
Aku pulang dengan di antar Niko atas perintah Tian, karena Tian tidak mengijinkan ku menggunakan jasa taksi online. Aku yang memang udah capek malas untuk berdebat hanya karena masalah seperti itu, dan akhirnya aku bisa berbaring nikmat seperti sekarang. Tanpa sadar ternyata aku terlelap dalam tidur hingga melewatkan waktu Maghrib, karena saat aku bangun adzan isya berkumandang dari pengeras suara mesjid di kejauhan sana.
"Aku lapar!" Kataku lesu mendengar suara perut yang mengusik
Setelah mandi dan sholat isya aku segera turun ke lantai bawah yang udah sepi. Sepertinya Tian belum pulang dari makan malamnya, atau jangan-jangan dia kencan dengan Katya. Terserah dia mau apa, asalkan jangan membuatku muak melihat wajah wanita itu lagi saja.
"Laper... Laper..." Gumamku tanpa memperhatikan jalan dan tidak sengaja menabrak guci antik dengan kakiku yang terluka
"Nyonya... Nyonya tidak apa-apa kan?" Kata bi Murni menghampiri arah suara dan mendapatiku yang sedang meringis kesakitan
"Nggak apa-apa kok bi!" Kataku terpincang menghampiri meja makan
"Kaki nyonya berdarah...!" Kaget bi Murni melihat celana baju tidurku berdarah
"Mungkin luka yang kemarin terbuka lagi bi!" Kataku masih meringis
"Biar bibi obatin..." Kata bi Murni setelah kaget melihat lukaku yang kembali berdarah
Bi Murni mengobati lukaku dengan penuh kasih, hingga membuatku merasakan sakit di luka dan hatiku. Karena merasa takjub dengan perhatian bi Murni yang terlihat jelas penuh kekhawatiran. Setelah selesai mengobati lukaku, seperti biasa bi Murni akan menasehati ku dengan ceramahnya yang lembut namun menusuk.
"Bi... Aku mau makan!" Kataku menyela omelannya
"Nyonya mau makan... Mau makan apa biar bibi siapain!" Kata bi Murni semangat
"Apa aja, yang penting bibi yang masak!" Kataku tersenyum lebar
"Yaudah... Bibi masakin sebentar ya..." Kata bi Murni segera beranjak menuju dapur
__ADS_1
"Bi... Aku mau makan pop mie aja... Dua porsi ya bi!" Kataku saat melihat persediaan pop mie di lemari dapur
"Tapi..."
"Ayolah bi... Aku mohon!" Bujukku pada bibi
Bi Murni luluh dengan permintaanku, sambil menunggu mie selesai di seduh, aku berniat membantu Sasa membersihkan guci antik, namun malah di cegah oleh Ica yang tiba-tiba datang membantu Sasa. Akhirnya aku pun hanya duduk diam di kursi sambil mengajak mereka bicara. Setelah pop mie selesai di masak dan di sajikan bi Murni di meja aku bersiap hendak menyantapnya, namun masih panas ***.
"Dimana... Sayang kamu lagi makan apa?" Tanya Tian yang melihatku sibuk memakan sesuatu di meja makan
"..." Aku menoleh ke arahnya dengan mie yang menjuntai panjang yang segera ku seruput naik kemulut
"Kamu makan mie! Tapi udah makan yang lain kan sebelumnya?" Tanya Tian menuju kearahku
"..." Aku menggeleng karena sibuk makan mie
"Apa? Kenapa kamu malah makan mie... Perut kamu lagi kosong, nggak baik kalo langsung di isi mie gini!" Marah Tian dan menarik pop mie yang baru ku makan sedikit
"Sebelum kamu makan nasi... Kamu nggak boleh makan mie..." Katanya dan membuang mie yang baru kumakan beberapa suap ke dalam tempat sampah
"..." Entah kenapa aku merasa terluka dan perih di dalam dadaku rasanya sangat nyeri
"Sayang... Kok kamu malah nangis! Kamu kan juga tau kalo makan mie saat perut kosong itu nggak baik..." Marah Tian kepadaku
"Hiks... Hiks... Hikss..." Aku menahan agar tangisku tidak pecah
"Sayang... Cuma gara-gara mie doang kamu sampai nangis gitu... Nggak lucu tau!" Kesal Tian padaku
__ADS_1
"Hikss... Aku baru... Makan sedikit... Hiks... Hiks..." Tangisku semakin menjadi-jadi
"Aku bakal kasih apapun yang mau kamu makan... Asalkan jangan mie... Jangan nangis lagi... Aku pusing dengernya!" Teriak Tian gusar
"...hiks...hikss..." Aku menatapnya kaget tidak percaya jika hanya karena aku makan mie dia bisa semarah ini
Dadaku terasa sangat nyeri mendapati tatapan marahnya, aku juga sih pake lebay kayak gini. Kan cuma mau makan mie, tapi kenapa malah nangis gini, lebay banget nggak sih. Kepalaku terasa berat dan sakit, mungkin benar kata Tian, saat perut kosong jangan makan mie, karena inilah akibatnya. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu menahan rasa perih meratapi nasib pop mie di tempat sampah.
"Sa...sayang..." Panggil Tian mulai melunak
"Nyonya... Kenapa nyonya bisa nangis? Apa yang tuan lakukan..."
"Kamu cuma pembantu... Berani sekali memarahi majikan, dasar pembantu rendahan..." Kataya kesal dan terdengar suara tamparan di akhir kalimatnya
"..." Aku membuka tangan yang menutupi wajahku untuk melihat wajah Katya yang sudah kurang ajar
Namun sayang saat aku membuka tangan dari wajahku yang kulihat hanyalah gelap dan berkunang-kunang. Tubuhku terasa sangat lemas hingga hampir membuatku jatuh tersungkur ke lantai jika tidak ada kesigapan dari Ica yang segera menahan tubuhku agar tidak jatuh dari atas kursi.
"Nyonya...!" Kaget Ica yang berhasil menahan tubuhku
"Sayang..." Teriak Tian kaget dan hendak menghampiri ku namun kutahan dengan tangan menandakan berhenti di tempat
"Ica... Tolong bawa saya ke kamar..." Lirihku di dalam dekapan Ica
"Baik...nyah..." Dengan di papah Ica menuju kamar aku merasakan sakit di kakiku kembali perih
"Hiks...hiks..." Aku masih menangis tersedu-sedu saat menuju kamar
__ADS_1
Setelah sampai di kamar, aku meminta Ica keluar dan memberikan ruang untukku sendirian. Aku menangis tidak jelas di kamar ini, aku merasa konyol karena mudah sekali menangis hanya karena masalah pop mie yang baru kumakan sedikit. Walaupun ini bukan pertama kalinya aku nangis seperti ini selama pernikahan kami, tapi entah kenapa rasanya tangisanku kali ini sangat tidak masuk akal dan sangat menyakitkan.
Setelah puas menangis aku merubah posisiku yang sudah mulai kram, mungkin karena salah posisi tengkurap. Setelah tenang aku segera berharap terlelap dalam tidur, tapi sayang itu tidak terjadi, karena pikiran ku masih kacau. Baru kali ini aku memiliki niat kabur dari rumah ini, setelah sekian lama dikhianati oleh Tian. Tapi jika menyerah begitu saja bukan Ruka namanya.