

"sayang buka pintunya... Ikannya udah selesai aku masak nih!" Panggil Tian dari luar


"..." Aku hanya diam malas menanggapinya


"Kalo kamu nggak keluar... Aku bakal dobrak pintunya!" Teriak Tian yang masih tidak kuhiraukan


"Dobrak aja..." Kalimatku terhenti karena tiba-tiba pintu terbuka setelah Tian menghancurkan kunci pintu


"Sayang..." Katanya puas setelah melihatku yang sedang kaget di sofa


"Kamu nggak tukerin ikannya dengan yang lain kan?" Tanyaku menatap ikan goreng di atas piring


"Nggak dong... Kan kamu yang mau masa aku tega tukerin ikannya!" Kata Tian setelah meminta semua keluar


"Kamu yakin?" Tanyaku masih meragukannya


"Tuh liat aja... Belang tubuhnya masih ada..." Kata Tian memperlihatkan warna merah pada tubuh ikan goreng


"Hmmm..." Aku masih curiga


"Sayang! Kamu ih curigaan banget... Sini biar aku yang suapin..." Katanya memintaku membuka mulut


Rasanya sama saja seperti ikan arwana puluhan ribu sekilonya, nggak ada yang spesial, malahan lebih gurih daging ikan sungai dari ni ikan. Walaupun rasanya biasa saja, aku tetap menghabiskan dua porsi nasi, mungkin karena perut lapar. Setelah selesai makan Tian memintaku untuk meminum obat yang katanya untuk melancarkan pencernaan.


"Sayang... Aku masih laper!" Kataku saat Tian memindahkan tubuhku ke kasur


"Kamu masih laper... Wajar sih, kamu kan belum makan dari kemarin..." Katanya manggut-manggut


"Sekarang aku mau makan mie!" Entah kenapa aku malah jadi kepikiran nasib mie di tempat sampah


"Tapi... Yaudah aku masakin bentar!" Katanya pasrah setelah mendapat tatapan memelasku


"Makasih sayang..." Kataku sebelum Tian keluar


"Love you..." Katanya di depan pintu


"..." Aku membalasnya dengan senyum


"Sayang... Love you..." Katanya masih di depan pintu


"Hmmm..." Sahutku masih tersenyum

__ADS_1


"Sayang... Love you..." Katanya dan kembali menghampiriku lalu memeluk pinggang ku


"Kamu kenap sih?" Tanyaku bingung


"Love you..." Katanya gemesin


"Iya..."


"Kalo aku bilang love you kamu balas dong bilang love you too..." Rengeknya membuatku paham


"I LOVE YOU..." Aku memberikan kecupan hangat di bibirnya


"I LOVE YOU TOO..." sahutnya dan malah jadi ciuman penuh nafsu


"Udah... Aku masih mau makan mie!" Aku mendorong tubuhnya agar menghentikan aksinya


"Tapi aku masih..."


"Kalo kamu nggak mau masakin! aku bisa masak sendiri!" Kataku memotong kalimatnya


"Yaudah iya... Aku masakin... Tapi setelah itu kamu siap-siap aja aku makan!" Katanya membuatku bergidik


"Love you..." Katanya sebelum melewati pintu


"Love you too..." Sahut ku dan membuatnya tersenyum puas


Sambil menunggu mie datang aku menyalakan telivisi untuk mencari sesuatu untuk di tonton. Setelah menyalakan telivisi tiba-tiba malah jadi kebelet pengen pipis, tapi males jalan ke kamar mandi. Kebiasaan yang nggak baik nih, akhirnya aku melawan kemalasan dengan menuju masuk kamar mandi. Saat mencuci muka aku baru sadar kalo sekarang udah pukul 3 lebih sedikit.


"Ternyata udah pagi!" Gumamku menatap wajah di cermin


Saat hendak balik ke kasur, aku melihat kalender dan sedikit kaget sih, karena udah selama ini haidku belum datang. Biasanya kan selalu datang di tengah bulan tapi sekarang udah lewat dari jadwal.


"Apa jangan-jangan hamil lagi!" Gumamku dan menyentuh perut yang terasa ada benjolan


"Kalo di itung-itung udah lewat 2 bulan kan nggak ada tamu..."


"Tamu! Kamu ngomong apaan sih?" Tanya Tian yang datang lalu memeluk ku


"Coba kamu pegang deh... Kamu ada ngerasain sesuatu yang menonjol nggak di perut aku?" Aku menarik tangannya untuk mengelus perutku


"Kan kamu habis makan..."

__ADS_1


"Iya juga sih... Toh aku nggak mengalami gejalanya!" Kataku lirih


"Emang kenapa sih?" Tanya Tian dan memelukku dari belakang


"Aku... Uhhh... Sayang..." Desahku saat tangan nya menggerayangi tubuhku


"Hmmm..." Sahutnya menikmati suasana


"Sa...sayang..." Kaget ku saat dia melepas bajunya


"Saatnya giliran aku yang makan..." Katanya dan menarikku ke dalam pelukannya


"Sayang...." Aku meremas-remas rambutnya saat Tian menggigit tubuhku


Sekarang pikiranku penuh dengan Tian, Tian dan Tian yang saat ini ada di depanku. Perasaan tadi siang aku masih kesal dengan sikapnya tapi kenapa sekarang malah terpikat oleh pesonanya saat ini. Setelah dipikir-pikir seperti nya aku mulai menaruh perasaan pada Tian tapi entah sejak kapan, dan itupun aku belum terlalu yakin dengan apa yang kupikirkan.


Saat ini aku masih harus mengontrol perasaanku agar tidak terlalu bergantung pada Tian. Karena permainan hidup tidak akan berakhir sebelum kematian menjemput, aku takut Tuhan kembali memberikan kejutan diluar kendaliku saat aku mulai mencintai sosok suamiku sekarang. Aku harus tetap waspada walaupun sedang bahagia dan di kelilingi kebahagian seperti saat ini.


"Sayang... Aku mau berhenti kerja!" Kataku saat kami istirahat di bawah selimut yang sama


"Kenapa?" Tanya Tian dan semakin mengeratkan pelukannya


"Aku mau siap-siap buat kehamilan! Siapa tau setelah aku berhenti kerja bisa hamil!" Kataku berbalik memeluknya


"Aku setuju... Saatnya kita siap-siap jadi orang tua!" Kata Tian dan mengecup puncak kepala ku


"Makasih sayang...!" Entah kenapa aku merasa sangat bahagia mendengar kalimatnya barusan


Sejak hari pertama menikah aku selalu di berikan cinta dan kasih sayang oleh Tian. Sekarang saatnya aku membalasnya dengan cara melahirkan anak yang akan menjadi bukti ketulusanku.


"Besok aku mau cek ke dokter kandungan... Biara tau seberapa siap rahim aku dengan kehadiran si kecil!" Kataku lirih dan semakin merapat pada Tian


"Biar aku temenin!" Katanya semangat


"Tapi jadwal kamu besok padat loh!" Kataku mengingatkan nya dengan jadwal yang setumpuk


"Kan tinggal di kosongin!" Katanya mengedipkan sebelah mata


"Kalo gitu kapan aku bisa berhenti kerjanya... Kalo kamu bikin kerjaan aku tambah banyak!" Kesalku padanya


Tian hanya terkekeh mendengar kekesalan ku, tapi entah kenapa aku merasa sangat senang. Detak jantung Tian terdengar sangat cepat berbeda dengan detak jantungku yang masih berdetak normal, rasanya wajahku memerah saat membayangkan cinta Tian hanya untukku sebesar ketulusan nya.

__ADS_1


__ADS_2