
"Hei... sayang! Kamu kenapa nggak keluar!" Kata Tian dari luar sambil mengetuk pintu
"Kamu bikin aku kesel!" Sahutku dari dalam
"Aku minta maaf... sekarang kamu keluar ya! Aku nggak makan kamu kok... keluar sekarang ya!" Kata Tian membujuk ku keluar
"..." Aku membuka pintu sedikit untuk melihat wajahnya yang berjanji tidak akan memakanku
"Ngapain kamu di dalam? Kamu nggak mau istirahat apa... tuh rambut kamu aja masih basah... keluar sekarang ya, biar aku bantu kamu ngeringin rambut!" Bujuknya tulus
"Aku keluar ya! Kamu jangan mikir macam-macam... awas aja kalo iya!" Kataku perlahan membuka pintu dan keluar
"..." Tian menatapku yang sedang celingak-celinguk mencari tasku dengan tatapan nakalnya
"Tas aku mana ya? Kamu liat in apaan sih!" Kesalku dan segera menutup dadaku dengan tangan
"Kamu lagi menggoda aku ya?" Bisik Tian yang membuatku merinding
"Ish... minggir aku mau ngambil tas... Hei kamu ngapain..." teriakku kaget saat tiba-tiba Tian mengangkat
Tian hanya tersenyum yang entah kenapa membuatku merinding, dia menghempaskan tubuhku ke atas kasur beserta tubuhnya. Sekarang tubuh Tian berada di atas tubuhku, membuatku semakin ketakutan di buatnya. Tian menepikan rambut yang menutupi wajahku dengan tatapan yang membuatku merinding, sepertinya tadi Tian hanya bercanda, tapi kenapa jadi serius gini suasananya.
"Tian yang baik hati... Kamu udah janji nggak makan aku loh..." kataku berusaha melepaskan diri
__ADS_1
"Perasaan aku nggak pernah bilang janji.." bisiknya dan menggigit telingaku
"Huhhh... Kamu... geli tau!" Kesalku masih berusaha mencari celah untuk kabur
"Sayang..." panggil nya dan membuat mata kami bertubruk kan
Aku terhanyut dalam tatapannya yang penuh hawa nafsu itu, dengan perlahan Tian semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku yang sedang terhanyut oleh tatapannya. Sebuah kecupan hangat mendarat di bibirku yang diam membisu. Karena tidak ada perlawanan dan reaksi dari ku yang masih kaget dengan kecupan hangat barusan, Tian kembali mendaratkan ciuman beruntun ke bibirku. Saat kurasakan Tian sedang mencoba memasukkan lidahnya ke mulutku barulah aku tersadar dan melakukan perlawanan, namun Tian memakanku dengan tenaganya.
Aku berusaha memberontak, namun hanya serangan yang semakin membuat Tian tidak terkendali yang keluar dari mulutku. Sekarang aku bingung apakah harus pasrah atau terus melakukan perlawanan, walaupun aku melakukan perlawanan pada Tian. Sejujurnya aku menyukai apa yang di lakukannya sekarang, aku ingin membalas ciumannya, tapi aku tidak tahu caranya. Karena itulah aku terus memberontak dengan setengah tenagaku yang ternyata semakin membuat Tian menggila, karena kegilaannya aku hampir ke habisan nafas. Dia melepaskan sebentar ciumannya yang gila itu untuk memberikan nafas, tapi sepersekian detik berikutnya dia melahapku semakin buas.
"Tian... jangan ku mohon!" Kataku dengan tubuh bergetar saat Tian memasukkan tangannya ke dalam baju
"Uh... ah... jangan... hah..." erangku saat tangan Tian menggerayangi tubuhku serta mulutnya yang menjilat dan menggigit leherku
Tanganku masih di kunci Tian agar tidak lepas dengan tangannya yang satu lagi, sedangkan tangan satunya terus menggerayangi tubuhku. Sial tadi kenapa pula aku harus melepaskan bra yang sesak itu, seharusnya jika aku masih mengenakan bra itu ada celah untukku lepas dari Tian yang semakin buas. Aku sudah tidak bisa melawan, karena seluruh tubuhku bergertar karenanya, Tian melepaskan cengkraman di tanganku saat ia kesulitan membuka kancing baju yang ku Pakai.
"I love you..." bisik Tian tidak mengiraukan penolakanku
"Uh... Tian..." teriakku kesal saat tangannya meremas salah satu gunung kembar ku
"Kamu harus bertanggung jawab karena telah menggodaku seperti ini!" Katanya dan kembali memasukkan lidahnya ke mulutku
Tian mengajariku caranya berciuman, sambil terus mencontohkan gerakan yang harus di buat, malangnya aku malah merespon apa yang di ajarkannya. Aku memakan umpan yang di berikan Tian, sekarang aku berhenti melakukan perlawanan, dan menikmati sensasi ciuman yang menurutku gila ini. Karena terbawa suasana aku menjadi tidak sadar jika sekarang Tian telah melepas seluruh pakaiannya, kancing bajuku juga telah terbuka semua. Aku mendesah menikmati sensasi saat Tian menggigit ****** gunung kembar ku, rasanya ada sesuatu yang hangat mengalir tubuhku, apakah ini yang di namakan hasrat bercinta.
__ADS_1
Tangan Tian menyusuri paha atasku dengan lembut, membuatku merinding tak tertahankan di buatnya. Aku tersadar saat celana dalamku perlahan mulai di lepaskan olehnya dengan cara yang halus, sampai membuatku sempat tidak sadar dengan apa yang di lakukannya. Sepertinya Tian memang laki-laki terlatih dalam hal ini, aku kembali hendak memberontak saat tersadar. Namun sayang Tian kembali mengambil alih semuanya, hingga aku tunduk di bawah tubuhnya yang membuatku merasakan darahku seperti mendidih. Sepertinya Tian ingin membuatku terbiasa dengan ciumannya di tubuhku, barulah melakukan hal yang lebih besar.
"Ah... sakit...Tian berhenti..." Rintihku saat ia semakin buas melahap tubuhku
"Kamu akan cepat terbiasa... nikmatilah permainannya sayang!" Katanya menggali rintihanku yang kesakitan
"Ahh... Tian..." erangku semakin merasakan sakit yang lebih saat alat kelaminku terasa robek di buatnya
"Huh..." Tian mendesah menikmati permainannya
"Tian... hentikan... Aku sudah tidak kuat lagi..." kataku memohon padanya agar berhenti
Namun bukannya berhenti Tian semakin membuas, hingga aku tidak bisa mengendalikan diri ku sendiri. Rasa sakitnya begitu perih kurasakan, hingga membuatku meneteskan air mata, dan membuat Tian sedikit melembut saat melakukannya. Jika Tian melanjutkan permainan nya ini, mungkin aku akan segera mati, karena rasa sakit yang ku terima sangat membuatku tersiksa. Tapi aku tidak menyangka jika sampai sekarang aku masih bisa bertahan menemani permainan gila Tian yang terus meningkat. Aku hanya bisa mengerang dan mengerang di bawah tubuhnya yang terlalu semangat melakukan permainan ini.
"Tian... Aku mengantuk... berhentilah!" Kataku memintanya menghentikan permainan
"Tidurlah... Aku akan bermain sendirian!" Katanya membuatku merinding
"Tian..." kesalku dan mendorongnya dari tubuhku
"Jika kamu mengantuk tidurlah... Aku akan bermain sendirian!" Katanya dan menyingkirkan helai rambut yang ada di wajahku
"Biarkan aku beristirahat... ku mohon!" Pintaku dan membenamkan wajah ku di dada bidangnya
__ADS_1
"Baiklah... Tapi kita akan..."
Sepertinya aku tidak mendengar kelanjutan kalimatnya, karena aku sedang benar-benar kelelahan setelah menemani nya bermain sebanyak, 4 putaran lebih. Aku tidak ingat berapa kali kami melakukannya, yang jelas dia sangat menikmati permainan ini, begitu pula aku. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku menyukai apa yang kami lakukan barusan hingga membuatku kelelahan seperti ini. Aku juga tidak menyangka jika malam pertama ku akan bermain sampai sebanyak itu, malam pertama yang ku alami di luar ekspektasi ku selama ini.