
Terik matahari membuatku sedikit kesal karena antrian berjalan dengan lambat. Kakek dan pak supir udah nangkring enak-enak di tenda penjual kopi yang berjarak dua pedagang dari tempatku dan Tian berdiri sekarang. Kedua orang tua itu terlihat membaur dengan pengunjung lain, aku baru tau jika pak direktur bisa makan dan minum di pinggir jalan seperti sekarang ini. Yang ku tahu pak direktur itu memang orang yang ramah dan baik, tapi tidak pernah terpikirkan olehku jika beliau juga sangat membaur dengan rakyat biasa.
"Sayang! Kita cari tempat duduk dulu yuk! Aku nggak tega liat kamu kepanasan gini..." Ajak Tian yang melihatku menyeka peluh beberapakali karena kepanasan
"Nanti aja deh... Giliran kita udah deket nih, lagian aku kan ada kamu yang naungin..." Manjaku merangkul tangannya
"Sa...sayang!" Tian tersipu guys karena ku goda di tempat umum
"Aduh..." Lirihku saat ada seorang pria menyenggol ku
"Eh... Maaf mbak! Nggak sengaja!" Katanya sopan
"Iya! Nggak apa-apa kok!" Sahutku dengan senyum
"Ada yang sakit nggak? Kamu nggak kenapa-napa kan?..."
"Aku nggak kenapa-napa kok! Cuma kesenggol dikit doang..." Kataku memotong kalimatnya setelah terlihat raut wajah tidak suka karena ada yang menyenggol ku
"Tuh kan... Kubilang apa juga! Kamu duduk aja dulu ke sana... Biar aku yang antri di sini..."
"Nggak mau... Aku maunya antri sendiri kayak gini..."
"Tapi... Kamu bisa kecapekan kalo terlalu maksain diri... Kamu duduk di sana dulu..."
"Nggak usah... Kan antrinya juga sama kamu jadi nggak terlalu capek banget..." Manjaku
"Akkhhmmm... Kasian yang jomblo!" Kata pemuda yang antri di belakang kami
"Makanya jangan betah sendirian mas!" Sahut yang lain
"Bukannya betah sendirian mbak! Cuma nggak laku aja..." Sahutnya mengundang tawa
"Emang masnya jualan apa? Sampai nggak laku?"
"Yang gratisan aja nggak ada yang mau, mbak! Gimana ceritanya kalo saya jualan..."
"Saya nggak percaya masnya nggak laku tuh!"
"Percaya nggak percaya mbak... Kalo emang gini nasibnya!"
"Masnya ganteng kok... Pasti adalah yang mau..."
"Gimana kalo mbaknya aja jadi pacar saya..."
"..." Lawan bicara pemuda itu diam karena tersipu
"..." Aku dan Tian saling bertukar pandangan mendengarkan percakapan dua makhluk yang menarik perhatian itu
__ADS_1
Setelah menunggu setengah jam, akhirnya tibalah giliran kami. Nggak tanggung-tanggung aku mesan masing-masing sate sebanyak 20 tusuk sekaligus. Yang awalnya membuat Tian kaget dan menatapku curiga, mungkin dia takut ku minta menghabiskan semua satenya kali. Tapi maaf ya, saat ini aku lagi ngidam sate, jadi aku akan menghabiskan semuanya.
"Pesanan datang!" Kata seorang pelayan membawa semua pesanku dalam sekali angkut
"Widihh... Aromanya masih sama kayak dulu nih, semoga aja rasanya masih sama kayak dulu..." Senangku saat piring sate mendarat di meja
"Masih dong kak! Karena resepnya masih di buat oleh orang yang sama dari dulu..." Pelayan cowok satu ini lumayan akrablah denganku, namanya Toni
"Tapi kok... Ada yang kurang nih!"
"Tenang kak! Sambelnya udah siap... Tunggu, aku ambilin dulu!"
"Kamu kenal sama pelayan itu ya yank?" Tanya Tian sambil mencomot setusuk sate
"Kenal dong! Kan ini tempat aku nongkrong biasanya sama Ain..." Wajahku yang awalnya berseri-seri, kini terlihat sedih gara-gara ingat Ain
"Yank... Sayang!" Panggil Tian membuyarkan lamunanku
"Maaf sayang! Aku jadi keingat masa lalu..." Kataku kembali mengatur wajah
"Ini sambelnya mbak... Oh iya! Dia pacar baru mbak ya?" Tanya Toni yang datang dengan segunung sambal pedas
"Eh... Bukan!"
"???" Tergambar jelas di wajah Toni ada tanda tanya
"Suami? Kapan nikahnya mbak? Kok nggak ngasih kabar?"
"Eh... Bukannya mbak udah undang kamu ya... Tapi waktu itu katanya kamu bakal pulang kampung di tanggal pernikahan mbak?"
"Eh... Iya juga ya mbak! Hehehe... Lupa!" Kekeh nya
"Sayang! Kamu jangan makan yang pedas-pedas..." Tian mengambil sate yang telah kulumuri dengan sambal pedas
"Eh... Kenapa? Kan aku mau makan yang pedas..."
"Mas! Tolong bawa ke belakang lagi ya... Istri saya nggak boleh makan yang pedas-pedas..." Kata Tian meminta Toni membawa kembali sambalnya
"Eh... Mbak lagi sakit ya? Biasanya kan selalu makan yang pedas-pedas!"
"Istri saya lagi hamil! Dan di larang makan yang pedas-pedas sama dokter... Jadi tolong bawa kembali sambalnya!" Kata Tian menjelaskan
"Sayang! Tapi kan aku mau..."
"Nggak boleh...!" Tegasnya
"Kalo dikit gimana?"
__ADS_1
"Tetep nggak boleh..."
"Yahh... Nggak seru dong makannya kalo nggak pedas!" Aku meratapi kepergian sambal yang di bawa Toni
"Nggak seru dari mananya... Kamu aja udah ngabisin lebih 20 tusuk sate sendirian!" Gemes Tian mengelus hijabku
"Hehe..."
Semuanya habis kami makan berdua sampai tidak bersisa satupun lagi sate di piring. Semuanya ada 5 jenis sate yang 3 darinya sate daging dan 2 lainnya sate usus dan jeroan. Semuanya masih senikmat dulu, walaupun tidak di temani sambal pedas yang biasanya kunikmati bersama Ain. Mungkin karena teman makanku sekarang bukan Ain lagi melainkan Tian yang berstatus sebagai suamiku.
Setelah selesai makan sate, Tian mengajakku berkeliling taman sambil menikmati es krim yang di belikan olehnya. Kulihat kakek juga masih mengobrol dengan bapak-bapak di lapak yang beliau singgahi bersama pak supir. Langit yang awalnya sangat terik kini menjadi sedikit mendung karena sekarang memasuki musim penghujan.
"Sayang! Kamu punya keinginan berlibur ke suatu tempat nggak?" Tanya Tian saat kami duduk di bangku taman yang ada di bawah pohon beringin besar
"Ada!"
"Kemana?"
"Kemana aja! Yang penting tempatnya indah..."
"Kalo gitu! Gimana kalo kita liburan ke Prancis akhir pekan ini?" Katanya membuatku terbelalak kaget
"Kamu yakin?" Tanyaku balik
"Yakin lah... Lagian sekarang kan di luar negri lagi musim dingin! Siapa tau kita beruntung bisa liat salju pertama turun di tahun ini!"
"Salju! Musim dingin! Prancis! Kok rasanya kayak kamu tau apa aja yang aku suka deh! Kamu tau dari mana kalo aku suka salju?"
"Rahasia!" Katanya sambil membersihkan noda es krim di ujung bibir ku
"..." Wajahku terasa panas saat ia menjilat noda es krim di tangannya
"Enak! Manis kayak kamu..." Rayunya membuatku merasa malu
"Kamu ih..." Kesalku memukul bahunya
"I love you sayang!" Katanya dan merangkul bahuku lembut
"Love you too... Calon ayah!" Sahutku mendaratkan ciuman hangat di pipinya
"Kamu..." Awalnya Tian celingak-celinguk dulu sebelum mendaratkan kecupan singkat di bibirku
"Sayang..." Kagetku karena ia melakukannya di tempat umum
"Salah kamu sendiri rayu aku duluan!!" Senyumnya puas
Aku mengerjap-ngerjapkan mata, mencoba mengingat-ingat kapan tepatnya aku ngerayu dia si raja gombal. Perasaan aku hanya ngikutin alur gombalannya deh, tau ah, yang jelas saat ini kami berdua sedang bahagia. Tian semakin mengeratkan rangkulannya di bahuku, yang menyandarkan kepala di pundaknya yang sedikit turun demi kenyamananku. Pasangan lainnya juga lalu lalang di depan kami sambil bercanda dan saling menggoda, membuatku sadar jika kehidupan seperti inilah yang kuinginkan selama ini.
__ADS_1
Rasanya seperti mimpi bagiku, karena hal-hal romantis bisa juga terjadi di dalam hidupku. Yang awalnya kupikir hanya akan tetap diam dalam kesendirian dan kehampaan yang tidak berdasar, mungkin inilah yang di namakan mukjizat cinta. Aku lebih tidak menyangka jika cinta Tian kepadaku sangat tulus, walaupun di awal pernikahan di bumbui oleh kesalah pahaman yang berlanjut hingga satu tahun lebih. Tapi aku puas dengan keadaanku sekarang, terimakasih untuk Tian suami tercintaku yang telah memberikan warna dalam hidupku yang selalu abu-abu ini.