JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Mereka Dan Penampilan Terbaik


__ADS_3

Sebelum Vivian lanjut mencari dalang di balik lecetnya tu motor dosen membubarkan kerumunan terlebih dahulu. Agar identitas pelaku tidak di ketahui masa demi kebaikannya. Kenapa dosen tidak membubarkan kerumunan sejak tadi? Mungkin karena Bu dosen ingin memperlihatkan jika kami berdua bisa membuktikan diri kami berdua tidak bersalah di hadapan kerumunan yang terlanjur tau masalahnya.


"Vi! gue tanya sekali lagi, siapa orang yang laporin kejadian kami berdua nyenggol motor Lo barusan? karena waktu kami nyenggol tu motor hanya ada anak-anak yang lagi pacaran!" kataku meminta penjelasan tentang pelapor


"Jihan... apa jangan-jangan Jihan yang udah bikin Ferel gue lecet?" tebak Vivian *Ferel\=nama motornya Vivian


"Sebelum menyalahkan mending Lo nyari buktinya dulu deh, ntar salah orang lagi!" nasehatku


"Lalu kenapa Lo nanya siapa pelapor itu?" katanya sedikit curiga


"Ya gue mau tau aja, siapa orang yang kagak suka sama kami berdua hingga membuat laporan sama Lo!" kataku sambil mengangkat kedua bahu


Setelah tau siapa pelapor itu, aku dan Putri pamit pergi duluan ke ruang praktek bersama Bu dosen. Beliau bisa di katakan dosen yang lumayan mumpuni dalam mendidik mahasiswa bimbingannya, apa jangan-jangan karena beliau magister Hukum?. Entahlah karena apa, yang jelas kami berdua sekarang udah bebas dari tuduhan palsu, tapi kenapa wajah ni anak masih aja keliatan sedikit ada guratan sedih.


"Put! Lo kenapa?" tanyaku saat kami duduk di kursi penonton


"Hmmm... nggak! nggak apa-apa kok!" katanya dengan senyum kecut


"Ohhh...." gumamku dan manggut-manggut mengikuti arah tatapannya


Sepertinya Putri memikirkan alasan yang masuk akal sehingga membuat Jihan melaporkan kami kepada Vivian atas tuduhan barusan. Yaelah Put... ngapain dipikirin masalah kayak gituan sampai segitunya, paling juga karena Jihan iri dengan diri Lo. Aku terhanyut dalam masalah dan pemecah masalah yang di tampilkan kelompok Ari dan kawan-kawan di praktek sidang kali ini. Penampilan mereka sangat memukau, bahkan aku sampai tahan napas saat merasakan hawa keseriusan mereka dalam praktek kali ini.


Aku memberikan nilai sempurna pada kelompok mereka yang luar biasa ini. penampilan mereka sangat-sangat profesional. Mungkin karena mereka udah mendalami materi yang di berikan dosen hingga penampilan mereka begitu sempurna seperti saat ini. Aku harap kelompokku nanti juga bakal menunjukkan performa yang luar biasa seperti ini. Oh iya Putri dan Jihan juga satu kelompok denganku, sepertinya sekarang aku tau alasan kenapa Jihan kesal dengan kami berdua.

__ADS_1


Semua orang memberikan tepuk tangan meriah setelah kelompok pertama ini berakhir dengan kemenangan yang unggul di pihak korban yang di bela Ari. Sedangkan Rizal si jaksa penuntut terlihat kurang puas karena masih kalah dengan argumen-argumen dari Ari. Tapi Rizal juga ikut senang dengan penampilan kelompoknya yang terbilang mulus dan memuaskan dahaga para penonton.


"Berapa kelompok yang tampil hari ini?" tanyaku pada Putri yang sedang mencatat sesuatu di bukunya


"kalo nggak salah 2 kelompok!" sahutnya tanpa mengalihkan pandangan


"Istirahat selama satu jam! kita ke perpus yuk? nyari referensi buat nanti!" ajakku pada Putri yang masih sibuk nulis


"Ayuk... buruan!!" katanya dan segera bangkit dari kursi


"pelan-pelan aja kali!" kataku saat ia menarik tanganku dengan buru-buru


Sepanjang jalan menuju perpustakaan yang kulihat hanya para pasangan yang sibuk berbincang di bangku-bangku taman. Rasanya kok jadi pengen liat hubungan romantis setiap pasangan ini terusik gimana gitu, biar ada bumbu serunya. Setelah memasuki perpustakaan yang dingin dan sunyi senyap, ada perasaan bahagia gimana gitu melihat jajaran buku di rak. Suasana perpustakaan yang tenang seperti ini selalu membuatku betah berlama-lama dengan di temani ribuan history dari setiap buku.


"Sip sip okeh!" sahutku dan segera jalan menghampiri tu bangku


Setelah memilih buku yang berbau hukum aku mulai terbuai dengan kalimat demi kalimat yang tertulis. Hingga membuatku berada di alam yang berbeda dengan kehidupan realitanya. Banyak kalimat ilmiah baru yang tidak kutahu dalam buku ini, sedikit-sedikit membuat otakku kembali penuh dengan pertanyaan yang tiada akhir hingga membuatku melamun.


"Boleh gabung?" bisik Rizal dan duduk di bangku depan kami berdua yang di ikuti Ari


"..." aku mengangguk setelah kulihat semua bangku di lantai satu ini penuh dan hanya bangku kami yang kosong


"Lagi baca apaan?" tanya Rizal basa-basi

__ADS_1


"Baca hati kamu!" godaku dan mengedipkan sebelah mata


"Awww... gue baper nih!" katanya dan memegang dada bidangnya dengan kedua tangan


"Kok bisa?... aku cinta kamu!" godaku lagi padanya


"Aku juga!" sahutnya dan membuatku hampir menyemburkan tawa


"Canda guys..." kataku setelah tenang


"Hehehe..." cengirnya


Setelah puas menggoda Rizal aku melanjutkan bacaan yang sempat tertunda oleh lamunan. Mungkin karena terlalu fokus dengan bacaan hingga membuatku kembali ke dalam duniaku yang sendirian. Aku membiarkan diriku hanyut dalam tulisan yang sedang kubaca hingga membuat perutku mengeluarkan bunyi nyaring, aku lupa makan.


"Astaghfirullah..." kataku sambil menepuk jidat sendiri setelah bunyi krucukkk di perut kembali terdengar


"Nyari makan yuk?" ajak Putri yang mendengar bunyi perutku


"Gue yang traktir! gimana?" kata Rizal meminta persetujuan


"Okeh sip ayo kita cabut!" kataku semangat


Mereka semua kagak selucu tanggapan Roni seperti biasanya, mungkin karena mereka bertiga anak-anak orang berduit. Jadi rindu candaan Roni yang kagak ada habisnya, mereka ini mah kagak bisa diajak bercanda. Satunya anak yang kagak enakan tingkat tinggi, satunya lagi sosok dingin dan datar, kenapa ya akhir-akhir ini hidupku di kelilingi oleh orang-orang yang bermuka dingin dan datar. Sedangkan Rizal, aku sedikit takut bercanda dengannya, takut dianya masukin ke hati, nanti kan sulit kalo udah jadi perasaan yang berharap lebih.

__ADS_1


__ADS_2