
Keesokan paginya aku terbangun lebih awal dari biasanya karena rasa haus yang membuat kerongkongan ku terasa kering. Tian masih tertidur pulas di sampingku, wajahnya terlihat tenang dan damai membuat senyum merekah di wajahku. Suara ngorok Tian terdengar samar-samar, membuatku terkikik geli entah kenapa. Aku melihat ada barisan helai rambut yang membentang di bawah hidung nya membentuk kumis tipis.
Biasanya Tian selalu merawat wajahnya dengan baik, tapi entah kenapa sekarang malah membiarkan kumis tipis menghiasi wajahnya. Aku merasakan guratan ketegasan di setiap lekuk wajahnya yang memang indah. Tanpa sadar tanganku bergerak menelusuri wajahnya dengan pelan dan lembut, agar Tian tidak terbangun.
"Hmmm... Kamu udah bangun sayang!" Tanya Tian yang terusik dari tidurnya
"Aku bangunin kamu ya... Maaf!" Kataku menarik tangan dari wajahnya, namun ditahan oleh Tian
"Nggak juga!" Katanya dan mengecup tanganku lembut
"Sayang...nanti siang aku mau pergi keluar boleh kan?" Tanyaku setelah lama hening
"Kemana?" Tanya Tian balik sa.bil mengelus perut ku
"Aku mau ketemu temen kuliah... Beberapa hari yang lalu aku ketemu dia di depan perusahaan! Dia ngajakin aku mampir di restoran yang dia kelola... Boleh kan aku pergi?"
"Hmm... Gimana ya... Aku kasih ijin tapi perginya harus sama bibi!" Padahal Tian terlihat tidak akan mengijinkan
"Harus sama bibi ya?" Tanyaku memelas agar pergi sendirian
"Harus! Biar kamu nggak mesan makanan yang aneh-aneh buat Dede bayi!" Katanya tegas dan mencium perutku
"Tapi kan nggak enak kalo bawa bibi..." Kataku memelas agar di ijinkan pergi sendiri
"Kenapa harus nggak enak? Atau kamu mau aku yang temenin pergi?" Katanya membuatku sedikit berharap
"... Tapi kan kerjaan kamu banyak!" Gumamku lirih sambil memainkan jari
"..." Tian hanya tersenyum dan memelukku lembut
Tidak lama kemudian kumandang adzan subuh terdengar dari kejauhan, membuatku kembali terbangun, setelah terlelap lagi dalam pelukan Tian barusan. Dari kamar mandi aku juga mendengar suara gemericik air, saat membuka mata Tian memang udah nggak ada di sebelahku. Aku bangun untuk merenggangkan otot-otot yang ada di tubuhku, sekalian mau mandi lalu sholat subuh.
"Kok bangun lagi?" Tanya Tian saat keluar dari kamar mandi dan melihatku berdiri sambil memainkan hp
__ADS_1
"Kan mau sholat bareng kamu!" Entah kenapa aku malah terdorong ingin mencium pipinya yang masih basah oleh air
"Sekalian mau mandi juga? Biar aku siapin airnya buat kamu..."
"Nggak usah! Aku bisa sendiri... Bentar ya aku mau mandi sekalian wudhu dulu!" Aku segera masuk kamar mandi tidak lupa kunci pintu😜 takut ada yang masuk v:
Set sat sut... Tidak usah lama-lama urusan di kamar mandi udah selesai, saatnya keluar menemui calon ayah dari anak-anak ku. Ternyata Tian udah nunggu kedatanganku di atas sajadah yang telah di gelarnya dekat jendela balkon, bahkan mukena dan sajadah ku juga sudah ada di sana. Aku segera menghampiri Tian yang menyambutku dengan senyum indahnya.
"Biar aku bantu pasangin!" Katanya menawarkan diri memasangkan mukena atasku
"Makasih sayang!" Aku merasa terharu
"Cantik... Aku harap nanti anak kita seperti kamu semua..."
"Tapi aku maunya mereka mirip kamu!" Kataku sambil mengelus perut
"Mirip kamu aja... Kamu kan cantik, manis, imut, perhatian, penuh kasih sayang, pengertian, sabaran..." Aku menutup mulutnya dengan tanganku pelan
"Di larang muji berlebihan!!" Aku malu guys di puji suami sendiri
"Kan malu jadinya...!" Aku menutup wajah dengan kedua tangan karena malu
"Hihihi... Kamu kok bisa imut banget gini sih!!" Gemasnya mencubit pipiku
"Udah ih... Kapan sholat nya nih..." Kataku mengalihkan pembicaraan
"Love you sayang..." Katanya lalu mengecup keningku
"Love you to... Calon ayah!" Sahutku tidak mau kalah
Setelah puas rayu-rayuan akhirnya kami segera melaksanakan sholat subuh dengan di imami Tian. Suara merdu Tian saat menyenandungkan ayat suci membuatku merinding di barengi rasa bahagia tiada tara. Tidak sia-sia aku menyetujui lamaran dadakan nya waktu itu, jika akhirnya akan seperti ini. Walaupun dulu dia pernah melakukan hal yang menyimpang dari anjuran agama dan mendekati larangan agama.
Tian berubah seutuhnya bukan karena paksaan ataupun permintaan paksa dariku, tapi murni dari dirinya sendiri. Aku bukan wanita pertama yang ditidurinya, aku juga bukan wanita pertama yang di cintainya, dan aku juga bukan wanita pertama yang membuatnya berubah. Tapi satu yang ku yakini, yaitu aku adalah wanita pertama yang sholat sebagai makmum di belakangnya, dan di antara seluruh wanita yang pernah di kenal dan mengenalnya hanya akulah yang benar-benar merasa sangat beruntung memilikinya.
__ADS_1
Aku tidak masalah jika suatu hari dia berminat melakukan poligami, maka dari itu sejak tahun pertama pernikahan kami, aku tidak pernah mempermasalahkan tentang perselingkuhannya yang terlalu absurd itu. Walaupun Tian telah menjelaskan jika selama setahun belakangan dia tidak pernah tidur dengan para selingkuhannya dan meminum minuman keras lagi, aku tidak merasa di rugikan jika dia melakukan hal yang sebaliknya dari apa yang dia katakan.
"Sayang! Kamu pergi ketemu temen kamu nanti jam berapa?" Tanya Tian saat aku memasangkan dasi untuknya
"Mungkin saat waktu makan siang! Kenapa?" Tanyaku balik
"Ohh... Nggak apa-apa, cuman nanya kok!"
"Aku kira kamu bakal nyamperin aku nanti..." Entah kenapa aku jadi kesal
"Kalo aku nggak sibuk... Pasti bakal nyamperin kamu kok! Jangan cemberut gitu dong... Kan jadi tambah imut!" Katanya mencubit pipiku gemes
"Bisa nggak gombalannya di kurangin..." Kataku memeluknya karena tersipu malu
"Hihihi... Kayaknya nggak bisa deh... Soalnya kalo kamu di gombalin malah tambah gemesin..." Tawanya senang dan balas memelukku
"Sayang!" Panggilku lirih masih dalam pelukannya
"Hmm... Kenapa?" Tanyanya lembut
"Sekarang aku udah nggak bisa bedain sifat kalian lagi loh... Tapi aku masih bisa tau dari aroma tubuh kalian yang beda-beda setiap kalinya! Aku takut..." Entah kenapa aku merasa terhenyak sendiri dengan kalimatku
"Takut kenapa?" Tanya Tian khawatir
"Takut kamu ninggalin aku pergi saat aku udah mulai membuka hati... Aku... Takut...!" Tangisku pecah dalam pelukan Tian
"Shhuuuttt... Udah jangan nangis lagi... Nanti jeleknya ilang semua..." Katanya menenangkan ku
"Kamu ih..." Kesalku memukul dadanya pelan
"Aku janji nggak bakalan ninggalin kamu... Kamu harus percaya itu! Yang bisa misahin kita hanya satu...kematian! Hanya kematian yang akan misahin kita... Tapi aku harap kamu hidup dengan lebih bahagia lagi setelah aku di jemput kematian!" Katanya menatap mataku tajam dan membuatku semakin sedih
"Pokoknya aku mau sehidup semati sama kamu... Bagaimanapun cerita kedepannya! Aku bersumpah atas nama cinta... Jika hanya akan ada satu suami untukku di kehidupan ini, dan orang itu adalah kamu... Berjodoh ataupun tidak!" Marahku padanya yang membahas tentang kematian, kan jadi keingat Ain😭
__ADS_1
Mungkin jika Ain masih ada di dunia ini, yang sekarang ada di pelukanku bukan Tian melainkan Ain. Walaupun ceritanya akan berbeda dari perjalanan kisah pernikahan ku sekarang. Menikah belum tentu berjodoh, maka dari itu aku masih menunggu akhir kehidupan ku biar tau siapa yang sebenarnya adalah jodohku di kehidupan ini. Tapi kuharap Tian benar-benar jodohku di kehidupan ini, apapun alasannya akan ku tunggu penjelasannya.