
Aku bangkit berdiri segera menghampiri tubuh kecil hitam Blacky yang terlempar ke dinding ruang tengah cukup keras. Hidungnya kini mengeluarkan darah, lumayan deras bagi ukuran kucing kecil sepertinya. Luka pada tubuhnya juga bertambah semakin banyak, hingga membuatku sedikit iba padanya, namun tidak pada hatiku, rasa iba itu hanya ada di dalam pemikiran ku.
"Dasar kucing sialan!!" Decit suara busuk itu membuatku muak mendengar dan mencium aromanya
"Apakah kau tidak pernah sikat gigi!" Kesalku menatap kesal ke segala arah, karena kagak tau di mana setan itu berada
"Kau... Dasar gadis kecil kurang ajar!!" Setelah kalimatnya selesai pipiku rasanya seperti tergores sesuatu yang tajam
"..." Aku menatap darah yang ada di jariku setelah mengusap pipi yang terasa perih
"Meooonggg..." kata Blacky dengan garang setelah pipiku terluka
"Hey... kucing! Apakah kau kucing jadi-jadian? Aku merasa sangat aneh denganmu!!" Tanyaku menatap mata Blacky tajam
"Aku merasa aneh dengan mu gadis kecil! Bukankah kau tidak menyukai binatang... tapi mengapa kucing penjaga ini bisa memiliki hubungan denganmu?" Kata suara itu lagi
"Kau yang lebih aneh!! Setan busuk yang tidak di ketahui asal usulnya... malah membuat masalah!!" Kataku sinis
"Kau... Apakah kau tidak takut jika ku lukai lebih parah?" Katanya dan membuatku merinding
"Tidakkah kau lihat jika aku ketakutan setengah mati seperti ini... bahkan tadi aku pipis di celana!!" Kataku pelan di akhir kalimat
__ADS_1
"Tahu diri juga... Aku akan melepaskan mu! Karena yang ku inginkan adalah temanmu!" Katanya berbaik hati
"Aku tidak akan membiarkan mu menyakitinya!" Kataku dengan gemetar karena takut
"Setelah di khianati pun kau masih membelanya... sungguh pertemanan yang sangat menjijikkan!" Katanya sinis
"Kata siapa aku membelanya... Aku hanya ingin membalas dendamku saja! Dan hal ini bukan pengkhianatan namanya tapi mencari musuh di bawah atap yang sama!" Senyum sinis terukir manis di bibirku
"Aku tidak akan membiarkan mu menyakiti wanitaku!" Katanya dengan nada mengancam
"Dan... Kau tidak berhak ikut campur urusan manusia!!" Kataku sebelum hawa kegelapannya menghilang
Kulihat orang pertama yang membuka pintu rumah adalah seorang kakek tua, dengan pakaian serba putih, namun mengenakan peci hitam, yang menandakan jika beliau belum haji. Beliau tersenyum padaku yang hanya menatapnya dan kerumunan dengan tatapan kosong, aku masih belum sadar jika tanganku masih dalam posisi menggendong Blacky. Agak sedikit kaget sih awalnya, karena kulihat Blacky sekarang ada di dalam dekapan Sierra yang terlihat menelisik seluruh ruangan, kalau-kalau setan itu masih ada.
"..." Aku hanya diam tanpa reaksi saat tubuh kotor berlumpur serta basahnya memelukku dengan erat
"Ru! Lo baik-baik aja kan?" Tanya Sierra dan Vina yang segera memisahkan tubuh Dewi dariku
"Ru!! Maafin gue..." kata Dewi penuh penyesalan yang tersungkur akibat dorongan Sierra dan Vina yang sedang marah padanya
"Lo nggak diapa-apain sama tu setan kan?" Tanya Sierra melihat ku dari ujung rambut hingga kaki
__ADS_1
"Kok ada darah di pipi lo?" Tanya Vina mengusap darah di pipi
"..." Aku meraba luka di pipi, namun bekasnya telah menghilang hanya menyisakan noda darah doang
Gaib emang, semuanya memang gaib... bahkan aku masih ragu jika Blacky benar-benar adalah kucing pelindung seperti kata tu setan. Aku menetap Blacky dengan tatapan bingung dan penuh tanya, apakah yang di katakan setan itu nyata. Bukan hanya aku yang akhirnya bingung dan tidak percaya dengan kejadian ini, bahkan mereka juga ikut bingung karena keadaan ruangan ini masih tertata rapi seperti tadi siang.
Mungkin sekarang mereka menanyakan dimana kekacauan yang telah di lakukan setan itu beberapa saat yang lalu. Setelah semuanya diminta pak rt kembali kerumah masing-masing kosan kembali di penuhi keheningan. Sekarang hanya ada kami berempat, orang tua Vina, pak rt beserta istri dan kakek tua berpeci hitam ini, yang dikenal sebagai sesepuh komplek. Beliau mendekat ke arahku dan tersenyum hangat, seperti sedang menenangkan hati dan pikiran ku yang tidak stabil.
"Cu! Boleh kakek nanya?" Kata Beliau setelah memberikan segelas air putih yang diberikan beliau dari botol yang dipegangnya
"Silahkan kek..." kataku datar namun terkesan ramah
"Kamu percaya dengan ucapan setan barusan?" Tanya beliau tajam
"Masih Ruka pikirin kek!" Jawabku apa adanya
"Kalau kakek boleh tau, ciri-ciri setan itu gimana?" Tanya beliau lagi setelah terlihat mikir
"Ruka cuma tau kalo suaranya serak dan mengerikan disertai bau busuk... kalo masalah penampilan kakek boleh tanya ke temen saya!" Kataku meminta Sierra mendekat
Kulihat Sierra berbicara dengan lancar setelah di berikan segelas air oleh kakek itu juga. Dewi masih memohon pengampunan dariku, yang hanya kusahuti dengan senyum dan disertai anggukan kepala. Dia menghambur memelukku setelah aku menganggukkan kepala, dia mengucapkan beribu terimakasih karena dia kira aku telah memaafkannya. Aku hanya bisa tersenyum sinis melihat tingkah kepedeannya yang terlalu tinggi.
__ADS_1
Walaupun kita udah kenal sejak smp tapi maaf-maaf aja nih, masalah balas dendam aku tidak akan berbaik hati. Aku pasti akan membuat mu merasakan ketakutan sekaligus kengerian setelah menerima pembalasan dariku. Kita tunggu aja pembalasan yang sedang dirancang ini, ku harap aku tidak akan mundur dari balas dendam ini.