JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Dia Sang Ksatria


__ADS_3

Ruka memandangi dirinya di depan cermin, sekarang ia sudah selesai berdandan serapi dan sebaik mungkin. Hingga membuat dirinya mengingat kembali kenangan waktu ia memutuskan untuk pergi dari kosan karena rasa muak melihat dan bertemu pandang dengan Dewi setiap hari. Ia juga berdandan seperti sekarang pada saat ia berpisah dengan yang lainnya, walaupun sekarang dendam itu telah dilupakannya tapi tetap saja membuatnya merasa muak.


Ruka sekarang sedikit mengubah rasanya, menjadi terlihat seperti wanita yang penuh percaya diri, dari sebelumnya yang terlihat polos dan manis. Setelah selesai merias ulang dirinya, Ruka kini disibukkan dengan memilih ulang baju yang cocok dengan riasannya saat ini, Sekarang ia terlihat puas dengan penampilannya.


Sedangkan di tempat lain, Ain sedang bingung harus memakai baju seperti apa, semua isi lemari nya telah keluar semua. Tapi baginya tidak ada yang pas untuk keluar malam ini, sehingga membuatnya dilema dan bingung. Tiba-tiba matanya menatap pakaian yang dua tahun lalu di ambil nya dari koper Ruka, pakaian itu tergantung rapi di dinding kamarnya, seakan-akan dijadikan barang yang sangat berharga di kontrakan kecilnya ini.


Tanpa sadar Ain bangkit dari kasur menghampiri baju yang tergantung itu, menatapnya lekat beberapa detik. Dan setelah itu di putusannya untuk memakai baju, yang telah menjadi miliknya, setelah Ruka memberikan baju itu sebagai hadiah di hari jadinya yang pertama. Saat melihat dirinya di cermin, Ain merasa puas dengan tampilannya, tapi saat mengingat Ruka ia kembali merasakan kebimbangan.


***


Sekarang baru pukul 07.45 wib, masih ada waktu 15 menit sebelum waktu janjian ini habis, jika Ain tidak datang dalam waktu 15 menit, maka aku akan benar-benar kecewa dengannya. Sudah satu jam aku berdiri menunggunya di depan sini, hingga membuat para nyamuk datang menyapa dan sesekali menggodaku dengan suara kepalan sayapnya yang berdengung. Tiba saat aku benar-benar di ujung kekesalan, suara motor vespa khas milik Ain terdengar di depan sana.


Karena pencahayaan yang kurang, aku hanya melihat bayangan hitam yang semakin mendekat ke arahku dari kejauhan sana. Aku tersenyum riang saat vespa itu benar-benar membawa seorang pemuda tampan yang akan mengajakku jalan-jalan malam ini.


"Maaf! Udah lama nunggu nya?" Katanya setelah mematikan mesin vespa


"Lumayan..." kataku datar dengan wajah yang merajuk


"Maaf ya sayang... sebagai gantinya aku udah bawain ini buat kamu!!" Katanya dan menyerahkan setangkai mawar pink beserta sebatang coklat


"Maksudnya mau nyogok aku, agar nggak marah gitu?" Tanyaku dengan nada kesal tapi tetap aja ngambil pemberiannya


"Ksatria ini memang salah duhai tuan putri! Hamba siap menerima hukuman!" Katanya seperti benar-benar memerankan sosok seorang kesatria dengan berlutut di hadapanku

__ADS_1


"Kalau begitu, sebagai hukumanmu! Bawalah aku menjelajahi kota ini sekarang juga !" Aku ikut ngambil peran


"Siap laksanakan tuan putri!" Katanya dan mencium telapak tanganku dengan bibir lembutnya


"..." aku diam karena merasakan geli atas kelakuannya


"Karena ini dunia modern... maka tuan putri diwajibkan memakai helm!" Katanya dengan senyum tulus serta memasangkan helm lembut di kepalaku


"Kita berangkat sekarang!!" Kataku semangat sesudah naik di boncengannya


Aku meminta Ain melakukan desanya saat kami melewati jalanan yang lumayan sepi, karena aku ingin menikmati angin malam. Aku merasa familiar dengan baju yang sekarang dipakainya, hingga membuatku teringat lagi dengan kejadian waktu di bandara dua tahun yang lalu. Entah kenapa hari ini aku ingin sekali memeluk punggung lebar nan gagah ini, tapi aku merasa itu sangat tidak sopan jika kulakukan.


"Hari ini kamu sangat cantik!!" Gumam Ain yang terdengar oleh telingaku


"Kamu bilang apa?" Aku bertanya hanya untuk memastikan pendengaranku, karena dia sangat jarang memuji


"Hari ini kamu juga sangat menawan!" Gumamku yang tersipu malu di belakangnya


"Kamu bilang apa?" Tanya Ain yang mungkin mendengar gumamanku


"Kamu hari ini sangat menawan melebihi seorang ksatria!!" Teriakku di atas sepeda motor vespanya yang melaju di kecepatan sedang


"Kamu juga lebih anggun dari seorang putri!!" Katanya pelan karena emang dia orangnya datar

__ADS_1


"Kok pelan banget!!" Tantang ku padanya


"Ka... Kamu wanita pertama dan terakhir di dalam hidupku!!!" Teriaknya lantang hingga membuatku tertegun


"..." aku diam membisu karena mendengar pernyataannya


"Gimana kamu puas?" Tanya Ain padaku yang masih linglung


"Sangat puas!!" Sahutku serta tanpa sadar malah memeluknya


Aku yang tersadar segera melepaskan pelukan yang berlangsung beberapa detik itu dengan wajah yang panas serta memerah. Mungkin saat ini Ain juga sedang memerah atau lebih tepatnya kaget, karena pelukan singkat itu. Selama kami pacaran, aku sangat membatasi segala kelakuan kami saat berdua, dan untungnya Ain sangat menghargai keputusanku. Aku hanya mengijinkannya menggenggam tangan serta mengelus kepalaku saja, untuk yang lain sangat di larang.


Mengelus kepalaku pun awalnya sangat dilarang, tapi entah sejak kapan aku menjadi acuh dengan kebiasaannya yang suka mengelus kepalaku. Aku masih bingung bagaimana caranya mencairkan suasana yang ambigu ini, tapi tanpa di duga malah Ain yang berusaha mencairkan suasana, tapi malah terasa semakin ambigu. Setelah beberapa saat akhirnya aku bisa mengontrol emosinya kembali seperti semula, dan hawa di antara kami berdua telah mencair.


Kami berhenti di sebuah taman hiburan yang di buka setiap akhir pekan dekat alun-aku kota. Ada begitu banyak pengunjung yang berdesakan masuk, hingga membuatku mau tak mau harus berpegangan erat di tangan Ain, agar tidak terpisah.


"Terlalu sesak!" Gumamku kesal karena beberapa kali bersentuhan dengan orang lain


"Kamu nggak suka?" Tanya Ain yang menyadari kekesalanku


"Aku nggak suka! Apalagi kalo sampai kena sentuh orang-orang ini!" Kesalku semakin tak terkendali saat salah satu pengunjung di belakang mendorongku karena sesak


"Kamu jalan di depan! Biar aku yang halangan di belakang kamu!" Kata Ain lembut memintaku jalan di depannya, namun tangan masih pegangan

__ADS_1


Sekarang aku merasa nyaman karena tidak ada sentuhan dengan kerumunan orang-orang ini lagi. Aku takut jika ada beberapa orang mesum yang memanfaatkan kesempatan desak-desakan ini untuk melakukan hal menjijikkan. Aku juga tau kesulitan Ain menghalau kerumunan di belakang, tapi itu lebih baik dari pada aku tersentuh orang-orang ini. Akhirnya kami berdua terbebas dari kerumunan orang yang hendak masuk teman hiburan setelah Ain menemukan celah untuk keluar dari kerumunan.


Tadi tanganku dan Ain sempat terlepas karena ada orang yang memotong celah di antara Ain denganku. Hingga membuatku sangat kesal, tapi sebelum aku marah, Ain segera kembali kesisiku dan segera mengajakku menepi. Ternyata rasa sedang dilindungi itu sangat nyaman dan aman, dalam pikiranku terlintas sebuah bayangan masa depan Ain denganku, yang akan terus melindungiku dari segala bahaya. Sepertinya aku mulai bisa merasakan apa itu arti spesial dan dispesialkan.


__ADS_2