
Setelah pesawat mendarat dengan aman di bandara udara Internasional Syamsudin Noor, aku segera turun dan menuju toilet untuk membasuh wajah yang terasa kaku. Rasanya sangat menjijikan, walaupun itu demi menyelamatkan nyawa orang lain. Aku segera mengambil tasku setelah melakukan pemeriksaan, kak Gaffar telah menunggui dari satu jam yang lalu di bandara ini. Setelah celingak-celinguk sebentar, akhirnya aku menemukan laki-laki gagah didampingi seorang wanita cantik yang sedang menggendong anaknya yang gemuk.
"Dika... aunty datang!" Teriakku segera menghampiri keluarga bahagia itu
"Bener-bener... nggak nyangka, ternyata ni orang punya banyak nyawa.." kata kak Gaffar lantas menjiwai kepalaku
"Ish... sayang kamu kok gitu! Harusnya bersyukur dong, karena Ruka udah sampai dengan selamat!" Kata kak Aleya membelaku
"Tau nih kak Gagap! Bukannya seneng malah gitu reaksinya... kak aku mau gendong Dika!" Kataku segera mengambil alih Dina dari pelukan kak Aleya
Kak Aleya orangnya agak cerewet, jadinya aku merasa perjalanan pulang kerumah sedikit hidup, karena sepanjang perjalanan kak Aleya banyak nanya ini itu. Sebelum pulang ke Kandangan, kaka Gaffar dan kak Aleya ingin membeli sesuatu dulu di Ki mall, dan aku hanya mengikuti mereka di belakang, kali aja ada uang menarik. Saat melihat baju pasangan, aku tergerak ingin membelikan baju itu untuk kami semua, biar bisa ambil foto bersama dengan seragam yang sama pula.
"Kak! Aku mau bikin baju keluarga... gimana menurut kakak?" Tanyaku pada kak Gaffar yang juga ikut masuk ke toko baju sambil menggendong Dika
"Kalo kamu punya duit... buat aja!" Katanya datar
"Nah sekarang aku minta pendapat kakak... kira-kira lebih cantik yang mana model sasirangan nya?" Tanyaku meminta pendapatnya
"Yang sebelah kanan lebih cocok!" Kata kak Gaffar menunjuk sasirangan dengan warna yang lebih dominan ke abu-abu
__ADS_1
"Kalo buat semua orang, kira-kira berapa puluh meter harusnya?" Tanyaku lagi
"Mang ku tau! Tanya Aleya aja kalo soal itu... kan dia buka butik!" Kata kak Gaffar menyarankan agar aku meminta pendapat kak Aleya
"Kak! Kalo mau buat baju buat semua keluarga kita! Kira-kira berapa banyak kain yang di pesan?" Tanyaku pada kak Aleya yang udah selesai belanja
"Kamu mau bikin baju buat keluarga?" Tanya kak Aleya menatapku
"Iya! Biar bisa foto bersama!" Kataku tanpa mengalihkan pandangan dari kain sasirangan yang ada di tangan
"Berapa banyak yang dapat bajunya?" Tanya kak Aleya
"Emang kamu punya duit?" Kata kak Gaffar
"Kan aku kerja kak..." kataku menatap kak Gaffar dengan bola mata berputar
"Kalo sebanyak itu... mending nanti kita bicarakan kalo udah sampai rumah..." saran kak Aleya yang tentu saja ku Iya Kan
Setelah puas berkeliling Ki Mall, kami segera kembali melanjutkan perjalanan pulang, namun sebelum itu, menjemput Ibrahim dulu di pesantren Darussalam Martapura. Setelah Ibrahim masuk mobil, keramaian semakin bertambah karena Ibrahim yang suka membuat para keponakannya menangis segera beraksi. Awalnya aku kesal dengan tingkah jahil Ibrahim, tapi biarlah, ketimbang nanti aku yang kena usili oleh makhluk hidup satu ini kan ribet. Sepanjang jalan Dika di buat menangis oleh tampang Ibrahim yang sebenarnya menggemaskan, namun mengerikan bagi sebagian anak balita.
__ADS_1
Akhirnya setelah 6 jam perjalanan, yang kebanyakan berhenti, akhirnya sampai rumah juga. Senja merah menyapa kepulanganku kerumah yang telah di rombak hampir menjadi istana oleh para saudaraku. Rumah yang dulunya hanya susunan dari papan-papan yang berlobang di sana sini, kini menjadi rumah beton yang mewah tingkat dua lagi. Di rumah ternyata semua saudaraku berkumpul menyambut kepulanganku yang memang jarang pulang. Aku segera melangkah masuk kerumah, setelah mengucap salam dan di sambut oleh yang lain.
"Abah apa kabar! Mah, apa kabar?" Tanyaku sambil memeluk singkat mereka
"Alhamdulillah baik..." sahut abah dan menepuk-nepuk pundakku
"Jam berapa tadi berangkat dari jakarta nya?" Tanya kak Nur keluar dari dapur
"Pukul 6 pagi lewat sedikit!" Sahutku dan memeluk satu-persatu keponakanku
Ketiga adikku yang lainnya segera keluar dari kamar setelah mendengar kedatanganku, Maya, Ayya dan Firdaus. Mereka adalah adik-adik yang sangat kudatangi, namun sering ku marah ketika aku sedang kesal dengan sesuatu. Setelah basa-basi sebentar aku segera beranjak masuk kamar, yang telah di sediakan untukku di lantai dua, seperti permintaanku, agar jauh dari keramaian. Selama aku di jakarta, yang menempati kamar ini ya Firdaus, dia juga suka kesunyian.
Setelah membersihkan tubuh dan sholat maghrib, aku kembali turun ke bawah untuk makan malam bersama. Semuanya terlihat bahagia, tapi entah kenapa aku merasa asing dengan kebahagian ini, seandainya aku bisa jujur. Aku ini. Mengatakan jika aku lebih bahagia saat sendirian di rumah ini, sambil mendengarkan semua candaan mereka dari tempat yang tidak terlihat, sambil membaca komik.
Ku lihat abah sekarang jadi banyak batuk, walaupun tidak terlalu parah, tapi aku tetap merasakan ke khawatiran dalam batinku. Lihatlah beliau, walaupun udah sakit batuk seperti itu, tapi tetap saja mempertahankan kebiasaanya yang suka merokok itu. Aku menghampiri beliau dan mengabarkan jika nama beliau telah kudaftarka sebagai jamaah haji, dan akan berangkat dalam dua bulan lagi.
Beliau terharu setelah mendengar kabar itu dariku, setelah memelukku sebagai rasa terimakasih. Beliau bersorak kegirangan sambil joget-joget sambil mengucap syukur, hingga membuatku tertawa haru. Semua orang di rumah bersorak gembira juga setelah mendapatkan kabar gembira itu dari abah, yang masih bersorak bahagia penuh syukur. Mama yang biasanya paling aktif, kini hanya menahan haru di sofa ruang tengah sambil membentangkan tangannya memintaku agar mau di peluk.
Aku tersenyum haru dan memberikan pelukan beberapa detik pada beliau, setelah itu pergi menghampiri adikku yang sedang berdebat di dapur karena masalah mencuci piring. Aku berdiri diam di depan pintu memperhatikan mereka yang sibuk berdebat, hingga membuatku terkekeh geli melihat tingkah mereka yang seperti biasa itu. Seandainya Ain ada di sini sekarang, mungkin ia juga akan ikut bahagia melihat keluargaku yang seperti ini, hah... mengingat Ain hanya akan membuatku merasa sesak.
__ADS_1