JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Panggilan Telpon


__ADS_3

Malamnya Lisa datang bertamu ke apartemen ku dengan mengajak anaknya Diera, si gadis cilik yang manis. Lisa mengatakan jika sekarang dia telah memutuskan secara tegas akan berpisah denga sang suami, karena telah mendapatkan cinta dari sang anak yang sangat di sayangi olehnya. Aku turut bahagia dengan perkembangan hubungan ibu dan anak ini, karena mereka layak bahagia dan hidup bebas bersama.


"Ru! Gue liat lo anteng-anteng aja setelah putus! Kalo mau nangis pundak gue tersedia 24jam!" Katanya bingung melihatku yang sedang asik bermain dengan anaknya


"Hmmm... mungkin karena selama ini gue nggak menaruh cinta di dalam hubungan kami! " kataku ramah namun terkesan cuek


"Jadi, selama ini lo pacaran tanpa rasa cinta gitu?" Katanya kaget


"Lis! Gue itu orang nya emang nggak punya hati, jadi maklumi aja kalo nggak ngerti apa itu cinta..." kataku dan kembali bermain dengan Diera


"Emangnya lo udah berapa lama pacaran sama Ain lo itu?" Tanyanya sambil mencomot biskuit di meja


"Hampir dua tahun... coba pasang sebelah sini!" Kataku meminta Diera meletakkan potongan puzzle


"Lama juga ya! Tapi kenapa putus?" Tanya Lisa makin kepo


"Gue juga nggak tau... tiba-tiba aja dia datang, lalu meluk gue dan bilang putus! Udah, jangan banyak tanya lagi... mending bantuin kita masang puzzle!" Kesalku dan menariknya turun dari sofa untuk ikut memasang potong demi potong puzzle


Kami bertiga sedang keasikan bermain bersama, sampai tiba-tiba sebuah panggilan telpon masuk ke ponselku yang entah kenapa hari ini sangat ku benci.


"Ru! Ain nelpon tuh!" Kata Lisa yang melirik layar hp ku


"Males..." kataku kembali mengalihkan perhatian kepada permainan kami


"Ckckck... halo! Siapa ya?" Tanya Lisa setelah mengangkat panggilan telpon yang ketiga kali


"Apa bener saya bicara dengan mbak Ruka?" Tanya suara di seberang telpon sambil menahan tangis


"Tunggu sebentar... Ru! Ada yang nyariin, suara cewek!" Kata Lisa menyerahkan hp kepadaku

__ADS_1


"Ish... lo sih suka kepo... Assalamualaikum, ini siapa ya?" Tanyaku ramah


"Mbak... Mbak, bisa ke rumah sakit sebentar nggak! Aku udah suruh supir jemput mbak ke apartemen..." kata wanita itu tengah tangisnya


"Eh... ini siapa ya? Kenapa saya harus ke rumah sakit... Ain nggak apa-apa kan?" Kataku segera bangkit berdiri dan menyambar hujan serta segera berlari keluar apartemen


"Mbak kesini aja dulu..." katanya membuat pikiranku semakin tidak tenang


"Bilang ke Ain... kalo dia sampai kenapa-napa... aku nggak bakalan maafin dia!" Kataku dan segera berlari keluar lift


Benar saja, saat hendak membuka pintu depan gedung apartemen aku berpapasan dengan supir yang tadi siang bersama Ain. Tanpa banyak kata aku segera masuk mobil dan di bawa pak supir ke rumah sakit dengan kecepatan di atas rata-rata. Sialnya saat jarak rumah sakit tinggal beberapa ratus meter lagi malah terjebak macet.


"Pak! Buka pintunya..." berlaku kesal karena pintu mobil masih terkunci


"Mau kemana nih?" Tanya pak supir membuka kunci


"Saya mau lari aja... biar cepet sampai!" Kataku dan segera berlari keluar


Aku tidak sempat memikirkan diriku sendiri saat ini, karena sekarang pikiranku sedikit kalut memikirkan apa yang terjadi dengan Ain saat ini. Aku lupa bawa hp yang tadi ditaruh di kursi mobil, hingga membuatku segera menghampiri resepsionis untuk menanyakan kamar Ain ataupun keluarganya.


"Mbak..." panggil seorang gadis muda saat aku mendesak suster mencari ruangan Ain


"Ain! Dimana Ain sekarang?" Tanyaku mencengkeram baju gadis ini dengan kencang


"Mas Ain ada di ruang operasi..." sebelum gadis ini menyeselaikan kalimatnya aku telah berlari mencari ruang operasi


Dengan mengikuti penunjuk jalan, aku dengan cepat menemukan ruang operasi yang sekarang terbuka lebar pintunya. Di dalam ruangan beraroma obat ini terdengar suara tangis yang begitu memilukan dari seorang wanita yang telah berusia, dialah ibunda Ain. Kulihat sosok pucat Ain terbaring di atas ranjang penanganan tanpa satupun alat tertempel di tubuhnya, membuatku semakin merasa sesak.


"Ain..." panggilku dan menghampiri tubuh pusatnya

__ADS_1


"..." kedua orang tua Ain menoleh ke arahku Dengan tatapan penuh kepiluan


"Ain... candaan kamu kelewatan... Ain... sayang! Kamu jangan becanda gini dong!" Perasaanku seperti terduduk ribuan jarum yang begitu menyakitkan dan membuat air mataku meleleh seketika


"..." semua orang terdiam saat mendapat kan tatapan minta penjelasan dariku


"Hei sayang... kamu udah janji bakal nikah sama aku loh! Kamu bilang mau punya anak banyak kan... oke kita akan punya banyak anak seperti bintang di langit... ku mohon sekarang kamu bangun ya!" Kataku menyentuh tubuhnya yang masih hangat namun tidak bernapas lagi


"Mbak..." kata gadis itu berusaha merangkulku kamu kutepis


"Sayang... bangun dong! Kamu jangan bercanda kayak hunian dong... bangun... sayang bangun..." tangisku pecah sambil mengguncang-guncang tubuh Ain yang diam kaku


"Mbak..." panggil nya lagi dan memelukku


"Aiinnnnn..... kamu harus bangun... aku nggak percaya kamu ninggalin janji dan sumpah kamu gini aja... kamu harus tepatin janji.... Aiinnn..." teriakku hingga parah dan roboh seketika


"...." ibunda dan adik Ain memeluk untuk menenangkan keterkejutanku


Aku masih menggunakan namanya di tengah ambang antara sadar dan tidak sadar, sekarang kepalaku terasa berat bahkan pandanganku menjadi kabur. Namun aku tidak ingin kehilangan kesadaran ini begitu saja, aku berontak di dalam pelukan kedua wanita hangat ini. Dengan kepala yang berat aku bangkit berdiri dan berusaha menghentikan para suster yang ingin memindahkan tubuh Ain ke ruang mayat.


Dengan kemarahan sekaligus rasa sedih yang tidak terkendali, aku memeluk dan mencium wajah Ain sepuasnya berharap tubuh yang mulai dingin ini kembali menghangat. Tidak ada yang menghentikan aksiku yang seperti kesurupan saat mencium wajah Ain yang telah dingin. Hingga aku menyerah dan melepaskan pelukanku dari tubuh Ain saat ibunda Ain membisikkan kata-kata pahit di telingaku.


"Nak! Ikhlas.. ikhlaskan kepergian Ain... biarkan dia tenang di sana!" Kata Beliau berusaha menguatkanku


"Akgrrhhh... dasar pembohong!" Teriakku hingga tercekik


"Sebelum... Ain menghembuskan napas terakhirnya... dia ingin meminta maaf..."


"Aku nggak akan maafin dia... jika ingin meminta maaf, Ain harus bilang sendiri!" Geramku marah memotong kalimat beliau

__ADS_1


"..." beliau memelukku semakin erat


Dadaku terasa sesak dan sangat sakit saat ini, kenangan tentang Ain berkeliaran di dalam pikiranku sekarang. Membuat pandanganku kembali menjadi hitam, dan tak berapa lama kemudian aku benar-benar kehilangan kesadaran yang telah dipertahankan selama beberapa menit. Aku sedih, aku marah, aku membencinya, karena takdirnya yang harus pergi meninggalkan kehidupan nya secepat ini. Lelucon Tuhan yang satu ini benar-benar konyol, karena sekarang aku tahu alasannya meminta putus tadi siang.


__ADS_2