
********beberapa bulan berlalu.....
Waktu benar-benar berlalu dengan cepat, hingga terus-terusan membuatku kaget karena usia kehamilanku sudah berusia 11 bulan. Ya benar, aku hamil selama 11 bulan lamanya hingga membuat Tian dan kakek khawatir jika kehamilanku bermasalah. Tapi selama hamil besar dan selama ini, syukur nya aku tidak mengalami sakit ataupun kesulitan bergerak. Ya, walaupun kadang aku memang kesulitan saat hendak berdiri ataupun duduk karena ukuran perutku yang besar.
Tian sudah beberapa kali membujukku agar segera operasi saja, karena tidak ingin melihatku lebih lama kesulitan dengan perut besar. Tapi keputusan ku tetap tidak yang tentu saja di dukung oleh abah, karena dulu mama juga pernah mengalami kehamilan yang cukup lama seperti ini. Saat itu mama hamil kakak pertamaku juga selama 11 bulan, yang akhirnya terlahir dengan sehat dan besar.
Para dokter juga telah menyarankan agar aku segera melahirkan si kembar lewat jalur operasi. Tapi katanya si kembar baik-baik saja di dalam rahimku selama ini, jari aku sih memilih santai saja. Aku juga bersikeras agar tidak di rawat di rumah sakit karena usia kehamilanku, maka dari itu Tian dan kakek menempatkan beberapa dokter di rumah untuk berjaga-jaga jika ada kondisi darurat.
Bahkan, salah satu kamar di rumah di jadikan kelinik kecil yang bertugas mengawasi dan menjagaku dan si kembar. Sayangnya, di usia kehamilan yang sudah sebesar ini, tidak ada satupun sanak saudara yang menemani, bahkan Tian dan kakek juga lagi sibuk dengan pekerjaan mereka, karena perusahaan tiba-tiba mengalami kebocoran berkas rahasia.
Rencananya besok para sanak keluarga ku akan datang ke sini untuk menemaniku mengahadapi persalinan pertama, karena dari perkiraan dokter aku akan melahirkan dalam waktu dekat.
"Nyah! Lebih baik nyonya istirahat di kamar... Nggak baik kena angin!" Tegur bi Murni padaku yang berdiri di depan jendela terbuka, diluar lagi hujan
"Tian kapan pulang bik?"
"Tuan lagi di jalan pulang nyah! Mari saya antar ke kekamar..."
"..." Aku diam karena tiba-tiba perutku terasa sedikit sakit
"Ada apa nyah? Ada yang nggak enak?"
"Kok, rasanya ada yang merembes di ************ saya..."
"Allahuakbar! Ketuban nyonya pecah... Dokter! Dokter!..."
"..." Aku semakin diam, karena kaget tiba-tiba ketubanku pecah
"Nyah! Kita ke rumah sakit sekarang..."
"Allahuakbar..." Aku melorot terduduk karena tiba-tiba selangkanganku terasa robek
"Nyo... nyonya... Dokter nyonya kenapa dok?"
"Ya Allah nyonya..."
"Sepertinya sudah pembukaan..." Kata Bu dokter yang segera menghampiriku
"Assalam... Sayang..." Tian segera menyeruak masuk ke dalam menghampiri ku
"Tuan! Sepertinya nyonya akan segera melahirkan..."
"Ya Allah... Perut aku sakit... Allahuakbar..." Jeritku tiba-tiba karena rasa sakit
"Cepat bawa Ruka ke kamar..." Perintah kakek pada Tian yang kepanikan
Setelah di pindahkan ke kamar terdekat, aku semakin meraung-raung kesakitan menyebut asma Allah. Semua orang terdengar panik dan sibuk, kedua dokter dan beberapa perawat yang di tempatkan di rumah ini segera menyiapkan tempat persalinan untukku. Tian sempat hendak membawaku ke rumah sakit, tapi kata Bu dokter tidak sempat karena kepala salah satu anak kami udah nongol.
__ADS_1
"Ya Allah..." Rintihku kesakitan
"Sayang! Kamu pasti bisa, Allahuakbar..." Bisik Tian yang tidak ingin beranjak dari sampingku
"Sekarang, tarik napas yang dalam hembuskan, tarik hembuskan... Terus, terus.... Dorong..." Kata Bu dokter tiba-tiba
"Aaakkhhh.... Ya Allah..." Pekikku saat rasa sakit yang luar biasa terasa menyelimuti tubuhku
"Bagus... Sekali lagi... Ayo bu, dorong lebih kuat lagi..."
"Sayang... Kamu bisa, kamu pasti bisa... Allahuakbar..."
"Dorong sekali lagi Bu..."
"...." Aku terus-terusan berteriak karena rasa sakit yang tidak pernah kubayangkan seperti ini
Di sampingku Tian masih membisikkan asma-asma Allah dengan suara bergetar nya. Air mata sejak tadi sudah luruh membasahi pipinya yang memerah menahan haru. Aku mencengkeram lengan Tian tanpa ampun, karena rasa sakit yang ku rasakan begitu perih, seperti ada ribuan saraf terputus dan tercerabut. Tubuhku sudah terkulai lemas, tapi aku belum satupun melahirkan anak kami, aku seperti di dera rasa kantuk yang sangat-sangat.
Dokter dan perawat terus menyemangati ku agar jangan sampai tertidur dan terus memberikan dorongan. Aku menangis kesakitan sekaligus bahagia, karena sebentar lagi anak-anak akan hadir menghiasi kehidupan kami.
"Ayo sayang, kamu pasti bisa..."
"Haaaahhh...." Sekali lagi aku mendorong keluar si kecil
"Sedikit lagi... Ayo Bu semangat..."
"Allahuakbar...." Teriakku dengan dorongan penuh
"Allah...." Sambut Bu dokter setelah salah satu anak ku keluar
"O...ooeeekkk...oeekk..." Tangisnya kencang membuat jantungku bergetar
"MasyaAllah... Bayi laki-laki, lahir dengan sempurna..." Kata Bu dokter membuatku dan Tian saling menautkan syukur
"Bo...boleh saya gendong...?" Kata Tian ragu-ragu
"Boleh...!" Bu dokter menyerahkan si kecil untuk di gendong Tian
Saat sedang fokus memperhatikan si kecil di gendongan Tian, tiba-tiba perutku kembali terasa sakit. Sepertinya ada yang iri melihat kedekatan Tian dan si kecil yang telah lahir. Tian segera memberikan si kecil pada perawat di sampingnya dan kembali mengalihkan perhatiannya padaku yang meringis kesakitan.
"Maaf sayang... Aku sempat lupa kalo kamu di sini!" Bisiknya jujur dengan suara bergetar
"Ya Allah...!" Rasa sakit yang teramat menyakitkan itu kembali hadir menerpa tubuhku
"Sepertinya, si kecil satunya sudah tidak sabar untuk keluar..." Kata Bu dokter segera memeriksa tempat keluarnya
"...ada apa dok?" Tanya Tian khawatir karena melihat wajah dokter yang sempat kaget
__ADS_1
"Bukan apa-apa... Ayo bu, dorong sedikit saja..."
Untuk lahiran bayi kedua rasanya lebih sebentar dari yang pertama, mungkin karena jalan keluarnya udah terbuka lebar kali. Saat bayi kedua lahir, aku tidak mendengar suara tangisan hingga membuatku khawatir, apakah ada yang terjadi dengan bayi keduaku.
"Allahuakbar..." Lirih Tian menatap bayi kedua kami
"Ke...kenapa sayang?"
"Anak kita masih belum menetas..."
"Ma..maksud kamu...?" Aku segera bangkit duduk untuk melihat apa yang terjadi dengan bayi keduaku
"Sayang... Pelan-pelan..."
"Allahuakbar...??" Aku kaget karena bayi kedua yang kulahirkan masih terbungkus dengan ketuban
Aku sebagai anak Banjar, Kalimantan Selatan tentu pernah dengar tentang mitos mengenai bayi yang lahir masih terbungkus ketuban. Katanya bayi yang lahir masih terbungkus ketuban bakal memiliki kesaktian, tubuh yang kebal. Tapi kabarnya, jika pembungkus bayi itu di sayat dengan sembilu, atau kulit bambu yang tajam. Aku dan Tian saling berpandangan, melihat keajaiban yang terjadi pada salah satu anak kembar kami.
"Jika menurut mitos, anak bapak dan ibu akan memiliki kekebalan tubuh yang baik jika pembungkusnya di buka menggunakan sembilu... Apakah, di rumah ini ada sembilu?"
"..." Aku dan Tian menggeleng karena tidak tahu apakah di rumah ada sembilu atau tidak
"Mungkin kakek punya... Saya akan menanyakannya kepada kakek..." Tian segera berlari keluar kamar setelah mencium keningku
"Do...dokter... Saya ingin menggendong anak saya..." Kataku dengan mata berkaca-kaca melihat anak pertamaku yang di balut dengan selimut
"Suster..." Panggil Bu dokter pada suster yang menggendong anak ku
"Hai sayang..." Tangisku pecah saat tubuh kecil anakku berada di gendong ku
Tidak lama kemudian Tian menyeruak masuk dengan tergesa-gesa dengan membawa sembilu berwarna kuning, entah dia mendapatkannya dari mana. Dengan mengucap bismillah Tian membuka pembungkus di tubuh anak kedua kami dengan pengawasan dokter di samping. Saat ketubannya pecah mengeluarkan anak keduaku, tangisku juga kembali pecah sambil terus menggumamkan asma Allah.
"Dok! Kok nggak nangis?" Tanya Tian bingung
"Bismillah..." Bu dokter memukul pelan pantat anak keduaku, tapi masih tidak keluar juga suara tangis yang ku tunggu-tunggu
"Anak saya baik-baik saja kan dok?" Tian terlihat khawatir sama sepertiku
"Anak bapak baik-baik saja... Mungkin nanti akan menangis... Biasanya juga ada bayi yang lahir dengan tidak menangis, tapi setelah lama juga akan menangis kok, hanya tinggal menunggu waktu!" Kata bu dokter menenangkan kami berdua
Setelah keduanya di bersihkan, Tian segera mengadzani keduanya dengan suara bergetar karena hari. Bahkan kakek juga menangis haru melihat kedua cucunya yang lahir dengan selamat setelah 10 jam lebih perjuanganku. Aku benar-benar tidak sadar jika ternyata persalinan pertama ku akan selama ini, padahal rasanya baru beberapa menit yang lalu aku meraung-raung kesakitan.
Dokter juga mengatakan jika selisih keduanya sangat jauh, yaitu hampir setengah jam. Perasaan mereka lahir berdekatan sekali deh, tapi kenapa jadi jaraknya sangat lama begitu. Aku yang awalnya merasa mengantuk, kini kantuk tidak terasa sama sekali karena aku sibuk dengan bayiku. Padahal bergerak sedikit saja rasanya tubuhku seperti akan remuk menjadi serpihan, karena lelah yang teramat.
Setelah Tian memarahiku karena harus istirahat seperti yang di katakan Bu dokter, aku mengalah dan istirahat untuk memulihkan tenagaku. Kedua bayiku di letakkan di keranjang bayi yang ada di samping tempat tidur dalam pengawasan Tian. Keduanya kembar laki-laki yang begitu identik, mereka sama-sama terlahir tampan seperti sang ayah hingga membuatku merasa memiliki 3 Tian sekaligus.
Rasanya semua rasa sakit yang sempat ku rasakan saat melahirkan mereka, sirna seketika karena senyum mereka berdua saat berada di gendongan ku. Terimakasih Ya Allah, berkat kuasa dan kasih sayangmu kedua bayiku terlahir dengan selamat dan sehat. Bahkan berat mereka 4,3 kg persis, kuharap mereka akan tumbuh dengan sehat dan menjadi pribadi yang baik.
__ADS_1