JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
NAMA UNTUK SI KEMBAR


__ADS_3

Aku dan kakek masih keasikan memancing ikan hias di dalam kolam, hingga membuat kami tidak ingin beranjak, walaupun langit sedang mendung. Sudah sejak tadi pula Tian meminta kami berdua segera masuk ke dalam rumah sebelum hujan turun. Tapi, karena masih asik memancing kami tidak menghiraukan Tian sama sekali.


Hingga akhirnya membuat kakek kalang kabut sendiri saat tetes hujan pertama turun. Kakek segera memintaku masuk ke rumah dengan ciri khas khawatir orang tua, yang melarang anaknya hujan-hujanan. Rasanya aku ingin menjahili kedua orang ini, soalnya mereka terlalu otoriter denganku.


"Sayang! Kita masuk sekarang yuk..."


"Aku mau ujan-ujanan dulu..."


"Nggak boleh..." Larang keduanya bersamaan


"Kamu bisa masuk angin kalo main ujan-ujanan dalam kondisi kayak gini... Kita masuk ke dalam sekarang!"


"Tapi sayang..."


"Masuk sekarang, sebelum hujannya makin lebat..." Kakek ikut-ikutan melarang


"Bik! Siapin minuman hangat sekarang!"


"Kalo bisa, sekalian aja bikinin minuman jahe anget..." Kata kakek menambahkan


"Baik tuan!"


"Tian lebih baik kamu bawa Ruka ke kamar, sebelum dia bertingkah macam-macam..."


"Baik kek!"


"Sayang... Bentar aja ya?" Bujuk ku agar di ijinkan main ujan-ujanan


"Nggak boleh..."


"Aduh..." Lirih ku saat dinding rahimku di tendang oleh si kecil


"Kamu kenapa?" Tanya Tian khawatir


"Mereka nendang-nendang..."


"Tuh kan, mereka aja nggak setuju kamu main ujan-ujanan..."


"..." Aku hanya bisa pasrah sambil menikmati sensasi tendangan si kembar di dalam rahimku


"Ih... Kok tendangan si kembar kencang banget! Kamu nggak kesakitan?"


"Sakit, tapi cuma sedikit..."


"Wahaha... Liat deh, perut kamu benjot sana, benjot sini... Emang si kembar lagi ngapain sih di dalam?" Tawanya melihat perutku gerak-gerak dengan wajah khawatir yang di sembunyikan oleh tawa


"Main ujan-ujanan..."

__ADS_1


"Kalo itu sih kamu yang pengen..."


"Sayang..." Aku menatapnya dengan wajah memelas


"Nggak boleh!" Sahutnya tegas


"Kalo si kembar nanti ileran gimana?"


"Biarin aja, yang penting aku nggak mau liat kamu sakit..."


"Tapi sayang..."


"Jangan bikin aku marah!" Tegasnya lagi


Akhirnya setelah tubuhku menyentuh kasur, keinginan untuk main ujan-ujanan pun terlupakan. Hari masih siang, tapi di luar terlihat sangat gelap karena matahari tertutup oleh awan mendung yang tebal. Setelah menutup jendela, Tian ikut berbaring di sampingku dan mengelus perutku yang besar dengan tangannya yang memberikan kehangatan.


"Sayang! Aku pengen denger kamu nyair!"


"Nyair! Nyair yang mana?"


"Yang mana aja..."


"Yang mana ya?"


"Yang kamu inget aja deh..."


"Tapi kamu jangan ketawa ya?"


"Gitu ya?"


Setelah menarik napas panjang, mengalunlah suara merdu Tian yang memberikan pujian pada Rasulullah Saw. Si kembar menjadi lebih aktif bergerak saat suara sang ayah mengalun semakin merdu. Aku tersenyum senang karena rasanya perutku semakin banyak gerak karena tingkah si kembar di dalam sana. Mengenai gen kembar, diperoleh dari pihak keluarga Tian, karena almarhum ibu mertuaku terlahir kembar dengan adiknya yang juga telah menjadi almarhum.


Kuharap, di dalam pernikahan kami akan terlahir banyak anak yang sehat-sehat. Atau setidaknya kami memiliki anak lebih dari dua, soalnya aku penasaran dengan cara didikan yang akan ku berikan pada mereka. Tapi, kuharap tidak ada dari anak-anak ku nanti yang mirip dengan sifatku yang semuanya buruk, setidaknya begitulah yang di katakan keluargaku tentang diriku.


"Sayang! Kamu udah kepikiran nama si kembar belum?"


"Udah dari dulu sih aku kepikiran nya.. tapi nggak tau kamu akan suka apa nggak sama namanya!"


"Siapa namanya?"


"Kalo keduanya cowok, Krisan sama Tristan! Kalo cewek Trisya sama Krisya! Kalo lahirnya cowok sama cewek Tristan sama Trisya atau nggak sebaliknya!"


"Nama belakangnya kita kasih nama belakang kamu aja gimana?"


"Saputra! Saputri! Kalo kamu maunya gitu... Aku nurut aja sih!"


"Sayang! Seandainya aku pergi saat ngelahirin ataupun setelahnya... Aku harap kamu bisa mencarikan ibu pengganti yang baik..."

__ADS_1


"Huss... Jangan ngomong kayak gitu! Aku nggak akan biarin kamu kenapa-napa... Saat kamu lahiran nanti, kamu harus pakai jalur operasi..."


"Tapi aku maunya jalan normal!"


"Terlalu beresiko... Aku juga nggak tega liat kamu kesakitan! Maka dari itu kamu harus pakai jalan operasi saat lahiran nanti!"


"Aku maunya jalan normal, titik."


"Aku nggak akan biarin..."


"Kan aku yang ngelahirin, bukan kamu! Bleee..." Kesalku mengejeknya


"Kita liat aja nanti, siapa yang akan menang!" Dia tersenyum licik


"Nggak boleh pakai cara curang..."


"Terserah aku dong! Bleee..." Balasnya mengejekku


"Kamu ih..." Kesalku memukul dadanya


"Sayang!" Panggilnya lembut


"Kenapa?"


"I love you"


"I love you too" sahutku lalu memberikan kecupan singkat


"Kamu yang mulai duluan ya..."


"Lah... Kok..."


Kalimatku terhenti sebelum selesai di ucapkan, karena Tian telah menautkan bibirnya dengan bibirku. Rasanya Tian seperti sedang menahan hasratnya saat ini, dan sialnya aku malah ingin menjahilinya. Aku sengaja menautkan lenganku di lehernya, saat itulah Tian mengentikan ciuman yang masih belum puas ku nikmati. Aku menatapnya dengan lembut untuk menjahilinya, aku ingin melihat seberapa kuat Tian bisa menahan hasratnya.


Aku hendak tertawa melihat wajah masamnya saat melepaskan rangkulan ku. Yasudah, aku juga tidak ingin mengusik ketenangannya terlalu jauh dari ini. Sejak sebulan yang lalu, Tian sudah mengontrol hasratnya akan diriku, karena dokter melarang adanya hubungan intim sebelum melahirkan. Sebab hamil anak kembar itu resikonya lebih besar dari kehamilan anak satu, soalnya beban yang di tanggung bumil anak kembar jadi berkali-kali lipat.


Selama sebulan terakhir ini juga Tian hanya berani menumpahkan hasratnya dengan ciuman yang tidak lebih dari sepuluh menit. Ku harap pernikahan ini berjalan dalam waktu yang sangat lama, bahkan sampai kami berdua berumur 100 tahun, tapi itu hanyalah harapan belaka. Tentang umur dan kematian siapa yang tau batas waktunya akan habis dan datang. Semuanya kembali terserah kepada Sang Pencipta Yang Maha Esa dan segala kuasanya.


"Aku ngantuk!"


"Yaudah! Kalo gitu kamu istirahat yang nyaman... Aku jagain di sini!"


"Kamu nggak mau tidur bareng?"


"Kamu aja yang tidur, biar aku jagain tidur kamu..." Tian mendarat kan kecupan hangat di keningku


"Kalau gitu... Aku tidur ya..."

__ADS_1


"..." Tian mengusap-usap kepala ku hingga membuatku semakin mengantuk


Tidak lama setelahnya, aku benar-benar terlelap dalam tidur, aku lelah secara fisik dan batin. Karena ada Tian yang menjaga tidurku, aku hanya perlu tidur dengan nyenyak tanpa mengkhawatirkan apapun karena ada Tian. Bagiku Tian adalah suami yang sangat sempurna dari segala aspek, hingga kadang membuatku merasa kurang percaya diri untuk berada di sampingnya. Aku masih dalam tahap belajar untuk memahami apa itu hakikat cinta, dan apakah saat ini aku sedang jatuh cinta dengan suamiku atau tidak?


__ADS_2