
Sekarang aku berdiri tepat di depan restauran yang memiliki bangunan cukup unik bagiku. Di dalam terlihat ramai oleh pengunjung yang terlihat sedang menikmati hidangan ataupun sedang berbincang dengan teman semeja. Saat aku mendorong pintu, suara bel pintu berbunyi dengan merdu mengusik gendang telingaku. Seorang pelayan menyapaku dengan ramah dan menunjukkan meja kosong yang ada di lantai dua paling pojok dekat jendela kaca.
Dari tempat duduk ini aku bisa melihat pemandangan lalu lalang kendaraan yang terjebak macet. Beberapa pedagang asongan terlihat sedang menjajakan jualannya di tengah teriknya matahari serta polusi asap kendaraan yang berkabut. Kesibukan orang-orang di luar sana membuatku melupakan sejenak lelah batin yang selama ini menghantuiku.
"Selamat menikmati!" Kata seorang pelayan dengan senyum meletakkan segelas jus di atas meja
"Makasih mbak!" Kata bi Murni yang duduk di depanku
"...bibi pesan apa?" Tanyaku yang kembali setelah puas melamun
"Bibi belum mesan... Bingung mau makan apa!" Kata bi Murni dengan wajah kebingungan lucunya
"Pesan aja apa yang bibi mau... Mau aku bantu pesanin? Mbak...!" Aku merasa terhibur dengan wajah bingung bibi lalu memanggil pelayan
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan itu ramah
"Saya mau pesan... Tolong keluarin semua menu spesial di restoran ini... Minumnya bibi mau apa?" Tanyaku pada bi Murni yang masih sibuk melihat-lihat menu
"Eh... Teh panas aja nyah..." Sahut bi Murni
"Sekalian air es nya ya mbak! Itu aja terimakasih!" Aku mengangguk ke arah pelayan yang telah selesai menulis pesanan ku
"Tunggu sebentar ya mbak! Bu!" Katanya mengangguk dan berlalu pergi
"Dari tadi nyonya teh liatin apa?" Tanya bi Murni ikut menatap ke luar arah mataku tertuju
"Hemm... Cuma liatin anak kecil penjual bunga itu aja kok bi!" Sahutku dan tersenyum kecut ke arah bi Murni
"Mau bibi Belian bunganya?" Tanya bi Murni bangkit dari tempat duduknya
"Ehhh... Nggak usah bi... Repot..."
"Nggak repot kok nyah... Bibi beliin sebentar..." Bi Murni berlalu pergi
Aku tersenyum canggung menatap punggung bi Murni yang semakin menjauh dan menghilang di balik tangga. Aku mengelus-elus perutku yang terasa ada benjolan kecil, dengan senyum bahagia bercampur khawatir. Entah kenapa aku malah memiliki firasat kalo janin yang menghuni perutku sekarang ini tidak akan bertahan lama.
__ADS_1
Beberapa pelayan datang ke arah meja ku dengan membawa beberapa hidangan yang ku pesan. Aroma yang sangat nikmat menyentil Indra pembau ku, yang awalnya tidak tertarik dengan makanan di depanku. Tiba-tiba aku menatap seporsi hidanganĀ yang sangat-sangat menarik perhatianku, apalagi kalo bukan semur jengkol yang terlihat sangat pedas dengan aroma yang khas.
"Mbak ini pedasnya level berapa?"
"Oh... Untuk hidangan ini tidak terlalu pedas, masih berada di level normal mbak!"
"Enak...!!"
"..." Para pelayan yang melihatku memakan satu persatu potongan jengkol tersenyum malu melihatku
"???" Mungkin aku terlihat aneh
"Maaf mbak! Mbaknya artis Korea bukan sih?" Tanya salah satu pelayan cowok
"Eh... Bukan mas! Saya asli orang Kalimantan..."
"Pantesan cantik! Kalo boleh saya mau foto bareng mbak..."
"Saya tidak mengijinkan..." Tiba-tiba Tian datang menyela pembicaraan dengan wajah kesal
"Maaf ya mbak... Teman saya sudah bersikap kurang ajar... Kalau begitu kami permisi!" Kata pelayan lainnya menarik pelayan cowok itu dengan bergegas karena tatapan Tian yang sangat tajam
"..." Tian menatap kesal ke arahku yang sedang mengunyah jengkol
"..." Aku hanya bisa tersenyum menyambut kekesalannya
"Seharusnya aku nggak ngijinin kamu... Kalo tau kamu bakal di godain cowok lain..." Kesal Tian menyeka saus sambal di samping bibirku dengan tangannya
"Ih sayang... Kok kamu jilat?" Kagetku saat ia menjilat tangannya yang terdapat saus sambal bekas di bibirku
"Enak..." Katanya menatapku genit
"Apaan sih..." Senyumnya membuatku tersipu malu
Tian memberikan setangkai bunga mawar yang udah agak hancur karena habis di remasnya karena kesal barusan. Aku menyambut bunga pemberiannya dengan tawa kecil, dan membuatnya tersipu malu karena memberikan bunga mawar ini tanpa memperhatikan bentuk bunganya dulu.
__ADS_1
"Lah kok diambil lagi?"
"Bunganya udah jelek... Nanti aku beliin yang baru aja!" Tian mengusap jilbabku lembut dengan tangan besarnya yang dingin
"Sayang! Kok tangan kamu dingin?"
"Biasalah... Kalo lagi kesal ataupun marah tangan aku suka dingin..." Tian membalas genggaman tanganku dan menjelaskan alasan tangannya yang dingin
"Kamu unik..." Aku tertawa kecil mengetahui satu keunikannya lagi
"Btw... Kamu bisa makan semuanya?"
"Oh iya... Bibi mana? Aku pesen ini semua buat bibi!"
"Bibi ada di lantai bawah... Aku minta bibi nungguin di bawah..."
"Hemmm... Karena kamu yang ada di sini... Aku mau kamu makan semua hidangan yang aku pesan sampai habis tanpa tersisa..." Aku tersenyum licik ke arahnya yang menatapku kaget
"Tapi sayang..."
"Aku nggak mau tau... Pokoknya kamu yang harus makan semua ini sampai habis." Otomatis aku mengelus perut
"Iya udah deh... Demi anak kita!" Katanya dengan tampang yang seakan-akan hendak pergi berperang
Satu-persatu dan suap demi suap hidangan memasuki mulutnya yang mengunyah dengan wajah terpaksa. Aku menatap gerakan bibirnya saat mengunyah yang entah kenapa terlihat sangat seksi. Apalagi saat lidahnya menjilat sisa saus sambal di ujung bibirnya, membuatku tidak lepas memandangi bibirnya dengan senyum yang mungkin sangat aneh.
"Sayang..." Tian terlihat udah nggak kuat makan lagi
"Harus abis semua..." Kataku tanpa ampun
"Sayang..." Wajahnya semakin memelas
"Abisin!" Kataku dengan senyum memaksa
"..." Tian pasrah dan lanjut makan hingga membuatku sangat puas
__ADS_1