
Akhirnya setelah 24 jam penuh berada di kantor, aku kembali menemui kasur empuk yang sangat kurindukan ini. Rasanya kayak udah puluhan abad tidak ketemu sama ni kasur, aku bahkan belum sempat membersihkan diri. Saat masuk ke kamar aku udah tertidur lelap karena kantuk yang udah di tahan mati-matian saat masih di kantor tadi sore. Berkat Tian aku bisa pulang lebih awal, karena ia telah menyelesaikan tugas yang kuberikan hari ini dengan baik. Besok aku hanya perlu mengantar dokumen itu ke setiap bagian departemen yang baru sedikit ku ketahui lantainya di mana saja.
Biarkan besok saja aku memikirkan masalah pekerjaan, saat ini aku sedang ingin terlelap dulu di atas kasur empuk ini. Rasanya seakan-akan kembali pada kebahagian yang sesungguhnya, setiap kali aku pergi tidur. Sejak dulu aku juga hobi banget dengan yang namanya tidur, seakan-akan tidur adalah tujuan hidupku selama 25 tahun ini. Benar-benar sebuah kenikmatan tiada tara, kalo tidurnya seharian di atas kasur empuk dan di bawah selimut hangat. Dulu waktu masih kecil aku punya gelar ular piton, yang suka tidur seharian bangun hanya untuk mencari makan doang.
"Kringgg..." Aku mendapatkan panggilan telpon tengah malam
"Assalamualaikum! Siapa ya?" Tanyaku dengan mata yang masih nempel
"...." nggak ada yang nyahut
"Kalo nggak ada yang penting saya lanjut tidur dulu ya! Nanti kalo ada yang mau di bicarakan telpon aja lagi pagi-pagi..." kataku meleparkan hp lupa mematikan panggilan dan kembali tidur
***
"..." sedangkan di seberang telpon sosok Tian terlihat kaget karena nomor yang di hubunginya ternyata milik sekretaris nya
Tian baru saja selesai membaca surat dari sahabatnya yang telah tiada, nama pemilik surat itu adalah Ainsley Pradana. Sahabat Tian dari kecil yang ternyata adalah mantan kekasih asistennya yang baru dua hari berada di kantor. Tian benar-benar tidak menyangka jika kekasih yang sangat di cintai sahabatnya itu adalah sekretaris pribadi, yang sangat absurd itu. Tian mengakui jika sekretaris nya itu cantik dan menawan, tapi anehnya kenapa takdir bisa selucu ini, ini takdir terlucu yang membuat Tian sampai kebingungan dan kaget sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Isi suratnya kurang lebih, meminta Tian untuk melindungi Ruka selama ia masih ada di kota Jakarta ini, Ain juga mengatakan apa yang di sukai dan tidak di sukai Ruka. Dalam suratnya, Ain memohon kepada Tian agar ia memberikan perlindungan kepada Ruka selama 24 jam penuh. Bahkan Ain juga menulis orang-orang seperti apa yang tidak di sukai Ruka, di dalam surat itu juga Ain mengatakan semua isi hatinya pada Ruka. Bahkan Ain juga mengatakan jika selama ini Ruka tidak pernah mencintainya, tapi ia sangat mencintai Ruka dengan tulus, bukan karena tampang ataupun karir Ruka yang unggul.
__ADS_1
Melainkan, kerena kepribadian Ruka yang sangat sulit untuk di pahami, Ain juga mengatakan jika ia benar-benar merasa seperti bukan dirinya selagi ada di samping kekasihnya itu. Ain menuliskan semua perjalanan hidupnya selama menjadi kekasih Ruka, wanita yang telah di anggap Ain sebagai malaikatnya. Berkat Ruka, kehidupan Ain yang harusnya berakhir tiga bulan setelah mereka bertemu di bandara, menjadikan semangat dalam hidup Ain. Hingga Ain bisa bertahan hidup selama tiga tahun lamanya dengan membawa penyakit kronisnya itu kemanapun.
"Kenapa? Kenapa aku harus mencintai wanita yang pernah dimiliki sahabatku sendiri?" Kesal Tian melemparkan botol minuman keras yang telah di minumnya separuh
Ya benar, Tian juga telah sejak lama mencintai Ruka, tapi dia tidak tahu jika selama ini Ruka bekerja di perusahaan keluarganya. Pertama kali Tian melihat Ruka adalah satu tahun yang lalu, saat dirinya berlibur bersama teman-temannya ke pulau dewata, Bali. Saat itu Ruka mendapat kan tugas keluar kota, untuk menyelesaikan masalah yang tidak terlalu parah bersama kedua seniornya. Setelah mereka menyelesaikan masalah waktu itu kedua seniornya mengajaknya berlibur ke pantai sebelum kembali ke Jakarta.
Saat itu Tian bersama teman-temannya yang juga para tuan muda sedang menikmati liburannya di pantai yang sama dengan Ruka. Mereka, bukan mereka tapi Tian sejak melihat Ruka pertama kali sudah terpikat dengan wajah Ruka yang terlihat bahagia tanpa beban. Wanita berpakaian yang cerah dengan hijab yang menutupi sebagian tubuhnya, sedang tertawa bahagia melihat kekonyolan temannya dari tepi pantai. Hijabnya yang tertiup angin membuat sosok Ruka semakin indah diterpa langit senja yang telah memerah.
Bukan hanya Tian yang terpana dengan sosok Ruka yang seperti itu, ada banyak laki-laki lain yang memperhatikan keanggunan gadis berhijab besar itu. Bahkan ada laki-laki yang langsung menyatakan cintanya dengan membawa sekuntum bunga, yang biasanya di letakkan para gadis bali di telinga. Bunganya di terima Ruka, tapi orangnya tentu saja di tolak olehnya, yang saat itu sudah menjalin kasih dengan Ain selama satu tahun. Tian juga merasa kecewa mendengar wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu telah memiliki kekasih.
Malamnya saat Tian sedang jalan-jalan di tepi pantai yang sudah sepi, karena saat itu udah hampir tengah malam. Ia melihat siluet seorang wanita yang sedang menatap bulan dengan tatapan penuh kesedihan, ia kaget saat melihat wajah wanita itu. Wanita yang tadi siang terlihat ceria tanpa duka sedikitpun, kini setelah malam beranjak raut bahagia tergantikan dengan raut penuh kesedihan seperti tidak pernah mengenal kata bahagia.
"...Aku ingin pulang!" Gumam Ruka lirih yang terdengar oleh Tian di sampingnya
"..." Tian diam di tempatnya menikmati wajah cantik itu tersiram cahaya bulan
"Astagfirullah... bikin kaget aja!" Kaget Ruka yang mendapati Tian sedang menatapnya
"..." Tian hanya diam dan kembali melanjutkan kakinya menyusuri tepi pantai dengan wajah yang merona malu
__ADS_1
Saat dirasa jauh dari tempat Ruka, dia berbalik dan tidak mendapati nya berdiri di sana lagi, tapi mendapati Ruka sedang melangkah kembali menuju hotel dengan langkah kecil. Tiba-tiba Ruka yang masih di perhatikan Tian berhenti di tengah jalan dan duduk jongkok sambil menutupi wajahnya dengan tangan. Tian hendak menghampirinya tapi takut jika Ruka akan menganggap nya sebagai orang aneh yang suka ikut campur urusan orang lain.
"Sudah satu jam dia seperti itu... Apakah dia tertidur?" Gumam Tian menatap jam di tangannya
Tiba-tiba saja Ruka bangkit dan menjerit tertahan beberapa kali, sebelum akhirnya kembali melangkah menuju hotel. Sesekali Ruka juga menyentuh kakinya yang kram karena terlalu lama jongkok diam. Tian yang juga bingung hendak apa segera kembali ke hotel tempatnya menginap yang ada di seberang hotel Ruka. Saatnya kembali ke masa sekarang...
"Aku menginginkan wanita itu...!" Kata Tian di antara sadar dan tidak
"Tuan muda!" Panggil kepala pelayan dari luar
"..." Tian hanya diam dan kepala pelayan membuka pintu
"... ini semua informasi yang berhasil di temukan dari wanita itu..." kata kepala pelayan menyerahkan informasi tentang Ruka
"Pergilah...!" Usir Tian segera menyambar informasi tentang Ruka
"Selamat malam, tuan muda!" Kata kepala pelayan undur diri
"Dia memang sangat cantik... Aku ingin dia menjadi milik ku!" Kata Tian memeluk informasi tentang Ruka
__ADS_1
Tian tertidur di atas sofa sambil memeluk informasi tentang Ruka erat sekali, seakan-akan ia tidak ingin melepaskan informasi itu sedikit pun dari pelukannya. Tian terlelap dalam tidurnya dalam keadaan mabuk berat di tambah dengan beban berat yang sedang di pikirannya. Tian juga tidak mematikan panggilan yang terus berlangsung itu, keduanya sekarang telah terlelap di tempat yang berbeda.