
Sebelum melakukan lamaran aku meminta Tian menenangkan dirinya dulu, karena saat ini dia sangat-sangat tegang, bahkan tangannya berpeluh dan dingin. Biarkan kakek yang berbicara terlebih dahulu dengan mama dan abah, agar semuanya terkendali. Karena biasanya kalo yang tua sama yang tua bicara, akan lebih santai dan tenang serta menjadi sakral. Aku tidak di biarkan Tian melangkah sedikitpun darinya, bahkan dia menggenggam tanganku sangat erat saat ini.
Aku merasakan kegugupan dan ketakutannya, bagaimana jika mama dan abah tidak merestuinya? Bagaimana jika abah menentang lamaran ini? Mungkin pikirannya saat ini kurang lebih seperti itu. Akhirnya aku memilih duduk di sampingnya karena memang tidak bisa kamana-mana, aku balas menggenggam tangannya agar dia lebih tenang, tapi kenapa tegang nya malah nular.
"..." dia menatapku kaget saat mendapat respon dariku yang balas menggenggam tangannya
"Bapak jangan gugup gitu dong... nular ke saya tau!" Kesalku balas menatapnya
"Ka...kamu... bakal nerima lamaran ini kan?" Tanyanya terbata-bata
"Saya sih terserah mama sama abah saja! Jika mereka nggak merestui walaupun saya mengiyakan juga percuma... harusnya bapak meluluhkan hati orang tua saya dulu sebelum melamar!" Kataku kesal
"Ya Kan... Aku takut kamu di rampas orang lain!" Katanya menatapku dalam
"Semoga aja orang tua saya nggak jantungan mendengar jumlah lamaran yang nggak masuk akal gitu!" Kataku kesal dan mengalihkan pandangan darinya
"Mereka ada di dalam!" Kata pak Presdir dari luar
"Lepas... kalo abah liat saya kayak gini! Nanti abah nggak setuju!" Kataku memintanya melepaskan genggaman dan sebelum pintu terbuka lebar aku segera memberi jarak lebih jauh dari Tian
"..." abah dan mama menatapku dan tersenyum saat aku tersenyum
"Ini cucu saya! Tiandra Saputra... yang akan menjadi suami nak Ruka!" Kata pak Presdir tersenyum padaku saat memperkenalkan Tian pada abah dan mama
"Apa kabar bah! Mah!" Katanya segara menyalami tangan mama dan abah dengan sopan
__ADS_1
"Saya boleh bicara dengan anak saya dulu?" Tanya abah menatapku
Semua orang keluar dari ruangan dan menyisakan mama dan abah serta aku yang berdiri kaku, entah kenapa aku merasa takut. Rasanya seperti sedang di hakimi oleh mereka karena kesalahanku, karena telah memilih jalan takdir yang terlalu rumit. Tiba-tiba abah jalan mengarah padaku dan memelukku dalam tangisnya, mama juga ikut memelukku dengan tangis. Aku menangis karena hatiku terasa perih seakan-akan hendak remuk jika aku terus di peluk mereka, tapi aku tidak berdaya menyingkirkan mereka dari tubuhku. Aku hanya bisa menangis dan semakin menangis bingung dengan situasi saat ini.
"Jika ini mau kamu... abah akan merestuinya!" Kata abah mengusap air mataku
"Mama harap kamu bahagia dengan pilihan kamu!" Kata mama mengelus kepalaku dengan tangan bergetar
"..." Aku bingung harus berkata apa dan akhirnya hanya bisa menangis
"Tapi! Apakah mereka memaksamu untuk menikah?" Tanya abah peka dan aku hanya bisa menggeleng karena masih menangis tanpa suara
"Apakah kamu mencintainya? Mama lihat dia sangat mencintaimu dan sangat tulus!" Kata mama yang membuatku bingung handak menggeleng atau mengangguk
"Maaf..." tangisku pecah karena tidak bisa mengatakan apapun
Lamaran Tian ku terima dengan anggukan kepala serta senyum termanis yang tidak pernah ku tunjukkan kepada siapapun. Aku merasakan kebahagian yang sangat besar entah karena apa, yang jelas saat ini aku sangat bahagia. Pak presdir terlalu bersemangat, hingga beliau segera memanggilkan para koki bintang lima ke tempat pelatihan, untuk merayakan lamaran cucunya. Pak presdir dan kedua orang tuaku terlihat sedang berbincang tentang rencana yang akan di lakukan setelah mereka datang nanti. Aku sengaja menyingkir dari kerumunan orang, ingin menenangkan diri terlebih dahulu.
"..." tiba-tiba Tian datang dan menggenggam tanganku lembut yang segera ku balas menggenggam tangannya
"Tidak ku sangka jika lamaran ku di terima..." katanya menatapku dengan penuh kasih
"Saya juga tidak menyangka akan menerima lamaran bapak!" Kataku balas menatapnya
"Panggil Tian... Karena sekarang kita ada di luar kantor!" Katanya manis serat mengecil tanganku lembut
__ADS_1
"Ish... apaan sih! Geli tau!" Kataku bergidik
"..." Tian menatapku intens dan tangan satunya mulai membelai wajahku
"Berani macam-macam gue tonjok lo!" Ancamku padanya sambil mengepalkan tinju ke wajahnya
"Hihihi... ternyata seru juga ya..." katanya tertawa karena puas menggodaku
"Aku boleh minta sesuatu nggak?" Tanyaku saat kami menatap langit senja sambil berpegangan tangan
"Apa?" Katanya mendekat dan membuatku menjauhinya
"Kayaknya kamu harus nambah sekretaris deh... soalnya aku nggak mau lembur tiap hari!" Kataku bergidik ngeri membayangkan tumpukan tugas
"Kenapa? Kan kalo cuma berduaan di kantor bisa bebas!" Katanya menggodaku
"Bebas apaan! Tiap hari harus sesak napas ngerjain tugas yang banyaknya kayak gitu.." kataku berusaha agar tidak mengarahkan nya pada pikiran yang nantinya bisa membangkitkan hasrat
"Kamu nggak seru ih..." Tian merajuk guys
"Hihihi... kamu sih mikir nya terlalu vulgar!" Tawaku dan beranjak masuk ke dalam
Mama memperkenalkan ku pada teman-teman barunya di tempat ini, semua orang terlalu memujiku. Katanya aku anak yang berbakti lah, anak yang memiliki keberuntunganlah, anak dengan takdir emaslah, anak yang sangat cantik lah, anak yang memiliki karakter baik lah, apalah itu. Tidak akan membuatku senang karena sanjungan itu membuatku menjadi orang yang tidak memiliki perasaan seperti ini. Aku menatap ke arah mama yang tersenyum ramah mendengar pujian orang-orang padaku, apa-apaan senyum itu.
Saat memasuki waktu maghrib kami semua sholat berjamaah di masjid yang ada di samping tempat pelatihan. Tadi sore kami sholat sendiri-sendiri, dan sekarang kami akan sholat berjamaah di masjid, membuatku tidak hentinya bersyukur. Ibu-ibu yang ada di dalam mesjid menggodaku karena Tian adzan dengan suara merdunya, yang memang membuatku sangat kagum dengan suaranya. Jika dulu aku menyukai Ain karena suara merdunya ketika menyanyi, kini aku menyukai Tian karena suara merdu adzan nya yang membuatku merinding.
__ADS_1
Di satu sisi aku bersyukur karena mendapatkan calon imam yang akan membimbing ku ke arah yang lebih baik, dan di sisi satunya aku takut jika Tian tidak sesuai harapanku nantinya. Tapi ini lebih baik dari pada aku harus menikah dengan Aji yang memiliki keluarga yang telah membuatku muak. Ku harap dengan pernikahanku dengan Tian menghindarkanku dari tatapan berbahaya Aji yang penuh nafsu ingin menjadikan miliknya, semoga saja begitu.
****