
Malam benar-benar telah larut, tapi entah kenapa aku masih belum bisa terlelap dalam keheningan ini. Di luar suara hujan terdengar sangat merdu mengusik telingaku, hingga membuat hati ini merasa damai dan tenang. Kepalaku masih sakit, karena belum makan seharian penuh, sebenarnya setelah makan mie yang di buang Tian. Aku berniat makan sesuatu yang lebih mengenyangkan seperti nasi dan sebagainya.
Tapi karena Tian membuatku kesal nggak jadi deh makannya, padahal kan perutku udah menahan lapar seharian. Pintu kamar yang tidak sempat di kunci di buka dari luar, namun setelahnya hanya hening. Saat ini posisiku membelakangi pintu, tapi aku tau siapa yang ada di depan pintu sana. Dari aroma tubuhnya aku tau jika itu adalah Tian yang tadi membuatku kesal, sepertinya mereka masih belum bertukar.
Ku dengar suara langkah semakin mendekat setelah pintu di tutup kembali olehnya. Sebenarnya aku kesal pada Tian karena telah membuang mie yang ingin kumakan, tapi entah kenapa sekarang aku sudah tidak kesal lagi dengannya. Tangan lembut Tian menyingkirkan rambut yang menutupi wajahku, lalu dia duduk jongkok sambil memandangiku, hingga membuatku risih.
"Maaf..." Gumamnya lirih setelah lama hanya diam
"..." Aku hendak membuka mata tapi kembali urung karena Tian tiba-tiba mengecup keningku lembut
"..." Tangannya masih membelai-belai wajahku dengan lembut dan terhenti tepat di bibirku
"...." Aku benar-benar hendak membuka mata
"Cup..." Tian mengecup bibirku sebentar sekali
"... Kamu ngapain di sini?" Tanyaku setelah membuka mata dan menatapnya yang sedang kaget
"Eh... Aku ganggu tidur kamu ya... Maaf..."
"Berisik..." Aku pura-pura kesal dan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut
"Sayang... Udahan dong marahnya... Iya aku tau aku salah! Tapi kamu juga sih... Ngapain harus makan mie saat perut lagi kosong..."
"Kamu nyalahin aku? Lalu ngapain kamu harus pulang saat aku lagi sibuk makan!" Kataku dari balik selimut
"Huhuhuuu... Sayang maaf!" Katanya dan memeluk tubuhku
"Minggir... Aku sesak napas tau.." kesalku karena dia memeluk terlalu erat
"Nggak mau! Sebelum kamu maafin aku... Aku nggak akan minggir dari atas kamu!" Katanya dengan nada manja
"Kamu mau bunuh aku ya? Minggir aku sesak napas nih!" Kesalku karena napasku udah ngos-ngosan
__ADS_1
"Ruka sayang... Udahan ya marahnya... Kalo kamu nggak marah lagi... Kamu boleh deh makan mie..." Katanya masih memelukku
"Aku udah nggak nafsu makan mie..." Kesalku mendorongnya hingga jatuh ke bawah dan tarduduk di lantai
"Yaudah... Kamu mau makan apa? Biar aku beliin... Sekarang juga! Asalkan kamu maafin aku dan udahan marahnya!" Bujuknya manis
"Aku mau pulang ke rumah orang tua aku aja...disana nggak ada yang ngelarang aku mau ngapain aja!" Kesalku dan turun dari kasur
"Huhuhu... Sayang jangan gitu dong! Aku minta maaf! Kamu jangan pulang ya?!" Bujuk Tian memelukku dari belakang
"Kamu jangan bikin aku tambah kesel gini dong!" Nadaku meninggi satu tingkat meminta Tian melepaskan pelukannya
"Sayang aku minta maaf!" Dia masih merengek
Aku mengabaikan rengekannya dan berlalu pergi menuju dapur kerena rasa haus yang tiba-tiba muncul. Tian masih mengikuti di belakangku dengan rengekannya hingga membuatku pusing dan tambah kesal di buatnya.
"Kapan kamu beli ikan itu?" Tanyaku pada Tian saat melihat ikan arwana cukup besar di dalam akuarium
"Semalam... Cantik kan? Aku beli ini karena terlihat seperti..."
"Apa?... Ikan itu hanya ada 3 di dunia loh yank! Kamu yakin mau makan dia?" Kaget Tian
"Kruucckkk...." Aku memegangi perutku yang berbunyi cukup nyaring membalas kekagetan Tian
"... Aku belinya susah loh yank! Yang lain..."
"Dasar pelit!" Kataku dan berlalu hendak kembali masuk kamar
"Akgghhh... Yaudah iya... Kamu boleh makan dia..." Gusarnya menghentikan langkahku
"Kamu nggak ikhlas... Aku nggak mau makan..."
"Aku ikhlas... Ikhlas banget... Jadi kamu makan ya? Aku panggilan bibi dulu biar masakin buat kamu!" Katanya memotong kalimat ku
__ADS_1
"Serius? Tapi aku maunya kamu yang masakin..." Kataku entah kenapa merasa sangat bahagia
"Yaudah iya... Tapi aku cuma bisa ikan goreng aja ya!" Katanya pasrah mendapati tatapan bahagiaku
Walaupun memang dari awal membersihkan sampai memasak ikan itu adalah Tian, tapi semua orang di rumah pada bangun. Saat mendengar perkataan Tian yang hendak memasak ikan arwana cantik itu, semua orang kaget tujuh keliling, sembilan tanjakan, sebelas putaran. Tu ikan di belinya baru kemarin di pasar gelap, dengan harga ratusan juta, tapi tiba-tiba karena aku mau makan ikan itu dia malah pasrah menyerahkan ikan itu untuk mengganjal perutku.
"Nyah... Nyonya beneran mau makan ikan itu?" Tanya Ica yang berdiri di sampingku
"Iya... Kan sayang kalo nggak dimakan!" Kataku masih memperhatikan kesibukan pak Zion dan Tian mengeluarkan ikan itu dari sana
"Tapi kan nyah... Itu ikan harganya ratusan juta..." Lia ikut angkat bicara terdengar emosi
"Itu ikan bisa menghidupi keluarga saya sampai 2 generasi nyah..." Sasa ikut menyayangkan ikan itu
"Saya juga kepikiran gitu kok Sa! Kan kesel kalo uang segitu banyak cuma buat beli ikan kayak gitu... Yang bisa kapan-kapan mati! Sebelum mati kan lebih baik saya makan!" Kataku mengiyakan kalimat Sasa
"..." Mereka semua terdiam menatapku dengan berbagai ekspresi
"Sayang... Kamu tu ikan betina apa jantan?" Tanyaku setelah ikan keluar dari akuarium
"Ngapain kamu na..."
"Kalo kamu nggak ikhlas masak tu ikan mending nggak usah deh..." Kesalku yang mendengar nada suaranya yang ketus
"Bu..bukan gitu maksud aku... Sayang... Sayang...!" Panggil Tian mencoba menghentikan ku yang masuk kamar
"Sepertinya nyonya kali ini benar-benar marah besar!" Kata pak Zion yang masih bisa kudengar
Terserah Tian aja mau dia apakan ikan arwana yang sangat di kaguminya itu. Aku marah bukan karena nggak bisa makan tu ikan, tapi karena kesal dengan keborosan uang hanya untuk membeli seekor ikan yang bisa mati kapanpun. Uang ratusan juta itu nggak sedikit, uang segitu banyak bisa menjamin kehidupan sebuah keluarga sampai beberapa tahun loh. Saat mengingat kehidupanku waktu kecil yang serba sulit, aku jadi benar-benar kesal dengan tu ikan yang harganya nggak main-main.
Seindah apapun seekor binatang, mereka akan tetap mati suatu saat nanti, percuma berinvestasi pada keindahan yang hanya sebentar seperti itu. Selain buang-buang uang juga merupakan buang-buang waktu hanya untuk mengagumi hal yang sebentar seperti itu. Mending uang segitu banyak diinvestasikan kepadaku, untuk mengembangkan Bisnisku yang ada di kampung. Bisnis wisata dan kuliner, yang sekarang di kelola kakak keduaku bersama suaminya.
Seperti janjiku pada bintang waktu kecil, 'jika aku memiliki uang yang banyak, maka aku akan membuat lapangan pekerjaan di kampungku, dengan memanfaatkan tenaga para pemuda pemudi kampung yang masih pengangguran'. Dan akhirnya setelah menikah dengan Tian semua janjiku bisa terpenuhi dengan mudah, bahkan mimpi kami sembilan bersaudara yang ingin membangun sebuah villa pun telah tercapai.
__ADS_1
Villa besar dan mewah yang ada di antara pegunungan Meratus itu menjadi sorotan publik beberapa waktu yang lalu. Tapi karena aku tidak ingin menarik perhatian banyak orang, aku meminta bantuan Tian untuk meredam media massa yang menyiarkan kehebohan villa keluargaku. Sebulan sekali aku dan Tian akan berkunjung ke kampung halamanku dengan jet pribadi hadiah pernikahan dari Kakek yang terlalu memanjakan ku.