JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
BELUM APA-APA SUDAH TERLUKA


__ADS_3

Suasana masih ambigu saat ini, hingga Kay keluar dari dapur dengan membawa nampan penuh menu makan malam. Pak Zion mengikutinya dari belakang dengan membawa nampan lain berisi cemilan malam. Saat ini aku masih merasa tidak nyaman dengan tatapan menusuk wanita di depan pintu itu, rasanya pengen ku jambak saja rambut pirang anehnya itu.


"Sayang... Kamu kenapa berdiri disana?" Tanya Tian kaget melihatku berdiri di ujung tangga


"Oh... Itu tadi ada yang nelpon ke hp kamu... Jadi aku bawain keluar..."


"Kenapa susah-susah di bawain keluar... Kan tinggal kamu angkat... Atau nggak abaikan..."


"Wanita itu siapa ya? Dia cewek kamu yang mana lagi..." Kataku memotong kalimatnya dan menunjuk ke arah wanita yang sedang menatap Tian penuh kerinduan


"..." Tian terdiam saat bertatapan dengan wanita itu hingga membuat nampan di tangannya terjatuh


"Tian..." Kata wanita itu berlari memeluk Tian yang masih terperangah


"Sial..." Desisku karena pecahan gelas terpental melukai kakiku


"Aku kangen kamu!" Kata wanita itu menangis di pelukan Tian, bahkan pak Zion ikut terperangah


"Ughh..." Aku berbalik segera menuju kamar karena rasa sakit di kakiku terasa sangat perih


"Sayang... Kamu..." Panggil Tian mendorong wanita itu menjauh setelah sadar dari kekagetannya


"Aku nggak apa-apa... Kalian lanjutin aja... Nanti aku turun lagi ke bawah kalo udah selesai sama urusan aku di atas..." Teriakku sebelum masuk kamar


Darah segar mengalir dari kakiku yang terkena pecahan gelas barusan, sebelum ada yang sadar aku luka. Aku udah berlari duluan masuk kamar, karena reaksi orang-orang tadi sangat lambat, bahkan pak Zion yang datarpun sampai segitunya kaget. Kaki ku hanya tergores oleh pecahan gelas, tapi kenapa lukanya sampai selebar ini dan banyak sekali darahnya.

__ADS_1


Tapi kayaknya aku udah lama deh nggak luka kayak gini, hingga membuatku sedikit kelabakan mengahadapi luka kecil seperti ini. Aku segera mengambil kotak p3k di dalam lemari kecil di kamar mandi, setelah membasuh lukanya hingga bersih aku segera membalurkan Betadine, yang terasa perih saat menyentuh mulut luka.


"Sayang... Kamu nggak kenapa-napa...kan... Sayang kaki kamu..." Teriak Tian histeris melihat luka di kakiku yang telah di lumuri Betadine tapi masih mengeluarkan darah


"Oh..." Kataku terperangah kaget karena kedatangannya yang tiba-tiba mendobrak pintu kamar mandi


"Kita ke rumah sakit sekarang..." Kata Tian bersiap-siap hendak menggendong ku


"Nggak usah... Inikan cuma luka kecil..." Teriakku menghentikannya


"Kecil apanya... Lukanya separah itu kamu bilang kecil... Sampai rumah sakit nanti lukanya harus di jahit... Kamu bilang itu masih kecil!" Kesal Tian yang tidak terima aku menolak nya


"Hahaha... Ngapain harus di jahit... Luka kecil kayak gini kamu nggak usah lebay deh..." Kataku dan segera membalutkan perban agar darah berhenti keluar


"Tapi... Biar aku yang lakukan!" Kata Tian Mengambil alih, dia melilitkan perban sangat hati-hati, padahal kan nggak parah-parah amat tuh luka


"Kalo besok masih belum sembuh... Aku akan bawa kamu ke rumah sakit!" Katanya tajam


"Hahaha... Emang ada orang luka bisa sembuh dalam semalam... Kamu ada-ada aja deh!" Tawaku bangkit berdiri hendak keluar menemui tamu yang tidak diundang


"Nggak mau tau... Pokonya kalo masih belum sembuh harus ke rumah sakit..." Kesalnya dan menggendongku keluar kamar mandi


Kulihat darah berceceran di lantai sampai keluar pintu, walaupun hanya setetes setiap kubiknya, tapi kalo di kumpulin kan juga banyak. Tian meletakkan tubuhku di kasur dan memintaku untuk istirahat, katanya jangan banyak jalan, karena bisa memperparah lukanya. Yang luka kan betis bukan telapak kaki, apa hubungannya sama di bawa jalan-jalan. Setelah memintaku diam di kamar dia turun ke bawah untuk mengambilkan makan malam baru untukku, sepertinya Tian tidak menginginkan aku bertemu dengan wanita di luar.


Makanya dia bersikeras melarangku jalan-jalan, hemmm... Aku mencium aroma-aroma asmara yang telah lama terpisah. Sepertinya wanita di luar itu adalah kawanku yang sesungguhnya untuk mendapatkan Tian. Walaupun aku masih belum mencintai Tian, tapi aku tidak akan pernah memberikan Tian pada siapapun secara sukarela, setelah aku mengetahui rahasianya.

__ADS_1


"Sepertinya aku terobsesi oleh kepribadian gandanya!" Gumamku dengan wajah yang terus-terusan tersenyum senang


Rasanya baru kali ini aku merasakan keinginan untuk mendapatkan seseorang sebesar ini dalam hidupku. Padahal kan dulu aku tidak pernah peduli dengan perselingkuhan Tian selama ini, tapi entah kenapa saat melihat wanita itu aku merasa tertantang sebesar ini. Aku ingin tau, siapakah rubah licik dia antara aku dan wanita di luar sana, rasanya aku ingin cepat-cepat di tantang oleh wanita itu.


"Sayang... Kamu lagi mikirin tentang apa? Kenapa kamu senyum-senyum sendiri gitu... Aku nggak suka kalo kamu mikirin cowok lain... Ingat itu!" Kata Tian datang dengan membawa nampan makan malam


"Aku nggak lapar... Kamu bawa ke bawah lagi aja sana!" Entah kenapa aku jadi kesal


"Kamu harus makan... Tadi siang kamu juga belum makan! Biar aku yang suapin..." Katanya meletakkan nampan di atas meja


"Udah aku bilang kan... AKU NGGAK MAU MAKAN! Jangan bikin aku semakin kesal..." Aku bersembunyi di bawah selimut untuk menghindari tatapan Tian yang selalu mendominasi


"Kamu kenapa sih... Tadi kan masih bisa senyum... Kenapa sekarang malah manja gini sih?" Kata Tian memeluk tubuhku yang ada di bawah selimut


"Sayang... Aku sesak nafas nih..." Kesalku memintanya melepaskan pelukan


"Sekarang ayo makan! Buka mulut kamu... Aa..." Tian memaksaku untuk makan, hingga benar-benar membuat ku kesal


"..." Aku marah keluar dari kamar dengan perasaan sangat kesal


"Sayang kamu mau kemana?" Kata Tian mengikutiku keluar kamar


Di ruang tengah wanita itu masih berdiri dengan angkuh mengahadapi pak Zion yang melarangnya naik ke atas. Aku tidak peduli padanya dan terus melangkah menuju kamar yang ada di bawah, seperti biasanya. Jika aku marah ataupun kesal dengan Tian, maka aku akan mengurung diri di kamar itu.


"Sayang... Kamu jangan gitu dong... Kalo aku salah aku minta maaf... Sayang keluar sekarang ya..." Kata Tian lembut membujukku keluar seperti biasanya yang dia lakukan

__ADS_1


"..." Setelah mengunci pintu aku segera mengempaskan tubuhku di kasur dan menikmati suasana tenang dan damai di kamar ini


Kudengar di luar Tian berdebat dengan wanita itu, hingga membuat wanita yang di panggilnya dengan nama Katya itu menangis tersedu-sedu meminta maaf. Aku tidak ingin ikut campur dengan masalah mereka, biarkan saja mereka menyelesaikan masalah hidup mereka tanpa aku terlibat. Tapi jika wanita itu nantinya mengusik hidupku, maka jangan salahkan aku jika membalasnya ribuan kali lipat.


__ADS_2