
Setelah menghabiskan martabak telor film horor yang sedang kami tonton juga hampir selesai. Cuma mau ngeluarin isi hati yang selama ini mengganjal aja, jadi gini. Aku tuh bingung, kenapa kebanyakan film horor jaman sekarang banyak dramanya ketimbang setannya yang muncul. Anehnya lagi semakin kesini makin aneh aja film horor jaman sekarang, kagak kayak dulu lagi yang suka banyak adegan kejutannya. Padahal sutradara dan penyunting cerita masih sama orangnya itu-itu juga, tapi kenapa banyak banget perbedaannya dengan yang dulu.
Tapi biarlah, yang penting masih ada yang mau berkarya di bidang penyuntingan film horor gini. Film horor yang sangat kusukai itu, kalo ada Bang Aziz Gagap sama siapa itu lagi satunya! lupa. Tapi aku suka banget kalo ada mereka di film horor yang aku tonton, soalnya tingkah kocak mereka selalu membuat ku mikir seribu kali. Kenapa mereka bisa bersikap kocak gitu di hadapan sosok yang mereka takuti, bukannya lari malah masih sempat-sempatnya bikin lelocon.
"Black... sekarang Lo keluar! gue mau tidur!" usirku pada Blacky yang sibuk memainkan ujung tali kelambu
"..." Blacky menatapku dengan tatapan imutnya
"Maaf ya Black! gue bukan manusia yang bakal kepincut makhluk imut kayak Lo!" kataku dan segera menenteng Blacky keluar kamar
Setelah meletakkan Blacky di sofa, aku segera kembali ke kamar untuk segera istirahat agar besok bisa bangun pagi. Pintu kamar sengaja ku kunci, biar ketiga makhluk kamar sebelah tidak memasukkan Blacky ke kamarku lagi seperti malam kemarin. Kata mereka Blacky meringkuk di depan kamarku semalaman hingga membuat mereka kagak tega dan memasukkan si kucing itu ke kamarku. Hingga paginya membuatku kaget sekaligus kesal karena tu kucing tidur satu bantal denganku.
Bukannya alergi terhadap kucing atau apalah itu, yang jelas aku tidak menyukai yang namanya binatang jenis apapun itu. Mau selucu dan seimut apapun binatang itu, aku tetap tidak menyukai mereka. Jangan tanyakan alasannya, karena aku jika ingin membenci sesuatu kagak perlu alasan yang jelas. Jika kukatakan kagak suka ya kagak suka.
Saat sedang enak-enaknya rebahan sambil merem, tiba-tiba ada telpon masuk dan berdering begitu nyaring hingga mengusik telingaku. Masih dengan rebahan aku menggapai ponsel dan kulihat di layar ternyata panggilan video call dari grup wa keluarga. Setelah ku tekan tombol hijau wajah ke delapan saudaraku terpampang jelas di layar ponsel.
"Assalamualaikum guys..." sapaku dengan senyum
"Wa'alikumsalam..." sahut mereka bersamaan
"Uka... Uka... kapan pulang ke rumah?" tanya adikku yang paling kecil
"Mungkin Minggu depan! nunggu jadwal praktek kelompok!!" kataku dan menguap lebar di ikuti yang lainnya
"Kalo mau pulang sama Gafar aja! biar hemat biaya!" kata kak Nur kakak paling tua
"Sip sip okeh!!" sahutku
"Ibrahim mana Ibrahim?" panggil kak Disi pada adikku yang sedang mengenyam pendidikan di pesantren Darussalam Martapura
"apa... apa... bagi duit kah?" sahutnya
"Martabak mau?" tanyaku padanya
__ADS_1
"mana? mana?" sahut semuanya
"Lagi di jalan kemari... Ari katanya beliin martabak telor lagi di jalan mau nganter ke kos!" kataku yang membaca pesan
"Pak... Bu... Ruka di beliin martabak sama pacarnya!!" teriak kak Nur laporan yang kagak-kagak ke bapak dan ibu
"Hoax... hoax... kawan biasa doang pak!!!" teriakku mengonfirmasikan kalimat bohong kak Nur
Wajah bapak sama ibu ikut di tampilkan di layar ponselku oleh semua saudara, hingga membuatku sedikit takut. Kalo tiba-tiba bapak marah, karena salah paham dengan hubungan ku dan Ari, tapi syukurlah bapak hanya senyum. Tapi beda lagi dengan ibu yang ikut-ikutan mengataiku pacaran dengan Ari. Percakapan menjadi semakin seru karena bapak dan ibu juga ikut bicara menanyakan kami para anaknya yang sedang berada di perantauan demi menimba ilmu.
"Kak Gafar! kalo mau martabak ambil aja ke kosan! aku tadi udah makan martabak di beliin temen satunya... tuh martabaknya udah nyampe di depan pintu... tinggal dulu bentar ya? mau ngambil martabak!" kataku dan segera membukakan pintu
Saat membuka pintu terlihat Ari sedang sibuk dengan ponselnya, mungkin sedang mengirim pesan padaku. Ari mengantar martabak di temani oleh Rizal teman yang juga satu prodi dengan kami berdua.
"Eh... Ru! ini gue bawain martabak yang Lo mau!" kata Ari memperlihatkan kantong kresek hitam besar di tangannya
"Widih... di beliin martabak sama cowok pujaan satu kampus nih! moga aja besok gue kagak kena labrak sama cewek-cewek satu kampus!!" candaku dan membuat mereka terkekeh
"Uwuu... soswiet banget sih... makasih ya Zal!" kataku sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Rizal yang tersipu malu
"Sama-sama..." katanya lirih
"Udah kita cuma mau nganterin itu doang... kalo gitu kita pamit dulu ya!" kata Ari kembali ke atas sepeda motor
"Sip sip makasih banyak ya!" kataku dengan senyum
"iya sama-sama... Assalamualaikum..." kata mereka bersamaan dan menyalakan mesin motor
"Wa'alaikumsalam... hati-hati dijalan!" teriaku dan di balas acungan jempol Rizal
Setelah mereka menghilang di persimpangan jalan, aku segera kembali ke kamar dan kembali ikut gabung keluarga yang sedang asik bercanda.
"Mana? katanya ada martabak!" kata kak Nur saat wajahku kembali tampil di layar
__ADS_1
"Nih! isinya bukan cuma martabak, masih ada makanan ringan dan beberapa kaleng minuman!" kataku setelah memeriksa isi kantong kresek
"Cus... ku ambil ke kosan!" kata kak Gafar
"Sip sip ditunggu... Ibrahim! kalo mau juga ambil kesini!" kataku dan memperlihatkan kantong kresek
"Jauh ***!" kesalnya
Satu-persatu mulai keluar dari video call, karena kehabisan topik, tepatnya tidak ingin memperpanjang topik bahasan karena udah malam. Setengah jam kemudian suara kendaraan kak Gafar terdengar berhenti di luar kosan. Aku segera keluar membawa kantong kresek yang telah kuambil sebagian Snack dan minuman kalengnya.
"Assalamualaikum..." teriak kak Gafar
"Wa'alaikumsalam..." sahutku dan segera membuka pintu
"Mana martabaknya?" pinta kak Gafar tanpa bertele-tele
"Nih! jangan lupa di habisin!" kataku dan menyerahkan kantong kresek
"Pasti habis!!" sahut Rahman kawan satu prodi dengan kak Gafar
"Eh... Rahman! sejak kapan ada di sana?" candaku
"Dia anak nya ajaib! tadi sebenarnya kagak diajak ke sini, tapi tau-tau nemplok di ban!" canda kak Gafar sambil jalan menuju motor
"Hahaha... iya in aja!!" sahut Rahman
"Hehehe... hati-hati dijalan pulangnya! jangan ngebut!" kataku saat mesin motor di nyalakan
"Okeh... Assalamualaikum!" kata mereka bersamaan
"Wa'alaikumsalam!!" sahutku dan melambaikan tangan ke arah mereka
Setelah motor kak Gafar menghilang di tikungan aku segera kembali ke kamar dan menguncinya. Setelah berbaring beberapa saat aku terlelap dalam tidur, dengan perut yang kenyang diisi martabak telor pemberian Haris. Ternyata ada aja orang yang peduli dengan diriku yang aneh ini, kukira diriku ini tidak akan ada yang peduli seperti malam ini. Terimakasih Ya Allah. karena engkau memberikan orang-orang yang peduli pada hamba.
__ADS_1